
Hari pertama masuk kerja setelah libur akhir pekan, Kyra terlihat kurang semangat karena konflik dia dengan Dito, tak bisa dipungkiri walaupun Kyra merasa perasaannya sedikit berubah untuk lelaki yang pernah begitu penuh mengisi relung hatinya, itu saat ini dia begitu terpikirkan akan keputusannya untuk break sementara waktu dari hubungan asmaranya dengan Dito.
Kyra hanya ingin tahu, bagaimana perasaannya saat ini sampai beberapa waktu ke depan, apakah ia benar-benar tak lagi berharap untuk lebih serius atau memang Dito lah masa depan Kyra yang harus ia pertahankan.
"Kok kelihatannya nggak semangat begitu bu dokter?" tanya Sari saat melihat Kyra kurang semangat seperti biasanya.
"Entahlah Sar, seharusnya aku tak membawa masalah pribadiku kedalam kerjaan, apalagi hari ini terlihat pasien sangat banyak, semoga aku bisa tetap melayani keluh kesah mereka dengan benar." keluh Kyra yang membuat Sari justru semakin penasaran apa yang sedang Kyra rasakan saat ini.
"Kalau boleh tahu dokter sedang bermasalah dengan siapa?" Sari semakin mendekatkan wajahnya ke arah Kyra dengan nada suara lebih pelan.
"Nanti pulang kerja aku cerita, sekarang kita layani pasien dulu, itu data pasien sudah dibawa ke dalam." Akhirnya Sari harus menunda rasa penasarannya dan memulai memanggil pasien yang akan periksa.
Hari ini begitu padat karena pasien yang datang banyak, seperti biasa bila hari senin pasti banyak pasien yang antri periksa, dan itu membuat Kyra bisa sejenak melupakan masalah pribadinya, pasien tinggal sedikit saat hari beranjak menuju waktu istirahat, dan badan Kyra tidak bisa dibohongi kalau ia sudah butuh istirahat, tetapi ia harus tahan sampai pasien terakhirnya masuk untuk periksa dan konsultasi.
"Masih banyak ya Sar? badan sudah lelah banget nih." tanya Kyra pada Sari saat membawa masuk data pasien.
"Tinggal ini dok, terakhir." jawab Sari.
"Syukurlah, ya sudah tolong suruh masuk saja." kata Kyra dengan suara agak lemah sambil mencatat laporan pasien yang telah ia periksa sebelumnya, tercium bau parfum maskulin terhirup hidung Kyra, aroma yang tidak terlalu keras menusuk indra penciumannya, reflek Kyra memejamkan mata sambil menghirup aroma parfum mahal yang menguar di ruangannya.
"Selamat siang dokter." Sapa pasien lelaki itu karena Kyra masih berkutat dengan catatannya dan tak kunjung menyapa pasien itu. Memang kadang Kyra masih bersikap arogan dan dingin menghadapi pasien saat pikirannya sedang kalut. Kepala Kyra mendongak cepat mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya. Mata Kyra tak bisa membohongi kalau ia begitu terkejut dengan sosok pasien di hadapannya itu.
"Sedang bermasalah?" tanya pasien itu. Karena dibalik rasa terkejut Kyra terselip raut kurang bersemangat di wajahnya, Kyra hanya bisa menggeleng tidak berniat menjawab pertanyaan lelaki tersebut.
"Ada keluhan apa?" tanya Kyra setelah selesai dengan data pasien sebelumnya, terdengar jelas suara Kyra yang tidak bersemangat apalagi lelah telah mendera tubuhnya.
Lelaki itu membawa tangannya yang sejak tadi berada di pangkuannya keatas meja di hadapan Kyra, nampak telapak tangannya terbalut kain kasa dengan noda darah yang nampak jelas menapak di permukaan balutan luka tersebut.
"Astaga! apa yang terjadi?!" seketika Kyra mengambil tangan lelaki tersebut dengan raut khawatir, dibukanya pelan kasa yang membalut luka itu.
__ADS_1
"Tadi terkena pecahan kaca saat membersihkan cermin yang pecah karena terkena lemparan vas bunga." jawab pasien dengan nada datarnya.
"Kenapa harus melempar vas? kamu marah? kamu bisa marah?" Kyra mengulas senyum heran dan tertahan sambil memeriksa luka yang terlihat dalam setelah kain pembebat dibuka.
"Aku cuma manusia biasa, jadi tidak salah kalau aku juga bisa marah." nada bicaranya semakin dingin.
"Heh!" dengus Kyra masih dengan senyum tertahannya.
"Suster!" panggil Kyra dan Sari yang duduk di dekat pintu masuk ruang periksa langsung masuk saat ia dipanggil.
"Ya dokter, astaga mas tangan kamu kenapa?!" Sari terlihat khawatir juga melihat luka pasien itu.
"Tolong ambilkan cairan pembersih luka dan kain kasa, juga siapkan alat jahit, lukanya terlalu dalam kalau tidak dijahit akan sangat lama sembuhnya, apalagi ini dilipatan telapak tangan!" perintah Kyra mengabaikan pertanyaan Sari dan Sari pun langsung melaksanakan perintah Kyra dengan cekatan.
Sari memberikan cairan pembersih luka dan kain kasa untuk membersihkan luka yang menganga dan dalam itu.
"Jangan menyiksa diri, biar cepat kering dan tidak infeksi berkepanjangan!" seru Kyra menahan kesal karena bangkangan pasiennya.
"Ck!" decak suara lelaki itu sambil membuang muka.
"Dok, apa benar dia orang yang kita kenal selama ini?" Tanya Sari dengan suara berbisik sangat pelan. Bahkan Sari yang sudah sangat lama mengenal pasien itu dibuat tidak percaya dengan sikapnya saat ini, sedang Kyra yang ditanya hanya angkat bahu sambil menyiapkan jarum dan benang medis.
"Tahan sebentar, ini akan sakit!" perintah Kyra dan mulai menjahit Luka di telapak tangan itu, dan terlihat wajah pasien dengan mata terpejam dan meringis menahan sakit, luka yang agak lebar itu mendapat tiga jahitan, setelah selesai menjahit Kyra mengoleskan povidon iodine diluka sayat itu, lalu diambilnya kain kasa untuk membebat luka agar tidak kotor.
"Sementara jangan terkena air dahulu, mungkin sekitar seminggu agar lukanya cepat mengering." pesan Kyra saat di akhir pembebatannya.
"Omong kosong, bagaimana bisa sama sekali tak boleh kena air." Pelan namun sangat membuat kaget Kyra dan Sari apa yang baru diucapkan lelaki itu. Dan mata Kyra semakin terbeliak saat dia merasakan tanganya yang hendak menyimpul perban itu justru digenggam oleh pasien tersebut.
"Jaga batasan kamu!" seru Kyra tidak suka karena kelancangan pasien tersebut.
__ADS_1
"Mas Agus kenapa sih? sejak datang sikapnya sudah aneh banget, atau kamu kembaran mas Agus ya? kok bertolak belakang banget sih?" Sari yang sejak tadi menahan diri untuk tidak berkomentar melihat sikap dan perilaku Agus yang bertolak belakang dengan biasanya, akhirnya lolos juga pertanyaan dari mulutnya dengan penuh penasaran. Pasien itu hanya mengulas smirknya mendapat pertanyaan Sari.
Ya, pasien itu Agus, tetapi mereka menyaksikan Agus yang lain, bukan Agus yang ramah dan suka menebar senyum, kali ini yang terlihat lelaki itu begitu dingin dan tatapan mata tajam serta senyum yang sangat pelit.
"Terimakasih perawatannya dokter cantikku." Kata Agus dengan senyum simpulnya sambil beranjak dari hadapan Kyra dan Sari yang masih terbengong setelah mendapat resep obat dari Kyra.
"Mas Agus benar bukan sih dok?" tanya Sari dengan suara pelan sambil mencondongkan kepalanya lebih dekat Kyra.
"Kesambet apa sih itu orang? asli jadi nyebelin banget." Alih-alih menjawab tanya Sari justru ia pun mengucapkan tanya dengan menahan kesal saat teringat Agus begitu berani menggenggam tangannya dan menyebutnya dokter cantikku.
"Dokter perhatiin tidak sih ada yang beda dengan mas Agus hari ini?" tanya Sari masih dengan suara pelan, takut ada staf faskes yang mendengar apa yang mereka bicarakan. Nampak Kyra berpikir dengan pertanyaan Sari.
"Iya sih, jujur dia keren banget hari ini." kata Kyra jujur dengan apa yang dilihatnya dari penampilan Agus tadi.
"Yah betul, sependapat dok." sahut Sari "Wanginya juga menggoda banget nggak sih dok?" Lanjut Sari dengan bahasa tubuh begitu mengagumi.
"Yes, true! Parfum mahal." sahut Kyra sambil menghirup aroma parfum Agus yang masih tertinggal di ruangannya. Sari yang melihat Kyra begitu menikmati aroma parfum lelaki pasien terakhir hari ini mengulas senyum meledek.
"Ada yang diam-diam menikmati aroma cowok keren nih, ingat bu, lelaki anda nun jauh di kota." goda Sari menyadarkan Kyra dari kelakuan konyolnya.
"Ish apaan sih Sar, membuyarkan kesenangan orang saja." kata Kyra sambil memanyunkan bibirnya karena diganggu dengan godaan Sari.
"Kalau mas Agus lihat tadi dokter begitu bibirnya, pasti bisa langsung disosor, sumpah damagenya nggak nguatin, mas Agus tadi penampilannya kaya playboy-playboy kelas kakap gitu." kata Sari sambil menerawang dan senyum sendiri.
"Hey!! ingat calon suami kamu sedang kepanasan disawah nohh, malah bayangin cowok lain!" seru Kyra ganti mengingatkan Sari dari lamunan tentang cowok lain sambil menepuk tangan Sari dengan keras sampai Sari terkejut, melihat itu Kyra hanya bisa menahan tawa gelinya, saat Sari hendak membalas, dari luar ada suara ketukan pintu, lalu keduanya menghentikan bercandaan mereka.
"Masuk!" seru Kyra, dan dari luar muncul cleaning service mengantarkan makanan yang dipesan Kyra dan Sari untuk makan siang mereka, satelah makanan diterima dan pengantarnya meninggalkan ruangan itu, Kyra dan Sari berpindah meja untuk menikmati makan siang mereka, dan masih sambil meneruskan perbincangan mereka tentang Agus yang hari ini sangat mempesona tapi juga menyebabkan ribuan tanya di benak orang yang sudah lama mengenalnya.
...****************...
__ADS_1