
"Ngapain sih Jul, kamu jauh-jauh main ke sini, di sini itu enggak ada hal yang menyenangkan buat kamu, adanya hal yang menjijikkan!" seru Alex bertanya kesal pada orang yang menghentikan kerjaannya membajak dengan langkah lebarnya menuju rumah, sementara Julia dengan agak terseok-seok mengikuti langkah Alex karena memakai high heelsnya.
"Kenapa jalannya cepet banget sih Lex, rumah cuma dekat situ saja jalan pakai tergesa-gesa." protes Julia sedikit kesal. Tapi sekesal apapun Julia ia sadar tak akan dapat perhatian dari Alex karena ia datang atas kemauannya sendiri.
"Kamu juga sudah tahu kalau rumahku dekat, jadi tak usah tergesa-gesa mengikutiku jalan toh nanti akan ketemu juga di rumah, itu juga kalau aku mau menemui kamu." perkataan Alex mencubit perasaan Julia, tapi lagi-lagi ia yang harus sadar diri.
"Kok kamu ngomong begitu sih Lex?" tanya Julia dengan nada kecewa.
"Terserah aku mau bagaimana Jul, toh aku tidak mengundangmu kan?" kembali Julia tertohok dengan omongan Alex.
"Kamu jahat Lex, aku bela-belain datang ke sini tapi tanggapan kamu malah begitu." Nada bicara Julia terdengar beda, ternyata Julia mulai terisak, entah ia benar-benar tersinggung atau hanya sandiwara dia semata.
"Kan tadi aku sudah bilang Jul, aku enggak ngundang kamu. Dan apa tadi kamu bilang Jul? Jahat? Hah! Jangan membuat lelucon dengan mengatakan aku jahat sedangkan kamu lebih jahat sama aku!" Kata Alex pelan tetapi sangat tajam.
"Aku cuma ingin mengembangkan karirku itukah yang kamu maksud dengan kejahatan? Ya, aku memang terlalu terobsesi dengan karirku sampai aku tak pernah memberimu kabar karena aku hanya fokus pada pekerjaanku, dan itu kamu anggap sebuah kejahatan? Egois banget kamu Lex!" Julia tak dapat menyembunyikan lagi emosinya, ia luapkan amarahnya pada Alex. Julia lupa kalau dia pernah buat Alex sangat kecewa.
Prok! Prok! Prok! Prok! Prok!
Alex bertepuk tangan dengan jeda, wajahnya dingin menatap Julia yang wajahnya memerah karena tangisnya.
"Setelah kamu anggap aku jahat, kini aku kamu bilang egois. Asal kamu tahu ya Jul, itu semua lebih tepat ditujukan kepada kamu sendiri." tunjuk Alex tepat di depan kening Julia.
Lalu Alex berbalik masuk ke halaman Ale's Farm, karena mereka berdebat di pinggir jalan. Julia pun tergopoh mengikuti langkah Alex. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian para pekerja penyortir hasil panen.
"Alex! Apa maksud perkataan kamu itu!" teriak Julia pada Alex yang agak jauh meninggalkannya. Dan dengan serta merta Alex menghentikan langkahnya untuk menunggu Julia lebih dekat.
__ADS_1
"Apa kamu tidak malu dengan sekian banyak orang kalau bicara kamu teriak-teriak begitu Jul?!" kata Alex pelan dengan tatapan tajamnya.
"Apa aku peduli?" seringai Julia.
"Hah! Sesuatu yang tidak tulus lambat laun akan terlihat juga." balas Alex dengan seringai lebih sinis dari Julia.
"Tadi berlagak nangis-nangis sok merasa tersakiti, tapi lihat sekarang, pintar sekali mencari muka pada orang-orang itu seolah aku yang sedang berbuat kejahatan." Lanjut Alex.
"Kadang kelicikan perlu di perlihatkan untuk mengungkap kebenaran." sahut Julia.
"Apakah itu sebuah pengakuan kalau kamu memang licik Jul? Nampaknya aku harus lebih berhati-hati lagi untuk menghadapi seorang yang licik, karena seorang tak bersalah bisa jad" i tersangka bila tidak berhati-hati saat menghadapi orang licik sepertimu." kata Alex tajam dan menohok Julia.
"Aku bukan orang seperti itu Lex!" seru Julia tak terima di katai licik oleh Alex.
"Kamu enggak amnesia kan Jul? Belum ada lima menit kamu bilang kalau kelicikan diperlukan untuk mengungkap kebenaran. Lalu kebenaran apa yang hendak kamu ungkapkan Jul? Sedangkan kebenaran tak pernah ada dalam kehidupan kamu." Lagi-lagi perkataan Alex membuat panas telinga Julia.
"Kamu enggak amnesia kan Jul, baru kemarin kan kamu dengar langsung aku telponan dengan seseorang yang ku panggil sayang?" tanya Alex dengan senyum tak habis pikir
"Apa aku akan percaya begitu saja sandiwara kamu itu Lex?" Julia tak mau tahu Alex bicara apa.
"Percaya diri itu bagus, tetapi kalau over itu namanya norak, tahu kan Jul? Sindii Alex, lalu diperlihatkannya jari manis tangan kanannya kepada Julia.
"Apapun pembelaanmu, seberapapun besar penyesalanmu, itu tidak akan merubah keadaan karena namamu sudah tergusur oleh orang yang kini menempati tahta tertinggi di dalam hatiku." tutur Alex membuat Julia terkejut tentunya. Ternyata apa yang di pikirkannya benar adanya. Alex telah mempunyai tambatan hati lain, bahkan sudah menjadi istri sahnya.
"Aku bersumpah akan merebutmu kembali Lex!" kata Julia dengan sorot mata tajam ke dalam netra Alex, tapi Alex hanya menyeringai dan akhirnya melepaskan tawanya.
__ADS_1
Saat itu kedua orang tua Alex tidak sedang berada di Ale's Farm, jadi mereka tidak tahu kalau Julia jauh-jauh dari kota untuk mendatangi Alex yang tidak masuk ke kantornya.
Tetapi nyatanya ada telinga lain yang sempat menangkap perkataan terakhir Julia yang membuat Alex tertawa lepas.
"Percaya diri sekali mbak ini mau merebut suami orang!" seru sebuah suara cempreng tiba-tiba yang muncul dari ruang depan, karena saat ini Alex dan Julia berada si beranda samping karena sejak dari mereka datang dari sawah tadi hanya menjadi pusat perhatian para pekerja.
Julia malah tertawa saat melihat seorang perempuan dengan baju suster yang berdiri di dekat mereka
"Sari!" seru Alex membuat kepalanya celingukan mencari seseorang.
Entah kenapa saat itu Julia langsung tertawa melihat kehadiran Sari yang menegur ucapannya.
"Alex-Alex! Aku pikir sosok perempuan hebat yang mau menerima kamu apa adanya saat menjadi seorang buruh tani yang di ceritakan Alena kemarin adalah benar-benar seorang bonafide kalangan atas, tak tahunya model begini orangnya, apa sebegitu frustasinya kamu kepadaku hingga kamu menggantikan posisiku di hatimu dengan seketemunya orang sampai perempuan seperti ini saja kamu bela-belain di depan mukaku." kata Julia dengan tawa mengejeknya.
"Jaga mulut kamu Jul, apa pantas seorang perempuan terhormat bicara seperti itu? Karena bagiku mau seperti apapun perempuan itu jika ia bisa menghargai pasangannya apa adanya, maka ia harus dipertahankan sampai maut yang memisahkan kita." kata Alex tidak senang dengan perkataan Julia yang cenderung menertawakan fisik Sari yang memang sedikit kerempeng.
"Biarpun saya gak bonafide gak dari kalangan atas seperti mbak ini tetapi saya masih punya harga diri ya mbak, dan tak akan mengganggu rumah tangga orang lain seperti yang telah mbak ucapkan tadi. Saran saya ya mbak, mbak boleh terlalu percaya diri, tetapi perhatikan juga pembicaraan mbak agar mbak gak merasa malu nantinya, untung saja cuma saya Sari sang suster faskes yang direndahkan, coba kalau apa yang anda bicarakan justru berbanding terbalik bagaimana mbak, apa enggak malu mbak." tutur Sari panjang lebar dengan suara khasnya.
"Apa aku peduli, akan aku pastikan Alex akan berpaling dari kamu!" tunjuk Julia tepat di depan wajah Sari, dan Sari hanya tertawa saja melihatnya.
"Stop! Aku jadi semakin muak berada di sini!" seru Alex sambil bangkit dari duduknya hendak pergi dari hadapan Julia yang pembicaraannya semakin tak terkendali.
Sementara di dalam rumah, Kyra yang menyaksikan interaksi mereka bertiga hanya bisa menahan tawanya dan juga yang pasti adalah cemburunya.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, maaf bila banyak typo, karena nulisnya sambil nahan kntuk 🥰