Dokter & Petani

Dokter & Petani
Kebahagiaan, Sesal Dan Kenangan


__ADS_3

Kyra membawa nampan berisi dua cangkir kopi untuk dirinya dan suaminya ke dalam ruangan daddynya.


"Kok lama banget sih? Memang buat kopinya di patry lantai satu ya?" tanya Alex saat mereka masuk ke dalam ruangan.


"Main-main dulu tadi kak, karena mbak Kyra juga sih." Alena yang menanggapi pertanyaan Alex.


"Kyra kenapa? Ooh, benerin penampilan ya?" tanya Alex yang menyadari penampilan Kyra telah berubah.


"Tadinya sih pingin ke toilet saja, tapi langsung kepikiran kata-kata kamu mas, jadi diri sendiri saja, ya sudah aku rombak penampilan jadi diriku sendiri, nah pas di toilet tuh ada mainan buat Alena, makanya jadi lama." jelas Kyra memancing rasa penasaran yang lain.


"Mainan apa sih Al?" Tanya mommy dengan logat khasnya mewakili rasa penasaran yang lain, lalu Alena menceritakan apa yang terjadi saat mereka di toilet tadi dan juga saat mereka di pantry tadi, membuat mereka saling menggelengkan kepala mengetahui sikap karyawan mereka yang masih suka mengagungkan senioritasnya.


"Itu pe-er bagi kalian bagaimana mengatasi sikap mereka yang seperti itu, buat mereka saling menghormati tanpa memandang status karyawan lama atau baru." kata daddyl


"Memang kemana saja daddy selama ini?".protes Alex.


"Alex..." tegur mommy, dan Alex yang tahu maksud mommy memanggil namanya hanya membuang kasar nafasnya.


"Daddy terlalu keras berpikir bagaimana caranya membawamu lagi ke sini." sahut daddy tanpa peduli sindiran Alex, walaupun sebenarnya ia tahu apa yang terjadi antar karyawannya yang masih mengandalkan senioritas, bukannya daddy tidak tahu sama sekali, tetapi iapun akan menegur lansung dengan tegas saat kejadian seperti itu langsung tertangkap pandangannya.


Akhirnya pembicaraan mereka pun berlanjut mengenai para karyawan mereka dengan beragam sikap dan perilaku. Walaupun kebanyakan bersikap kurang bersahabat tetapi ada juga yang mau bersikap baik dengan orang baru maupun dengan bawahannya.


Hari sudah memasuki waktu sore saat anak dan istri serta menantu bapak Abimanyu Agam berpamitan untuk pulang dahulu ke rumah mereka yang di kota. Alex berniat mengantarkan mereka sampai ke lobi.


Saat sampai di lobi mereka tidak sengaja berpapasan dengan Dito yang baru saja masuk ke lobi.

__ADS_1


"Akhirnya kita ketemu lagi, dan aku menagih hutang kalian pagi tadi." kata Dito tiba-tiba sambil berjalan menghampiri Alex dan Alena tanpa menyadari adanya Kyra yang berdiri di dekat Alex yang sedang ngobrol dengan mamanya lewat ponselnya.


Mendengar suara yang begitu Kyra kenal spontan Kyra menoleh ke sumber suara tersebut.


"Ada hutang apa mereka sama kamu?" tanya Kyra dingin sambil menatap Dito tajam.


"Waahh, ada mantan pacar aku yang pernah sangat mencintai aku, tapi gara-gara petani ini dia memilih meninggalkan aku, hah! Ada ya gadis bodoh macam kamu Ra." Kata Dito tanpa filter saat mengetahui Kyra ada di antara mereka.


"Tutup mulut kotor kamu itu, setidaknya Kyra tahu kalau ia memilih pilihan yang tepat, Kyra tahu bahwa ia rela meninggalkan batu kali demi permata yang sangat berharga, karena Kyra memilih intan yang kini sedang berproses menjadi sebuah berlian mahal." begitu tinggi kiasan yang Alex perlihatkan sebagai sindiran buat Dito.


"Hahaha... bangun bung, tidur kamu terlalu miring hingga kamu tidak sadar kalau kamu sedang terbuai dengan indahnya mimpi." kata Dito mengejek.


"Setidaknya perkataan dia ada kebenarannya dan bukan bualan semata." bela Kyra.


"Aku pernah berada dalam situasi seperti itu, dan aku tidak mungkin akan jatuh pada lubang yang sama." sahut Kyra.


"Begitukah? Perlu kamu tahu Kyra yang semakin cantik, lelaki yang kamu bela-bela itupun pernah membawa gadis jelek kemari, bergandengan mesra layaknya kekasih, dan tadi pagi pun dia bergandengan tangan dengan ini cewek." kata Dito ingin membuka hati Kyra bahwa ia telah memilih lelaki yang salah.


"Terima kasih pemberitahuannya tetapi aku tak akan lagi memilih orang yang salah, dan pilihanku adalah dia tak salah lagi." dengan bangganya Kyra menggelayut lengan Alex tanpa peduli perkataan Dito.


"Dasar gadis bodoh melepas berlian hanya demi memilih batu kali." Dito menggunakan kata kiasan milik Alex tadi sambil berlalu dari hadapan mereka, dan Kyra juga Alena malah tertawa karena Dito belum juga menyadari siapa mereka sebenarnya, dan mommy Sandra tidak melihat kejadian barusan karena baru saja datang, karena tadi meminta anak-anak menunggu di lobi, karena ada suatu hal yang ingin dibicarakan dengan daddy.


Mengetahui mommy mereka telah datang, mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke rumah, kecuali Alex yang kembali lagi ke ruang kerja daddynya sepeninggal mommy, istri dan adiknya.


"Mereka sudah pulang?" tanya daddy kepada Alex untuk memastikan.

__ADS_1


"Sudah dad, kalau belum tentunya aku belum kemari." jawab Alex di jawab anggukan daddynya.


"Son, sebaiknya kita segera mengumumkan dan meresmikan kehadiran kamu di kantor ini, karena daddy sudah waktunya menepi, menyepi di tempat kamu di kampung sana, menikmati indahnya hari tua daddy bersama mommy kalian." kata daddy menerawang, seakan membayangkan dirinya hidup di tenangnya kampung yang di tinggali Alex selama ini.


"Jika mau daddy demikian, tak ada alasan lagi bagiku untuk menundanya dad, aku hanya bisa mendukung dan melaksanakan keputusan daddy, mungkin sekaranglah saatnya bagiku menebus kesalahan yang aku buat selama ini, menebus keegoisanku sampai tega membiarkan daddy bekerja keras sendiri." kata Alex terdengar mengharu biru, sepertinya ia menyadaeri kekeliruan sikapnya selama ini, sikap yang terlalu berlebihan menjalankan protesnya karena rencana daddynya yang hendak menjodohkannya waktu itu.


"Betapa bangganya daddy kepadamu son, maafkan daddymu ini karena terlalu sering membuat kamu kecewa." ucap daddy sungguh-sungguh.


"Ini memang jalan yang seharusnya daddy dan aku jalani. Mungkin kalau tidak seperti saat itu aku tidak akan pernah bertemu Kyra." kata Alex bijak.


"Dan dengan kejadian yang sudah berlalu justru menambah pengetahuanku di bisnis bidang lain, dan daddy tentu tahu, bagaimana perkembangan perkebunanku sekarang." bangga Alex dan di amini oleh daddynya.


"Dan hebatnya anak daddy ini menyembunyikan identitas aslinya selama ini. Rela bekerja keras sebagai pekerja kasar di tempat usahanya sendiri, dan menggunakan mommynya sebagai penyempurna peranan yang kamu jalankan demi tidak diketahui oleh sembarang orang. Hanya kebanggaan yang daddy lihat dalam diri kamu son." kata daddy dengan bangganya, dan Alex hanya menundukkan wajah dan sesekali mencuri pandang kepada daddynya, ia pun merasa tersipu dengan pujian yang daddynya lontarkan.


Alex telah membuang jauh rasa kesal terhadap daddynya selama ini, dibalik rasa syukur atas perseteruannya dengan sang daddy kini penyesalan pun terselip di benak Alex, betapa dulu ia sangat membangkang kepada daddynya.


Tetapi itu bukan semata kesalahan Alex seorang, karena Alex hanya ingin mempertahankan pendiriannya, Alex percaya jodoh sudah diatur oleh sang kuasa, jadi segencar-gencarnya daddynya hendak menjodohkannya dengan seorang gadis di waktu dulu tidak akan terjadi bila memang belum tiba jodohnya.


Dan kini Tuhan telah mengirimkan jodohnya dengan cara yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat ia pasrah dengan takdir, justru takdir terindah yang sangat tidak ia sangka-sangka, karena gadis yang di jodohkannya ternyata gadis yang sangat diharapkannya.


...****************...


Selamat membaca readers semua.


Like, komennya jangan lupa ya sayang yaa 🥰

__ADS_1


__ADS_2