
Begitu cepat waktu bergulir, kini tibalah waktu yang begitu Agus benci dan tak ingin melaluinya, tetapi ia tidak bisa lagi memilih karena sang mommy tidak lagi di belakangnya untuk mendukung keputusannya.
Seperti janji hatinya yang ia pegang selama ini, bahwa ia akan melakukan apa pun jika itu adalah kemauan perempuan yang telah melahirkannya. Apalagi selama ini sang mommy yang selalu mendukungnya, bahkan pemberontakan Agus terhadap daddynya karena perjodohan yang akan dilakukan daddynya dulu, sang mommy masih tetap di belakangnya, tapi tidak untuk kali ini.
Agus menekuk wajahnya saat sedang bersiap melakukan janji suci dengan gadis pilihan orang tuanya. Kebahagiaan seakan direnggut paksa dari diri Agus, aura dingin begitu nyata terpancar di wajah tampannya.
“Son, wajah tampan kamu seolah hilang tertutup karena muram kamu, senyumlah di hari membahagiakan ini.” Mommy Sandra berdiri di samping anak lelakinya sambil merangkulnya dari samping serta memperhatikan wajah tampan sang putra dari cermin di hadapannya.
“Entah kebahagiaan di hatiku serta wajahku akan kembali atau tidak, kalian tega menggadaikan kebahagiaan putra kalian hanya untuk kebahagiaan kalian, ambisi telah menutup mata hati mommy dan daddy, kalau boleh aku ingin sekali membenci kalian.” Dingin ucapan Agus ditanggapi senyum di bibir perempuan setengah baya di sampingnya, tak ada raut tersinggung atas ucapan pedas sang putra.
“Mommy yakin kamu akan menyesal dengan ucapan kamu barusan, kamu tahu mommy son, mommy akan selalu mengusahakan apa pun demi kebahagiaan anak-anak mommy. So, believe in mom and dad choice. You’ll thank me latter.” Kata mommy Sandra sambil menatap penuh senyum kepada Agus lewat pantulan cermin di depannya.
“Will never.” Sahut Agus dingin. Mommy Sandra hanya menepuk pelan bahu anaknya dengan senyum tetap terkembang di bibirnya.
“Get ready! Acara akan dimulai.” Kata mommy Sandra sembari merapikan dasi Agus, bersamaan dengan itu datang seseorang yang memanggil Agus juga mommy Sandra untuk segera menuju ruang acara.
Mommy Sandra menuntun anak lelakinya yang berjalan dengan gontai menuju aula tempat diadakannya janji suci Agus terhadap gadis yang tidak di cintainya sama sekali.
Wajah dingin Agus yang menahan amarah saat sampai di ruang acara tak dapat dia sembunyikan, apalagi saat melihat sang daddy yang tersenyum bahagia atas pernikahan anak pertamanya yang sudah lama ia harapkan.
Pengantin perempuan belum di hadirkan sampai acara akad selesai, wajah tampan Agus tertunduk saat ia telah duduk di depan meja akad, hingga sang penghulu memulai acara janji suci tersebut.
__ADS_1
Sang penghulu berkata bahwa sang ayah mempelai perempuan selaku wali yang akan menikahkan mereka.
“Bagaimana aku akan menikah dengan gadis yang bahkan namanya saja tidak aku ketahui.” Perkataan Agus membuat para hadirin yang berada di ruangan tersebut saling berpandangan penuh tanya.
Lelaki setengah baya yang baru saja duduk di depan Agus yang tertunduk, mengangsurkan selembar kertas bertuliskan sebuah nama beserta nama sang ayah selaku walinya.
Agus yang enggan mengangkat mukanya melihat tulisan pada kertas yang ada dalam pandangan matanya, begitu ia membaca nama yang tertulis dengan serta merta Agus mengangkat wajahnya untuk melihat siapa lelaki setengah baya yang duduk di hadapannya yang akan menikahkan dia dengan putrinya.
“Anda...?” Agus tak bisa mengeluarkan perkataannya saat melihat dengan nyata siapa wali nikah mempelai perempuan.
“Masih belum terlambat bila kamu ingin membatalkan pernikahan ini, papa melihat ke tidak bahagiaan dari raut wajahmu sejak tadi, dan bila kamu bersedia, hafalkan nama calon istrimu yang tertulis di kertas itu.” Begitu tegas sang ayah mempelai perempuan melihat gelagat Agus.
Wajah muram Agus seketika berbinar bahagia melihat nama serta wali nikah di hadapannya. Namun juga menyimpan tanya dalam benaknya.
“Kamu bisa membatalkan ini semua bila kamu tidak setuju.” Perkataan itu terlontar kembali dari sang wali mempelai perempuan.
“Saya siap memulainya.” Kata Agus tegas dan tak terlihat lagi keraguan dari raut wajah tampannya yang sebelumnya dingin dan menyimpan amarah.
Janji suci pernikahan Agus terucap begitu lancar dengan satu tarikan nafasnya, setelah terurai doa pernikahan dari sang penghulu, pengantin perempuan diminta keluar untuk menandatangani dokumen pernikahan serta bertemu dengan lelaki yang telah sah menjadi suaminya.
Sang pengantin perempuan berjalan tertunduk didampingi oleh sang ibu, kakak ipar, juga beberapa sahabatnya. Terlihat mempelai perempuan sesekali menyeka matanya yang mengeluarkan air mata, tidak ada yang tahu arti air mata yang menetes di wajah cantiknya.
__ADS_1
Tetapi orang tua serta sahabatnya tahu bahwa itu adalah air mata keterpaksaan. Ia pun sama seperti Agus, karena terpaksa menerima perjodohan yang diatur oleh orang tuanya.
“Temui lelaki yang telah sah menjadi suami kamu nak.” Suara pelan nan lembut dari sang ibu terdengar ditelinga sang gadis juga yang mengiringinya, tetapi justru air mata mengalir semakin deras, terdengar dari isaknya.
Salah satu sahabat menyenggol lengan salah satu kawannya demi melihat sang pengantin lelaki saat dalam perjalanan menuju meja akad. Para sahabat pengantin perempuan begitu takjub tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Sayang, lihat suami kamu dan aku jamin tangismu akan berubah menjadi tangis bahagia.” Saran sahabat yang menuntun di sebelah kiri tangan sang pengantin. Tetapi sang pengantin tak bergeming dengan ucapan sahabatnya, ia masih saja menundukkan wajah cantiknya dibalik kerudung pengantinnya, seolah enggan untuk dilihat oleh orang lain yang dalam pikirannya seakan sedang menertawakannya.
Hingga sang ibu serta sahabatnya berhenti menuntunnya karena mereka telah sampai di depan meja akad, tetapi ia masih saja enggan memperlihatkan wajah cantiknya yang berurai air mata.
“Welcome to be Mrs. Alexi August Agam Miss Kyra Queensha Birawa.” Suara Agus membuat sang pengantin perempuan dengan cepat mendongakkan kepalanya yang sedari tadi hanya mampu tertunduk untuk meyakinkan pendengarannya kalau ia tidak sedang berhalusinasi.
Dipejamkannya matanya yang basah lalu segera dibukanya kembali untuk meyakinkan bahwa ia tidak berhalusinasi.
“It’s real baby, you aren’t hallucination.” Suara pelan Agus meyakinkan Kyra bahwa itu nyata, bukan halusinasi Kyra yang sangat berharap Agus yang menjadi mempelai lelakinya.
Dan kini halusinasi itu nyata di depan matanya dan kembali membuat Kyra meneteskan air matanya, tetapi kali ini yang keluar adalah air mata bahagianya.
Kyra mengambil tangan Agus yang terulur untuk diciumnya ketika sang penghulu menyuruhnya mencium tangan sang suami, setelah itu Agus mencium kening perempuan yang sangat dicintainya.
Hilang sudah kegundahan dan kesedihan di hati kedua mempelai yang semula enggan untuk di jodohkan dan bahkan tidak menyangka kalau ternyata mereka dijodohkan dengan pilihan hati mereka sendiri.
__ADS_1
...****************...