
Kini hari-hari Alex di lalui dengan bekerja keras memulai pekerjaan barunya, pohon-pohon sengon di kebun belakang ia rombak semua, kebun dibersihkan dari sisa-sisa akar dan tunggak, setelah bersih tanah di campur dengan pupuk kemudian di tanami berbagai macam sayuran.
Untuk memperlancar usahanya itu Alex mempunyai konsultan pertanian yang merupakan temannya sendiri. Jadi Alex tidak merasa kebingungan dengan pekerjaan baru yang bertolak belakang dengan kemampuannya.
Alex tengah bergelut dengan bajak di tanah berlumpur yang hendak ia tanami dengan padi saat ada seorang pekerjanya memanggil dengan lambaian tangannya di pinggir jalan, karena sawah yang sedang di kerjakannya berada tepat di pinggir jalan raya dan tidak jauh dari tempat tinggalnya yang hanya berjarak beberapa petak sawah.
Dan Alex begitu antusias berjalan mendekat saat melihat siapa yang ada di belakang pekerja yang memanggilnya itu.
"Julia!" seru Alex dengan mata berbinar karena tak menyangka akan kedatangan Julia yang tidak memberi tahunya terlebih dahulu.
"Stop Alex! Jangan mendekat, kamu sangat kotor!" seru Julia dengan pandangan jijik melihat Alex yang penuh lumpur.
"Maaf Jul, saking bahagianya aku sampai lupa kalau badanku kotor." kata Alex lalu menceburkan dirinya ke selokan irigasi yang penuh dialiri air yang begitu jernih.
"Ayo ke rumah biar lebih enak ngobrolnya." ajak Alex kepada Julia, dan sebelumnya, orang yang memanggilnya tadi di minta untuk meneruskan pekerjaannya.
Alex langsung mengganti bajunya yang kotor dan basah itu begitu sampai di rumah, sementara Julia menunggunya di ruang tamu sambil menekuni ponselnya.
Alex keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat untuk mereka berdua.
"Minum dulu Jul, mumpung masih agak panas, biar badan kamu lebih segar." kata Alex sambil meletakkan gelas ke meja tepat di hadapan Julia.
"Ya Lex, terima kasih." jawab Julia sambil meletakkan ponselnua, lalu segera diseruputnya minuman yang Alex sediakan.
"Kok gak bilang dulu kalau mau datang?" tanya Alex di sela mereka menikmati minuman hangat dan camilan yang tersedia.
"Kalau bilang namanya bukan kejutan dong." sahut Julia.
"Tanya siapa tahu ada di desa ini? Mommy?" tanya Alex lagi.
"Siapa lagi kalau bukan mommy." sahut Julia lagi.
"Sebenarnya aku ke sini mau pamitan Lex, maaf jika mendadak karena kabar yang aku terima juga baru tadi malam." perkataan Julia menjadi sebuah kejutan dan benar-benar kejutan lebih dari kedatangan Julia yang diam-diam.
__ADS_1
"Pamitan? Maksud kamu apa Jul?" tanya Alex tak mengerti.
"Apa yang aku impikan dan aku cita-citakan selama ini akan segera terwujud Lex." jawab Julia
"Go Internasional?!" tanya Alex penuh selidik, dan Julia hanya mengangguk dengan senyum penuh kepuasan karena apa yang diimpikannya sudah mendapat jalan lebar di depan mata.
"Akhirnya Jul! Selamat ya, kamu memang pantas mendapatkannya!" seru Alex sangat berbahagia dengan pencapaian Julia.
"Terima kasih Lex, ini semua juga berkat dukungan dan kesabaran kamu juga selama ini." bahagia Julia.
"Kapan kamu berangkat? Tapi sebelum berangkat aku mau kita bersama seharian, karena kita pasti akan butuh waktu lama untuk berjumpa kembali." pinta Alex dengan sangat.
"Agensiku memberiku waktu tiga hari ini Lex, tapi aku ingin secepatnya berangkat, semua sudah ku persiapkan jauh-jauh hari, jadi maaf Lex, ini hari terakhir kita bertemu." kata Julia seakan begitu ringan mengucapkan itu di depan Alex, seolah tak ada kesedihan akan berpisah dengan sang kekasih yang sudah bersama-sama beberapa tahun terakhir ini.
"Jul, agensimu memberi kelonggaran tiga hari lho, kamu kan bisa berangkat lusa, besok kita luangkan waktu khusus sebelum kamu pergi." harap Alex dengan sangat.
"Maaf Lex, aku rasa hari ini cukup kok, toh mau sebentar atau seharian kita menghabiskan waktu sebelum keberangkatanku akan sama rasanya kalau hanya di tempat ini saja." entah kenapa Alex seakan tertampar dengan perkataan Julia, ia sedang di remehkan.
"Tidak perlu lah Lex, kalau kamau seharian pergi nanti bos kamu akan marah karena kehilangan satu pekerjanya, dan lagian tempat-tempat favorit kita kan tempat elit dan mahal." Jelas! Alex sedang di rendahkan, dan kini Alex langsung sadar diri, dan kini ia kembali teringat pesan yang dikatakan sang daddy.
"Baiklah Jul kalau itu maumu, terima kasih pengertiannya." sindir Alex, tetapi tidak seperti itu yang Julia terima. Julia berpikir kata pengertian yang Alex ucapkan adalah kenyataan kalau Alex sudah tak sekaya dulu karena memutuskan keluar dari keluarganya.
"Tentunya Lex, Julia gitu loh!" sahut Julia dengan bangganya sementara Alex hanya menyeringai tipis menyadari ia tak berarti apa-apa bagi Julia dengan keadaannya yang sekarang. Tetapi Alex justru bersyukur karena ia bisa tahu siapa sebenarnya Julia, tetapi rasa penasaran masih menggelayut di hati Alex bila belum tahu sebanyak-banyaknya tentang Julia.
"Jul, jangan lupa untuk selalu memberi kabar ya, jangan lantas lupain aku yang hanya seorang buruh tani ini." kata Alex sengaja memperjelas keadaannya yang sekarang.
"Semoga saja ya Lex, saat aku tidak sedang di sibukkan dengan karir modellingku, tapi tentunya aku akan semakin sibuk di sana nanti." jawaban Julia yang tidak memberi kejelasan itu sudah jelas bagi Alex, Julia tidak tulus kepadanya selama ini.
"Iya, aku mengerti kok. Tapi kamu masih ingat kan alasan aku memilih hidup di sini?" tanya Alex ingin melihat sejauh mana perasaan Julia kepadanya.
"Iya Lex, aku masih ingat kok, terima kasih ya karena lebih memilihku daripada dijodohkan dengan gadis yang tidak kamu kenal." bangga Julia
"Aku juga sangat berterima kasih karena kamu mau bersusah-susah menyempatkan datang ke tempat ini untuk berpamitan secara langsung, sayangnya kamu terburu-buru perginya, aku tentu akan sangat kehilangan kamu Jul." sesal Alex yang entah bagaimana tanggapan hati Julia.
__ADS_1
Sebagai orang yang sudah begitu lama selalu bersama perpisahan itu sangatlah membebani pikiran Alex, walaupun ia sadar kalau Julia tidak sepenuhnya tulus, tetapi perasaannya yang telah terlanjur dalam pada Julia membuat Alex seolah memaafkan Julia yang bermuka dua.
"Ya sudah Lex kalau begitu, aku pulang untuk persiapan berangkat besok, aku khawatir kesorean dijalan kalau terlalu lama di sini, padahal aku betah banget suasana dan hawanya." pamit Julia.
"Kamu berangkat jam berapa? Biar aku sempatkan ke kota untuk mengantarkan kamu berangkat." tanya Alex.
"Tidak perlu mengantarku kalau kamu repot dengan kerjaan kamu Lex, aku akan kabari kamu saat chek in di bandara." jawab Julia.
"Tidak masalah Jul, please Jul!" hiba Alex yang masih begitu sayang terhadap Julia dengan tangan menangkup di depan dadanya.
"Jangan begitu dong Lex, aku tidak masalah kamu tidak mengantarku sampai bandara, cukup di sini saja aku tidak masalah Lex. Aku mengerti kesibukan kamu Lex. Jangan memaksakan diri, oke?" kata Julia dengan tutur manisnya dan kembali memunculkan smirk tipis di bibir Alex.
"Ya sudah. Hati-hati selalu dalam pekerjaan kamu di sana ya, semoga kesuksesan akan selalu mengiringmu." pesan Alex dan di jawab anggukan antusias dari Julia.
Ingin Alex memeluk Julia sebelum perpisahannya, tetapi melihat Julia tak ada antusias ia pun mengurungkannya. Alex sudah bisa menguasai perasaannya sejak awal menyadari perubahan Julia.
"Aamiin. Kamu juga ya Lex." jawab Julia sambil melangkahkan kakinya keluar rumah tinggal Alex.
"Jangan tidak kasih kabar kalau kamu tak mau aku jadi jodoh orang!" seru Alex ketika Julia hendak membuka pintu mobilnya.
"Iyaa, dan kalaupun pada akhirnya kamu atau aku tidak berjodoh, berarti memang Tuhan tidak membuka jalannya untuk kita, kita manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan." Perkataan Julia semakin membuat Alex untuk benar-benar sadar kalau saat ini Julia seakan tak butuh diriya lagi.
"Iya aku tahu, tapi kalaupun bisa di tawar aku maunya sama kamu." sahut Alex membuat Julia tersenyum yang entah apa artinya.
"Semoga hanya perasaanku saja dan pikiran negatifku yang berlebihan, walau aku sudah tidak begitu yakin dengan perasaan Julia sebenarnya." batin hati Alex sambil menatap Julia yang sedang masuk ke dalam mobilnya.
Perlahan Mobil yang di kendarai Julia meninggalkan halaman luas rumah itu, dengan tidak menurunkan kaca mobilnya membuat Alex harus benar-benar sadar dari harapannya yang sepertinya akan berakhir semu.
Senyum kecut di bibir Alex menertawakan nasibnya yang ternyata begitu mudah di bodohi dengan harapan semu yang terlambat ia sadari.
...****************...
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan komennya yaa 🥰
__ADS_1