
Kyra tengah membaringkan tubuh lelahnya karena baru saja pulang dari fasilitas kesehatan desa saat ponselnya berdering.
Diambilnya ponsel dari dalam tasnya untuk melihat siapa yang memanggilnya, ternyata Agus yang meneleponnya.
“Halo mas ... “ Sapa Kyra.
“Halo sayang, beberapa waktu lalu kamu meminta waktu khusus sama aku, nanti malam bagaimana kalau kita bertemu?” Tanya Agus dari seberang telepon.
“Iya mas, di mana kita akan bertemu?” Kyra bertanya balik.
“Aku mau kita ketemu di rumah kamu saja, kalau kamu tidak kembali ke kota dan juga kalau kamu tidak keberatan.” Kata Agus dari seberang.
“Oke mas, aku tidak keberatan, lagian aku sedang kurang bersemangat buat pergi-pergi.” Kyra menyetujui ucapan Agus.
“Kamu baik-baik saja kan sayang?” terdengar suara Agus begitu khawatir.
“Aku baik- baik saja mas, aku hanya kelelahan karena tadi pasien sangat banyak yang datang.” Jelas Kyra membuat kekhawatiran Agus berkurang, tetapi Agus justru sangat mengkhawatirkan Kyra saat ia berkata jujur nanti.
“Syukurlah, ya sudah istirahat sebentar, nanti berendam air hangat biar lebih rileks.” Kata Agus penuh perhatian.
“Iya mas, terimakasih sarannya. Ya sudah kalau begitu, aku mau berendam dulu keburu sore.” Kyra berpamitan.
“Oke, sampai ketemu nanti dokter cintaku.”
“Sama-sama petani tampanku.” Balas Kyra tak mau kalah membuat mereka saling terkekeh sebelum akhirnya menutup panggilan telepon mereka.
“Akankah setelah pembicaraan nanti, kita masih bisa tersenyum begini mas? Aku takut mengecewakan hatimu.” Gumam hati Kyra sambil menerawang membayangkan reaksi Agus bila ia berkata jujur.
“Tapi sepertinya mas Agus pun ada sesuatu yang hendak dia kataka kepadaku, melihat beberapa waktu lalu dia seperti tertekan, ah ... entahlah, semoga ini hanya perasaanku saja, semoga mas Agus baik-baik saja, begitu juga nanti saat dia tahu kenyataan yang sebenarnya, semoga dia bisa mengerti posisiku.” Kyra berbicara sendiri.
Kemudian ia menuju kamar mandi dan segera mengguyur seluruh tubuhnya dengan hangatnya air yang mengalir dari shower kamar mandinya. Begitu lama ia berada di bawah guyuran air hangat agar ia bisa merasa lebih rileks.
Pintu rumah Kyra terdengar diketuk dari luar saat Kyra tengah bersantai menikmati coklat panasnya. Ia pun segera beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.
“Selamat malam sayang.” Sapa Agus terlihat agak kikuk tidak seperti biasanya.
“Selamat malam juga Alex ku sayang, silakan duduk dulu, aku ambilkan coklat panas juga agar badan lebih hangat.” Agus pun segera mendudukkan badannya ke kursi beranda rumah Kyra, sementara Kyra masuk untuk mengambil minum untuk Agus.
Tak lama Kyra membawa dua gelas keramik berisi coklat panas untuk Agus juga untuknya.
“Minum dulu mas, selagi masih hangat.” Kyra memberikan satu gelas keramik yang ia pegang untuk Agus.
__ADS_1
“Terima kasih sayang.” Kata Agus menerima minuman yang diberikan Kyra kepadanya, kemudian perlahan diseruputnya coklat panas untuk menghangatkan badannya.
“Apakah kata sayang itu masih akan terlontar dari bibir mas Agus andai aku telah berkata jujur nanti?” Gumam hati Kyra dengan tatapan sendu ke arah Agus.
“Ada apa sayang? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Tanya Agus yang juga agak gugup karena tatapan Kyra.
“Ah, tidak kenapa kok mas, lalu kenapa kamu gugup ya?” Kyra rupanya menyadari kegugupan Agus.
“Ah, eng-enggak kok.” Jawab Agus sedikit tergagap.
“Kenapa aku merasa dikuliti dengan tatapan Kyra itu? Apakah mungkin dia sudah tahu? Ah, tidak mungkin, hah! Aku harus mulai dari mana?” Batin hati Agus merasa sangat bersalah.
“Aku mau jujur!” tiba-tiba keduanya berseru secara bersamaan. Dan keduanya pun terbeliak dan saling menatap penuh tanya.
“Kamu dulu saja mas.” Kyra mempersilahkan Agus.
“No, ladies first.” Agus pun mempersilahkan Kyra untuk bicara dahulu.
“Rasanya aku belum cukup siap bicara, kamu saja dahulu tidak apa mas.” Kyra berdalih karena ia memang belum siap mendapat tatapan kecewa dari Agus, walaupun ia tetap harus jujur, tetapi ia ingin mendengar dahulu, kejujuran apa yang hendak Agus utarakan.
“Baiklah, tapi sebelumnya aku benar-benar mengharap maaf darimu bila nanti ada perkataanku yang menyakiti hati kamu.”
Deg!
“Justru aku yang akan menyakitimu mas.” Batin Kyra sendu.
“Bicaralah mas, aku dengarkan, dan kalaupun kekhawatiranmu benar, semoga aku bisa menerimanya asal ada alasan yang tepat.” Ucapan tulus Kyra seolah menjadi kekuatan bagi Agus untuk berkata jujur.
Agus membawa kursi yang didudukinya yang tadinya berseberangan berbatas meja untuk lebih dekat kepada Kyra. Agus meraih jemari Kyra lalu memulai pembicaraannya.
“Maafkan aku bila aku telah memaksamu masuk ke dalam jerat asmaraku tapi akhirnya hanya membuatmu terlempar ke jurang kehancuran dan kekecewaan.” Kyra mengernyitkan dahi dengan tatapan penuh tanya ke mata Agus.
“Apa maksudmu mas?” Tanya Kyra. “Apa tidak sebaliknya bila aku nanti berkata jujur padamu mas?” Batin Kyra.
“Bukannya aku ingin mempermainkan kamu, bukannya aku tidak cinta kamu sayang, tapi aku terpaksa...” Perkataan Agus terjeda, sesak di dadanya membuat ia sulit meneruskan perkataannya.
Agus menunduk sampai jidatnya menyentuh tangan Kyra yang sedang digenggamnya untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah hatinya lebih tenang ia kembali melanjutkan perkataannya.
“Aku sangat-sangat mencintaimu, tetapi aku dalam dilema, aku kembali dijodohkan oleh daddy, dan kali ini mommy tidak berada dipihakku lagi, dan andaipun aku bersikukuh mempertahankanmu, itu pun akan percuma, daddy bilang orang tuamu tidak akan menerimaku bila aku berkonflik dengan orang tuaku.
Aku semula tidak percaya ucapan daddy, aku pikir itu hanya alibinya untuk mempermudah daddy melemahkan keteguhanku, tapi pandangan tajam daddy menguatkan kesungguhan perkataannya, daddy sepertinya tidak bohong soal orang tua kamu, aku pun percaya, tapi andai itu salah, biar aku tetap mempertahankanmu walau tanpa restu orang tuaku.” Agus tampak begitu tertekan, apalagi saat dirasakannya jemari Kyra lebih erat menggenggam jemarinya.
__ADS_1
Agus menatap mata Kyra yang berkaca-kaca. Agus melihat kesedihan di mata gadis yang sangat dicintainya tersebut.
“Perkataan daddy kamu benar adanya mas, papaku tidak bisa menerima lelaki yang bermasalah dengan orang tuanya untuk dijadikannya menantu, papa pernah berkata langsung padaku saat kita habis jalan bertiga dengan Jesse.” Agus mendongakkan wajahnya demi mendengar ucapan Kyra barusan. Rupanya perkataan daddynya tidak mengada-ada.
“Jangan merasa bersalah karena kamu kembali dijodohkan mas, dan jangan pula merasa bersalah terhadapku diposisimu saat ini. Rupanya Tuhan menggariskan kita dengan nasib yang sama.” Terdengar isak tertahan Kyra.
“Apa maksudmu sayang?” tanya Agus sedikit bingung.
“Aku, aku pun dijodohkan dengan pilihan orang tuaku mas, mereka berkata tidak lagi mempercayai lelaki pilihanku sendiri setelah kejadian Dito tempo hari. Pembelaanku terhadapmu tidak mampu menggoyahkan keputusan orang tuaku.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi mas, aku hanya berusaha mempersiapkan diriku menghadapi kebencian dari kamu bila aku jujur. Jelas Kyra disertai isak tangis tertahannya.
“Aku pun sangat mencintai kamu, dan berharap kamu lelaki terakhir yang Tuhan kirim untuk menjadi pendampingku, tetapi nyatanya ketetapan Tuhan berkata lain. Kenapa Tuhan mempertemukan kita bila akhirnya hanya jadi seperti ini.” Tangis Kyra pecah tak bisa ditahan lagi. Ia tak kuat lagi menahan sesak karena harus menerima takdir tak bisa bersatu dengan lelaki yang dicintainya dan sangat mencintainya.
Agus berlutut di depan Kyra dan langsung merengkuh tubuh gadis yang sangat dicintainya itu ke dalam pelukannya, Kyra dengan sedikit tertunduk membalas pelukan Agus tak kalah eratnya, isak tangisnya masih terdengar jelas demi merelakan cinta yang sedang mekar-mekarnya itu harus kandas dan layu karena keputusan kedua orang tua masing-masing.
“Berjanjilah kamu akan hidup bahagia dengan lelaki pilihan orang tuamu sayang, biarkan nama kita menempati sudut terdalam hati kita, kamu tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun di hatiku walau aku nanti harus hidup dengan orang lain.” Suara Agus terdengar bergetar, ia tak dapat lagi menahan gejolak di hatinya. Kyra hanya mampu menganggukkan kepalanya demi mengiyakan perkataan Agus.
“Ka-kamu juga harus berjanji hal yang sama mas.” Ucap Kyra dijawab anggukan oleh Agus.
Akhirnya keduanya pun tenggelam dalam perasaan masing-masing dengan masih berpelukan erat, setelah beberapa saat Agus mengurai pelukannya. Lalu di tatapnya wajah cantik Kyra yang memerah dengan mata sembab dan air mata yang masih saja mengalir.
“Aku akan tetap selalu mencintaimu.” Bisik Agus, lalu dia memajukan wajahnya demi melihat bibir merona Kyra yang begitu menggoda, di kecupnya bibir Kyra untuk yang terakhir kali, melihat Kyra tidak ada penolakan Agus kembali melancarkan ciumannya, kali ini lebih dari sekedar kecupan, bahkan Kyra pun membalas apa yang dilakukan Agus.
Karena terbawa suasana mereka sampai lupa kalau apa yang mereka lakukan sangat rawan dilihat orang lain karena tempat itu begitu terbuka, Kyra yang terlambat menyadari segera menyudahi perbuatannya itu.
Nafas keduanya terengah, Kyra yang sedikit malu hanya mampu menundukkan wajahnya.
“Terima kasih sayang, berjanjilah untuk tidak bermusuhan saat kita nanti bertemu dengan pasangan kita masing-masing.” Harap Agus sambil mengangkat dagu Kyra agar menatap ke arahnya, dan Kyra hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku akan berusaha walau pasti akan sangat berat. Terima kasih untuk segala hal yang kamu berikan padaku.” Ucap Kyra.
Setelah sama-sama berjanji untuk hidup bahagia dengan pasangan masing-masing kelak, Agus pun pamit pulang karena malam telah semakin larut.
Sepeninggal Agus, Kyra kembali melanjutkan tangisnya, ia tidak mengira kalau nasibnya dan Agus bisa serupa, rupanya saat tempo hari Agus memeluknya di depan para sahabatnya karena merasakan gundah yang sama seperti Kyra rasakan.
...****************...
__ADS_1