Dia Wanitaku

Dia Wanitaku
Keadaan Berbalik


__ADS_3

°°°°°


Setelah terjadinya insiden itu, apa yang dikatakan Sagarr bukanlah semata-mata ancaman yang lewat begitu saja. Sekali dia membuka mulu dan mengatakan sebuah kata, maka kata-katanya itu akan terjadi sesuai kehendaknya.


Dan begitulah nasip tragis yang dialami keluarga Adhitama dan juga Antoni, mereka mencari lawan yang salah. Sehingga menimbulkan masalah yang berkepanjangan, mungkin masalah itu tak akan selesai begitu saja. Karena sekarang, begitu Sinta dan Eira keluar dari gedung tua itu. Mereka langsung disuguhi awak media yang langsung menghadang mereka, padahal kondisi mereka berdua itu sangat memprihatinkan.


Adhitama yang baru saja pulih dari sakitnya akibat siksaan dari Aurell itu juga mendapat berbagai macam pertanyaan dari para wartawan, yang langsung menyoroti kedua pembisnis terkenal itu. Tak lupa wajah keluarga Adhitama dan juga Antoni terpampang dilayar tv saat ini. Semua orang melihatnya, bahkan berita itu sudah tersebar luas, yang isinya menceritakan tentang persekongkolan antara dua pebisnis. Yang meraih kesuksesan dengan jalan haram! Yaitu menyeludupkan berbagai senjata dan sabu-sabu narkoba! Diberbagai manca negara.


Bahkan teman-teman sekampus Gavin itu tengah membicarakan keluarganya, tentu saja mendapat caci maki dan hinaan oleh mereka.


Keadaan seperti berbalik, yang tadinya mereka tengah membicarakan keburukan Aurell, mencancinya, bahkan membencinya tanpa sebab. Kini semua itu berbalik arah pada orang yang sudah berani mengusik jalannya, dan semua itu adalah karma! Perbuatan keji, akan dibalas dengan yang lebih menyeramkan dari apa yang didapat oleh sang korban.


Gavin merasakan amat malu pada keluarganya itu, semua harta yang ia nikmati selama ini ternyata hasil dari perdagangan haram. Ia hanya bisa pasrah saja, karena bagaimana pun! Orangtuanya tak pernah melibatkanya. Dan ia sendiri tak pernah tau tentang hal itu semua, ia mau menyalahkan siapa? Jika semua itu sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, apa yang dilakukan orangtuanya dimasa lalu sudah tak bisa ia cegah. Ia pun tak bisa memutar waktu, hanya waktu dan keadaanlah yang akan membantu.


Gavin saat ini tengah merenung, ia baru saja kembali dari kantor persidangan. Dimana hari ini, kedua orangtuanya dijerat penjara selama dua puluh lima tahun, serta membayar denda senilai dua puluh miliyar. Semua harta habis terkuras untuk membayar denda itu, yang Gavin punya saat ini adalah sebuah apartemen yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri.


Mulai sekarang ia akan bangkit sendiri, memulai semuanya dari nol.


Pikirannya kalut dan kacau, apalagi ia juga melihat Eira tunangannya yang selama ia bela-bela didepan banyak orang. Ternyata terlibat sebuah rencana untuk membunuh Aurell, dan selama ini ia tak mengetahui itu. Ia sungguh-sungguh sangat bersalah dan menyesali perbuatannya selama ini terhadap Aurell, bagaimana dirinya dengan lantang menghina Aurell dan meneriakinya dengan lontaran menyakitkan didepan umum.


Sungguh tak ada muka Gavin saat ini, ia ingin menemui Aurell dan meminta maaf padanya. Namun urungkan, ia mencari waktu yang tepat entah itu kapan.


"Bagaimana keadaan mu saat ini Aurell?" gumam Gavin yang pikirannya saat ini tak lepas dari Aurell.


...----------------...

__ADS_1


Dua bulan berlalu.....


Saat ini, dikota Berlin tepatnya dinegeri Jerman tengah teriknya sinar matahari. Membuat para pejalan kaki dikota besar itu, sebagian memilih membawa payung dan sebagian memakai kacamata, ada yang sangking gerahnya berhenti disalah satu kran air dipingir jalan itu dan meminumnya begitu hikmat. Bisa dibayangkan betapa teriknya matahari disiang hari itu.


Namun lain hal dengan seorang lelaki yang memakai baju lengan panjang, berjalan menyusuri gedung-gedung itu dengan gaya santainya.


Doni! Dialah pemuda itu, dengan tatapan datarnya terus berjalan dijalan yang cukup ramai orang-orang disana. Bahkan gadis-gadis yang menyapanya itu tak ia gubris, pemuda yang sudah dua bulan terakhir ini, tampak berbeda. Umurnya yang mulai beranjak dewasa itu tentu saja dapat merubahnya, menjadi pria yang tampan membuat para gadis-gadis yang kenal dengan memprebutkan dirinya. Dia cukup populer saat ini, populer dikalangan gadis cantik seksi. Namun tak ada seorang pun yang ia taksiri dari deretan para gadis-gadis itu. Jangan salah! Setiap orang pasti ada satu orang istimewa yang menempati hati mereka, dan Doni salah satunya.


Doni terus berjalan, sambil membawa buah-bahan ditanganya. Tiba-tiba ia membelokan langkahnya disalah satu gedung yang ditengah-tengah gedung itu bertulisan Hospital, yang artinya ia tengah berjalan kearah kerumah sakit.


Brukk...


Tiba-tiba bahunya tersengol oleh seseorang, refleks buah yang ia bawa jatuh namun tak sampai berhamburan.


Ia mengambil keranjang buah yang terbungkus rapi itu, saat ia ingin berdiri ia melihat beberapa lembar kertas berserakan dipijakannya itu.


"Oh! Maaf..." ucap seseorang itu. Anggap aja bahasa inggris yak, karena lagi dijerman saat ini.


"Hemm.." jawab Doni yang hanya mengumam saja, ia lantas memberikan kertas-kertas itu pada seorang wanita yang menabraknya itu.


Wanita itu menerimanya, dan mendongakan kepala melihat wajah Doni.


Doni agak mengerutkan alisnya, kala sedikit familiar dengan wajah itu. Namun ia lupa.


"Terimakasih tuan!" ucap wanita itu, dan tak lupa memberikan seluas senyum pada Doni. Jantung Doni sedikit tersentil kala melihat senyuman itu.

__ADS_1


Wanita itu pergi setelah mengucapkan itu pada Doni yang masih terdiam ditempatnya.


Doni mengedikan kedua bahunya acuh, dan melanjutkan langkahnya lagi untuk masuk kerumah sakit. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti lagi saat mengingat sesuatu dikepalanya.


"Bukankah orang itu... Asistenya Sagarr?" gumam Doni, yang memang benar adanya jika seseorang yang menabraknya itu adalah Joy! Asisten dari Sagarr yang sudah dua bulan itu tak menampakkan wajahnya selama ini. Doni pun sedikit bertanya-tanya tentang Sagarr yang muncul dan menghilang begitu saja.


Doni kembali mengedikan bahunya, ia melanjutkan lagi langkahnya. Sampai pada tujuan ia membuka salah satu ruang rawat VIP disana.


Ia berjalan mendekat pada seseorang yang masih terbaring tak ada tanda-tanda siuman dari orang itu, padahal sudah dua bulan lamanya.


Doni meletakkan keranjang buahnya disalah satu lemari kecil itu, yang memang tersedia disana. Ia kemudian menatap wajah pucat itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan.


Ia kemudian mengusap rambut yang sedikit menutupi wajah itu.


"Aurell... Kapan kamu sadar?" gumamnya yang terus menatap wajah itu.


Ya, dialah Aurellia, yang sejak dinyatakan koma pada saat operasi selesai. Gerland selaku ayah kandungnya membawa Aurell meluncur dinegara kelahirannya, Gerland membawa Aurell begitu saja hanya karena ingin puterinya cepat sembuh dari masa kritisnya.


Namun waktu tak terasa sudah berjalan begitu lamanya, dan sampai sekarang pun tak ada tanda-tanda Aurell siuman.


Gerland pernah sangat frustrasi saat mendengar ucapan seorang dokter terkenal dikota Jerman itu. Mengatakan jika Aurell tak bisa disembuhkan dengan alat bantuan medis, dan hanya waktu, atau keinginan kuat dari Aurell, untuk sembuh dari koma itulah yang dapat membuat kesadaran Aurell pulih dengan maksimalnya.


Namun keajaiban itu, sampai sekarang belum terjadi.


Doni menghela nafas panjang. "Cepatlah sembuh Aurell... Banyak yang merindukan mu. Terutama aku!" gumamnya, setelah itu ia berjalan dan keluar dari ruang rawat itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2