Dokter & Petani

Dokter & Petani
Hilang Rasa


__ADS_3

Keesokan harinya sekitar pukul setengah enam pagi, Kyra yang tidak masuk kantor karena libur akhir pekan keluar rumah dengan pakaian olahraga lengkap, betapa terkejutnya ia saat membuka gerbang halaman, karena Dito telah berdiri di depan gerbang dengan senyum kocaknya karena berhasil membuat Kyra terkejut.


"Astaga Dit! mau buat aku mati berdiri?!" Seru Kyra dengan keterkejutannya.


"Kejutan pagi, selamat pagi sayangku Kyra yang cantik" Goda Dito


"Pagii, dari jam berapa berdiri di situ?" Tanya Kyra sambil melangkahkan kakinya untuk memulai jalan pagi, Dito yang ditinggal begitu saja langsung mengejar langkah Kyra.


" Main tinggal saja sih Ra? aku belum lama sih berdiri di situ" Jelas Dito.


"Jalan kaki saja?"


"Iya, penginapanku tidak yang jauh diatas , cuma di perbatasan kampung."


"Ooh, pantas saja sudah standby depan gerbang gak pake kendaraan apapun, secara kamu kan males jalan kaki agak lama." Celoteh Kyra dengan mempercepat jalan kakinya.


"Ra, kamu kenapa sih? perasaan dari ketemu kemarin jutek banget deh sama aku, gak ada kangennya sama sekali." Protes Dito sambil mengimbangi langkah Kyra. Mendengar perkataan Dito, Kyra langsung menghentikan jalannya.


"Ya ampun Ra, kalau mau berhenti tu bilang-bilang dong!" Seru Dito yang menabrak Kyra karena berhenti mendadak.


"Iyaa, aku minta maaf, karena aku malah jutekin kamu, aku seolah gak kangen kamu." Kata Kyra dengan menghela panjang nafasnya. Jujur, dihati Kyra telah mulai luntur perasaan buat Dito, tapi ia tak mau membuat masalah sepagi ini, maka ia lebih baik mengalah, bila ada waktu yang tepat untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya saat ini, maka ia akan jujur apapun konsekuensi yang akan dia dapat.


"Ra, kamu mau pulang ke kota tidak libur ini? secara kamu kan jarang banget pulang, sudah betah jadi orang pegunungan." Tanya Dito diselingi canda.


"Hari ini aku gak balik, tau kalau besok" jawab Kyra. Lagian mau pulang juga ngapain? papa mama tidak dirumah, kamu juga tetap sibuk dihari libur, mendingan di gunung, adem!" Kyra menekankan kata adem, karena Kyra merasa hubungannya dengan Dito adem, tak ada kehangatan seperti awal mereka berhubungan.


"Biasa saja kali Ra ngomongnya." Protes Dito yang mendengar jawaban Kyra cenderung ngegas.


"Aku juga biasa saja kali, kamu aja yang baper, kaya baru kenal sama aku saja." Kata Kyra cuek sambil mempercepat jalannya., Saat di persimpangan gang, mereka bertemu dengan Sari yang hendak olahraga pagi juga.


"Ehh! mbak Kyra. Gak ada janji bisa barengan jalan pagi memang telepati kita kuat ya mbak." Seru Sari begitu gembira saat bertemu Kyra.


"Yaa, bisa jadi begitu Sar." Jawab Kyra.


"Ehh, siapa dia mbak? Pagi-pagi sudah ngintilin mbak saja, mas Aryo saja kalah pagi." Sari terkikik geli sendiri.


"Apa yang lucu heh cewek gunung? Aku ini calon suami Kyra!" Seru Dito kurang senang dengan candaan Sari. "Lagian ngapain kamu bandingin aku sama pemuda pengangguran kaya dia? gak level!" Lanjut Dito sedikit berang.


"Biasa saja kali mas, gak usah ngegas gitu, telinga saya masih normal, lagian tidak usah diperjelas kalau saya gadis gunung, tapi perasaan sikap mas malah lebih udik dari saya deh!" Kata Sari sambil membuang muka dengan cepat.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?!" Dito naik pitam dan berniat mengintimidasi Sari karena tersinggung dengan ucapan gadis itu.


"Stop!" Seru Kyra. "Dit, kamu kenapa sih sekarang jadi mudah emosi? gak asik tau gak?" Lanjut Kyra


"Orang sukses memang begini Ra." Guman Dito yang didengar kedua gadis di depannya, mendengar perkataan Dito Sari terbahak sedang Kyra hanya memutar bola mata malas, geli dan malu jadi satu.


"Sudah ah yuk lanjut!" Ajak Kyra sambil berjalan dan segera diikuti Dito dan Sari.


"Kok bisa sih mbak, punya calon suami seperti dia? gak cocok banget tau gak sih mbak?" Bisik Sari dengan tawa yang ditahan.


"Tidak usah bisik-bisik ngomongin saya cewek gunung!" Seru Dito dari belakang.


"Udah Dit, jangan kencang-kencang suaranya, nanti jadi pusat perhatian orang kampung, kalau tidak mau dengar celoteh Sari pake saja earphone kamu dengerin musik, atau balik penginapan saja!" Seru Kyra mulai agak kesal.


"Kenapa harus sekasar itu sih Ra? Di depan teman kamu lagi!" Dito kurang senang dengan perkataan Kyra, dan lagi-lagi Kyra harus menghela nafasnya dalam untuk menghadapi Dito.


"Sorry Dit, aku minta maaf bukan maksud aku buat kamu malu, tapi kita sebagai orang dewasa tak perlulah berucap seperti apa yang kamu ucapkan ke Sari, karena jatuhnya kamu malah kekanakan, dan kamu juga Sar, dari awal sudah tahu Dito baperan, masih saja kamu goda walau tidak langsung." Kyra meminta maaf tapi juga sekaligus menasehati kedua orang yang bersamanya itu agar mereka bisa saling jaga sikap sebagai orang yang sudah dewasa.


"Sorry.." Kata Dito dan Sari bersamaan.


"Sudah ah, aku tidak mau lanjut jalan pagi lagi, sudah hilang mood aku, aku mau sarapan bubur di kedai bu Tati, hmm mumpung baru buka pasti masih lengkap." Girang Kyra melihat kedai bubur langganannya sudah buka, dan kali ini ia beruntung karena jadi pelanggan pertama, karena biasanya saat Kyra datang makanan yang dijajakan sudah beberapa yang habis.


"Ra! gak salah?!" Dito menatap Kyra heran.


"Ya enggak lah, kamu kalau sudah ngerasain pasti nagih, tapi kalau kamu gak mau ya sudah tidak usah ikut makan, lagian tempat kaya begini mana kamu mau? bukan level kamu, tapi bagiku yang penting tempatnya bersih higienis juga." Kata Kyra setengah ketus karena Dito sekarang seolah berlagak selangit, itu juga salah satu faktor yang membuat Kyra ilfeel dengan Dito.


"Sar, kamu makan bubur apa nasi?" Tanya Kyra saat mereka sudah masuk ke kedai.


"Bubur sayur saja mbak." Jawab Sari.


"Kamu makan apa Dit?" Tanya Kyra pada Dito yang sudah duduk sambil makan gorengan yang tersedia di meja.


"Sama kaya kamu saja." Jawab Dito sambil mengunyah makanannya.


"Hmmm... di luar lagaknya selangit, giliran lihat gorengan sudah lupa sama gaya sok elitnya." Gumam Kyra dan Sari yang mendengar gumaman Kyra hanya tertawa ditahan sambil menutup mulutnya agar tak bersuara.


"Bubur sayur tiga ya bu." Pesan Kyra


"Ya bu dokter, silahkan duduk dulu nanti saya antar ke mejanya." Kata bu Tati ramah, segera Kyra dan Sari menuju meja yang di tempati Dito, tak lama pesanan mereka pun datang, setelah selesai disajikan mereka segera menyantap bubur dengan pilihan lauk yang tersedia di meja.

__ADS_1


"Gila, enak banget ini, cocok banget sama hawa pegunungan." Kata Dito sambil menikmati bubur beserta beberapa lauk pauknya. Sementara Kyra hanya mengedikkan bahunya saat Sari menatapnya karena perkataan dan kenyataan Dito yang berbanding terbalik.


"Bu, tambah satu lagi buburnya ya!" Seru Dito pada bu Tati.


"Ya mas, tunggu sebentar." Jawab bu tati yang sedang melayani salah satu pelanggan yang mulai datang, lalu ia segera mengantar pesanan Dito.


"Sudah selesai sarapannya dok?" Sapa Agus yang masuk ke kedai bu Tati juga.


"Iya nih mas, mau sarapan juga?" Tanya Kyra.


"Iya, tapi mau bungkus saja, biar bisa sarapan bareng Haris." Jawab Agus


"Kok tadi mas Haris tidak diajak sekalian mas, kan bisa sarapan bareng sama kita?" Tanya Sari penuh sesal. dan Agus hanya tersenyum menanggapi perkataan Sari.


"Kita? kamu aja kali Sar." Sahut Kyra dan Sari hanya memajukan bibir bawahnya menanggapi ucapan Kyra.


"Sirik!" Seru Sari, dan Kyra hanya mengedikkan bahunya.


"Aku duluan ya, mari." Pamit Agus kapada mereka setelah selesai mendapatkan sarapannya.


"Ya mas." Jawab Sari bersamaan.


"Cakep sih, setengah bule lagi, sayang cuma jadi petani, gak selevel sama wajahnya." Kata Dito remeh setelah Agus pergi dari tempat itu.


"Jangan suka meremehkan pekerjaan orang lain, bisa jadi penghasilan dia lebih gede daripada kamu biarpun dia hanya petani dan kamu manajer." Kata Kyra dengan wajah setengah datar dan ketus


"Aku sih bicara realita saja ya Ra, sama-sama pekerja tapi tetap saja sepintas mata lebih bonafide aku lah." Dito bicara dengan lagak pongahnya.


"Terserah kamu lah, iya kamu yang paling segalanya." Ketus Kyra sambil berdiri dari duduknya hendak membayar makanan yang sudah mereka makan. Tapi Dito segera beranjak dan menyerahkan uangnya guna membayar sarapan mereka. Setelah itu mereka kembali berjalan untuk pulang dan Sari melanjutkan jalan paginya sekalian akan mendatangi perkebunan untuk bertemu Haris.


"Ra, habis ini aku mau pulang ke kota, aku ada kepentingan, sorry tidak bisa liburan bareng kamu lagi" Kata Dito dengan rasa tak bersalah.


"Iyaa, tidak apa, sudah biasa aku." Jawab Kyra datar.


"Atau kamu mau ikut balik ke kota?"


"Tidak lah, papa mama sedang ke luar negeri, kamu juga pasti sok sibuk di hari libur, mending di sini saja." Tolak Kyra. "Lagian siang nanti aku diundang kerumah teman." Lanjut Kyra.


"Ooh ya sudah kalau begitu." Kata Dito tak bereaksi, dan Kyra pun tak mau tahu dengan sikap lelaki yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2