
Waktu merangkak menuju pagi, matahari nampak mulai malu-malu menampakkan sinarnya untuk menerangi indahnya panorama pagi yang mulai dihiasi dengan hiruk pikuk kesibukan sang penghuni belahan bumi siang hari.
Nampak seorang gadis masih nyaman bersembunyi di balik selimut tebalnya, dingin yang begitu menusuk tulang menjadikannya enggan untuk segera beranjak dari peraduannya, apalagi pagi ini ia belum disibukkan dengan rutinitas hariannya karena masih menikmati libur akhir pekannya.
"Queen, bangun nak sudah siang." suara lembut mamanya memanggil sambil mengguncang pelan tubuhnya agar anak gadisnya tersebut segera beranjak dari tidur nyamannya.
"Ehmmm, sebentar lagi ma, dingin banget ini." Kyra yang masih enggan untuk beranjak menjawab perintah mamanya dengan mata yang masih terpejam.
"Tak ada nanti-nanti, anak gadis jangan biasakan bangun siang!" seru mamanya hendak menarik selimut yang masih setia menyelimuti tubuh semampai di baliknya.
Tetapi refleks sang pemilik menahan agar selimut itu tetap berada di tempat yang seharusnya. Terjadilah tarik menarik antara ibu dan anak memperebutkan sebuah selimut.
"Bangun atau mama musti mengguyur kamu dengan satu ember air dingin!" Nada suara tinggi sang mama menggelegar hilang kesabaran saat anak gadis kesayangannya tak mendengar perintahnya untuk segera meninggalkan ranjangnya.
Terlihat tubuh semampai dibalik selimut itu begitu cepat beranjak dari berbaringnya, dan menyilangkan tangan didepan tubuhnya untuk mengurangi hawa dingin yang ia rasa.
"Mama tega banget mau menyiramku di cuaca sedingin ini" keluh Kyra sambil mencebikkan bibirnya tak terima dengan perkataan mamanya.
"Makanya kalau dibilangin orang tua itu nurut, kalau dingin tuhh berjemur di bawah sinar matahari sambil olahraga bareng papa!" seru mama sambil membuka gorden jendela kamar Kyra dan memperlihatkan kepada anak gadisnya apa yang sedang dilakukan papa Kyra.
"Mama kenapa sih, tumben banget sewot begitu sama aku?!" heran Kyra sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya di kran wastafel.
"Bukannya sewot tapi jengah saja melihat anak gadisnya masih saja nyenyak di balik selimut padahal matahari sudah hampir di ubun-ubun, pamali tahu!" kata mama masih dengan nada suara yang agak tinggi, andai tadi Kyra menuruti apa kata mamanya pasti saat ini suara mama begitu adem di telinga Kyra.
"Sudah dong ma, marah-marahnya, Queen minta maaf ya mamaku sayang, aku semalam begadang jadinya mata berat buat diajak bangun pagi." Kyra memeluk mamanya dari belakang sambil mengucapkan permohonan maafnya karena sudah buat mamanya kesal.
"Kenapa begadang sampai pagi?" selidik mama.
"Ya gapapa sih ma, sekali-kali gak apa lah ma, aku keasyikan lihat video grup k-pop favorit aku sampai lupa waktu." dalih Kyra beralasan, padahal ia masih merasakan sesal yang mendalam akibat perlakuan Dito di belakangnya.
Tetapi beruntung Kyra telah lama menyadari kebodohannya bahwa tak ada lagi yang bisa diharapkan dari Dito, karena lelaki itu yang sengaja menjaga jarak dari Kyra, sekeras hati usaha Kyra untuk mempertahankan hubungannya agar tetap utuh ternyata hanyalah kesia-siaan belaka, Dito meremehkan hubungan serius mereka.
Dan bersamaan dengan mulai luntur kepercayaan juga rasa untuk Dito, hadir mengisi ruang kosong di hatinya sosok sederhana dalam segala hal tetapi penampilannya sungguh istimewa, bahkan lelaki itu tak pernah merasa menyerah biarpun dari awal tanggapan Kyra cenderung dingin dan ketus, tetapi ia membalasnya dengan santun dan ramah, Kyra bahkan merasa nyaman saat berada di dekat lelaki sederhana itu tanpa ia sadari.
Tetapi sepertinya kesederhanaan yang ia tampilkan selama ini hanyalah sebuah kamuflase semata, faktanya Kyra melihat sisi lain dari lelaki yang pelan namun pasti telah merebut hatinya itu dan mulai menunjukkan siapa sebenarnya dia.
Yah, Alexi August Agam, seorang lelaki berperawakan gagah tinggi kekar dengan wajah setengah bulenya mampu membangun sebuah istana cinta di hati Kyra yang telah rapuh saat ia tempati bersama Dito.
__ADS_1
Bahkan Kyra selalu berpikir dalam renungannya kalau ia terlalu cepat menerima uluran tangan cinta Alex sebelum tahu semua kebenaran tentangnya hanya karena ia merasa nyaman, Kyra hanya berharap bahwa ia tak lagi salah memilih, hatinya gundah, antara sesal dan masa bodoh dengan diterimanya Alex sebagai pengisi dan pengobat hatinya yang tengah luka akibat torehan belati kebohongan Dito.
Kyra menuju halaman belakang di mana papanya baru selesai berolahraga, ia yang tak mau terus mendapat omelan dari mamanya segera berjemur di bawah hangatnya matahari sambil menggerakkan badannya untuk melakukan aktifitas fisik.
"Kaya kurang semangat gitu sih nak?" tegur papanya saat dilihatnya Kyra kurang bersemngat berolahraga.
"Dingin pa, masih pingin tidur tapi ibu ratu ngomel mau mengguyurku dengan air dingin seember." jawaban Kyra membuat papanya tertawa.
"Pa, perasaan seumur aku hidup baru kali ini deh mama sebar-bar itu sama aku." keluh Kyra
"Karena biasanya kamu nurut tadi enggak!" seru mama menyahut pertanyaan Kyra sambil berjalan mendekat kearah mereka.
"Sesekali kan gak apa ma." lobi Kyra.
"Gak, gak ada! nanti kebiasaan, apa kata suami kamu nanti kalau bangunnya kesiangan melulu." kata mama sambil menyodorkan jus jambu kepada papa.
"Yee, suami saja belum ada sudah ngomongin suami saja mama ini"
"Ya kan siapa tahu jodoh kamu tiba-tiba hadir di hadapan kamu sekarang." sahut mama.
"Sim salabim, abrakadabra!" Kyra mengucapkan rapalan mantra pesulap.
"Yaahh, yang datang malah anak kecil itu ma, bukan calon suami aku." kata Kyra sambil tertawa geli kearah mamanya.
"Haisshh kamu itu becanda saja, orang tua lagi ngomong serius juga." kata mama pasang wajah galaknya sambil berdiri hendak menemui cucu kesayangannya.
"Loh Jes sama siapa? Mama papa kamu mana?!" seru mama saat Jesse sudah berdiri di dekatnya menggandeng tangan seorang lelaki yang bukan papanya.
"Papa mama di dalam, Jes disuruh nganter om buat ketemu onti, kata bibi onti di halaman belakang, ya sudah Jes antar kesini om gantengnya." jawab Jes penuh semangat.
Kyra yang melihat siapa yang digandeng Jesse segera mendekatinya.
"Tunggu, bukannya kamu yang satu kampung di tempat anak saya dinas ya? nak Agus?" tanya mama saat teringat ia pernah bertemu lelaki muda di hadapannya.
"Iya bu, saya datang mengantar bunga pesanan ibu."
"Bohong oma, tadi om ganteng bilang mau ketemu onti!" seru Jes menginterupsi jawaban lelaki muda itu.
__ADS_1
"Jess..?" tegur mama.
"Ya tadi saya memang berkata begitu bu, tapi saya memang mengantar bunga pesanan ibu seperti biasa." Agus terlihat canggung, karena ini pertama kalinya ia datang kerumah ini.
"Mas Agus?" sapa Kyra.
"Iya dok" jawab Agus sambil menganggukkan kepala ramah.
"Ooh, biasanya nak Haris yang antar, kemana memang?" tanya mama.
"Haris kebetulan ada keperluan lain, jadi saya yang menggantikan." Agus terlihat sangat sopan dan hangat, benar-benar sedang dalam mode Agus. Ia mendekat kearah papa yang sedang berjalan mendekat dan langsung bersalaman dengan sang pemilik rumah.
Saat Kyra masih terbengong dengan sikap Agus yang sangat berbeda dengan kemarin, dari dalam rumah sedang berjalan ke arah mereka kedua orangtua Jesse, kakak dan kakak ipar Kyra.
"Mama, anak mama yang paling ganteng datang!" seru Krisna seraya memeluk mama tercintanya.
"Paling narsis iya!" sahut Kyra.
"Papa kalah ganteng ama Jes juga sama om ganteng itu." celetuk Jesse menanggapi kenarsisan papanya, dan disambut tertawa yang mendengarnya.
"Jeess..?" kata Krisna sambil mendekat ke anaknya hendak menggelitiknya.
"Opa, tolong Jess, aku gak mau digelitik!" seru anak kecil itu dengan tawa gusarnya sambil menggelendot manja dalam pelukan kakeknya.
"Kris, terima deh, papa pernah dalam posisi seperti kamu, kamu menyabotase kegantengan papa." perkataan papa sontak mendapat sambutan tawa dari semua.
"Astaga pa, nahh sekarang tahu kan Krisna mendapat kenarsisannya dari siapa?" seru mama menanggapi perkataan papa.
"Onti, Jess pingin jalan-jalan tapi bukan sama mama papa, Jess maunya sama onty sama om ganteng sekarang, pake mobil om yang keren itu!" Jesse berseru kepada Kyra dan Kyra pun sontak menatap ke arah Agus penuh tanya dan hanya ditanggapi Agus dengan mengangkat bahunya.
"Jes gak boleh begitu, om nya mau ada keperluan lain." tegur Adhis ibunya.
"Tidak apa mbak, tapi dokter Kyra mau tidak menuruti kemauan Jes?" Agus menjawab kegusaran Adhis.
"Ayo dong onti, mumpung om ganteng mau, mobil om ganteng keren aunty Jes pingin naik." Rengek Jes penuh harap tantenya menuruti apa maunya, akhirnya Kyra mengiyakan apa mau Jes sebelum anak kecil itu menangis.
"Iya deh, onti ganti baju dulu." pasrah Kyra sambil berlalu masuk kerumah.
__ADS_1
"Horee.. Jes naik mobil keren..!" Jesse bersorak kegirangan lantaran apa yang menjadi keinginannya dituruti oleh tante kesayangannya.
...****************...