
Sagarr terus mengandeng tangan Aurell dengan erat, seperti pacar posesif yang tak membiarkan kekasihnya berada jauh darinya, bahkan hanya sejengkalpun tak boleh.
Tepat didepan pintu yang cukup besar, Sagarr masih belum melepaskan gengaman itu.
"Kita sudah sampai...." serunya, saat langkah kaki itu terhenti didepan pintu.
Aurell mulai mengalihkan pandangannya menatap kesekitar penjuru ruangan, namun yang ia lihat bukanlah orang-orang yang berlalu lalang, seperti saat untuk pertama kali ia memasuki gedung mewah itu.
Bahkan ia merasa bingung ketika melihat dua pria berbadan kekar yang memakai jas hitam dengan kaca mata hitam, sedang berdiri disamping kanan kiri. Tepat dipintu yang ada dihadapannya.
"Tempat apa ini? Kenapa sepi sekali?" tanya Aurell pada Sagarr, namun Aurell masih belum mengalihkan pandangannya menatap kesepenjuru ruangan itu.
Sagarr tersenyum kecil, ia menatap Aurell yang tingginya hanya sebahunya saja. Dan menurut dirinya, perawakan Aurell itu sangat kecil dan pendek. Yang dapat memudahkan dirinya bisa leluasa mengusap kepala itu, yang diselimuti rambut kuning kegelapan nan lebat.
Tangan besar Sagarr terangkat, lalu tangan itu menangkup dagu wanitanya dan memutar kepala itu untuk melihat kearahnya. "Jika sedang bicara... Cobalah untuk menatap lawan bicaramu, orang yang melihatmu, pasti akan mengira jika kamu sedang berbicara sendiri..." Sagarr berucap rendah nan lembut, membuat sang wanitanya menatap kearahnya dan sekaligus terhanyut dibuatnya.
Aurell menatap Sagarr sampai tak berkedip, hal itu membuat Sagarr gemas sekaligus lucu.
Ia melepaskan tangannya yang tadinya didagu, kini berpindah pada kepala Aurell dan mengusap kepala itu dengan rasa gemas. "Kenapa kamu sangat lucu sekali, hemm? Kau membuatku ingin sekali cepat-cepat menikahimu..." saat Sagarr ingin memeluk tubuh Aurell, tiba-tiba sebuah kepalan tangan berada tepat didepan wajahnya. Siapa lagi kalau bukan tangan Aurell.
Sagarr tentu tertegun melihatnya.
"Berani melangkah mendekat sekali lagi! Maka tangan kecil ini mendarat pada salah satu bagian tubuhmu!" ancam Aurell dengan tatapan tajamnya dan kepalan tangan yang belum diturunkan.
Kedua tangan Sagarr diangkat keudara, dan melebarkan kesepuluh jarinya pertanda orang yang sedang meminta permohonan ampun.
"Wow, wow... Oke baiklah, aku tak akan melakukannya sebelum kita sah!" ucap Sagarr dengan menggigit kecil bibirnya, berusaha untuk menahan tawa ketika melihat wajah galak itu.
Aurell pun menurunkan kepalan tangannya, kemudian tangan itu dimasukkan kedalam celana sakunya.
"Galak sekali.." gumam Sagarr terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita masuk sekarang... Sebuah kejutan sedang menunggumu didalam sana." ucap Sagarr, yang dengan santainya menaruh tangannya pada pundak Aurell.
Aurell yang melihat tangan Sagarr itu seketika mengeram, "Sudah ku bilang kan? Kenapa kau melewati batas lagi?" kesal Aurell menatap Sagarr dengan tatapan tajam.
Sagarr mengangkat kepalanya bak seorang pria angkuh. "Aku bukan memelukmu, aku hanya merangkul saja. Lagian, aku tak ingin lagi kejadian seperti tadi terulang, aku hanya ingin kamu aman bersama denganku. Sekaligus memperlihatkan pada khalayak bahwa kau adalah milikku!" Sagarr berucap sambil mengerlingkan satu matanya kepada Aurell.
Aurell yang melihat itu mendengus, ia pun diam bungkam tak melanjutkan lagi aksi protesnya.
Sagarr lagi-lagi terkekeh pelan. Ucapannya itu sungguh mempan pada Aurell, sungguh! Kejadian barusan itu merupakan sebuah berkah pada Sagarr. Ia sungguh berterimakasih pada bocah SMA itu, ingin sekali ia mengucapkan secara langsung, namun para bocah-bocah itu telah dibawa oleh asistennya menuju kantor polisi atas perintahnya sendiri. Sungguh licik memang seorang Sagarr Johnson itu.
Sagarr tersenyum miring, lalu ia memberi sebuah kode pada penjaga berbadan kekar itu untuk membukakan pintunya.
Penjaga itu mengangguk mengerti, lantas setelah itu dibukanya pintu besar itu dan menundukkan kepala ketika Sagarr dan Aurell memasuki sebuah ruangan yang didalamnya sangat luas.
"Selamat menikmati tuan!" ucap kedua penjaga itu ketika Sagarr sudah memasuki ruangan, dan menutup pintu itu dengan rapat.
Aurell yang masih dirangkul oleh Sagarr itu masih terdiam, dan dibuat melongo ketika melihat suasana didalam ruangan itu.
"Ayo, kita kesana." ajak Sagarr, yang langsung mengiringi Aurell menuju meja kecil itu.
Setelah sampai pada tujuan, Sagarr melepaskan rangkulannya. Lalu berjalan lebih dulu untuk menarik salah satu kursi, guna mempersiapkan ratunya untuk duduk dikursi itu.
"Silahkan ratuku!" ucap Sagarr dengan nada menggoda, tak lupa lagi satu matanya yang dikeringkan didepan Aurell.
Bibir Aurell terasa berkedut, ingin sekali ia tersenyum namun masih ditahannya.
Aurell berjalan dikursi itu dan mendudukinya, lantas Sagarr kembali tersenyum dan melangkahkan kakinya pada satu kursi yang masih kosong itu.
"Pelayan!" Sagarr sedikit berteriak pada salah satu pelayan yang tengah berjejer tak jauh dari mereka, dan mulai mendekat ketika Sagarr memanggil.
Tak perlu diperintahkan lagi, pelayan yang berjumlah tiga orang itu membawakan sebuah hidangan ditangan mereka, tentunya hidangan itu berbeda-beda.
__ADS_1
Hidagan itu sudah diletakkan dimeja tempat Sagarr dan Aurell berada. Tampak berbagai macam makanan yang menggiurkan disana, membuat orang yang melihat pasti ingin segera melahapnya.
"Ayo Aurell.... Nikmatilah hidagan ini.." tutur Sagarr, sambil memberikan sendok garbu dan piasu kecil pada Aurell.
Aurell tampak mengangkat satu alisnya. "Ini tak beracun kan?" selidik Aurell.
Sagarr pun dibuat tertawa mendengarnya. "Ya tentu saja tidak lah... Mana mungkin aku meracuni wanita yang akan aku jadikan sebagai pendampingku kelak, sampai hari tua menyambut." jelas Sagarr dengan suara lembut, membuat Aurell kembali menggigit kecil bibirnya.
Tak ingin terlalu lama terjebak pada rayuan maut Sagarr, Aurell pun mengalihkan pandangannya pada hidagan yang sudah tersedia dihadapanya. Kemudian ia menyedok makanan itu dan melahapnya.
Ketika Aurell tengah makan, ia mendengar sebuah tepuk tangan dari Sagarr yang membuat dirinya dilanda kebingungan. Namun nampaknya ia bertambah bingung, kala tiba-tiba saja terdengar suara musik merdu entah dari mana asalnya.
Namun sebuah lampu dihidupkan dari arah seberang Aurell, membuat dirinya bisa melihat dimana asal suara merdu itu. Dan betapa dibuat terkejutnya ia saat melihat pemain musik terkenal dikota Jerman itu tengah bermain musik dihadapanya.
Aurell menganga, "I-itu?"
"Ya... Itu kupersembahkan untukmu, Aurellia..." jawab Sagarr dengan senyum manisnya.
Aurell pun segera mengalihkan pandangannya kearah Sagarr, ia terdiam menatap manik pria itu. Mata itu begitu tajam ketika dilihat, namun bersamaan, begitu menengkan bagi Aurell.
Sagarr tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Aurell. Aurell dibuat bingung, namun sedetik kemudian ia kembali dibuat terkejut saat Sagarr langsung berjongkok didepannya.
"A-apa yang k-kau lakukan?" tanya Aurell dengan nada tergagap.
Sagarr tersenyum menatap sang pujaan didepannya itu, ia lalu merogoh sesuatu disakunya. Dan setelah itu mengeluarkan benda itu yang berupa sebuah kotak kecil berwarna kuning mengkilap.
"Will you marry me?"
Bersambung.
Maaf ya gaes jika ada kesalahan kata, atau typo dimana-mana😗 maklum gaes masih Author amatiran🐒
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya.... Like, komen anda vote🤞