Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Melepas Rindu


__ADS_3

"Kau.." Aurell berucap sambil menunjuk pria yang ada dihadapannya itu.


Rasya mendongakan kepalanya, menatap Aurell bingung, "Kakak kenal sama pamanku?" tanyanya.


Aurell menatap Rasya kembali, "Dia pamanmu?"


"Iya." jawab Rasya sambil mengangukan kepalanya.


Aurell memejamkan matanya sejenak, lalu menghela nafas panjang. Ia membuka matanya yang terpejam dan menatap pria itu dengan tatapan tajam.


Pun, sedangkan yang ditatap itu hanya cengegesan tak merasa bersalah sama sekali.


Setelah terjadinya, saling cari mencari. Kini kedua orangtua Rasya juga ikut bergabung ditaman rumah sakit itu. Pria yang disebut paman oleh bocah itu, yang menghubungi kedua orangtua Rasya.


"Yaampun Rasya... Kamu bikin mama khawatir... Kamu jangan ngilang tiba-tiba ya sayang... Mama tuh tadi takut banget kalau gak bisa nemuin kamu tadi." ucap seorang wanita yang tak lain adalah mamanya Rasya. Ia berjongkok menyamakan tinggi anaknya itu, sambil sesekali mengusap rambut bocah itu dengan sayang.


"Iya nak... Jangan gitu lagi ya? Lihat! Mama mu sampai nangis gitu, kamu gak mau kan... Lihat mama mu menangis lagi kayak sekarang?" timpal papanya.


Sedangkan Rasya, bocah itu menundukkan kepalanya, dan mengerucutkan bibirnya yang sepertinya tengah menahan tangisnya itu.


"Iya... Maapin Rasya ya ma.. Pa.. Rasya janji gak akan ngulangi lagi."


"Yaudah mama maafin... Kalau gitu kita pulang sekarang ya? Hemm?"


Bocah itu menganguk, mengiyakan ajakan mamanya.


Kedua orangtua Rasya itu menghadap pada Aurell dan juga pria yang tengah menyilangkan kedua tangannya, diaampingnya itu.


"Arzan.. Kakak pulang dulu ya... Soalnya kakak iparmu masih ada kerjaan dikantor, oh iya.. Makasih juga udah mau bantu kakak cari Rasya tadi, pasti kamu juga sibuk dikantor." ucap wanita itu.


Pria yang dipanggil Arzan oleh kakaknya itu menganguk. "Iya kak, tapi berkat wanita yang ada disampingku inilah yang membuatku bisa menemukan Rasya. Jika tak ada wanita cantik ini, mungkin Rasya akan menghilang tanpa jejak." ucapnya, sesekali ia melirik Aurell yang ada disampingnya itu. Ia kembali terkekeh ketika melihat raut datar dan tatapan tajam yang tengah menatap dirinya itu.


Mama dari Rasya itu menatap Aurell dengan binaan mata, ia lalu meraih tangan kanan Aurell untuk digengamnya.


"Benar apa kata adik saya... Berkat kamu putra saya tak hilang jauh dari rumah sakit ini. Saya selaku mamanya Rasya mengucapkan terimakasih banyak padamu nona cantik." ucap mama Rasya dengan senyum lebarnya.


Aurell mengaruk tengkuknya yang tak gatal, ia menatap wanita berkulit putis dan bertubuh agak tinggi dihadapanya itu dengan perasaan cangung. Ia lalu tersenyum menganguk untuk menanggapi ucapan itu.

__ADS_1


"Mah... Mah.. Tadi kakak ini yang beliin Rasya eskrim loh... Trus Rasya diajak keliling-keliling dirumah sakit ini." ucap bocah itu memberitahu mamanya sambil menarik-naik baju mamanya itu.


"Oh ya?" tanya mamanya.


Rasya pun menganguk antusias.


"Wahh... Nona ini sangat baik sekali, bagaimana pun nona sangat berjasa. Bagaimana kami bisa membalas budi anda ini nona cantik?" tanyanya tak lupa senyuman yang belum lepas dari bibirnya itu.


"Hemm, saya sebenarnya tak melakukan apa-apa. Saya hanya mengajak putra anda berjalan-jalan saja, jadi... Tak perlu berbalas budi seperti itu, karena saya tak mengiginkannya." jelas Aurell dengan sopan.


"Jangan begitu... Kami yang merasa tak enak jika nona cantik tak menerima balasan dari kami, hemm.. Bagaimana kalau dilain hari kita makan malam bersama? Bagaimana, mau kan?" tanya wanita itu dengan tatapan mata yang sungguh sangat berharap.


Aurell tak tahu harus menjawab apa, ia benar-benar merasa canggung saat ini.


"Iya kak... Kakak mau aja, Rasya seneng banget kalau kakak ikut malam bersama kami... Nanti kakak juga bisa cubit-cubit pipi Rasya sepuasnya." ucap bocah itu dengan perasaan yang mengebu-gebu.


Sedangkan pria yang ada disamping Aurell hanya bisa tersenyum miring, entah apa arti dari senyum misterius itu.


"Nah... Putra saya saja mau... Gimana mau ya? Saya sangat berharap loh."


Akhirnya Aurell hanya bisa tersenyum kikuk, ia melirik Rasya yang juga tengah menatap dirinya, dengan tatapan yang dibuat-buat semengesakan mungkin. Ia lalu melirik pria itu yang ada disampingnya, namun pria yang ditatapnya itu malah bertingkat menyebalkan dan hanya bisa membuat dirinya mendengus kesal.


"Ish... Rasya ngambek lagi nih sama kakak. Rasya gak mau ikut pulang kalo kakak gak mau nerima ajakan mama buat makan malem baleng, baleng sama Rasya juga." ucap bocah itu sambil mengerucutkan bibirnya, dengan wajah yang dibuat-buat ngambek.


Kedu orangtuanya yang melihat tingkah putranya itu saling berpandangan, mereka kemudian saling melempar tawa kecil melihat putranya yang sungguh sangat cerdik itu.


"Lihatlah... Putra saya jadi ngambek, nanti kalau dia hilang lagi gimana? Kami nanti pasti akan pusing mencarinya." ucap wanita itu dengan raut wajah yang dibuat sedih. Sepertinya orangtua dan anak itu tengah menjalani peran drama, entah drama apa yang tengah mereka perankan hanya merekalah yang tau.


Aurell menepuk keningnya seketika, ia lalu menghela nafas pelan."Baiklah.. Saya menerimanya." ucap Aurell pada akhirnya.


"Yeyyy... Mam.... Kakak mau!" seru bocah itu dengan melompat-lompatkan dirinya.


Mama Rasya itupun juga ikut senang, ia lalu menatap Aurell kembali. "Terimakasih ya? Kami sangat senang, bolehkah saya meminta nomor kamu nona cantik? Saya akan menghubungi nona cantik lewat pesan nanti."


Aurell tanpa basa-basi lagi memberikan nomor ponselnya pada wanita itu, setelahnya wanita itu menerima dan menyimpannya.


"Baiklah... Kalau begitu kami pamit dulu, sampai jumpa nanti nona cantik. Kutunggu kedatanganmu nanti dikediaman kami."

__ADS_1


"Dadah kakak cantik..." teriak bocah itu yang tengah mengandeng kedua orangtuanya.


"Arzen.. Kami pulang dulu ya..." teriak kakak iparnya yang dianguki kepala oleh pria itu.


Setelah kepergian keluarga kecil itu, tinggallah Aurell dan juga pria itu.


Aurell kembali menatap pria itu dengan tatapan tajam, kemudian menarik lengan pria itu untuk mengikuti langkahnya.


"Loh? Hey! Aku mau dibawa kemana ini?" ucapnya yang diabaikan oleh Aurell.


...----------------...


Disinilah mereka berdua, disebut tempat namun entah tempat apa itu. Yang pasti, masih diare rumah sakit besar itu.


Aurell membawa pria itu bersamanya disebut tempat yang jarang dikunjungi orang-orang disana, karena tempat itu sangat rawan untuk dilewat orang disana. Kecuali tukang bersih-bersih yang bertugas membersihkan seluruh ruangan.


Tiba-tiba saja Aurell mendorong tubuh pria itu, dan dipepetkan disebuah dinding tepat dibelakang pria itu.


Kedua tangan Aurell dijulurkan didinding untuk mengunci pergerakan pria yang ada dihadapannya itu. Untuk waktu yang cukup lama mereka saling berpandangan, saling menyelam pikiran mereka. Mereka sampai hanyut dari keterdiaman itu.


Tatapan mata Aurell menandakan jika ia tengah marah dan kesal, namun sedikit dari tatapannya itu. Ia juga menyimpan kerinduan yang amat untuk sosok pria yang selalu menghantui pikirannya itu.


"Kenapa baru muncul? Kemana saja kau?" ucap Aurell setelah terjadinya keheningan.


Pria itu tersenyum menatap Aurell. "Kenapa? Kamu merindukanmu, hemm?" ucapnya dengan suara lembut.


Untuk pertama kalinya pipi Aurell bersemu, dan merasakan jalaran hangat dipipinya. Jantung berdegup kencang, berbeda ketika ia berhadapan dengan Gavin sosok yang pernah ia sukai dulu.


Kali ini jantung dan hatinya tak bisa dikondisikan, ia sudah tak tahan.


Dan ya... Aurell dengan perasaan rindu yang mengebu itu, merengkuh tubuh pria yang dihadapannya itu. Untuk permintaan kalinya ia memeluk tubuh seorang pria kecuali papa kandungnya sendiri.


Pria itu sedikit tersentak kaget, bagaimana tak kaget. Jika wanita yang sulit didapatkannya itu, yang lebih dahulu menyentuh dirinya dan memeluknya dengan erat.


Seulas senyum terbit dibibir tipisnya itu, ia pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya dan mengelus rambut panjang itu dengan sayangnya.


"Aku merindukanmu Sagarra.." gumam Aurell lirih.

__ADS_1


Bersambung.


Note; Nama Sagarr yang sebenarnya itu adalah Arzan Johnson, karena Sagarr lahir diinggris. Trus pindahlah kejerman dengan nama yang baru namun marga yang sama, menjadi Sagarra Johnson. Dan untuk kakak perempuannya, karena sudah terbiasa memanggil nama pertama Sagarr, jadi ia tak mau menggantinya.


__ADS_2