Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Kencan Pertama?


__ADS_3

Saat sudah berada tepat didepan pintu utama, Doni mulai menekan bel pintu rumah itu. Dan menunggu untuk beberapa saat.


Doni tersenyum ketika melihat papa Aurell yang membukakan pintu itu. "Halo om, saya Doni om." ucap Doni kepada Gerland.


"Iya... Saya tau, kamu temannya Aurell kan?"


Doni mengangguk menanggapi ucapan Gerlan.


"Yasudah, ayok masuk kedalam." ajak Gerland pada Doni, yang mengikuti Gerland dari belakang.


Gerland mengajak Doni keruang utama, atau bisa digunakan untuk para tamu yang berdatangan dikediamannya. "Ayo duduk, sepertinya om ingat jika dulu, kamu pernah main kerumah om ini. Apa om yang salah ingat ya?" ucap Gerland ketika mereka sudah duduk dengan nyaman, disofa besar itu.


Doni terkekeh, "Anda tak salah ingat om! Saya memang dulu pernah kesini, ketika saya masih kecil. Karena dulu, mama saya merupakan sahabat dari Almarhum tante Vita, istri om." jelas Doni.


"Wah... Ternyata om tak salah ingat ya... Hahahah, om tak menyangka jika kamu sudah lama mengenal putri om." ucap Gerland sambil menepuk bahu Doni.


Doni kembali tersenyum. "Iya om, saya sudah mengenal Aurell sejak kecil..."


"Hahahaha, baiklah.. Baiklah.... Ngomong-ngomong, kamu kesini pasti  ingin bertemu Aurell kan?" tebak Gerland.


Doni mengangguk pelan, "Iya om."


Gerland kembali tertawa, "Kamu terlambat Doni... Aurell sudah pergi barusan, tepat kamu datang kesini."


Doni mengerutkan alisnya. "Maksud om, mobil yang berwarna hitam tadi..."


"Ya, Aurell baru saja pergi kencan sama tunangannya...." jawab Gerland, masih dengan tawanya.


"Hah? Tunangan om? Kukira Aurell..."


"Yaampun... Ternyata om buat kamu terkejut ya? Maklum ya, kamu juga pasti bingung. Sebenarnya Aurell sudah bertunangan dua hari yang lalu, tapi pertunangannya secara diam-diam. Karena pada malam itu mendadak sekali...."


"Tunggu om, saya masih merasa bingung." ujar Doni, tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Gerland.


"Hahaha, sebenarnya Aurell waktu itu dilamar oleh pria yang disukai Aurell... Dan tentu saja Aurell menerima lamaran itu. Mungkin acara pernikahan akan diadakan sebentar lagi." jelas Gerland.


Kata pernikahan, yang terucap dari mulu pria yang ada dihadapannya itu membuat Doni terdiam dan tak tahu lagi harus menangapinya seperti apa.

__ADS_1


'Benarkah Aurell akan menikah?' gumam Doni, masih belum sepenuhnya percaya.


🍂🍂


Saat ini, Sagarr tengah fokus menyetir. Sejak tadi, ketika berangkat menuju rumah Aurell wajahnya itu terus ditekut bak orang yang tak semangat hidup. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah keponakanya, ya! Rasya saat ini tengah ikut kencan bersama mereka. Itu sebabnya Sagarr terus menekuk wajahnya dan tak bisa menyembunyikan rasa kekesalannya itu, bagaimana dirinya tak kesal?! Jika momen kencan pertamanya harus terganggu oleh makhluk kecil yang sangat menjengkelkan bagi Sagarr.


'Setelah ini! Aku akan mengirim pesan pada kakak untuk menjemput anaknya. Enak saja kencan peetamaku harus diganggu sama bocah menyebalkan ini.' gumam Sagarr mengebu-gebu sambil melirik sinis kearah Rasya yang tengah berceloteh ria bersama dengan wanitanya.


'Lihatlah wajah sok polosnya itu, aku sudah tau sejak dulu. Jika bocah ini sangat licik dan cerdik seperti rubah.... Untung dia keponakanku, jika bukan! Maka kupastikan bocah itu sudah ku uhh....' Sagarr terus mengeram dalam hati.


Sementara itu, sejak tadi Aurell terus melirik kearah Sagarr. Dirinya merasa heran karena tak biasanya pria tampan yang ada disampingnya itu hanya diam dan menampilkan wajah masamnya. Membuat Aurell terus mengerutkan keningnya.


'Apa dia tak senang dengan kencan ini?' batinnya. 'Jika memang tak senang, lantas kenapa dia mengajak kencan?'


Setibanya ditempat, mobil hitam nan mewah itu berhenti tepat disebuah taman bermain. Yang ditaman itu sudah ramai para orang-orang disana, suasana itu tampak menyegarkan jika dilihat dan tampak menyenangkan jika kita bergabung dengan orang-orang itu.


"Yeyyy... Taman bermain, Rasya suka disini. Rasya gak sabal ingin makan esklim..." seru bocah itu dengan semangatnya.


Aurell terkekeh mendengarnya. "Kamu mau eskrim sekarang?" tanya Aurell yang langsung dianguki kepala oleh bocah itu.


"Iya! Rasya mau sekarang!" teriak bocah itu, membuat Aurell kembali terkekeh.


"Yuk kak! Kita cali esklim sekalang!" seru bocah itu yang langsung menarik Aurell pergi meninggalkan Sagarr yang masih ada disana.


Sagarr masih belum beranjak dari tempatnya, ia kemudian merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu.


¦Kak, bawalah putramu ini. Dia sangat mengganggu kencan pertamaku!


¦Kau tak kasian kah? Melihat adikmu ini yang terus diabaikan oleh calon adik iparmu itu?


Dua pesan itu sudah terkirim, Sagarr tampak puas ketika melihat pesannya yang langsung dibaca oleh kakak perempuannya. Bisa ia pastikan, jika kakaknya itu akan langsung datang setelah ia mengirim pesan itu.


Ia kembali meletakkan handphonenya disaku, setelah itu ia melangkahkan kakinya untuk menyusul wanitanya yang sudah diculik oleh makhluk kecil itu.


"Tunggu aku baby..." ucapnya tersenyum miring.


Disisi lain, Aurell tampak mengerjakan kepalanya. Dari mulai kesamping, kekanan, kedepan, kebelakang hingga kepalanya hampir saja berputar.

__ADS_1


Seketika Aurell tersentak ketika baju yang ia kenakan ditarik oleh Rasya, yang tinggi bocah itu hanya sampai dilututnya. Aurell, mau tak mau harus menundukkan kepalanya.


"Ada apa Rasya?" tanya Aurell.


"Kakak gak mau esklim?" tanya bocah itu yang sudah memegang dua eskri beda rasa ditanganya.


Aurell tersenyum. "Kakak masih kenyang, nanti aja kalo kakak pingin." ujar Aurell.


"Ohhhhh..." bocah itu tampak menganguk-anguk paham.


Setelah melihat Rasya yang tengah melahap dua eskrimnya itu, Aurell kembali mendesah kasar. "Sebenarnya kemana pria menyebalkan itu?" gumam Aurell merasa kesal.


Tiba-tiba saja Aurell kembali dikejutkan, saat tangan kokoh itu sudah bertendeng dibahunya.


"Kau merindukanku nona?" tanya Sagarr, tak lupa ia selalu mengerligkan matanya. Guna untuk menggoda Aurell yang tengah bersamanya.


Aurell menepis kasar, lengan Sagarr itu. "Kemana saja kau? Kau yang mengajak kesini malah menghilang sesukanya." ketus Aurell langsung menyilangkan kedua tangannya, dengan raut yang dibuat cemberut.


Sagarr yang merasa gas itu, langsung mencubit hidung Aurell yang mancung itu. "Kamu lucu banget deh.." ucap Sagarr dengan kekehan kecil.


"Jangan terus melucu. Jawab pertanyaanku tadi, kenapa kau menghilang tak mengikuti kami tadi?"


Sagarr kembali menggoda Aurell dengan menangkap kedua pipi putih itu. "Uluulu.... Tunanganku ini ternyata sangat khawatir jika takut ditinggalkan ya...."


"Lepaskan tanganmu..." Aurell mencoba melepaskan kedua tangan Sagarr yang terus mengunyel kedua pipinya itu.


"Aku tak tau, kenapa aku sangat candu dengan kedua pipimu ini...." gemas Sagarr, dan hal itu membuat Aurell langsung menyemburkan warna merah muda dikedua pipi putihnya itu.


"Lihatlah, wajahmu ini langsung memerah hanya mendengar perkataanku barusan." kata Sagarr, tertawa senang.


"Diamlah, jangan terus seperti ini. Banyak orang yang melihat kita..." desis Aurell, kesal pada Sagarr.


"Biarin aja..." acuh Sagarr dengan santainya.


Saat mereka berdua tengah berdebat, tiba-tiba sebuah panggillan membuat mereka mengalihkan pandangannya.


Rasya yang sejak tadi tengah memakan eskrimnya itu langsung membulatkan matanya yang terlihat lucu, ketika melihat sosok mamanya yang tengah berjalan kearahnya itu.

__ADS_1


Sagarr tersenyum licik. "Akhirnya pawangnya datang juga." gumam Sagarr, sangat merasa senang.


Bersambung.


__ADS_2