
"Alex tunggu!" seru Julia saat Alex hendak masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke ruang kerjanya di lantai paling atas gedung perkantoran ini.
Alex tak bergeming dengan panggilan dari Julia, ia langsung saja masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, dan pintu lift pun hendak tertutup, tetapi dengan sigap Julia menekan tombol hold dan pintu lift kembali terbuka.
Alex hanya membuang nafasnya malas saat Julia berhasil mengejarnya. Di dalam lift khusus itu Alex hanya diam tanpa melihat ke arah Julia yang sedang bercerita mengenai keterkejutannya dan tidak menyangka kalau sekarang Alex yang memegang kendali perusahaan tersebut.
Lift berhenti di lantai yang dituju Alex, dengan segera lelaki itu keluar dari lift tanpa mempedulikan Julia dan langsung berjalan menuju ruangannya.
Julia berjalan tergesa mengikuti langkah lebar Alex dan meminta lelaki itu untuk memperlambat langkahnya, tetapi Alex tak bergeming, tetapi ia juga tak mengusir Julia agar tak mengikutinya. Karena Alex masih menghormatinya sebagai kliennya.
Alex menjatuhkan tubuhnya ke kursi kebesarannya tanpa mempedulilan Julia yang duduk di depannya.
"Alex, apa kamu masih marah padaku karena keputusanku waktu itu hingga kamu memilih menghindariku di pertemuan pertama kita ini?" cecar Julia seperti tak bisa menerima perlakuan Alex.
"Untuk apa aku marah pada masalah yang sudah sangat lama berlalu? Buang-buang waktu saja." jawab Alex datar.
"Aku pikir masih daddy kamu yang memegang kuasa di perusahaan ini, aku sungguh terkejut saat mengetahui ternyata tuan Agam yang menghandel langsung permintaan agensiku itu kamu, bukan daddy." binar bahagia tersirat dari wajah cantik Julia saat ini.
"Mungkin kalau aku tahu kalau model itu adalah kamu, aku tidak akan menerima tawaran kerja sama ini." sahut Alex masih dengan nada datarnya.
"Siapa yang bisa menolak keuntungan besar yang agensiku tawarkan?" bangga Julia.
"Bukan keuntungan, tapi sebuah kepercayaan, karena agensimu hanya percaya pada perusahaanku, atau ini hanya tak-tik kamu aku juga tidak tahu." bela Alex seakan mengetahui muslihat Julia.
"Buat apa Lex, aku hanya bersikap profesional saja, karena aku percaya perusahaan ini yang terbaik menurutku, dan tentu akan menghasilkan decak kagum kepada para penggemarku nantinya." Julia berdalih untuk menutupi tak tiknya yang sudah terbaca Alex.
__ADS_1
"Heh! Katamu tadi hanya karena uang, sekarang kamu juga mengakui keunggulan perusahaanku ini." Perkataan Alex seolah menohok Julia tapi ia tak ambil peduli.
"Yaa, begitulah aku memang mengakuinya." sahut Julia sambil tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya, dan Alex hanya menyeringai dengan smirk tipis di sudut bibirnya.
"Kembalilah ke studio lagi, orang-orangmu pasti sedang mengkhawatirkanmu, aku mau meneruskan pekerjaanku!" kata Alex sengaja mengusir Julia dari ruangannya.
"Aku masih ingin berlama-lama di sini, mereka akan sabar menungguku sampai aku kembali." Julia menolak pengusiran halus Alex.
"Ini bukan tempat ajang nostalgia, ini tempat bekerja, dan kalau kamu di sini kamu hanya akan menghambat pekerjaanku." Alex berbicara agak ketus.
"Ayolah Lex, begitu mudahnya kamu melupakan kenangan kita yang dulu, kemana Alex yang begitu hangat dulu?" protes Julia tak terima atas pengusirannya dan malah mengungkit masa lalu mereka.
"Ha...ha...ha....!" tawa Alex. "Apa perkataan kamu itu pantasnya kamu sematkan untuk kamu sendiri ya Jul?" kata Alex masih dengan tawanya.
"Aku tidak pernah melupakanmu Lex, aku hanya mengejar cita-cita dan obsesiku, kalau dulu kamu mendukungku, hubungan kita saat ini pasti akan lebih manis." Julia membela diri.
"Aku masih terlalu rindu sama Alex ku, yang sengaja menghindariku sejak aku pergi melanglang buana mengejar karir model internasionalku." Julia enggan bergeming dari tempat duduknya, justru ia menatap dengan lekat wajah tampan Alex yang terlihat semakin tampan dan dewasa dari saat terakhir ia meninggalkan Alex yang bersikeras menahannya untuk tidak pergi saat itu.
"Maaf Jul, tapi rinduku telah menguap bersamaan dengan kepergian kamu. Bukannya aku ingin menghalangi kamu dalam berkarir saat itu, tetapi dengan tidak kamu mengabulkan keinginanku saat itu yang agensi kamu saja bisa menerima, itu sudah membuatku tersadar, kamu gak butuh aku, jadi untuk apa aku bertahan dengan sesuatu yang tak akan pernah aku dapatkan, buang-buang waktu saja." jelas Alex menohok perasaan Julia.
"Maafkan kesalahanku waktu itu Lex, aku hanya terlalu bahagia dan tak sabar menyongsong harapanku yang telah terkabul, tetapi aku tak pernah melupakanmu Lex, jadi berilah aku kali ini kesempatan untuk menebus kesalahanku yang dulu, aku ingin memperbaiki hubungan kita lagi Lex." Julia menghiba maaf dari Alex
"Aku sudah lama memaafkan kamu Jul, aku sadar itu sudah jalan dari Tuhan yang harus kita lalui, tetapi untuk sebuah hubungan, mungkin hubungan kita hanya sebatas kerja sama ini saja, setelah semua selesai aku harap kamu jangan pernah lagi mengusik hidupku." jelas Alex.
"Kamu jangan menghukumku seperti ini Lex, aku ingin kita merealisasikan cita-cita kita yang dulu, membina sebuah keluarga kecil kita yang bahagia." kata Julia menerawang.
__ADS_1
"Sayangnya aku tidak bisa Jul." sahut Alex.
"Tapi kenapa Lex?" Julia hendak meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya, tetapi telapak tangan Alex terangkat mengisyaratkan Julia untuk menunggu saat ponsel di sakunya bergetar.
Dilihatnya siapa sang pemanggil di layar ponselnya, terlihat wajah Alex begitu berbinar melihat siapa yang menghubunginya.
"Ya sayang?" sapa Alex pada sang penelpon yang ternyata Kyra. Tentu saja itu membuat mata Julia membulat tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kamu di kantor baik-baik saja kan mas? Perasaanku sangat tidak enak, kepikiran kamu terus." tanya Kyra langsung.
"Aku tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan pulang cepat, mungkin selesai kita bicara aku akan langsung pulang, aku sedang merasa tidak konsentrasi untuk melanjutkan pekerjaanku, jadi lebih baik aku pulang saja." jawab Alex menanggapi pertanyaan Kyra dari seberang sana.
"Aku juga sudah pulang dari habis istirahat tadi mas, kamu hati-hati di jalan kalau pulang, aku tunggu kamu di Ale's Farm." pesan Kyra. Mendengar Kyra yang juga telah pulang dari tempat kerjanya membuat Alex merasa sedikit bersalah karena telah menemui Julia yang kembali mengungkit masa lalunya.
"Feeling Kyra ternyata sangat kuat, aku akan cepat pulang agar dia tidak terlalu khawatirkan aku." batin Alex.
"Ya sudah, aku akan bersiap pulang kalau begitu. I love you sayang, emmuah..!" Alex memberikan kecup jauhnya sebelum menutup pembicaraannya dengan Kyra.
Setelah Kyra juga membalas kecup jauh dan juga balasan perkataan cintanya, Alex mengakhiri panggilan tersebut.
"Alex! Apakah...?" Julia tak melanjutkan pertanyaannya, ia terlalu kaget mendengar dan melihat manisnya interaksi Alex dengan seseorang di seberang sana yang Julia duga sebagai istrinya.
"Ya, dan kamu harusnya sudah tahu harus bagaimana, karena kamu sudah tahu bagaimana aku jika sudah mencintai seseorang, itu kalau kamu masih ingat. Silahkan kamu kembali ke studio, karena aku akan pulang sekarang, kehadiran kamu sudah merusah hariku." perkataan dingin dan tajam Alex begitu panas di pendengaran Julia.
Tanpa banyak kata lagi, Julia pergi dari ruangan Alex tanpa pamit dan dengan air mata yang berderai. Ucapan tajam Alex begitu melukai harga dirinya sebagai seorang perempuan, tetapi bukan tanpa sebab Alex bicara setajam itu, karena Julia sendiri lah penyebabnya.
__ADS_1
...****************...
Terima kasih sudah mampir di ceritaku readers semua. Jangan lupa like dan komennya ya.. 🥰