
Alex segera berangkat dengan sopir pribadinya begitu ia selesai sarapan, dan Kyra membereskan bekas sarapan mereka setelah mengantar kepergian suaminya.
Setelah selesai berberes, Kyra bersiap untuk berangkat ke faskes, di polesnya wajah manisnya dengan sapuan make-up tipis, dan itu sudah menambah wajahnya lebih segar dan semakin mempesona.
Saat ia hendak mengganti piyama yang dikenakannya dengan pakaian kerja, Kyra mendengar pintu rumahnya di ketuk dengan tidak sabar, dan Kyra mendengar ada sedikit perdebatan diluar, tentu saja itu Teguh dengan seorang yang tak asing bagi Kyra, ia pun segera membukakan pintu rumahnya.
"Mbak Kyra..." kata Sari sambil bergegas memeluk Kyra terdengar suara isak tangis saat Sari dalam pelukannya.
"Hey! Kamu kenapa Sar, kok datang-datang langsung nangis?" tanya Kyra terdengar khawatir. Teguh pun berlalu dari hadapan Kyra untuk kembali ke gazebo sudut halaman untuk menunggu atasannya siap berangkat kerja.
Kyra membawa Sari masuk ke dalam rumah, di dudukkannya tubuh Sari di sofa ruang tamu.
"Kamu ini kenapa Sar? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba datang seperti ini." tanya Kyra lagi dan kembali tidak mendapat jawaban. Kyra berjalan ke dapur untuk mengambil segelas teh manis hangat, kemudian diberikannya gelas teh itu kepada Sari.
"Minum dulu supaya kamu agak lebih tenang!" perintah Kyra, dan Sari belum juga menerima gelas yang Kyra sodorkan padanya.
"Kalau gak mau minum, kalau gak mau ngomong, aku tinggal berangkat nih, lagian mana aku bisa tahu masalah kamu kalau kamu cuma nangis gak mau ngomong. Bukan aku gak peduli, tapi aku juga harus segera ke faskes, kamu juga kan?" Omel Kyra karena Sari masih sibuk dengan tangisannya.
"Jangan begitu lah mbak!" akhirnya Sari buka suara setelah diancam akan segera di tinggal.
"Makanya ngomong!" perintah Kyra.
"Mas Haris..." hanya itu yang terucap dari bibir Sari kemudian ia melanjutkan tangisannya lagi.
"Kenapa mas Haris?" tanya Kyra lagi, tapi Sari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia masih meneruskan tangisannya.
"Ya sudah kalau gak mau ngomong." kata Kyra lalu masuk ke dalam kamarnya dan diambilnya ponsel di atas meja kerjanya. Diusap-usapnya layar ponselnya untuk mencari nomor kontak yang akan di hubunginya.
Nada sambung berbunyi, tanda telepon terhubung dengan nomor tujuan di seberang.
"Hallo mas Haris!" sapa Kyra begitu sambungan telepon di angkat, Sari segera berdiri dari duduknya saat mendengar Kyra menelpon Haris. Sari hendak merebut ponsel Kyra tapi diurungkan saat ia mendengar Kyra yang ingin bertemu nanti siang saat jam istirahat dan langsung mematikan sambungan telepon sebelum Haris menjawab ajakannya.
__ADS_1
"Sudah. Nanti siang akan aku tanya mas Haris kalau kamu tidak mau ngomong, maaf kalau saat ini kamu menganggapku tidak peka denganmu, tapi aku gak bisa dan tak tahu mau ngomong apa kalau aku tidak tahu pernasalahannya, apalagi ini sudah waktunya menuju faskes, tapi kamu lupa waktu dan sibuk dengan tangisan kamu.
Setiap permasalahan tak akan selesai kalau hanya dengan kamu tangisi Sar. Sekarang kamu minum dulu, aku mau ganti baju dulu." Kyra segera masuk kamarnya lagi untuk berganti baju setelah panjang lebar menasehati Sari.
Tak berapa lama Kyra keluar kamar dan sudah berganti pakaian rapi dan siap berangkat menuju faskes. Saat Kyra keluar kamar terlihat Sari sedang menghabiskan minum dari gelasnya.
"Sekarang cuci muka kamu, benerin riasan kamu, jangan perlihatkan masalah kamu di depan banyak orang, karena kita tidak tahu hati orang, mungkin di depan kamu dia sok perhatian tapi ternyata di belakang nyukurin kamu. Sudah sana cuci muka dulu!" Sari segera menuju wastafel untuk mencuci mukanya yang berantakan akibat tangisannya.
Setelah mengeringkan wajahnya, disisirnya rambutnya agar kembali rapi, lalu ia hanya memoleskan bedak dan lipstik dengan tipis, juga eye-liner untuk menyamarkan mata sembabnya.
"Sudah siap?" tanya Kyra dan hanya dijawab anggukan oleh Sari, lalu keduanya keluar rumah untuk segera berangkat ke tempat kerja mereka.
"Kita jalan kaki saja, biar kamu bisa sedikit lebih ceria dengan melihat berbagai pemandangan saat dalam perjalanan ke faskes biarpun hanya dekat sini. Aku merasa aneh tahu Sar kalau kamu jadi pendiam begini." perkataan terakhir Kyra mampu membuat Sari sedikit mengeluarkan senyum di bibirnya, lalu di peluknya Kyra dengan erat sambil berjalan.
Teguh segera menyusul Kyra dan Sari setelah memasukkan motor Sari ke dalam garasi.
Hari ini faskes agak ramai dengan kedatangan para pasien, sehingga Sari bisa menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan sejenak melupakan kesedihannya yang diperlihatkan kepada Kyra pagi tadi.
Karena bila para staf itu tahu kalau Sari sedang punya masalah bukan tidak mungkin kalau hanya akan jadi bahan ghibahan alih-alih mendapat nasehat dan solusi.
Waktu istirahat pun tiba, Haris telah menunggu Kyra di warung makan dekat dengan faskes sesuai permintaan Kyra beberapa menit sebelum waktu istirahat.
Kyra mengajak Sari diikuti Teguh menuju warung makan tersebut, sebenarnya Sari enggan karena masih malas untuk bertemu Haris, tetapi Kyra memaksa karena masalah tidak akan selesai kalau hanya dihindari.
Haris berdiri menyambut ketiga orang yang sangat di kenalnya itu, Kyra dengan sedikit menyeret Sari yang menahan langkahnya menuju meja Haris, sementara Teguh berada di meja lain karena tak mau mencampuri urusan pribadi mereka sebelum dimintai tolong.
"Selamat siang bu dokter, sama dik Sari juga ya? Mari silahkan duduk." sapa Haris ramah.
"Memangnya kenapa kalau sama aku? Mas Haris merasa terganggu kalau ada aku juga? Ya sudah aku pergi saja, lagian tadi aku juga gak mau ikut tapi dipaksa sama mbak Kyra jadi terpaksa ikut ke sini!" kata Sari dengan suara cemprengnya yang terlihat marah kepada Haris.
"Sari!" seru Kyra menahan suara agar tidak kencang, sambil di tariknya tangan Sari yang sudah berdiri lagi hendak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Dik Sari kenapa to? Kok sepertinya marah sama mas Haris?" tanya Haris tidak mengerti.
"Halah! Pakai tanya segala. Memang aku marah sama mas Haris!" kata Sari ketus.
"Loh! Memamg salahku apa dik?" tanya Haris lagi.
"Tanyakan saja sama diri mas Haris sendiri, kesalahan apa yang sudah mas Haris lakukan sama Sari." Kata Sari masih dengan ketus.
"Coba mas Haris ingat-ingat, mungkin ada janji atau apa gitu yang membuat Sari marah sama mas Haris!" kata Kyra dan Haris pun mencoba mengingat-ingat barangkali ada lupa dengan janjinya pada Sari.
"Saya belum punya janji apa-apa buat dik Sari mbak, iya kan dik?" tanya Haris pada Sari setelah menjawab pertanyaan Kyra, tetapi Sari malah memalingkan muka.
"Apa jangan-jangan mas Haris punya pacar lagi ya?" goda Kyra.
"Enggak mbak, sungguh!" sahut Haris dengan cepat khawatir Sari tambah marah.
"Itu Sar, mas Haris gak ada salah sama kamu, kenapa kamu nuduh yang enggak-enggak?" tanya Kyra.
"Yakin gak ada?!" ketus Sari.
"Maksud kamu ada?" tanya Kyra.
"Ya kalau enggak ada kenapa aku harus marah?!" ketus Sari.
"Tuh mas, ada cewek lain kata Sari." kata Kyra memperjelas.
"Demi Tuhan enggak ada mbak, juga dik Sari. Aku itu sudah serius sama kamu jadi mana mungkin aku mikirin perempuan lain apalagi punya pacar lagi." kata Haris dengan sungguh-sungguh.
"Lalu ini apa?!" seru Sari sambil memberikan ponselnya dengan layar yang menunjukkan foto Haris dengan seorang perempuan yanh masih sangat asing di mata Sari dan Kyra.
...****************...
__ADS_1
Selamat membaca semua, jangan lupa like dan komennya yaa, terima kasih 🥰