Dokter & Petani

Dokter & Petani
Menagih Cerita Agus


__ADS_3

Sekitar satu jam lebih Kyra mendapat massage service dari Mirna, salah satu pekerja di Ale's Farm.


"Mbak Mirna pijitannya enak banget loh ternyata, kalau buka praktek pasti bakalan banyak pelanggan loh mbak." Kata Kyra saat selesai pijit.


"Enggak lah bu dokter, kalau teman-teman dekat ada yang minta tolong baru saya mau, tapi untuk buka praktek belum kepikiran soalnya saya masih sangat menikmati menjadi bagian dari Ale's Farm, kalau besok saya sudah berhenti dari sini, mungkin bisa terima jasa pijat." jelas Mirna.


"Ehm kalau saya suatu hari minta tolong lagi boleh kan mbak?" tanya Kyra penuh harap.


"Boleh banget bu dokter, kalau butuh tinggal telpon atau kirim pesan kalau tidak berhalangan saya akan datang." jawaban Mirna membuat Kyra begitu gembira karena itu jawaban yang sangat diharapkannya.


"Terimakasih mbak bersedia aku minta tolong kapan hari nanti, ya sudah saya ganti pakai baju dulu mbak." pamit Kyra


"Saya keluar dulu gapapa kan dok?" tanya Mirna meminta persetujuan Kyra.


"Iya mbak, tidak apa." jawab Kyra langsung menuju kamar mandi sementara Mirna langsung keluar kamar.


Kyra sudah berpakaian lengkap kembali, ia hendak keluar tapi masih ragu, akhirnya dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, tetapi rasa tidak nyaman karena bau dari sisa minyak gosok yang tercecer membuat ia tak jadi berbaring, dan ia beralih ke sofa kamar dan berbaring disana.


Merasakan badan enak habis dipijit, Kyra justru memejamkan mata tanpa ia sadari, tertidur.


Agus mendekati Mirna yang sudah nampak di luar, ia lalu masuk ke rumah untuk mencari Kyra, Agus mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban, lalu dibukanya pintu kamar dengan hati-hati, ia melihat di ranjang tak ada siapapun saat pintu sudah terbuka, ia pun masuk dan saat melihat sofa ia menghela panjang nafasnya seperti merasa lega. Digelengkannya kepalanya saat melihat Kyra begitu nyenyak tertidur di sofa.


"Ternyata keenakan tidur, kaya bocah habis pijit tidurnya nyenyak." gumam Agus dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Lalu didekatinya Kyra. Diamatinya wajah tertidur yang memancarkan sejuta pesona di mata Agus.


Didekatkannya wajahnya ke wajah lelap Kyra saat dilihatnya bibir merona Kyra yang sedikit terbuka.


"****!" umpatnya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Kyra setelah hanya tinggal beberapa centi saja. Dipijitnya kedua pelipisnya sambil memejamkan mata untuk menetralisir berbagai macam perasaan yang berkecamuk dihatinya saat ini, saat ia sudah merasa tenang ia mendekat kembali kepada Kyra.


"Ra, bangun!" panggil Agus pelan sambil mengguncang kaki Kyra, dan itu belum membuat Kyra bergeming, lalu pada percobaan kedua terlihat Kyra membuka matanya.


"Aaaa...!" teriak Kyra kaget saat matanya terbuka dengan sempurna ada Agus berdiri sangat dekat dengannya.


"Gak usah teriak-teriak begitu, nanti kalau ada yang dengar dipikir aku ngapa-apain kamu." kata Agus dengan nada suara rendah dan terdengar tenang.


"Habisnya kamu ngagetin aku berdiri di situ, aku pikir hantu apa, tinggi besar ngejogrok di situ.

__ADS_1


"Sembarangan kalau ngomong aku disamain hantu, kamu itu yang mirip bayi, habis dipijit lalu keenakan tidur, sampai kamar diketok berkali-kali gak dengar. kata Agus menjelaskan kenapa ia berdiri disebelah Kyra tidur.


"Iya mas, memang mantap pijitan mbak Mirna, aku pasti nagih." kata Kyra sambil senyum cengar cengir.


"Kalau aku yang mijit lebih bisa bikin nagih lagi lho, mau?" bisik Agus menggoda Kyra, dan sontak membuat Kyra kesal.


"Lalu aku balasnya pakai nihh." Sahut Kyra sambil mengacungkan kepalan tangannya dan itu membuat Agus tertawa.


"Becanda doang jangan diambil hati." kata Agus dengan senyum masih terlihat di bibirnya. "Kamu tidak tahu saja kalau aku hampir mencuri ciuman di bibirmu." Batin Agus masih dengan senyumnya.


"Ikut gabung di luar yuk, nanti dikira ngapa-ngapain lagi." ajak Agus sambil menarik tangan Kyra.


"Mas itu nanti sprei diganti ya, gak enak banget bau minyak gosok." Seru Kyra sambil berjalan tergesa karena ditarik.


"Biarkan saja, sayang kalau dicuci nanti aroma kamu hilang." goda Agus.


"Apaain sih?!" seru Kyra setengah kesal, lalu dia segera berlalu menuju Sari yang sedang duduk bersama Haris.


"Permisi-permisi!!" seru Kyra sambil duduk di antara Sari dan Haris.


"Ssstt sebentar, pinjam Haris sebentar" sahut Kyra.


"Dikira barang?" celetuk Sari.


"Bodo amat." Sahut Kyra lagi yang masih merasa kesal.


"Mas Haris tolong jawab, Mas Agus itu kenapa sih, kok bisa berubah banget begitu? Apa dia punya kepribadian ganda? Atau ketempelan dedemit di mana gitu?!" cerocos Kyra penuh penasaran.


"Aku sendiri gak tahu mbak, aku juga heran, pas aku tanya kenapa dia jawab besok aku ceritain, begitu. Besok mau aku tagih lagi penjelasannya." jelas Agus membuat Kyra kecewa.


"Yaahh, kirain tahu, besok kalau sudah dapat jawabannya kasih tahu aku ya!"pinta Kyra.


"Yaa, tapi tergantung juga mbak, tergantung pesan mas Agus bagaimana." kata Haris membuat Kyra menghela panjang nafasnya.


"Heeeehhh.. iya deh.."

__ADS_1


"Haris!" seru sebuah suara tiba-tiba, sontak ketiganya melihat siapa yang memanggil Haris.


"Kenapa nempel-nempel Kyra begitu? Minggir!" seru pemilik suara yang ternyata Agus.


"Ini mas..."


"Minggir!" seru Agus memotong apa yang mau dijelaskan Haris.


"Aku lagi yang salah." kata Haris sambil berdiri dan mendekati Sari untuk duduk di sebelahnya. Dan Agus pun segera duduk di samping Kyra.


"Ini aku ambilin makan, kamu makan dulu, apa perlu aku suapin?" kata Agus sambil menyodorkan piring yang ia pegang.


"Aa..." Kyra mengangakan mulutnya minta disuapin Agus, dan dengan senang hati Agus pun menyuapi Kyra dan juga menyuap untuk dirinya sendiri dengan sendok dan piring yang sama.


"Dih jorok mas, itu kan bekas aku!" seru Kyra


"Biarin enak, kalau kamu gak mau ya sudah ambil sendiri sana." Kyra hanya menhela nafasnya karena jujur saja dia malas untuk memgambil makanan. Akhirnya dengan suka rela disuap Agus walaupun harus dengan satu sendok yang sama, dan entah kenapa Kyra tidak merasa risih atau jijik sedikitpun.


Sementara Sari dan Haris yang menyaksikan itu semua hanya bisa saling pandang dengan sikap aneh kedua rekannya itu.


Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, kebanyakan pekerja sudah berpamitan pulang dan hanya tinggal beberapa orang saja.


Ale's Farm memang selalu mengadakan acara makan bersama seperti itu untuk mempererat persaudaraan antar pekerja, bahkan ada juga yang dapat jodoh berkat acara seperti itu yang dilakukan sebelumnya.


Kyra dan Sari juga sudah pulang diantarkan Agus juga Haris, dan saat ini kedua lelaki itu sedang duduk di beranda rumah utama Ale's Farm, menjauh dari teman-teman yang lain yang berada di aula luas tempat mengumpulkan hasil panen.


"Mas, boleh tanya sesuatu?" kini Haris harus bersikap hati-hati menghadapi Agus.


"Boleehh, tentang perubahanku kan?" tebak Agus dan hanya di jawab anggukan oleh Haris. Lalu Agus bercerita tentang semua, hingga membuat ia begitu marah kesal dan kecewa jadi satu. Kejadian lima tahun yang lalu terungkit kembali. Agus ditagih janji yang diucapkannya sebelum ia hengkang ke pedesaan lereng gunung dan untuk menengankan pikirannya sekaligus menjadi pekerja di Ale's Farm.


Dengan keberadaannya di desa itu perangai Agus yang tadinya dingin, kasar dan datar berubah menjadi Agus yang ramah, manis, mudah bergaul tidak membatasi diri dengan siapa ia musti bergaul, hatinya tenang dan damai, tapi sejak ada telpon itu perangai asli Agus mulai nampak lagi.


"Jadi begitu?" Haris nampak tercengang dengan penuturan Agus, karena ia ternyata sama sekali tak mengenal Agus yang sebenarnya.


"Kamu pasti bisa menghadapi semua mas, hadapi saja. Apa yang mereka minta berikan, tapi kalau kamu tak bisa memenuhinya mungkin kamu bisa melawan, aku yakin kamu sangat mampu mempertahankan hak kamu." Haris menepuk pundak rekannya itu pelan sebagai tanda dukungan dan kepercayaannya kepada Agus, dan Agus pun mengangguk yakin dan membenarkan perkataan Haris.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2