Dokter & Petani

Dokter & Petani
Penjelasan Dari Papa Dan Daddy


__ADS_3

Setelah penandatanganan dokumen pernikahan selesai, kerabat kedua mempelai pun memberikan selamat atas pernikahan mereka.


Akad nikah hanya dihadiri oleh kerabat kedua mempelai, dan resepsi pernikahan akan di adakan sekitar sebulan kemudian mengingat pernikahan ini terkesan mendadak, dan untuk resepsi, keluarga keduanya sepakat agar sepasang pengantin yang menentukan konsepnya.


Setelah beberapa waktu kini tinggal keluarga inti kedua mempelai yang sedang berkumpul di ruang khusus di hotel tersebut, rasanya banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan oleh Kyra dan Agus kepada keluarganya.


"Ada yang mau kalian pertanyakan?" Tanya daddy melihat raut penasaran dari anak dan menantunya.


"Tentu saja dad, aku sangat bersyukur karena pada akhirnya aku menikahi gadis yang sangat aku harapkan dan aku cintai." kata Agus sambil menatap Kyra dengan penuh cinta dan digenggamnya dengan erat jemari gadis yang telah sah menjadi pendamping hidupnya itu.


"Aku juga, bahkan saat aku telah sah menjadi seorang istri, aku masih belum percaya kalau papa tega menikahkanku dengan orang yang sama sekali tidak aku harapkan dan cintai." Kyra mengutarakan perasaannya, dan dibalasnya tatapan penuh cinta Agus.


"Tapi ternyata...?" tanya papa.


"Bagaimana bisa pa? Apakah papa berubah pikiran di akhir waktu mendekatinya pernikahanku, hingga akhirnya papa benar-benar memberikanku kejutan seperti ini?" Terlihat raut penasaran dari wajah Kyra.


"Daddy juga sama kah? Apa daddy berubah pikiran karena merasa kasihan sama aku hingga akhirnya aku tidak jadi menikah dengan nini-nini aneh waktu itu?" Begitu antusiasnya pertanyaan yang Agus lontarkan karena rasa keingin tahuannya.


"Uni son, bukan nini-nini." Ralat daddy pelan.


"Uni? bukankah aku menamakan diriku Uni waktu aku diperkenalkan dengan cowok aneh yang berlagak gagap waktu di depan kita semua waktu itu? Padahal aslinya enggak gagap." Kyra teringat saat diperkenalkan dengan lelaki yang akan dijodohkan padanya waktu itu.


Daddy Abimanyu mengeluarkan ponselnya, lalu diusapnya layar benda kotak pipih tersebut untuk mencari foto di galeri ponselnya, lalu ditunjukkannya sebuah foto kepada anak dan juga menantunya.


Agus menerima ponsel yang daddynya sodorkan, lalu dilihatnya foto pada layar tersebut.


"Loh?!" Seru Agus dan Kyra secara bersamaan, keduanya saling pandang lalu menatap ke kedua orang tua masing-masing dengan wajah tak mengerti.


"Itu kalian kan?" tanya daddy, sementara papa Hadi hanya tersenyum.

__ADS_1


"Bisa di jelaskan satu persatu?" tanya Agus.


"Awalnya kedua perusahaan kita menjalin kerja sama, dan memang murni kerja sama, setelah beberapa waktu seringnya kami bertemu, kami sering membicarakan hal pribadi keluarga masing-masing." terang daddy Abimanyu.


Flashback.


Satu jam menjelang waktu makan siang, suara ponsel berdering disela kesibukan bapak Hadinata Birawa menekuni pekerjaannya, di raihnya benda kotak pipih yang tergeletak di samping laptop yang sedang ditekuninya.


"Selamat siang bapak Agam!" sapa bapak Hadinata begitu melihat siapa nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.


Dari seberang bapak Abimanyu Agam mengutarakan maksudnya untuk mengajak makan siang bapak Hadinata bila siang ini ada waktu senggang, dan kebetulan bapak Hadinata tidak sedang disibukkan dengan agenda kerja jadi dia bersedia menerima ajakan bapak Abimanyu.


Bapak Agam telah sampai beberapa menit terlebih dahulu, tak berapa lama bapak Birawa pun sampai, di saat menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka membicarakan perkembangan kerja sama mereka.


Waiters menyajikan pesanan mereka bersamaan dengan diakhirinya pembicaraan tentang kerja sama mereka, lalu mereka pun menikmati makan siang mereka diselingi pembicaraan mengenai hal pribadi mereka terutama tentang keluarga mereka.


"Alex, dia sebenarnya sangat mumpuni di dunia usaha. Dulu dia bahkan sering memenangkan tender yang memberikan keuntungan besar untuk perusahaan kami, tetapi kekerasan dia dan keangkuhan saya sebagai orang tua membuat dia mundur dari hingar bingarnya dunia usaha." Sekilas cerita bapak Abimanyu Agam tentang putranya.


"Maaf bila saya terlalu lancang bertanya bapak Agam, alasan apa yang membuatnya mundur dari dunia usaha anda?" tanya bapak Hadinata.


"Sebenarnya dia masih berada di dunia usaha juga sih pak, tapi dia lebih memilih menepi untuk menjadi petani di daerah pegunungan sana, Ale's Farm yang dia rintis dari awal hanya berskala kecil, kini telah menjadi besar dan tidak hanya sekedar sektor pertanian saja, tetapi juga peternakan. Berkat ketekunannya dia banyak melakukan kerja sama dengan pengusaha resto dan kuliner di berbagai daerah sekitar." Jelas bapak Abimanyu mengenai usaha putranya saat ini.


"Ale's Farm, sepertinya saya pernah dengar nama itu." kata pak Hadinata sambil mencoba mengingat nama itu. Setelah ia ingat pak Hadinata menyebut nama desa yang pernah dikunjunginya yaitu tempat Kyra mengabdi, dan bapak Abimanyu mengiyakan tebakan bapak Hadinata.


"Betul sekali pak, tapi kok anda bisa tahu tempat itu?" tanya bapak Abimanyu.


"Anak saya mengabdi menjadi dokter di fasilitas kesehatan desa tersebut pak, sudah hampir satu tahun ini." jelas bapak Hadinata. "Tapi menurut cerita anak saya pemilik Ale's Farm adalah madam Sandra pak." kata bapak Hadinata dan bapak Abimanyu menanggapinya dengan senyum.


"Madam Sandra adalah istri saya pak, Alex memang tidak memperlihatkan jati dirinya, bahkan para pekerjanya tidak tahu siapa Alex sebenarnya, Haris orang yang paling dekat dan orang kepercayaan dia saja tidak tahu mengenai Alex." jelas bapak Abimanyu sambil menerawang dengan senyum terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Waktu saya mengunjungi anak saya, saya juga sempat diajak kesana oleh anak saya, di sana selain ada Haris sebagai orang kepercayaan madam Sandra ada juga satu orang lagi, kata anak saya namanya Agus, dan kalau saya perhatikan anak saya itu sangat dekat dengan Agus." cerita bapak Hadinata.


"Dekat yang bagaimana ya pak? Lalu anak bapak itu lelaki atau perempuan pak?" tanya bapak Abimanyu yang dalam hati berharap anak bapak Hadinata adalah perempuan.


"Anak saya perempuan pak, ya menurut pandangan saya mereka ada ketertarikan satu sama lain pak." jelas bapak Hadinata.


"Apa bapak tidak keberatan jika putri bapak yang seorang dokter itu kelak menjalin hubungan serius dengan lelaki yang berprofesi sebagai petani?" Tanya bapak Abimanyu seakan menyelidik kebijaksanaan seorang Hadinata Birawa.


"Selama itu semua bisa membuat anak saya bahagia, saya tidak keberatan pak. Apalagi saya lihat Agus itu lelaki yang sangat bertanggung jawab. Satu minggu saya di sana dan beberapa kali bertemu dan saling ngobrol, Agus menunjukkan kalau dia bukan sekedar pekerja biasa, dan kalau takdir menentukan dia menjadi menantu saya, saya akan mengarahkannya untuk merintis usaha sendiri." Tersirat suatu kebanggaan dari bapak Hadinata untuk orang asing baginya seperti Agus.


"Dialah Alex anak saya pak." Tersirat kebanggaan dari raut wajah bapak Abimanyu, dan mendengar itu bapak Hadinata tampak terkejut, tapi belum sempat bapak Hadinata bertanya lagi, bapak Abimanyu melanjutkan ceritanya.


"Sekitar lima tahun yang lalu saya memaksanya untuk menjalani sebuah perjodohan tetapi Agus menentang saya karena tidak mau menjalani hubungan tanpa cinta, Dia rela meninggalkan fasilitas kemewahan yang dia dapat dari saya, dia meminta ijin kepada mommynya untuk memanfaatkan lahan persawahan dan juga kebun kosong milik istri saya yang berada di pegunungan itu.


Mommynya yang pada dasarnya tidak menyetujui perjodohan yang saya lakukan, dia memberikan ijin pada Alex untuk membuka usaha pertanian dan perkebunan di sana. Bahkan Alex tidak cuma-cuma menempati lahan itu, ia tetap menerapkan sewa lahan biarpun terhadap mommynya sendiri.


Dan perkembangan usahanya yang begitu pesat membuat dia semakin memperluas usahanya itu dengan lahan milik sendiri dan tidak lagi menyewa, lahan milik mommynya pun akhirnya jadi hak milik dia juga, jujur saya sangat bangga pada anak itu, tetapi saya sempat punya pikiran negatif tentang anak saya yang tidak pernah sekalipun saya lihat menggandeng perempuan." Bapak Abimanyu bercerita panjang lebar tentang Alex.


"Kekhawatiran seperti apa yang anda rasakan sampai anda berpikir negatif tentang anak anda sendiri pak?" tanya bapak Hadinata.


"Alex lama tinggal di luar negeri pak, saya takut anak saya terbawa arus pergaulan bebas hingga membuatnya terjerumus pada hubungan sesama jenis, apalagi melihat keengganannya memiliki kekasih dan amarah dia saat ingin saya jodohkan dengan putri salah satu rekan bisnis saya waktu itu.


Tapi saat tadi saya mendengar cerita anda kalau Alex mempunyai kedekatan yang mengarah kepada perasaan sebagai lawan jenis, saya sangat gembira pak, berarti kekhawatiran saya salah selama ini." jawab bapak Abimanyu dengan raut wajah berbinar.


"Mungkin Alex tipe lelaki yang mengutamakan pekerjaan pak, dan dalam urusan kekasih ia mungkin termasuk lelaki yang sangat selektif." kata bapak Hadinata menanggapi.


...****************...


Flashback cerita dari bapak-bapak masih berlanjut di part selanjutnya ya readers tercinta.

__ADS_1


__ADS_2