Dokter & Petani

Dokter & Petani
Perubah Suasana Hati Agus


__ADS_3

POV Agus (author)


Pagi itu seperti biasa Agus sudah memulai kesibukannya sebagai penanggung jawab Ale's Farm terutama dibidang pertanian dan perkebunan bersama dengan Haris.


Agus hendak bersiap pergi ke kota untuk membeli berbagai keperluan pertanian yang sudah menipis dan sales yang biasa mengantar semua keperluan itu belum bisa datang dalam minggu ini, maka mau tak mau ia harus membeli sendiri di kota, sekaligus mengantar berbagai macam sayur dan buah serta bunga kepada seluruh pelanggan tetapnya.


Saat ia sudah siap berangkat ponselnya berdering, dan segera diambilnya ponselnya, melihat nama yang tertera dilayar raut muka yang tadinya ceria langsung berubah menjadi muram, tetapi dia tetap menerima panggilan itu, begitu seriusnya percakapan yang terjadi terlihat dari raut Agus yang tak ada sirat ceria sama sekali, justru wajah tampannya semakin murung dan mengeratkan rahangnya menahan amarah, setelah selesai bicara lewat telpon ia tak kuasa lagi menahan amarahnya, vas bunga keramik berukuran tidak begitu besar dilemparnya sembarangan sebagai pelampiasan amarahnya kepada orang di seberang sana, dan ternyata lemparannya mengenai cermin besar yang tergantung di tembok ruang keluarga.


Praaang..!!!


Suara cermin beradu dengan kerasnya vas bunga membuat cermin yang lumayan besar itu hancur, dan terdengar sampai luar rumah utama di Ale's Farm. Haris yang mendengar suara itu langsung berlari ke dalam rumah, dan didapatinya Agus masih berdiri mematung dengan mata merah dan rahang ketat menahan amarah.


"Mas! ada apa ini?" tanya Haris begitu kaget melihat kondisi Agus yang tidak seperti biasanya.


"Tidak apa" jawab Agus singkat.


"Ini cermin kenapa bisa hancur begini, kalau madam tahu bisa nggak habis-habis ngomelnya ke mas Agus." kata Haris sambil membungkukkan badannya hendak membereskan pecahan kaca tersebut.


"Sudah Ris, biar aku yang beresin puing kaca ini, kamu selesaikan dulu menata semua yang hendak kita bawa." kata Agus datar sambil ikut membungkuk hendak membereskan kaca lampiasan amarahnya. "Aku akan tanggung jawab penuh mengganti ini sebelum madam mengetahuinya, kita juga belum tahu kapan ibu bos besar datang ke perkebunan ini." sambung Agus sambil mengumpulkan puing kaca dengan cekatan.


"Aduuh mas, pelan-pelan bahaya kalau begitu cara beresinnya!" suara Haris terdengar khawatir melihat Agus yang grasah-grusuh menahan amarah. Agus tidak mengindahkan saran Haris ia tetap tidak hati-hati membereskan pecahan kaca itu, hingga akhirnya Haris yang sudah melangkah hendak keluar rumah guna meneruskan pekerjaannya tadi kembali berbalik menuju Agus karena ia mendengar suara Agus yang tertahan.


"Aaww..!" suara Agus setengah berteriak yang membuat Haris kembali mendekatinya, Haris melihat kucuran darah di tangan Agus.


"Astaga mas Agus, pasti karena tidak hati-hati, tadi aku bilang pelan-pelan kan." omel Haris sambil mengambil kotak P3K yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Biar saya bersihkan mas." kata Haris sambil mengambil tangan Agus yang dibiarkan menggantung dengan darah mengucur.


"Tidak perlu biar saja seperti ini." katanya dingin sambil menarik tangannya dari pegangan Haris.

__ADS_1


"Jangan ngeyel mas, aku tidak mau kena marah madam dikira aku tak peduli sama teman yang sedang sakit." kata Haris menggenggam erat tangan Agus yang enggan dibersihkan, mendengar perkataan Haris, Agus akhirnya pasrah lukanya dibersihkan. Tapi darah tak juga mau berhenti mengalir dari telapak tangan Agus lebih tepatnya di sela ibu jari dan telunjuk yang terlihat luka menganga dan dalam.


"Periksa ke faskes mumpung masih belum waktu istirahat, biar kekacauan ini dibereskan yang lain." Saran Haris karena khawatir luka sayatnya ternyata dalam. Agus terlihat malas dengan saran Haris.


"Nggak usah, besok lama-lama juga sembuh sendiri." kata Agus malas, bersamaan dengan itu anak buah mereka masuk memberi laporan kalau persiapan mengangkut hasil panen yang akan dibawa ke kota sudah siap.


"Mas, itu sudah selesai mengangkutnya, sudah siap berangkat." kata pekerja itu.


"Ya Man, terimakasih. Sekarang aku minta tolong bereskan pecahan kaca ini, aku sama mas Agus berangkat dulu." pesan Haris kepada pekerjanya.


"Ya mas." jawabnya sambil berlalu hendak mengambil sapu dan serokan sampah, sementara Haris langsung menarik Agus keluar rumah untuk segera periksa ke faskes desa.


"Kita langsung berangkat saja, nanti mampir di faskes dulu mas, semoga saja antriannya sudah tidak banyak karena ini juga sudah siang." Agus tak menanggapi ucapan Haris, ia hanya mengikuti saja apa perkataan rekannya itu dengan keengganannya dan juga amarah tertahan yang masih terlihat diraut wajah tampannya.


Haris segara menjalankan mobil pick-up pengangkut hasil panen meninggalkan halaman Ale's Farm, sebelum perjalanan ke kota, ia memeriksakan luka Agus ke faskes desa tempat Kyra bekerja.


"Ayo turun mas, sepertinya tidak akan lama, antrian sudah sepi." Haris mendahului turun untuk mendaftarkan pasien sakit, di belakangnya menyusul Agus yang terlihat lebih bersemangat saat melangkahkan kakinya saat memasuki gedung faskes.


Haris menuju kasir setelah itu menyerahkan kertas resep yang telah dicap oleh kasir menuju loket obat, tak butuh waktu lama bagi Haris untuk menunggu antrian obat, karena saat ini tinggal dirinya yang mengambil obat, setelah petugas menyerakan obat yang harus dikonsumsi dan obat luar untuk digunakan ke luka, Haris segera menyusul Agus ke mobil.


Haris melihat raut wajah Agus masih sama seperti saat baru keluar dari ruang periksa, wajah bersahabat Agus tertutup aura dingin itu tak lagi memendam amarah seperti saat keberangkatannya dari Ale's Farm tadi, kini pancar bahagia lebih terlihat di wajah dinginnya.


"Nampaknya pesona dokter Kyra mampu membuat mood mas Agus kembali baik walau tak sepenuhnya." Kata Haris saat sudah mengemudikan mobilnya di jalan raya.


Agus tidak menanggapi ucapan Haris tetapi raut mukanya tak bisa membohongi kalau lelaki tampan itu nampak lebih ceria.


"Nggak usah senyum-senyum sendiri begitu mas, ingat kan dokter Kyra sudah ada yang punya." goda Haris saat dilihatnya Agus tersenyum sendiri mendengar perkataan Haris yang pertama tetapi mendengar ucapan Agus barusan suasana Agus kembali berubah.


"Waaahh merusak suasana hatiku saja kamu Ris, nggak usah kamu ingatin aku sama cowok Kyra yang nyebelin itu, nggak cocok banget kalau cewek seperti Kyra gandengangannya cowok songong kaya dia." seru Agus membuat Haris tertawa.

__ADS_1


"Nampaknya ada benih-benih cinta dihati yang salah nih.." Haris masih tetap dengan kata ledekannya dan tawa tertahannya.


"Ck! apaan sih Ris!" seru Agus kesal.


"Ingat saingannya mas, manajer."


"Lah kan sama kaya kita!" sahut Agus


"Beda kelas mas, kan kata dia waktu itu dia lebih bonafide mas." kata Haris terkekeh. Sedang Agus malah tertawa lepas dengan ejekan-ejekan Haris.


"Kalau aku bisa naklukin hati tuh dokter, aku jadikan samsak hidup kamu Ris!" kata Agus tertawa tapi matanya menyipit tajam kearah Haris, dan Harispun membalas tawa Agus.


"Siapa takut, buktikan saja mas. Aku turut bahagia kalau mas Agus bisa merebut hati dokter Kyra dari cowok songong itu." Haris membakar semangat Agus.


"Dokter sombong itu akan bertekuk lutut dengan pesonaku." perkataan penuh percaya diri Agus semakin membuat tawa Haris pecah.


"Sekarang dokter Kyra sudah tak sesombong dulu mas, sepertinya akan lebih mudah mendapatkan hati dokter Kyra."


"Tadi aku kena marah dia."


"Kenapa?" tanya Agus penasaran.


"Aku tak tahan menahan gejolak hatiku, antara marah yang aku bawa dari rumah dan ingat cowok nyebelinnya dokter Kyra, aku seperti tidak rela kalau dokter harus jadi pendamping lelaki itu, aku genggam tangannya erat saat membalut lukaku tadi, entah kenapa aku merasakan ada energi khusus yang membuatku bisa meredam amarahku." cerita Agus


"Pantes saja dokter marah." timpal Haris.


"Eh mas, btw kenapa kamu semarah tadi sih?" tanya Haris penasaran


"Besok ada waktu luang aku ceritakan, sekarang aku sedang tidak mood buat bahas, aku masih terlalu marah." elak Agus dan Haris hanya bisa mengangguk pasrah karena rasa penasarannya belum bisa terjawab sekarang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2