Dokter & Petani

Dokter & Petani
Perhatian Agus.


__ADS_3

Kyra menghempaskan badannya ke tempat tidur sepulang dari faskes.


"Haahhh... nyamannya..." gumam Kyra sambil memeluk bantal guling di tempat tidur yang terasa sejuk, hingga tak terasa mata Kyra terpejam karena rasa lelah yang menderanya.


Tok! tok! tok!


Pintu rumah Kyra ada yang mengetuk, tetapi nampaknya sang empunya rumah masih terlelap dengan tidurnya.


Tok! tok! tok!


Pintu diketuk kembali tapi belum juga ada jawaban, karena Kyra terkaget dan masih setengah sadar seperti mendengar pintu diketuk atau cuma salah dengar saja, lalu dijatuhkannya lagi kepala ke bantal masih dengan menajamkan telinga, dan terdengar lagi ketukan dari pintu rumahnya, lalu ia segera bangkit dari berbaringnya,


"Sebentar..!" seru Kyra agar orang yang mengetuk pintu tahu kalau ada orang di rumah dan berhenti mengetuk. Setiap Kyra berada di rumah pintu pagar memang hanya dikunci gerendel pagar bagian atas jadi kalau ada yang mencarinya bisa langsung masuk.


Masih setengah mengantuk dan dengan langkah gontai, Kyra membuka pintu rumahnya.


"Ya.." kata Kyra dengan mata menyipit karena terasa silau melihat ke luar rumah.


"Hmmm kayanya tidur pulas banget ya, sampai diketuk berulang-ulang baru dengar." suara yang begitu dikenalnya tanpa menyapa langsung bicara seperti meledek Kyra.


"Mas Agus, ada apa?" tanya Kyra malas mengetahui siapa yang datang ke rumahnya.


"Ini, dapat mandat dari madam." jawab Agus sambil mengangsurkan kantong berisi buah dan sayuran.


"Terimakasih sampein ke madam." kata Kyra sambil menerima bawaan yang Agus berikan.


"Sama aku gak terimakasih?"


"Iya mas, terimakasih sudah dianterin." Kata Kyra kepada Agus.


Agus masih tak bergeming dari berdirinya padahal biasanya kalau dia mengantar buah dan sayuran akan langsung pamit setelah Kyra menerima kiriman dari madamnya itu.


"Ada apalagi mas?" tanya Kyra terheran. Mendapat tanya dari Kyra Agus tidak menjawab malah duduk di kursi beranda rumah.


"Sini duduk dulu, pingin ngobrol dulu sama kamu." kata Agus menunjuk kursi di seberang meja menyuruh Kyra duduk karena terlihat Kyra masih berdiri di pintu dengan pandangan heran. Kyra pun menuruti perintah Agus karena ia sedang tidak ingin berdebat.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kyra setelah duduk.


"Ke Farm yuk, ikut acara makan bersama anak-anak pekerja nanti malam." ajak Agus dengan suara datarnya.


"Tapi aku capek banget mas, pingin tiduran saja." Kyra bermaksud menolak ajakan Agus.


"Nanti biar dipijit, ada anak yang pinter pijit capek, aku gak mau ada penolakan, aku tunggu kamu di sini, sekarang mandi dan siap-siap dulu sana!" Perintah Agus seolah mereka sudah mengenal akrab begitu lama, padahal beberapa hari yang lalu Agus masih bersikap seolah malu-malu dan dan segan juga sangat ramah kepada Kyra seperti saat pertama kali mereka bertemu, tetapi sejak Agus terluka karena terkena pecahan kaca dan dirawat oleh Kyra, sikap Agus berubah seratus delapan puluh derajat, ia begitu berani kepada Kyra, bahkan keangkuhan Kyra bila sedang merasa tak enak hati tak mampu menggoyahkan Agus untuk bersikap sedikit lancang kepada Kyra.


"Siapa kamu gak mau menerima penolakan aku?!" ketus Kyra merasa Agus sudah berlebihan.


"Kamu calon istri aku." jawab Agus pelan namun tegas dengan tatapan tajam.


"Tolong bangun dari tidur mas biar mas tahu kalau itu cuma mimpi!" seru Kyra berang tetapi entah kenapa hatinya berkata lain, ia merasakan debaran yang sangat kuat mendengar perkataan Agus.


"Please Kyra, tolong jangan buat aku bertindak lebih sama kamu dengan segala bantahan kamu, aku cuma ingin kamu ikut acara anak-anak di Farm." suara Agus melemah dan penuh harap dengan kedua tangan menangkup di depan dadanya, dan akhirnya Kyra mengiyakan apa yang di mau Agus dan segera masuk ke dalam untuk bersiap.


Maksud dari Agus bertindak lebih bukanlah sebuah kekerasan, tapi ia bisa hilang kendali seperti saat malam kemarin yang membuat Agus berani nekat mencium pipi Kyra.


Kyra yang sedang bersiap melakukan semua dengan gerutuan yang tak ada hentinya perihal paksaan Agus dan perubahan sikapnya, sedangkan Agus sibuk berkutat dengan ponselnya sambil menunggu Kyra selesai dengan persiapannya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Laras, ia tidak menyadari Laras yang mendekat karena ia begitu serius mempelajari ponselnya.


"Bukan urusan kamu." jawab Agus dingin dan ketus dan hanya menoleh sekilas saat tahu siapa yang mendatanginya.


"Aku lihat dari tadi mas berduaan sama cewek belagu penghuni rumah ini, bikin rusak mata saja." Kata Laras dengan muka masamnya.


"Kalau begitu kenapa kamu malah datang kesini?" tanya Agus.


"Ya aku mau ngajak kamu pergi dari sini lah, seperti dulu-dulu, kamu kan gak pernah menolak kalau aku ajak ke mana pun, tapi sejak kedatangan ini cewek kamu berubah." Laras mengungkapkan isi hatinya, tetapi Agus tidak menanggapinya, ia tetap menekuni ponselnya.


Dulu saat baru datang divkampung ini memang Agus selalu mengiyakan setiap Laras mengajak ke mana pun, tetapi lama mengenal Laras ia seolah hanya dimanfaatkan saja oleh Laras, Agus menjauh bukan karena patah hati atau apapun itu, tapi ia hanya tidak suka dengan sikap dan sifat Laras yang begitu sombong, maka dari itu ia lebih memilih menghindar daripada harus bertemu Laras.


"Mas, kamu tumben keren banget sih? selama aku kenal kamu belum pernah kayaknya aku melihat kamu tampil sekeren ini." Laras terkagum dengan penampilan Agus saat ini, tapi lelaki itu tidak menanggapi pujian Laras, dan Agus lama-lama jengah dengan keberadaan Laras.


"Kyra sayang, sudah selesai belum? Aku sudah tidak betah nih diganggu nyamuk dari tadi!!" Seru Agus memanggil Kyra dan terlihat Kyra keluar terburu-buru dengan muka dongkol karena ucapan Agus, tetapi saat dilihatnya Laras didekat Agus baru ia tahu alasan Agus memanggilnya sayang walau itu bukan untuk kali pertama.


"Mana ada nyamuk sih mas? kalaupun ada gak yang terlalu mengganggu kali." kata Kyra sambil mendekati Agus dan Laras.

__ADS_1


"Tuh." Agus menunjuk Laras dengan dagunya, dan itu membuat Laras kesal.


"Keterlaluan banget sih kamu mas? Sok belagu kegantengan, hah! gak ngaca apa kamu siapa dan aku siapa di kampung ini, harusnya kamu bersyukur aku masih mau menyapamu walau kamu sangat jauh levelnya dibanding aku." Marah Laras membawa kedudukan dan pangkat karena begitu kesalnya dengan Agus,


"Wow! bawa-bawa kedudukan dan pangkat, oke aku menyerah, tapi kalau masalah ganteng aku rasa aku boleh sombong ya karena aku memang ganteng, dan aku pun punya kaca yang sangat besar untuk melihat siapa aku!" Agus yang semula masih menyunggingkan senyum mengejeknya mengakhiri perkataannya dengan dingin dan penuh penekanan, Ia sangat tidak suka bila bicara dengan seseorang yang selalu bawa kedudukan dan strata ekonomi. Lalu ditariknya tangan Kyra yang baru saja selesai mengunci pintu rumahnya untuk keluar menuju mobil perkebunan yang diparkir Agus di tepi jalan.


"Mbak, pagar mau aku kunci. Mbak Laras mau keluar sekarang atau nanti tapi panjat pagar?" kata Kyra menahan tawa dan Laras langsung berlalu dengan cepat keluar halaman rumah Kyra sambil menajamkan tatapannya saat melewati Kyra, sedang Kyra hanya menanggapinya dengan cuek sambil mengangkat bahu.


Agus melajukan mobilnya menuju perkebunan setelah Kyra selesai mengunci pagar dan masuk ke mobil. Agus begitu lihai mengendarai mobilnya walaupun kondisi tangannya sedang cidera.


Tak sampai lima menit mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di pelataran Ale's Farm yang begitu luas, Kyra melihat keramaian para pekerja Ale's Farm yang sedang berkumpul dan menyiapkan segala sesuatu sebelum acara dimulai.


Agus menggandeng tangan Kyra yang malah terbengong melihat hiruk pikuk yang terjadi di depan matanya.


"Ayo jangan bengong, ntar kesambet." Kata Agus sembari menarik tangan Kyra, ternyata di keramaian itu ada Sari yang ikut sibuk membantu mempersiapkan segala keperluan.


"Aku ke tempat Sari dulu mas." pamit Kyra.


"Tidak perlu, kamu masuk kerumah saja, katanya kamu capek, aku panggilkan temanku yang akan pijitin kamu dulu." Agus membawa Kyra masuk ke rumah utama Ale's Farm, setelah itu Agus keluar untuk mencari seseorang.


"Haaahh.. kenapa sih seenaknya sendiri mengambil keputusan, dan kenapa juga aku harus selalu mengikuti apa maunya? Ingat Kyra kamu sudah punya calon suami." gerutu Kyra, lalu ia tersenyum kecut sendiri mengingat Dito tak pernah ada kabar selama masa break mereka, Kyra pun jadi sangsi kalau Dito masih berharap memperbaiki hubungan mereka dan akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius.


"Haahh entahlah, apapun nanti yang terjadi ke depannya antara aku sama Dito itu adalah jalan Tuhan yang terbaik buat hubungan kami." gumamnya lagi, dan bersamaan dengan itu dilihatnya Agus masuk dengan diikuti seorang perempuan muda di belakangnya.


"Selamat sore bu dokter." sapa perempuan itu


"Sore juga mbak." jawab Kyra.


"Mas Agus bilang bu dokter butuh dipijit, sekarang saja ya mumpung acara masih agak lama dimulai." kata Perempuan itu, Kyra yang hendak menolak seketika ditarik Agus menuju sebuah kamar.


"Mir, ini ada minyak gosok, minyak zaitun ada juga body lotion pilih mana yang dokter Kyra suka untuk mengurut badannya." kata Agus sambil membuka lemari pintu di dinding yang ternyata sebuah lemari untuk memgambil kain untuk menutup tubuh Kyra saat dipijit nanti.


"Itu kamar mandi untuk ganti baju, aku keluar dulu, jangan lupa kunci pintu dari dalam." kata Agus langsung keluar kamar, dan Kyra yang hanya bisa pasrah dengan kemauan Agus segera masuk kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan kain, sedang Mirna yang akan memijit mengunci pintu sesuai perintah Agus.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2