Dokter & Petani

Dokter & Petani
Kemuraman Di Ruang Ganti


__ADS_3

Kyra melihat bayangan dirinya di cermin, begitu anggun ia dengan balutan kebaya putih dengan sanggul pengantinnya. Riasan yang tidak begitu tebal keinginan Kyra, membuat wajah manisnya semakin cantik.


Namun itu semua tidak dapat menutupi raut muram di wajahnya. Di hari yang umumnya sangat didambakan oleh sepasang kekasih nyatanya tidak dapat diterima oleh Kyra.


Perjodohan yang tak dapat dihindarinya, ia ingin membenci orang tuanya, ia ingin lari di hari pernikahannya, tetapi apa gunanya? Toh lelaki yang dicintainya pun telah dipastikan menjadi milik orang lain.


Bayangan lelaki yang diperkenalkan kepadanya waktu itu membuatnya bergidik, membuat ia semakin merasa membenci orang tuanya.


Tetapi hati kecilnya berhasil mengendalikan ego Kyra, ia berpikir pasti orang tuanya ada maksud tersendiri dengan memaksanya menikah dengan lelaki yang tidak di kenal dan dicintainya sama sekali.


Wajah bisa di make over, ia hanya berharap suaminya orang yang baik walaupun saat perkenalan mereka seperti saling bermusuhan.


Kyra terlihat melamun di depan cermin, tatapannya kosong, pikirannya mengembara entah sampai di mana, hingga ketiga sahabatnya menghampirinya pun ia tidak menyadarinya.


“Di hari pernikahan kenapa melamun sih sayang?” suara freya lembut sambil menyejajarkan wajahnya dengan wajah Kyra yang duduk di depan cermin, diusapnya punggung Kyra dengan pelan.


Kyra pun terkejut saat didengarnya suara Freya yang menyapanya tiba-tiba.


“Eh! Astaga! Ngagetin saja sih Fre!” seru Kyra sambil menatap wajah sahabatnya.


“Habisnya kamu melamun sih. Masa di hari pernikahan malah melamun.” Kata Freya


“Mau bagaimana lagi teman-teman, bayangkan saja jika kalian yang ada diposisiku.”


“Enggak mau!!” seru ketiga sahabatnya berbarengan.


“Astaga, kalian ini seperti tidak bersimpati dengan kesedihanku!” Seru Kyra kembali memasang wajah muramnya.


“Bukan begitu Ra, kami tahu bagaimana perasaan kamu, tapi kalau harus di posisi seperti kamu jelas kami menolak sayang.” Jelas Ratna.

__ADS_1


“Apa kalian pikir aku tidak menolak?” tanya Kyra sambil memperhatikan ketiga sahabatnya lewat pantulan cermin, wajahnya terlihat kesal, sementara ketiga sahabatnya hanya saling pandang dan menghela nafasnya dalam-dalam. Mereka paham dengan apa yang Kyra rasakan saat ini.


“Maafin kami sayang, bukan maksud kami membuat mood kamu semakin hilang. Anggap saja ini takdir Tuhan yang harus kamu lewati, dibalik ini semua pasti ada rencana Tuhan yang sangat indah Ra, tetap tegar dan kuat menjalani awal hidup baru kamu ini ya sayang.” Elok membesarkan hati Kyra agar tak terlalu larut dalam kesedihan.


“Terima kasih teman-teman, aku tak tahu bagaimana melewati ini bila tak ada kalian.” Kata Kyra sambil berdiri dan langsung merangkul ketiga sahabatnya.


“Aku tadi dapat foto dari Sari suster asisten aku, hari ini mas Agus juga menikah, tapi sama seperti aku, sepertinya dia pun tidak merasa bahagia di hari pernikahannya.” Kata Kyra sambil mengambil ponselnya lalu dibukanya gambar Agus dengan pakaian pengantin yang beberapa saat lalu dia terima dari Sari. Wajahnya yang tampan tak dapat menyembunyikan kemuraman.


“Dia pasti merasakan hal yang sama seperti kamu, tapi sudahlah, sekarang fokus saja dengan diri kamu sendiri ya Ra.” Kata Freya dan hanya dijawab anggukan lesu oleh Kyra.


***


Sementara itu Agus yang juga melakukan pernikahan di hari yang sama dengan Kyra sedang tidak semangat di ruang gantinya.


Ia di temani Haris dan beberapa pekerja pria Ales farm untuk memberinya dukungan agar ia bersemangat menjalani prosesi pernikahannya.


Di antara beberapa orang yang menemani Agus, hanya Haris yang berani mengajaknya bicara karena yang lain melihat raut muka Agus sudah merasa segan, mereka memilih mengobrol sendiri itu pun seperlunya saja untuk menghormati Agus.  


Mommy Sandra masuk ke ruang ganti Agus, ia mendekati anak lelakinya yang sudah siap, melihat itu semua temannya menunggu di luar ruangan untuk memberikan waktu bagi ibu dan anak itu untuk berbicara.


Aura kemarahan Agus semakin nyata saat mommy Sandra mengajaknya bicara, ia tetap tidak bisa menerima walaupun mommynya berkata kalau ia akan menyesali perkataannya nanti, tetapi Agus tidak peduli, karena baginya kebahagiaannya hanya Kyra, bukan yang lain.


Setelah pembicaraan ibu dan anak yang tetap tak bisa diterima oleh Agus, mommy Sandra mengajak putranya ke tempat acara karena sang penghulu telah datang.


Dengan langkah gontai diiringi mommy juga Haris dan beberapa temannya, Agus berjalan menuju ruang akad di mana banyak tamu telah menunggu.


***


“Anak-anak, prosesi akad akan dimulai, tenanglah dahulu supaya kita bisa mendengarnya dari sini.” Mama Ratih masuk ke ruang rias Kyra beserta Adhis kakak ipar Kyra untuk memberitahu kalau akad akan dimulai, keempat gadis itu pun mengunci mulut mereka rapat-rapat dan memasang telinga dengan saksama.

__ADS_1


Prosesi akad dilaksanakan di sebuah ballroom hotel milik keluarga calon suami Kyra, tapi Kyra sendiri belum tahu bagaimana penampilan tempat yang akan menjadi saksi dipertemukannya ia dengan lelaki yang tidak ia cintai dengan status sah sebagai suami istri.


Suara lantang sang pengantin lelaki terdengar dengan jelas walau agak pelan di ruang rias Kyra, gadis itu menumpahkan air matanya saat di dengarnya seluruh hadirin mengatakan kata sah sebagai saksi bahwa hari ini Kyra telah resmi menjadi seorang istri.


“Sayang, mama tahu perasaan kamu, tapi mama yakin kamu akan menjalani kehidupan yang sangat bahagia untuk ke depannya.” Kata mama Ratih sambil mengelus punggung putrinya dengan lembut. Sementara Kyra yang mendengar perkataan mamanya hanya bisa menatap wajah mamanya lewat pantulan cermin sambil menggelengkan kepalanya.


“Semoga ma, semoga hal ini tidak berakhir neraka bagiku.” Ucap Kyra dingin sambil terisak, ia merasa benci dengan mamanya. Sementara Adhis juga ikut merasakan kesedihan saat melihat kondisi Kyra, tapi ia memilih diam.


“Jangan bicara seperti itu sayang, ya sudah ayo kita ke ruang acara untuk menemui suami kamu dan tamu yang lain.” Ucapan mamanya seolah bagai hujaman jarum  di telinganya, Kyra benci mendengar kata suami yang diucapkan mamanya.


Meski begitu Kyra tetap menuruti perkataan mamanya, ia beranjak dari duduknya, dengan di dampingi  ketiga sahabatnya. Wajahnya tertunduk dengan tertutup kerudung pengantin, Kyra enggan memperlihatkan wajahnya apalagi dengan mata agak sembabnya.


Saat memasuki ballroom banyak mata yang menatap penasaran bagaimana wajah sang pengantin perempuan yang tersembunyi di balik kerudungnya, sementara Ratna terlihat takjub melihat indahnya dekorasi di ruang itu yang bernuansa ungu dan merah muda berhiaskan bunga-bunga favorit Kyra, mawar.


Ratna melihat ke arah sang pengantin pria, begitu gagah dan tampannya ia dengan balutan pakaian pengantinnya, dan tentu saja pemandangan itu membuat Ratna terbeliak tak percaya.


Ratna menyenggol Freya dan Elok, keduanya pun melihat ke arah Ratna yang langsung memberinya kode untuk melihat pengantin lelaki, semula mereka tidak paham maksud Ratna, lalu Ratna berbisik kepada kedua sahabatnya hingga membuat keduanya terbeliak tak percaya demi melihat suami Kyra.


Mereka telah sampai di dekat meja akad, tetapi Kyra masih enggan menampakkan wajahnya, bahkan ketika mamanya dengan suara lembut menyuruhnya mendekat kepada lelaki yang telah sah menjadi suaminya justru semakin membuat Kyra berurai air mata.


Kata-kata sahabatnya yang memberikannya petunjuk bahwa tangisannya akan menjadi tangis bahagia pun tidak dihiraukan Kyra, hingga suara lelaki yang telah sah menjadi suaminya yang berhasil membuat Kyra mengangkat wajah cantiknya dengan mata yang sembab karena tangisannya.


“Welcome to be Mrs. Alexi August Agam Miss Kyra Queensha Birawa.” Kata lelaki yang telah sah menjadi suami Kyra yang berhasil membuat Kyra mengangkat wajahnya.


Kyra hanya menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya, karena baginya ini seperti halusinasi, tetapi ia benar-benar mempercayainya saat lelaki di depannya berkata bahwa ini bukan halusinasi, dan Kyra dengan nyata mencium punggung tangan suaminya dan ia mendapat kecupan lembut Agus di dahinya. 


Kini apa yang diucapkan orang tua mereka benar, bahwa tangisan mereka berubah menjadi tangis bahagia.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2