
Beberapa saat yang lalu....
Sagarr saat ini sudah sampai didepan kos-kosan milik Aurell, ia berpakaian rapi mengunakan jas hitam dan juga rambut yang ditata, membuat ia begitu tampan pada malam ini.
Sagarr keluar dari mobil mewahnya itu dan duduk ditepi bagian mobilnya. Ia melirik jamnya, jam menunjuk 18:40 yang artinya ia tepat waktu, karena masih ada sisa beberapa menit untuk datang keacara pesta kampus itu.
Ia melirik kosan tempat tinggal Aurell itu, sungguh! Dilihat dari sisi apa pun rumah itu terlihat tak layak untuk ditempati, karena disamping tempat itu banyak sampah atau limbah yang berserakan, karena tempat itu memang merupakan tempat pembuangan.
Sagarr menghela. "Bagaimana bisa kau hidup ditempat seperti itu Aurell..." gumam Sagarr merasa prihatin.
Sudah lima menit Sagarr menunggu, akhirnya Aurell keluar dari tempat singahnya itu. Aurell menurun tangga rumahnya itu, namun baru beberapa melangkah ia dibuat terkejut lantaran melihat Sagarr yang sudah ada dihadapannya itu.
"Hai..." sapa Sagarr dengan senyum tampannya itu.
Aurell berjalan cepat menuju Sagarr. "Mengapa kau bisa kesini?" tanya Aurell langsung.
Sagarr menyengir. "Karena aku ingin menjemput mu" jawab Sagarr dengan menatap Aurell.
"Bukan itu! Kenapa kau bisa tau jika aku tinggal disini!"
"Hemm gimana ya..." kata Sagarr mengetuk dagunya berfikir. Padahal ia sendiri mengirim mata-mata untuk mengikuti Aurell, itu sebabnya ia tau tempat tinggal Aurell saat ini.
Aurell mendengus mendengar jawaban dari Sagarr itu. "Jangan! Membuat mata-matamu terus membuntutiku!" ucap Aurell dengan nada menekan.
Sagarr terkejut, bagaimana mungkin Aurell bisa tau jika ia sedang memata-matainya. Sagarr menetralkan rasa gugupnya.
"Ehem... Aku tak pernah membuntutimu Aurell..." ucap Sagarr mengalihkan pandangannya, yang semula menatap Aurell kini ia tengah menatap jalanan.
"Lantas, bagaimana kau bisa tau tempat tinggalku?" ucap Aurell selidik sambil mengangkat satu alisnya.
Sagarr semakin dibuat gugup. 'Wanita ini benar-benar... Sulit untuk dibohongi' gumam Sagarr dalam hati.
__ADS_1
"Mengapa kau tak menjawabku?" tanya Aurell mendekatkan dirinya pada Sagarr.
"Sudahlah Aurell, nanti kita terlambat, kita tak bisa lama-lama karena aku ingin membawa kesuatu tempat terlebih dahulu" ucap Sagarr sambil mendorong punggung Aurell menuju kursi penumpang dimobilnya itu, ia pun turut duduk disamping Aurell.
"Kau... Dasar pria pemaksa" kata Aurell sambil menunjuk wajah Sagarr.
Sagarr hanya terkekeh menangapinya. "Joy! Segera kesalon ternama dikota ini" ucap Sagarr menyuruh asistennya itu yang sudah duduk dikursi kemudinya.
"Baik tuan" jawab Joy.
Aurell melotot. "Kenapa harus kesalon? Bukanya kita harus kepesta"
"Iya... Kita akan kepesta, setelah dirimu dirias dengan sangat menawan" kata Sagarr dengan nada santainya.
"Apa kau bilang? Mengapa kau membawaku kesana, aku tak membutuhkan itu"
"Sudahlah Aurell, mengapa kau sangat cerewet hari ini, biasanya kau akan bersikap acuh tak acuhnya"
Joy selaku asisten pribadi Sagarr itu terkekeh melihat tingkah mereka. 'Mereka berdua sangat cocok sekali' gumamnya.
Aurell diam-diam mengirim pesan pada seseorang.
¦Sepertinya aku akan terlambat datang kepesta, kalian tak perlu menjemputku, kalian semua bisa bersiap ketempat posisi yang sudah ditentukan.
Setelah mengirim pesan Aurell kembali meletakkan hpnya disakunya.
...----------------...
Aurell dan Sagarr sampai dipesta tepat pukul delapan malam, Aurell tak menyangka jika Sagarr benar-benar membawanya kesalon ternama dikota itu.
Aurell tersenyum semirk kala melihat semua orang yang ada dipesta itu terus menatap kearahnya.
__ADS_1
Sagarr mendengus melihat tatapan pria-pria yang ada disana, terus menatap Aurell dengan tatapan buas seperti ingin memakan Aurell.
"Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu ketika kau tak ingin dibawa kesalon" ucap Sagarr merasa lesu.
Aurell mengerutkan keningnya. "Kenapa kau merasa menyesal?"
"Aku menyesal karena kau tampil begitu cantik malam ini, semua pria menatapmu dan aku tak suka itu"
Aurell menghela. "Apa bedanya denganmu? Kau kan juga seorang pria" ucap Aurell.
"Aku kan berbeda dengan mereka, karena aku ini adalah kekasihmu" ucap Sagarr dengan percaya dirinya.
"Siapa bilang kau kekasihku? Kita bahkan tak pernah berkencan" ucap Aurell merasa heran pada Sagarr yang tingkat percaya dirinya itu sangat tinggi.
Sagarr membawa tangan Aurell dan menyelipkannya dilengan kekarnya itu.
"Malam ini, kau resmi menjadi kekasihku" ucap Sagarr sambil mengerlingkan sebelah matanya dihadapan Aurell. Membuat Aurell hanya mendecih, malas menatapnya.
"Aurell..."
Aurell mengalihkan pandangannya kedepan kala mendengar namanya dipanggil itu.
Deg... Jantungnya berdesir, kala melihat sosok Gavin yang ada dihadapanya itu, sungguh! Dihati kecil Aurell masih ada nama Gavin disana, ia belum bisa melupakan Gavin sepenuhnya. Karena pada dasarnya seseorang yang sudah jatuh cinta dan memberikan separuh hatinya, maka ia akan sulit untuk melupakannya.
Sagarr menatap dingin pria yang ada dihadapanya itu, ia lalu memeluk erat pinggang Aurell, agar Gavin sadar jika malam ini Aurell adalah miliknya.
"Ayo Aurell..." ucap Sagarr sambil membawa pergi Aurell dari hadapan Gavin.
Sedangkan Gavin hanya bisa menatap sendi punggung Aurell yang sudah menjauh darinnya itu.
Bersambung.
__ADS_1