
Kyra baru saja menyandarkan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu rumah dinasnya saat ponselnya bergetar, dilihatnya layar ponsel, di sana tertera nama Alena yang mengiriminya pesan bahwa Ibu Sandra sudah kembali dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat, dan selama itu Kyra beberapa kali telah menjenguk ibu Sandra.
"Syukurlah ibu Sandra sudah diperbolehkan pulang, semoga segera disehatkan kembali." Gumam Kyra, setelah itu ia beranjak dari duduknya untuk segera berganti pakaian.
Tok! tok!
Terdengar pintu rumah Kyra diketuk dari luar, saat itu Kyra baru selesai berganti pakaian, dilihatnya dari balik korden siapa tamu yang datang, lalu segera dibuka pintu rumahnya.
"Sudah siap mbak?" Tanya tamu itu yang ternyata Sari.
"Ini baru saja selesai ganti baju, baru mau pakai sepatu, yuk masuk dulu." Kyra mengajak Sari masuk sambil menunggunya selesai bersiap untuk olahraga sore.
"Mau kemana sore ini mbak?" Tanya Sari.
"Bersepeda saja yuk Sar keujung kampung, pengen lihat perkebunan di sana, mau pesan bunga potong." Jawab Kyra
"Oke, sudah siap?" Sari melihat Kyra telah selesai memakai sepatunya.
"Aku lihat kamu seneng banget mau diajak ke perkebunan ujung kampung?" Tebak Kyra saat dilihatnya binar bahagia yang lebih dari biasanya.
"Tahu aja mbak Kyra ini, sudah yuk segera berangkat, keburu senja." Terlihat Sari tidak sabar untuk segera pergi.
"Sabar dong, aku ambil sepeda dulu." Kyra menuju garasi rumah untuk mengambil sepeda, setelah mengunci semua pintu, mereka segera gowes sore menuju perkebunan.
Saat melintasi lapangan terlihat ada cowok sedang melakukan rutinitas sore harinya, ya dia Agus yang sedang berlari keliling lapangan, terlihat lelaki itu melambaikan tangannya kepada Kyra dan Sari, dan Kyra membalasnya lalu melanjutkan gowesnya.
"Sudah berdamai nih?" Tanya Sari.
"Memang kami musuhan?" Tanya Kyra balik.
"Tidak musuhan sih, cuma ketus kalau papasan sama itu cowok bule." Sindir Sari.
"Eh Sar, kok mau ya dia kerja jadi kuli perkebunan, aku sering lihat mas Agus di sawah juga di kebun, rajin juga untuk level cowok setengah bule seperti dia." Kyra terlihat sangat heran dengan pekerjaan Agus.
"Yaahh, walaupun dia berwajah bule, tapi dia kan asli keturunan pribumi mbak, kan bapaknya asli orang sini, kalau dia memilih jadi pekerja sawah dan kebun itu sih pilihan dia mbak, bule kan tidak harus kerja kantoran." Jelas Sari.
"Iya juga sih, kok aku jadi bego ya?" Kyra heran dengan dirinya sendiri.
"Bukan karena mbak bego, tapi karena standart mbak Kyra yang sangat tinggi jadi melihat mas Agus dengan pekerjaan dan penampilan hariannya mbak ogah, tertarik buat ngobrol saja tidak." Sari bicara kebenaran.
"Betul sih omongan kamu, tapi aku juga pernah ngobrol sama dia, pas libur kerja beberapa waktu lalu, aku bersepeda naik bukit lebih keatas sendirian, lalu mas Agus juga gowes waktu aku istirahat buat minum dia nyamperin aku, katanya aku tidak boleh gowes sendirian di tempat yang sangat sepi itu, akhirnya aku mau memutuskan balik, tapi katanya sayang sudah jauh-jauh naik kalau tidak sampai ke puncak indah, dia memaksaku akhirnya aku mau juga karena penasaran." jelas Kyra dipahami Sari dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmm, pantas saja tadi lebih bisa sedikit ramah." tebak Sari, bersamaan dengan itu mereka telah sampai ketempat tujuan, yaitu perkebunan ujung kampung.
"Dek Sari sama bu dokter tumben sore-sore datang kesini." Sapa ramah agak terheran penjaga perkebunan itu saat melihat kedua gadis itu masuk area perkebunan.
__ADS_1
"Iya mas Haris, Sari antar mbak Kyra." Jawaban Sari yang terlihat malu-malu tapi juga cari perhatian pegawai perkebunan bernama Haris itu membuat Kyra menatap Sari curiga, tetapi Sari tidak menyadari tatapan Kyra.
"Ooh, adakah yang bisa kami bantu bu dokter?" Tanya Haris setelah mendengar perkataan Sari.
"Ini mas, saya butuh beberapa jenis bunga, tapi bisakah diantar ke rumah?"
"Ooh bisa bu, mau bunga apa saja? Kebetulan di sini ada banyak macam bunga yang akan dipanen." Jelas Haris.
"Bunga apa saja ya mas? Tapi yang saya utamakan bunga rose." Ta!nya Kyra juga mengatakan bunga yang diinginkannya.
"Di perkebunan ini, ada rose merah, putih, pink. Ada bunga krisan merah, putih, kuning. Ada lily juga." Jelas Haris.
"Bunga pikok ada mas?" Tanya Kyra.
"Ada tapi belum begitu mekar bu dokter, masih banyak yang kuncup." Jawab Haris.
"Aku butuh tidak begitu banyak sih mas, sekitar sepuluh tangkai adakah? kalau belum ada ya seadanya saja."
"Coba nanti saya cek ya dok." Kata Haris.
"Kalau begitu antar besok sore ya mas, kalau saya sudah pulang dari faskes."
"Oke, lalu bunga apa saja yang dokter butuhkan?" Haris sudah menyiapkan alat tulisnya untuk mencatat bunga pesanan Kyra.
"Ada bu, mau yang seperti apa?"
"Apa saja tidak masalah, sekitar sepuluh lembar saja, sudah cukup itu saja, ehh tambah lily putih lima potong saja mas." Kyra menyelesaikan pesanannya.
"Baik, besok akan kami antar sesuai pesanan dokter." Kata Haris.
"Totalnya berapa mas?" Tanya Kyra, lalu Haris menghitung semua total pesanan, dan Haris menyebut jumlah yang harus dibayar Kyra.
"Bayarnya besok saja setelah kami antar." Haris menolak saat Kyra mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Tidak apa mas, ya sudah separuh dulu sebagai uang muka, aku tidak mau ada penolakan." Tegas Kyra, dan Haris mau tak mau menerima uang muka dari Kyra, karena gadis itu pasang muka seriusnya.
"Terimakasih bu dokter." Kata Haris saat menerima uang Kyra.
"Sama-sama, saya tunggu besok sore ya mas, ya sudah kami permisi." Kyra berpamitan setelah selesai dengan pesanannya.
Kyra beranjak dari duduknya, tapi sepertinya Sari masih berat meninggalkan tempat itu.
"Kamu tidak pulang Sar?" Kyra menatap Sari penuh heran, dan Sari tidak menjawab hanya manggut-manggut nakal, lalu Sari menatap Haris penuh tanya, yang ditatap pun terlihat malu-malu.
"Kalian..?" Kyra tidak melanjutkan perkataannya tapi dari tatapannya terlihat penuh tanya, melihat dua sejoli itu tanpa dijawab Kyra sudah tahu kalau mereka ada hubungan asmara.
__ADS_1
"Pantas saja semangat empat lima waktu tahu mau diajak kesini, ya sudah aku pulang duluan kalau begitu." Tanpa menunggu jawaban Kyra menuju sepedanya terparkir.
"Bu dokter ini ada sedikit sayuran buat dimasak." Haris menyusul Kyra ke tempat parkir dengan membawa kantong berisi sayuran.
"Waahh, terimakasih mas Haris, banyak banget ini." Seru Kyra.
"Bisa disimpan di kulkas bu, buat dimasak beberapa hari." Kata Haris.
"Iya, ya sudah aku pulang dulu, jangan lupa besok sore bunganya aku tunggu." Pesan Kyra kembali
Setelah selesai Kyra segera berlalu untuk pulang.
Saat masih dalam perjalanan, ponsel Kyra berdering, tanpa melihat siapa yang memanggil, Kyra langsung mengangkat panggilan telponnya.
"Hallo!" Sapa Kyra.
"Hallo sayang!" Seru suara diseberang menjawab sapaan Kyra.
"Sayang, apa kabar?!" Tanya Kyra dengan raut wajah cerianya mengetahui siapa yang menelpon.
"Aku baik sayang, maaf ya lama tidak ada kabar, kadang suka lama balas chat kamu, maklum ya, aku sedang disibukkan dengan proyek baru perusahaan." Kata Dito beralasan.
"Tidak apa sayang, aku maklum kok." Tulus Kyra menjawab.
"Terimakasih pengertiannya sayang, kapan kamu pulang? maaf belum bisa mengunjungi kamu ditempat kerja yang baru." Lagi, Dito meminta maaf.
"Tidak mengapa, entah aku pulang kapan, tapi kalau akhir pekan ini sepertinya belum bisa, mungkin pekan depan." Jelas Kyra.
"Ya sudah kalau memang belum bisa pulang, biasanya kamu pulang aku malah sibuk, semoga besok kamu pulang aku juga punya waktu luang, kalau tidak biar aku datang ke sana." Kata Dito penuh semangat.
"Oke, aku tunggu kalau memang benar mau datang." Terlihat Kyra begitu semangat mendengar perkataan Dito.
"Tunggu aku datang ya sa...."
"Hallo bu dokter yang cantik, sendirian saja nihh...?" Belum selesai Dito bicara, ia mendengar ada yang menggoda kekasihnya.
"Sayang siapa lelaki itu? berani sekali dia godain kamu. Sekarang cepat pulang, kalau tidak aku tidak jadi datang menjenguk kamu ataupun temui kamu!" Seru Dito dari seberang telpon terdengar marah terbakar cemburu.
"Iya, aku pulang." Jawab Kyra
"Maaf mas Aryo, saya pulang dahulu, permisi!" Ketus Kyra terdengar jelas ditelinga Dito karena mereka masih terhubung panggilan, Kyra mendengarkan suara Dito dengan earphone bluetoothnya, jadi tidak mengganggu jalan ia dengan sepedanya.
Terdengar Dito lega karena mendengar langsung Kyra sudah tidak bersama Aryo si penggoda, kemudian panggilan ditutup dan Kyra segera melajukan sepedanya agak cepat karena senja telah menyelimuti kampung tersebut.
...****************...
__ADS_1