Dokter & Petani

Dokter & Petani
Break Sementara


__ADS_3

Sesampai di rumah Kyra dan Dito sama-sama terlihat kesal.


"Kamu itu kenapa sih Dit? malu-maluin saja!" seru Kyra kesal.


"Kamu itu yang kenapa? Bukannya membela aku malah menyalahkan aku." sahut Dito tak mau kalah.


"Jelas lah aku menyalahkan kamu, karena kamu yang memulai perdebatan konyol itu." seru Kyra sengit.


"Konyol apanya? aku bicara fakta!"


"Iya faktanya kita semua itu kuli, kamu sadar Dit? kita sama-sama kuli karena kita bekerja untuk orang lain, dan perlu kamu tahu, aku bisa membalik kelas sosial kita bila aku menerima ajakan papa mengelola perusahaan keluarga kami, dan status kita akan beda, kamu tetap kuli dan aku bos, saat dalam fase seperti itu, perbedaan kita begitu kontras, kamu lelaki tetapi kasta kamu ada dibawahku. Tetapi aku bukan penganut paham seperti itu, jadi aku tak akan pernah membedakan status sosial seseorang dengan kita karena aku beranggapan kita semua sama sebagai manusia hanya nasib kita yang berbeda." jelas Kyra panjang lebar, tapi sepertinya perkataan Kyra belum bisa membuka pemikiran sempit Dito yang sudah dibutakan kedudukan.


"Dengan kamu berkata seperti itu, aku berpikir kamu lebih membela lelaki itu daripada aku, kamu suka sama dia Ra, sampai sebegitunya kamu menyalahkan aku?!" Dito yang sedang dikuasai amarah tampak benar-benar tidak bisa mencerna perkataan Kyra tadi dan hanya membuat Kyra semakin kesal dan akhirnya Kyra lebih memilih diam dan menatap Dito dengan tajam dan dingin.


"Sudah selesai membela diri dan membanggakan dirinya?!" tanya Kyra masih dengan tatapan tajamnya saat Dito selesai menginterupsi pendapat Kyra.


"Sayang kamu kenapa sih jadi begini?" tanya Dito dengan suara yang lebih melunak daripada tadi ketika melihat tatapan Kyra yang seakan ingin membunuhnya.

__ADS_1


"Stop panggil aku sayang! entah kenapa aku jadi muak sama kamu!" perkataan Kyra seakan bagai pukulan telak didada Dito.


"Kamu bisa berkata seperti itu hanya untuk membela lelaki yang baru kamu kenal itu Ra?!" seru Dito tidak percaya.


"Bukan aku membela dia, tapi aku hanya ingin kamu membuka pikiran picik kamu itu, kamu harusnya sadar kalau kata-kata kamu tadi hanya mempermalukan diri kamu sendiri, aku yang mendengarnya saja malu, dan di sana tadi aku melihat pemikiran seorang buruh tani itu justru lebih cerdas daripada kamu yang seorang kuli kantoran, sekarang kamu lebih baik pulang, kehadiran kamu kali ini malah membuat mood aku rusak!" Kyra mengeluarkan semua isi hatinya tentang kekonyolan Dito tadi.


"Kamu mengusirku?" Kyra tidak menjawab pertanyaan Dito, tetapi ia hanya membuang muka seakan enggan melihat pada lelaki yang berstatus sebagai kekasihnya itu.


"Aku sudah jauh-jauh meluangkan waktuku khusus buat kamu, tapi kamu malah memperlakukan aku seperti ini Ra?" tanya Dito lagi.


"Aku sudah terbiasa kamu abaikan, perlakuanku ini tidak seberapa dibanding sikap kamu yang sok sibuk selama ini, aku sudah terbiasa sendiri tanpa kehadiran kamu, dan aku berpikir kamu ke sini juga pasti terpaksa, seandainya tidak, kamu juga pasti langsung pulang biarpun tidak aku usir, jadi apa bedanya?" jelas Kyra tanpa beban, ia seolah telah berada dititik lelah mengharap hubungannya dengan Dito akan berakhir serius, karena Kyra merasa akhir-akhir ini justru Dito semakin menjauh darinya dengan dalih banyak alasan pekerjaan.


"Bukan aku yang membuat jarak, aku hanya tidak mau terlalu berharap banyak dengan hubungan yang semakin tidak jelas ini, sekarang aku cuma berharap kita saling intropeksi masing-masing, aku masih bisa menerima kamu kalau kamu bisa kembali lagi seperti Ardito yang aku kenal dahulu, tolong hargai pendapatku kali ini!" ucapan Kyra tegas menolak bantahan, dan Dito hanya bisa menghela panjang nafasnya mengiyakan apa yang Kyra mau.


"Aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusanmu ini Ra." kata Dito seolah mengharap keyakinan bahwa ucapan Kyra salah dengan meminta waktu break untuk saling intropeksi.


"Kamu keberatan?" tanya Kyra.

__ADS_1


"Tentu saja aku keberatan, aku sayang banget sama kamu Ra, aku tidak bisa kalau harus jaga jarak sama kamu." Dito menghiba tapi entah kenapa Kyra berpikir itu hanya sandiwara.


"Semua akan terjawab saat kita melakukan usulan yang aku bicarakan tadi, aku rasa semua perkataanku tadi sudah sangat jelas." kata Kyra tak mau terpengaruh dengan tatapan sendu Dito yang merasa keberatan dengan keputusan Kyra.


"Aku ikuti maumu karena rasa sayangku sama kamu." kata Dito akhirnya menyetujui keinginan Kyra karena berbagai macam bujukan seolah tak mampu menggoyahkan keinginan Kyra .


"Bagus, sekarang kamu boleh pulang." Dito terbelalak dengan perkataan Kyra yang secara tidak langsung sudah mengusirnya.


"Oke aku pulang, ingat tetap jaga hati buatku, karena aku pun selalu begitu." pesan Dito kemudian menuju mobilnya untuk segera kembali ke kota seperti kemauan Kyra, sementara Kyra yang mendengar ucapan Dito tadi hanya menyunggingkan senyum kecutnya.


Mobil Dito perlahan meninggalkan halaman rumah dinas Kyra, dan selang beberapa saat mobil Kyra yang ditumpangi oleh orang tuanya masuk ke pekarangan rumah, Kyra yang belum sempat masuk selepas kepergian Dito segera menyambut kedatangan orang tuanya.


"Loh! nak Dito mana nak, kok mobilnya sudah tidak ada?" tanya ibu Ratih kepada anak gadisnya.


"Iya ma, pa. Dito juga barusan pergi, ada urusan penting katanya, dia tadi minta dipamitin tak bisa lama-lama karena ada urusan penting " Kyra berbohong karena ia tidak ingin mendapat interogasi dari kedua orang tuanya bila ia berkata sesungguhnya, sedangkan bila mengetahui Dito yang selalu sibuk di libur akhir pekannya, orang tua Kyra sudah begitu hafal, yang penting anak mereka baik-baik saja sebagai kekasihnya.


"Ya sudah, biarlah dia menikmati kesibukannya, yang penting kamu terima." kata mama membuat Kyra hanya mengulas senyum miris.

__ADS_1


"Mama mau siap-siap dulu, sebentar lagi pak Amir sampai, tolong bantu papa membawa masuk bawaan mama dari Ale's Farm itu." pesan mama sambil berlalu masuk kerumah. Sementara dilihatnya papa menurunkan beberapa kantong plastik yang tampaknya berisi berbagai macam buah-buahan lokal hasil panen dari Ale's Farm untuk dibawa pulang ke kota sebagai oleh-oleh. Kyra segera membantu papanya membawa masuk kantong-kantong itu, dan bersamaan dengan itu masuk sebuah mobil ke pekarangan rumah mereka yang ternyata pak Amir. Melihat papa yang membawa banyak kantong bawaan dengan serta merta, pak Amir segera memarkirkan mobil dan segera keluar menghampiri papa untuk membantu membawakan bawaan papa yang sangat banyak, walaupun tadinya papa menolak karena pak Amir yang baru saja sampai, tetapi pak Amir memaksanya, akhirnya papa pasrah dengan memberikan semua bawaannya untuk dibawa masuk ke rumah oleh pak Amir.


...****************...


__ADS_2