
Di pagi hari pertama orang tua Kyra berada di tempatnya bertugas, hari masih gelap saat Kyra dan papa mamanya sudah terbangun, mereka hendak jalan-jalan pagi merasakan sejuk dan segarnya udara pegunungan.
"Sudah siap belum ma, pa?" Seru Kyra bertanya kepada kedua orang tuanya yang masih memakai sepatu mereka.
"Sebentar Queen, ini belum selesai pakai sepatunya." Jawab mama Ratih, dan tak lama mereka sudah siap untuk berangkat.
"Apa tidak terlalu pagi nak, ini masih sangat gelap lohh..?" Tanya mama Ratih saat mereka keluar dari gerbang halaman rumah.
"Tidak lah ma, sebentar lagi juga terang, ini kan sudah jam lima, kalau nunggu terang, aku tidak bisa temenin jalan paginya ma." Jelas Kyra.
"Mama takut gelap ya?" Ledek papa.
"Ya enggak lah pa, banyak teman ini." Sahut mama.
"Kalau sendiri?" Tanya papa masih menggoda mama.
"Enggak tahu!" Seru mamanya disambut tertawa semuanya.
"Kalau ke kebun bunga yang kamu ceritakan jauh tidak sih Queen?" Tanya mama penasaran.
"Lumayan sih ma, kalau jalan kaki, kalau pakai motor paling cuma lima menit, soalnya tempatnya paling pinggir di perbatasan desa lain." Jelas Kyra.
"Mama penasaran nih, kalau kita ke sananya sekarang jalan kaki bagaimana?"
"Tidak apa sih ma, tapi nanti papa mama enggak capek baliknya kan?" Tanya Kyra.
"Kamu ngeremehin tenaga kita?!" Seru papa.
"Enggak pa, ya sudah yuk kita jalan, tapi agak cepat jalannya, nanti pulangnya agak santai tidak apa." Ajak Kyra.
"Kamu tidak kesiangan masuk kantor nanti?" tanya mama.
"Enggak ma, asal aku jangan disuruh masak sama bersih-bersih dulu." Kelakar Kyra.
"Ya enggak lah sayang, soal masak nanti urusan mama, bersih-bersih..."
"Urusan mama juga." Potong papa sambil berlari mendahului kedua perempuan tercintanya dengan pandangan lurus ke depan khawatir mendapat tatapan membunuh dari mama.
"Hmmm... iya, pokoknya semua urusan rumah itu urusan mama." Ucap mama dengan nada penuh penekanan, lalu papa berbalik kearah mama.
__ADS_1
"Tidak usah marah sayang, iya nanti aku bantuin apa yang aku bisa." Rayu papa sambil merangkul bahu mama.
"Duuhh masih pagi dapat pemandangan begini, bikin iri tau gak sih?!" Kata Kyra sambil mendahului jalan kedua orang tuanya, melihat itu kedua orang tuanya hanya tertawa dan menyusul langkah Kyra dan merangkul anak gadisnya dari sisi kiri dan kanan Kyra.
Setelah beberapa menit perjalanan mereka sampai di Ale's Farm, karena hari masih sangat pagi pagar masih tertutup rapat, Kyra mengambil ponselnya untuk menelpon Haris, dan terlihat sambungan telpon Kyra memdapat jawaban karena Kyra terlihat sedang berbicara dengan seseorang di seberang telpon. Tak lama pintu pagar yang kecil dibuka seseorang dari dalam setelah Kyra selesai melakukan panggilan telpon.
"Selamat pagi mas Haris, maaf masih pagi banget sudah ganggu." Sapa Kyra saat dilihatnya Haris yang membukakan pintu pagar.
"Tidak apa bu dokter, mari masuk. Tumben bu dokter ada teman, sepertinya saya belum pernah melihat beliau-beliau ini." Kata Haris dengan sikap sopannya.
"Oh iya, kenalkan ini orang tua saya mas, ma pa ini mas Haris salah satu orang kepercayaan di tempat ini." Kata Kyra, Lalu mereka bertiga berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.
"Ada yang bisa kami bantu bu dokter, sampai anda menyempatkan diri untuk datang langsung ke tempat kami ini?" Tanya Haris sambil mempersilahkan duduk tamunya di tempat penerimaan tamu.
"Kami butuh beberapa bunga potong juga sayuran mas." Jawab Kyra.
"Kenapa tidak telpon seperti biasanya saja bu dokter?"
"Mama penasaran ingin lihat dan memilih sendiri, karena saya pernah cerita tentang tempat ini, sekaligus jalan-jalan pagi tadi." Jawab Kyra ditanggapi anggukan mengerti dari Haris.
"Boleh, mari silahkan melihat langsung kebun bunga kami, nanti tinggal pilih dan akan kami antar ke rumah anda." ajak Haris sambil beranjak dari duduknya dan Kyra beserta orang tuanya juga ikut beranjak bangun dari duduknya mengikuti langkah Haris menuju kebun bunga.
Ale's Farm, tempat itu mengelola berbagai usaha dibidang pertanian, perkebunan dan juga peternakan. Banyak pedagang yang mengambil barang dagangannya langsung ke tempat itu, biasanya saat sore dan malam hari tempat itu ramai dikunjungi mobil-mobil pengangkut hasil panen mereka sendiri juga hasil panen penduduk sekitar yang disetorkan ketempat mereka.
Haris menunjukkan perkebunan berbagai macam bunga potong, dan terlihat mama sangat antusias melihat langsung bunga-bunga yang akan dibelinya, lalu ia menyebutkan beberapa nama bunga yang dipilihnya, setelah selesai memanjakan mata, Kyra dan kedua orang tuanya segera berpamitan pulang, tidak lupa Kyra memesan beberapa macam sayuran untuk diantarkan sekalian saat mengantar bunga pesanan mama.
Sebelum mereka keluar pintu gerbang mereka sempat berpapasan dengan Agus.
"Tumben pagi banget datang kesininya dok, kalau ada yang dibutuhkan kenapa tidak telpon saja?" Tanya Agus.
"Ini tadi ajak jalan-jalan mama papa, sekalian mampir karena mama sangat penasaran sama perkebunan di sini, mama ingin lihat langsung kebun bunganya sebelum dipetik mas." Jelas Kyra menjawab rasa penasaran Agus.
"Ada bunga yang disukai bu?" Tanya Agus pada mama Kyra.
"Ada nak, tadi sudah pesan minta diantar sama teman kamu tadi." Jawab mama dengan raut bahagianya.
"Ooh, syukurlah kalau ada yang ibu sukai, berarti tidak kecewa jauh dari kota melihat perkebunan kami." Kata Agus ikut merasa bahagia.
"Ya sudah mas, kami pulang dahulu." Pamit Kyra.
__ADS_1
"Sebentar, dia ini siapa?" Tanya mama
"Saya Agus bu, penanggung jawab tempat ini." Jawab Agus.
"Ooh begitu, ya sudah kami pulang dulu nak." Pamit mama dan langsung berlalu dari hadapan Agus, Kyra dan papanya pun segera mengikuti mama Ratih setelah menganggukkan kepalanya sebagai ganti kata pamit.
"Sarapan dulu yuk ma, pa!" ajak Kyra saat melewati kedai bubur milik bu Tati.
"Enggak salah?" Tanya mama terlihat heran, karena sebelumnya Kyra tidak mau makan di kedai kecil seperti itu, tapi sekarang malah ia yang mengajak orang tuanya.
"Ya enggak lah ma, masakannya enak-enak, mama bakal nagih deh, kaya aku." Kata Kyra dengan lirikan menggoda, dan mendahului kedua orang tuanya masuk ke dalam kedai.
"Selamat pagi bu dokter, habis jalan-jalan ya?!" Sapa bu Tati ketika Kyra masuk kedalam kedai.
"Iya bu, bu saya pesan bubur seperti biasa ya." Pesan Kyra setelah menjawab pertanyaan bu Tati.
"Oh ya, bu dokter sama siapa itu?" Tanya bu Tati lagi.
"Ooh, itu orang tua saya bu."
"Waahh, sedang berkunjung ke sini ya, dari kapan?"
"Iya bu, baru kemarin sore, sekalian buat kan buat mama papa saya ya bu sama teh hangatnya jangan lupa, saya tunggu di sana." Kata Kyra kemudian menuju tempat duduk kedua orang tuanya. Tak lama pesanan pun diantarkan ke meja mereka, dan segera Kyra menyantap makanan di depannya dengan lahapnya, melihat anaknya makan lahap, kedua orang tua Kyra pun mencoba mencicipi, sesendok, dua sendok, tiga sendok, dan akhirnya mereka juga lahap memakan sarapan bubur di kedai tersebut.
"Ternyata memang enak banget ya ma, pantesan Queen lahap makannya." Bisik papa kepada mama dan dijawab anggukan antusias dari mama.
"Mama kenyang banget pa, wah mama mesti bawa pulang lauknya nih." Kata mama lalu mendekat ke tempat bu Tati dan meminta lauk telur bacem dan opor ayam kampung, setelah itu mama membayar semuanya lalu mereka segera berpamitan dari kedai tersebut.
"Nak, mama penasaran sama anak muda yang di perkebunan tadi itu pemiliknya?" Tanya mama saat perjalanan menuju rumah.
"Tadi mama dengar sendiri kalau dia penanggung jawabnya, berarti kan dia cuma orang kepercayaan pemilik tempat itu." papa yang menjawab rasa penasaran mama.
"Tapi pantasnya dia yang menjadi pemiliknya kalau dilihat secara tampang." Kata mama membuat Kyra dan papanya hanya menghela panjang nafasnya.
"Pasti mama lihat tampangnya." Tebak Kyra.
"Tahu saja kamu nak, cakep banget kan? Dito kalah jauh." Mama memprovokasi.
"Ehmm! Ehmmm!" Terdengar deheman keras dari kedua orang yang dicintainya lalu dilihatnya kedua orang itu yang ternyata sedang memandang tajam ke arah mama, lalu keduanya pun berlalu meninggalkan mama Ratih yang hanya terbengong karena ditinggal begitu saja.
__ADS_1
Tentu saja mereka kesal karena Kyra merasa sebal kekasihnya dibandingkan ketampanannya dengan lelaki lain, yah walaupun itu sangat benar adanya tapi tidak seharusnya mama bilang begitu langsung di hadapan Kyra, sedang papa tentu saja karena jealous berat.
...****************...