Dokter & Petani

Dokter & Petani
Realita Tak Secantik Ekspektasi


__ADS_3

Agus menuju kamar orang tuanya untuk menemui daddynya, diketuknya pintu setelah ia sampai di depan kamar.


"Masuk!" seru sebuah suara dari kamar, lalu dengan segera Agus membuka pintu dan didapatinya sang daddy sudah hampir selesai bersiap.


"Hey! my son, kamu sudah datang rupanya." seru bapak Abimanyu dengan raut wajah gembira saat mengetahui siapa yang masuk ke kamarnya.


"Kenapa mommy dan Ale tidak diajak dalam pertemuan ini dad?" alih-alih menanggapi perkataan daddynya, Agus justru menanyakan hal lain.


"Kamu tahu mommy kamu kan son?"


"Itulah baiknya mommy yang tak pernah memaksakan kehendak seperti daddy." kata Agus dengan nada datarnya.


"Mommy kamu selalu sependapat sama daddy, hanya saja ia tidak tega menyaksikan anak-anaknya tertekan, oleh sebab itu ia lebih memilih untuk tidak mengikuti pertemuan ini." jelas daddy.


"Dan sepertinya daddy yang begitu bahagia bila anaknya tertekan." perkataan Agus seperti sebuah tamparan buat daddynya terlihat dari perubahan air muka bapak Abimanyu, tetapi ia segera dapat menetralkannya kembali.


"Kamu jangan berkata seperti itu nak, tidak ada satu orangtua pun yang bahagia melihat anaknya dalam tekanan." bapak Abimanyu menghampiri anaknya yang tengah duduk di sofa kamar utama itu.


"Tapi kenyataannya memang begitu kan dad?" kata Agus pelan tapi tatapan matanya begitu tajam menatap daddynya.


"Only this time son, buatlah lega lelaki tua ini, bila memang kalian tidak bisa melanjukannya daddy sudah tidak akan mengekangmu dalam sebuah perjodohan."


"Oh dad... aku tak tahu jalan pikiran daddy, bagaimana nanti kalau gadis yang akan aku jadikan istri tahu dad? dan untuk kali ini seperti yang aku bilang tempo hari, buang-buang waktu!" Agus menekankan kata buang waktu.


"Ayo kita berangkat!" ajak bapak Abimanyu tanpa menanggapi perkataan anaknya, dan Agus pun mengikuti daddynya dengan perasaan campur aduk.


Beberapa menit perjalanan mengantarkan mereka menuju sebuah restoran mewah tempat diadakannya pertemuan itu.


"Alex mau ke toilet dulu dad." pamit Agus saat mereka hendak masuk ke restoran.


"Ok, daddy di VIP room 2." kata bapak Abimanyu sebelum berpisah dengan Agus.


"Ok!" Kata Agus sambil berlalu menuju toilet, sedang bapak Abimanyu segera masuk ke VIP room yang sudah direservasinya.


Belum lama daddy Abimanyu duduk pintu VIP room diketuk dari luar, dengan segera ia beranjak untuk membukakan pintu, dan saat pintu terbuka yang ada dihadapannya bukanlah orang yang telah membuat janji dengannya.


"Selamat malam bapak Agam, maaf bila kami mengecawakan bapak, kebetulan tadi kakak saya tidak enak badan, jadi dia mewakilkan pertemuan ini kepada saya." kata tamu itu yang ternyata wakil dari wali gadis yang akan diperkenalkan kepada Agus.

__ADS_1


"Oohh mari silahkan masuk, lebih baik kita berbincang di dalam, tidak enak bila saling berdiri seperti ini." bapak Abimanyu mempersilahkan tamunya masuk,


"Maaf bisa dijelaskan lagi kenapa bapak Hadinata tidak bisa hadir?" tanya bapak Abimanyu setelah mereka duduk.


"Tadi ia sudah bersiap, tetapi tiba-tiba mengeluh perutnya sangat perih dan sakit, ternyata sakit asam lambungnya kambuh, tidak enak untuk membatalkan pertemuan ini akhirnya ia mengutus saya untuk mengantarkan keponakan saya di pertemuan ini." terang bapak Haryadi selaku paman dari gadis yang akan diperkenalkan kepada Agus.


"Oohh baiklah pak tidak apa, semoga beliau segera sehat kembali, toh ini baru memperkenalkan anak kita, jadi tidak masalah bila beliau mewakilkannya kepada anda untuk mendampingi putrinya." bapak Abimanyu bertutur dengan bijak.


"Lalu dimana putra bapak? kenapa tidak ada bersama anda? kalau putri kami, dia sedang pamit ke toilet." jelas bapak Haryadi setelah bertanya keberadaan Agus.


"Ooh kalau begitu sama pak, putra saya tadi juga berpamitan untuk ke toilet sebentar." kata bapak Abimanyu.


Sambil menunggu kedatangan anak-anak mereka, kini mereka berbincang tentang bisnis juga tentang anak-anak mereka yang akan mereka perkenalkan.


Sementara di toilet Agus sudah selesai dengan keperluannya lalu hendak menuju ruangan VIP room 2 yang ditunjukkan daddynya tadi, saat ia tengah berjalan melewati toilet perempuan, dari arah pintu keluar seorang gadis tanpa memperhatikan kiri kanan, akhirnya mereka saling tabrak sampai sang gadis agak terhempas karena begitu kerasnya benturan dengan sosok tegap Agus.


"Hey! hati-hati doong kalau jalan!" seru sang gadis berkaca mata tebal dengan rambut berponi dan alis yang begitu tebal tidak beraturan.


"Kamu yang harusnya perhatiin jalan kalau mau keluar! bukan hanya dijalan raya saja kamu musti lihat kanan kiri, justru di tempat sepi kamu harus lebih hati-hati!." seru Agus yang sudah kesal bertambah kesal.


"Dasar cewek aneh." gumam Agus sambil berjalan meninggalkan area toilet.


Ternyata gadis yang menabraknya tadi juga masuk ke ruang yang disebut daddynya tadi, tapi ia tidak ambil pusing, Agus berpikir ia salah satu saudara dari gadis yang akan diperkenalkan kepadanya.


"Cewek aneh tadi masuk ke room 2 juga? Waahh, jangan jangan dia saudara dari cewek yang mau dikenalin ke aku? Saudaranya saja sudah aneh banget, bagaimana dia? masa iya daddy mau kenalin aku sama keluarga aneh" gumam Agus sambil menuju vip room 2.


Tanpa mengetuk pintu Agus langsung masuk begitu saja, dan saat Agus masuk terlihat para orangtua tengah terbengong melihat ke arah sang gadis, dan kini saat Agus masuk, bertambah bengonglah mereka.


"D-daddy...." panggil Agus ramah agak tergagap terhadap daddynya.


"Oom, tante.. lama ya nunggu akunya?" sang gadis bertanya dengan logat manjanya mendekat kearah tuan dan nyonya Haryadi.


"Ku...ku..." Sang tante tak mampu melanjutkan perkataannya sedang suaminya hanya terbengong menatap keponakannya.


"Yes om tante, this is Uni your sweet niece." kata sang gadis dengan gaya kekanakan, tadinya sepasang suami istri itu tak percaya tapi melihat pakaian dan asesoris yang dipakai gadis itu mereka pun percaya.


"Son..?" bapak Abimanyu pun tertegun menatap sang putra.

__ADS_1


"Y-ya d-dad. a-aku a-anak d-dad dy A-ag am." kata Agus terbata-bata, ia sengaja berpura-pura gagap sebagai salah satu trik agar si gadis tak tertarik kepadanya, dan sang daddy yang sudah mengetahui bahwa itu hanya trik Agus akhirnya hanya menghela nafasnya dalam-dalam.


Padahal Uni juga tahu kalau Agus pura-pura gagap, karena saat di toilet tadi dia bicara sangat lancar, dan Uni yakin kalau cowok itu juga tidak mau dijodohkan, sama seperti dirinya.


"Jadi bapak Haryadi dan ibu, ini adalah anak lelaki saya yang saya bicarakan tempo hari, lalu apakah ini keponakan bapak?" tanya bapak Abimana setelah bertanya kepada bapak Haryadi.


"Oh iya benar pak, dia keponakan saya.."


"Kenalin om, namaku Uni." kata gadis berkacamata tebal itu dengan logat kekanakannya memotong pembicaraan omnya sambil mengulurkan tangannya kepada bapak Abimanyu, setelah mendapat sambutan Uni segera menarik tangannya.


"Aku gak mau kenalan sama cowok songong jelek itu!" Seru Uni sambil sambil membuang muka.


"Si-siapa ju-juga yang m-mau ken nal s-sama kamu? dasar ce wek aneh! n-nama kok Uni, em-emang k-kaya nini-nini sih kamu." gagap Agus berseru sambil melotot kearah Nini.


"Son..." tegur daddy pelan, agar anak lelakinya tidak kasar kepada perempuan.


"Uni kamu jangan begitu, ingat pesan papa mama kamu." nasehat ibu Mutia Haryadi kepada keponakannya.


"Salah sendiri dia ngeselin. pulang yuk ah tante om!" kata Uni merajuk dan bangkit dari duduknya.


"Unii..." kata tante Mutia lembut sambil menarik tangan keponakannya agar duduk kembali, dan terlihat om dan tante dari Uni mengangguk tak enak kepada bapak Abimanyu.


"Ya sudah, sekarang kita makan dulu, sayang kalau dingin karena sudah sedari tadi dihidangkan." ajak bapak Abimanyu mencairkan suasana, lalu mereka pun mulai makan, dengan sesekali diselingi pembicaraan, tapi tidak dengan Agus dan Uni, mereka seperti menegaskan war.


Tidak hanya itu, bahkan mereka seolah menatap satu sama lain seolah merasa jijik satu sama lain, bahkan mereka lebih memilih untuk tidak makan. bagaimana tidak merasa bergidik? sedang penampilan mereka yang sangat tidak mencerminkan penampilan yang terawat.


Mungkin pakaian mereka terlihat branded, tetapi wajah mereka enggak banget, Agus yang memang dari awal berniat membuat gadis yang akan diperkenalkan kepadanya ilfeel dari awal jumpa, saat pamit ke toilet ternyata ia memasang segala properti penyamarannya.


Dengan memakai wig yang agak berantakan, tompel yang sangat besar menempel di pipi kanannya, dan giginya memakai gigi palsu supaya terlihat tonggos, dan hasilnya sangat jauh dari Agus yang aslinya begitu tampan.


Apalagi melihat penampilan Uni dengan kacamata yang sangat tebal, rambut berponi kaku, alis tebal berantakan juga kawat gigi yang membuatnya terlihat sangat culun, juga suara Uni yang terdengar sangat kekanakan sama sekali jauh dari gambaran yang diberikan daddynya untuk dijadikannya menantu harapan.


Jika harus dipaksa menjalani perjodohan dengannya, ia memilih lari dan menepi selamanya di pegunungan, begitulah gumaman dalam hati Agus yang sejak tadi terlihat sangat tidak nyaman di tempat itu.


...****************...


Happy reading reader tercinta 🥰

__ADS_1


__ADS_2