
Hampir satu jam setelah sopir ibu Sandra menelpon keluarganya, datanglah seorang perempuan muda cantik mendatangi ruang gawat darurat dengan raut paniknya, bersamaan dengan itu ibu Sandra hendak dipindahkan ke ruang perawatan, anak ibu Sandra meminta kepada pihak rumah sakit untuk merawat ibunya di ruang VIP, setelah menunggu sejenak akhirnya ibu Sandra dibawa keruang perawatan.
Hanya Kyra, ibu Dewi dan anak perempuan ibu Sandra yang mengikuti paramedis menuju ruang perawatan, sementara sang sopir memilih menunggu di tempat parkir untuk berjaga-jaga kalau atasannya membutuhkan bantuannya.
Setelah ibu Sandra dipindah ke ranjang perawatan dari brancart dan paramedis keluar dari ruang itu, anak perempuan ibu Sandra mendekatinya dan duduk disampingnya, nampak wajahnya memerah menahan isak tangisnya.
"Mom maafin Alena yang tidak mau menemani mommy pergi, kalau saja Alena menemani mungkin kejadiannya tidak seperti ini, cepat sadar mom, jangan buat Ale khawatir hiks..hiks.." Ratap anak ibu Sandra yang bernama Alena dengan isak tangis yang tak bisa dibendungnya. Ibu Dewi mendekati Alena diusap-usapnya punggung anak sahabatnya itu untuk menenangkannya.
"Nak, mungkin ini memang sudah jalan Tuhan harus terjadi seperti ini pada mommy kamu, kamu jangan menyalahkan diri sendiri ya nak, perbanyak berdo'a agar mommy kamu segera siuman dan kondisinya ridak parah." Ibu Dewi menasehati Alena dengan kata-katanya yang lembut, dan Alena pun menganggukan kepalanya tanda mengerti, kemudian isak tangisnya mereda, setelah tenang Alena duduk di sofa ruang perawatan yang telah ada Kyra duduk disana, dan ibu Dewi juga ikut bergabung dengan dua perempuan muda tersebut.
"Tante, bisa tante ceritakan kronologinya?" Pinta Alena.
"Tante kurang begitu paham, karena setelah mommy kamu keluar rumah, tante kebelet musti ke kamar mandi, saat tante selesai terdengar keributan di luar rumah dan tante tidak tahu kalau mommy kamu yang kecelakaan, nah saat tante mendekti kerumunan dan ingin tahu siapa korbannya, tante lihat nak Kyra sudah ada ditempat dengan memangku kepala mommy kamu, dia yang meminta warga untuk segera membawa mommy kamu ke rumah sakit, bahkan dia siap bertanggung jawab sebelum keluarganya diketahui, karena saat itu ia dan tante bersamaan bilang siap bertanggung jawab." Jelas ibu Dewi membuat Alena semakin terharu, lalu segera dipeluknya Kyra dengan erat.
"Terimakasih mbak Kyra, aku bersyukur masih ada orang sebaik mbak dan tante Dewi, terutama buat mbak Kyra yang sama sekali tidak mengenal korban kecelakaan tetapi dengan ringan mau untuk bertanggung jawab agar secepatnya mendapat pertolongan, sekali lagi terimakasih mbak." Alena kembali berlinang air mata mengenang kebaikan yang telah diberikan kepada mommy nya.
__ADS_1
"Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama saat melihat hal seperti yang mama kamu alami tadi, kebetulan aku yang berada disana tadi." Kyra membalas pelukan alena dan mengusap punggung gadis yang berada dua tahun dibawahnya itu agar lebih tenang.
"Iya mbak, semoga kebaikan mbak dan juga tante Dewi akan dibalas berlipat dari yang maha kuasa." Kata Alena.
"Aamiin..." Sahut Kyra dan ibu Dewi bersamaan.
"Tapi maaf Al, aku tidak bisa lebih lama lagi menemani, ini sudah sore, aku harus pulang, besok kalau aku tidak sibuk aku akan datang lagi untuk menengok mama kamu." Pamit Kyra setengah menyesal tak bisa menemani mereka lebih lama lagi.
"Tidak apa nak Kyra, sebelum kakak dan daddy Alena datang biar tante yang menemani Alena, jadi jangan terlalu khawatirkan Alena tak ada teman." Kata bu Dewi meyakinkan Kyra.
"Mbak, aku minta nomor telponnya, biar persaudaraan kita tetap tersambung." Pinta Alena dan Kyra segera menulis angka-angka yang disebut Kyra dan menyimpannya di kontak ponselnya, lalu ia mencoba memanggil nomor yang Kyra berikan, tak lama ponsel Kyra berdering dan segera diambilnya dari dalam tas, dilayar tertera nomor tidak dikenal.
"Ini nomor kontak kamu Al?" Tanya Kyra sambil nenunjukkan ponselnya kepada Alena.
"Iya mbak." Jawab Alena lalu mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Aku simpan ya." Kyra segera menulis nama Alena dibuku kontaknya. "Ya sudah aku permisi dulu ya Al, tante Dewi Kyra pulang dulu." Pamit Kyra pada kedua orang didepannya, Kyra mencium punggung tangan Ibu Dewi, dan Alena kembali memeluk Kyra dengan erat dengan berulang kali mengucapkan terimakasih. Alena menelpon sopirnya untuk mengantar Kyra pulang, semula ia menolaknya tetapi Alena juga memaksanya, akhirnya Kyra mengalah dan mau untuk diantar kembali ke tempat terjadinya kecelakaan untuk mengambil motornya yang ia tinggal karena menolong ibu Sandra.
Alam telah menyembunyikan matahari diperaduannya saat Kyra sampai di rumahnya, segera ia membersihkan diri dan merendam pakaian yang dipakai untuk menolong ibu Sandra, karena terdapat beberapa noda darah di bajunya.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengisi perutnya dengan dua potong roti yang dibelinya tadi Kyra membaringkan badannya yang sangat penat ia rasakan. Sambil bersandar di kepala ranjang Kyra membuka kembali aplikasi perpesanan di ponselnya, berharap Dito telah membalas pesannya, tapi ternyata nihil, pesan sudah bertanda ceklist dua tetapi tidak berwarna biru, tanda pesan yang dikirimnya belum dibuka oleh sang kekasih.
"Haaahhhh... entah apa yang sedang ia kerjakan sampai sebegitu sibuknya dan tidak sempat membaca pesan dariku. Hah! jangankan kirim pesan duluan, membaca pesan saja dia enggan, atau jangan-jangan dia telah memprivasi perpesanannya? Aahh bodo amatlah, aku ikuti saja permainan dia sampai dimana." Gumam Kyra disertai helaan nafasnya yang sangat dalam.
Bagaimanapun Kyra menyadari ada yang berubah dengan kekasihnya itu, tetapi ia tak mau ambil pusing.
"Aku akan ikuti sampai mana ia akan bermain-main sama aku, tapi aku sekarang hanya akan fokus dengan dedikasiku dahulu, aku tak mau memikirkan asmara yang rumit seperti ini." Kyra bicara seorang diri lalu diletakkannya ponsel di nakas samping ia membaringkan tubuhnya.
Saat Kyra hendak memejamkan matanya, ponselnya berdenting tanda sebuah pesan masuk, segera diraih kembali benda kotak pipih itu, ia pikir Dito yang membalas pesannya, tetapi perkiraannya salah karena ternyata pesan masuk itu datang dari Alena yang mengabarkan bahwa mommynya telah siuman dan daddy serta kakaknya telah datang ke rumah sakit.
"Syukurlah akhirnya beliau siuman, berarti trauma di kepalanya tidak begitu parah, aku khawatir kalau sampai mengalami gegar otak" Lagi-lagi Kyra bicara seorang diri kemudian membalas pesan dari Alena bahwa ia sangat bersyukur ibu Sandra telah siuman, dan semoga cepat pemulihannya. Setelah mendapat jawaban berupa ucapan terimakasih Kyra mematikan ponselnya, ia tidak ingin terganggu lagi dengan suara ponsel karena ia begitu butuh istirahat yang sangat banyak, karena Kyra tidak hanya mengalami lelah secara fisik, karena pikiran dia pun sangat lelah ia rasakan.
__ADS_1
...****************...