
Julia berjalan tak memperhatikan jalan, saat hampir tiba di depan lift, ia bertabrakan dengan seseorang.
"Hati-hati dong mbak!" seru seseorang yang di tabrak Julia.
"Maaf." kata Julia singkat sambil sekilas menatap seseorang yang menegurnya. Dan orang itu pun menatap Julia yang terlihat sedang menangis.
"Mbak Julia kah?" tanya orang yang ditabrak Julia seolah mengenalinya. Dan spontan Julia mendongakkan wajahnya dan tak lagi menyembunyikan wajah merahnya akibat menangis.
"Alena?!" Seru Julia yang masih begitu ingat dengan wajah Alena, dan Alena adalah orang yang bertabrakan dengan Julia.
Julia spontan memeluk Alena dengan erat dan tangis yang semakin menjadi.
"Kenapa mbak menangis seperti ini? Ayo ke ruanganku saja sebelum ada yang melihat." Alena merangkul Julia dan diajak masuk ke dalam ruangannya. Alena mendudukkan Julia di sofa ruangan tersebut dan setelah itu Alena pun mendudukkan dirinya di samping Julia.
Diambilnya sebotol air putih kemasan yang tersaji diatas meja, setelah dia buka segera di berikan kepada Julia dan perempuan itu langsung meneguk isinya hingga separuh botol.
Setelah meletakkan botol minumnya diatas meja, Julia menatap Alena dengan wajah sendu dan sisa-sisa air mata masih tampak di kedua matanya juga pipinya.
"Sudah lebih tenang?" tanya Alena hanya dijawab anggukan oleh Julia.
"Kemana mbak Julia selama ini, lama tak ada kabar tiba-tiba ada di kantor ini?" tanya Alena yang tak tahu menahu kenapa tiba-tiba Julia tak ada kabar dan membuat kakaknya menjadi seorang pendiam.
"Aku pergi mengejar karir impianku, apa Alex tak pernah bercerita sama kamu?" tanya Julia setelah menjawab pertanyaan Alena dan hanya di jawab gelengan kepala dari Alena.
Dulu Julia berpamitan kepada keluarga Agam hanya untuk mengejar cita-citanya yang telah terbuka jalannya, tetapi mereka tidak tahu kalau ada perselisihan di antara Alex dan Julia.
Saat keluarga Alex bertanya tentang kabar Julia pada Alex, jawaban Alex selalu sama yaitu kalau Julia tak pernah memberi kabar, padahal mereka tidak berganti nomor telepon, tetapi tampaknya Julia memang tidak pernah memberi kabar kepada siapapun keluarga Alex.
Alex selalu bilang pada mommy Sandra serta Alena yang masih terlalu berharap untuk menjadikan Julia keluarga, apalagi kalau bukan sebagai pendamping Alex, agar melupakan Julia yang tak akan pernah kembali dan kalaupun kembali mungkin dalam waktu yang lama.
Harapan yang lama mereka tunggu hanyalah sebuah harapan kosong membuat mereka telah melupakan keinginannya, karena untuk apa berharap kepada hal yang tidak pasti.
__ADS_1
Akhirnya mommy Sandra juga Alena menuruti perkataan Alex dan mereka malah berharap agar Alex segera mendapat pasangan yang bisa membahagiakan Alex.
"Lalu mbak Julia ada keperluan apa di sini?" tanya Alena setelah tersadar dari ingatannya dahulu.
"Aku ada kerjaan pemotretan di sini, dan kami sedang mempersiapkan segalanya." jawab Julia.
"Tunggu! Julie Aurora itu mbak Julia?" tebak Alena setelah mendapat jawaban dari Julia tentang keperluannya. Julia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Alena.
"Persiapan tempatnya kan di gedung belakang, belakang, kenapa bisa sampai ke sini mbak?" tanya Alena heran.
"Aku mengikuti Alexi ke ruang kerjanya, tadi dia langsung menghindar begitu bertemu sama aku." jelas Julia.
"Itu yang membuat mbak Julia menangis?" tanya Alena.
"Itu salah satunya, tapi yang utama Alex sekarang sudah sangat berubah." jelas Julia.
"Memang seharusnya begitu sih menurutku." kata Alena ambigu, tetapi sepertinya Julia tidak memperhatikan perkataan Alena barusan.
"Tapi nyatanya kakak kamu mau kan? Seseorang yang ingin punya keuntungan besar kan mau melakukan apapun demi keuntungan itu." sindir Julia.
"Tidak juga sih menurutku. Mungkin karena keinginan konsumen yang menurutku berlebihan, profesional kerja saja, toh tidak setiap saat setiap waktu kakak stay di sana." Sepertinya perkataan Julia agak menyinggung Alena.
"Ya sudah mbak, aku mau lanjut kerja lagi, silahkan mbak Julia kembali ke gedung bawah belakang gedung kantor ini, tentunya timnya mbak sudah terlalu lama menunggu mbak!" tiba-tiba Alena jadi malas untuk melanjutkan pembicaraan dengan Julia.
"Boleh aku minta nomor ponsel kamu Al?" tanya Julia sebelum pergi.
"Mau buat apa mbak? Cuma menuhin daftar kontak mbak Julia saja, toh juga gak pernah di hubungi kan?" sindir Alena.
"Kalian kenapa sih Al, kok jadi berubah sikap begini sama aku?" tanya Julia tak habis pikir.
"Mbak Julia tanya sama aku? Lalu aku mesti tanya siapa mbak?!" seru Alena sudah mulai agak kesal.
__ADS_1
"Al, aku serius ingin memperbaiki kesalahanku di masa lalu, aku menyesal telah pergi dan tak pernah ada kabar." sesal Julia.
"Hubungannya sama aku apa ya mbak? Aku sih baik-baik saja, oke-oke saja kalau memang mbak ingin memperbaiki kesalahan mbak, tapi kan mbak Julia gak ada salah sama keluarga Agam lalu buat apa mbak?" tanya Alena seperti sebuah jebakan untuk Julia.
"Kesalahan utamaku dengan Alex tetapi makin aku perparah dengan tak pernah memberi kabar ke kamu dan mommy, karena aku terlalu fokus dengan pekerjaanku di luar sana." jelas Julia.
"Hah! Ternyata benar yang kakak bicarakan dulu, aku sama mommy terlalu berharap banyak sama mbak Julia, tapi yang di harapkan tidak pernah merasa. Aku bersyukur sih kak Alex bukan tipe orang yang mudah menderita karena cinta, walaupun beberapa waktu yang lalu dia hanya petani tetapi dia berhasil menaklukkan seorang gadis istimewa dengan pekerjaan elitnya." bangga Alena menerawang.
"Apakah benar sekarang Alex sudah memiliki kekasih atau mungkin malah istri?" tanya Julia seperti tak percaya, Julia tahu kalau Alex tipe lelaki yang tidak mudah jatuh cinta. Julia kembali teringat percakapan Alex di telepon tadi.
Tiba-tiba ponsel Julia berdering saat Alena hendak menjawab pertanyaan Julia, rupanya tim Julia sudah terlalu lama menunggu, karena mereka ada jadwal kegiatan lain dan harus segera meninggalkan tempat itu.
Julia mendengus kesal karena pertanyaannya belum mendapat jawaban dan dia sudah harus pergi dari tempat itu.
"Al, aku tunggu penjelasannnya lebih lengkap ya, aku harus segera pergi." harap Julia disela keterburu-buruannya, tanpa jawaban Alena hanya melambaikan tangannya kepada Julia yang telah bejalan meninggalkan ruangan Alena.
Perkataan Alena terus membayangi pikiran Julia, perempuan itu diterpa rasa penasaran yang amat sangat tentang siapa sosok perempuan beruntung yang berhasil mencuri hati seorang Alexi August Agam yang sulit ditaklukkan.
"Lama banget sih Jul?" tanya manajer Julia saat Julia telah sampai di hadapan mereka.
Belum sampai Julia menjawab pertanyaan itu mereka segera masuk ke mobil yang akan membawa mereka ke lokasi kerja selanjutnya.
"Apa benar perkataan Alena tadi ya? Berarti Alex tidak sedang berbohong, yang di telpon tadi mungkin memang kekasihnya. Kalau memang benar Alexi telah memiliki kekasih yang Alena bilang istimewa dengan pekerjaan elit, seperti apa rupa gadis itu yang mau dengan seseorang yang hanya bekerja sebagai buruh tani." Julia seperti sedang tertawa dalam hati memikirkan perkataan Alena.
Julia seakan sedang mencibir tidak percaya di jaman sekarang ada seorang gadis dengan pekerjaan bagus mau menerima cinta seorang buruh tani.
"Omong kosong!" guman Julia pelan agar para rekannya tidak mendengar apa yang diucapkannya.
...****************...
Selamat membaca, jangan lupa like komennya ya, juga giftnya, hehe.. Terima kasih semua 🥰
__ADS_1