Dokter & Petani

Dokter & Petani
Bibit Persaingan


__ADS_3

Akhir pekan kembali datang, nampaknya orang tua Kyra sangat betah berada di lingkungan baru tempat Kyra mengemban tugas saat ini, mereka mulai mengenal penduduk sekitar apalagi sama bu Harmi, ibu dari Laras yang suka menyindir keberadaan orang tua Kyra di rumah dinas anaknya itu.


Seperti pagi ini, nampaknya ibu Harmi sedang nyinyir menyaksikan papa Kyra yaitu pak Hadi yang sedang mencuci mobil anaknya, sebenarnya Kyra sudah melarangnya tetapi papa bersikukuh ingin melakukannya karena butuh kesibukan, tetapi bila Kyra menyinggung sebaiknya papanya masuk kantor malah dituduh Kyra enggan orang tuanya berada di rumah dinasnya, untuk itulah perempuan muda itu hanya pasrah dan mengiyakan apa yang dimau orangtuanya


"Eehh ibu-ibu lihat itu pak Hadi, yang konon katanya seorang pengusaha besar masak mau-maunya disuruh anaknya buat mencucikan mobil, jangan-jangan dia cuma pura-pura saja." Nyiyir bu Harmi terhadap ibu-ibu yang kebetulan jalan melewati tempat ia berdiri. Papa Hadi yang mendengar ejekan bu Harmi hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tertawa.


Mama Ratih mendekat ke suaminya karena dari dalam rumah ia mendengar suara bu Harmi yang sedang mengajak ibu-ibu yang lain bergunjing.


"Eehh.. ibu-ibu semua, selamat pagi..! Mari mampir dulu semuanya." Sapa mama Ratih ramah dan tidak menggubris omongan bu Harmi karena bila ia menanggapi berarti akan sama saja, tidak elegan sama sekali.


"Terimakasih bu, kami cuma sekedar lewat mau ada perlu ke warung tetapi malah dipanggil bu Lurah." Jawab salah satu ibu penduduk, dan terlihat bu Harmi melotot kepada tetangganya yang kemudian meninggalkannya untuk melanjutkan niat semula.


"Mari ibu-ibu kami mau ke warung dulu." Pamitnya pada mama Ratih dan ibu Harmi. Mama Ratih menjawab dengan anggukan, sementara ibu Harmi terlihat mengomel tetapi entah bicara apa karena tidak jelas terdengar.


"Bu Lurah, sini masuk kita minum teh dan makan kue dulu yuk, masa cuma berdiri saja di luar pagar begitu." Ajak mama Ratih sopan sambil mendekat ke tempat berdiri bu Harmi.


"Terimakasih, saya sudah kenyang!" Ketus bu Harmi sambil berbalik badan meninggalkan mama Ratih begitu saja.


Mendapat perlakuan tidak enak mama Ratih dan Papa Hadi tidak marah, justru mereka kasihan karena sepertinya bu Harmi suka cari perhatian, ia yang berasal dari kalangan rakyat biasa dan dinikahi pak Lurah yang notabene salah satu orang kaya di kampung itu, jadi sekarang ia merasa jumawa.


Pak Lurah sudah sering menasehati istrinya tetapi nampaknya bu Harmi tidak mengindahkan nasehat suaminya, kalau di depannya saja ia pura-pura baik, bahkan sampai anak-anaknya dewasa perilaku bu Harmi susah berubah.


Ternyata Aryo adalah anak tertua dari pak Lurah dan ibu Harmi, tetapi ia tidak mau hidup jadi satu dengan orang tuanya, ia tinggal di rumah peninggalan kakeknya, yaitu orang tua dari pak Lurah, dan punya usaha jual beli gabah dan beras, sebenarnya Aryo orang yang baik tetapi ia suka cari-cari perhatian dan suka menggoda gadis-gadis maka dari itu ia dicap sebagai lelaki penggoda, padahal itu hanya pelampiasannya karena kurang perhatian dari orangtuanya.


Aryo dari kecil lebih senang tinggal bersama kakek neneknya, dan usaha Aryo itupun melanjutkan usaha mendiang kakek neneknya yang hanya punya anak pak Andar, nama pak Lurah.


***

__ADS_1


Kyra dan kedua orang tuanya sedang berada di Ale's Farm saat Dito memberitahukan kalau saat ini dia berada di depan pintu gerbang rumah Kyra dan tak bisa masuk karena pintu pagar dikunci, lalu Dito ingin menyusulnya karena Kyra bilang bahwa mereka baru saja sampai, daripada menunggu kelamaan mendingan ia menyusul saja, Dito segera melajukan mobilnya menuju Ale's Farm sesuai ancar-ancar yang diberikan Kyra.


Setelah lima menit perjalanan Dito telah sampai ke tempat di mana Kyra dan kedua orang tuanya berada, ia memasukkan mobilnya ke halaman kantor Ale's Farm yang sangat luas itu.


Dito segera menuju ke tempat di mana Kyra dan orang tuanya sedang duduk berbincang dengan Haris dan Agus di sebuah ruang terbuka yang lumayan luas tempat penerimaan tamu pengunjung Ale's Farm.


"Selamat siang semuanya." sapa Dito dan dijawab oleh semua yang berada ditempat itu, lalu Dito menyalami mereka satu persatu, lalu ia mendudukkan dirinya di samping Kyra.


"Nampaknya om dan tante betah tinggal di tempat ini ya?" kata Dito


"Ya begitulah nak Dito, bahkan kami jadi berniat ingin membeli tanah di sekitar sini untuk dibangun rumah singgah, kami sudah terlanjur jatuh cinta dengan tempat ini." Jelas pak Hadi sambil menerawang seolah sedang membayangkan rumah impiannya.


"Iya sih om, tempatnya enak, adem." Tanggap Dito.


"Om dan tante mencari apa datang ke tempat ini?" Lanjut Dito bertanya.


"Ooh begitu, om sama tante sudah mau balik ke kota? kalau iya sekalian saja nanti bareng saya om." Tawar Dito pada orang tua Kyra.


"Terimakasih nak, tapi pak Amir sudah dalam perjalanan kemari." Jawab pak Hadi.


"Apa sebaiknya disuruh balik saja om mumpung belum jauh ke sini." usul Dito.


"Tidak perlu nak, paling sebentar lagi sampai." Kata papa dan Dito hanya mengangguk dan berkata "Oohh.."


Lalu pak Hadi menghampiri ibu Ratih yang tengah serius berbicara dengan Haris, sementara itu terlihat Agus begitu tajam menatap Dito kurang suka, apalagi saat dilihatnya Dito hendak menggenggam jemari Kyra tapi terlihat gadis itu berusaha menghindarinya walau tidak secara langsung.


"Kenapa natapnya begitu banget mas? Iri ya? Eh sayang, bukannya dia yang ketemu kita di kedai itu ya?" Dito bertanya kepada Kyra untuk memastikan ingatannya.

__ADS_1


"Iya kenapa?" bukan Kyra yang menjawab tetapi Agus sendiri.


"Ada masalah sama saya? kok begitu banget menatapnya?" Tanya Dito memprovokasi.


"Tidak juga, saya memang begini." Jawab Agus datar.


"Atau anda suka sama kekasih saya?" Tanya Dito membuat Kyra jengah.


"Apaan sih kamu Dit!" seru Kyra


"Kalau iya bagaimana?" tanya Agus berbarengan dengan Kyra berseru kepada Dito, Kyra dan Dito yang mendengar jawaban Agus sontak membeliakkan mata dan menatap ke arah Agus seakan butuh penjelasan, tetapi beberapa detik kemudian Dito tertawa miring seolah mencemooh Agus.


"Sepertinya kamu perlu kaca yang sangat besar deh bro, biar kamu sadar siapa yang kamu sukai, dan kamu secara terang-terangan menantangku, harusnya kamu sadar kamu tidak pantas bertanya seperti tadi, kamu itu hanya buruh tani, bermimpi memiliki Kyra pun tak pantas apalagi berharap itu nyata." Perkataan Dito yang merendahkan Agus hanya ditanggapi smirk oleh petani tampan itu.


"Lalu apa bedanya dengan anda bapak manajer? Anda tidak sadar kalau anda juga cuma kuli? Status pekerjaan kita sama pak, cuma anda lebih banyak di ruangan sementara saya lebih banyak di lapangan, tetapi maaf ya pak kalau saya harus sombong, secara face anda jauh di bawah saya." ucapan Agus seakan menohok Dito begitu keras, ia tak mau disamakan dengan Agus yang hanya pekerja pertanian.


"Walau status kita sama setidaknya saya lebih bonafide daripada anda." Balas Dito tak mau kalah.


"Kalian apa-apaan sih? Kaya anak kecil tau gak sih? Dit gak perlu deh kamu pamer kerjaan kamu sama orang lain begitu, kesannya kamu itu norak!" Seru Kyra menghentikan perdebatan kedua lelaki itu.


"Bukan norak sayang, aku bicara fakta, dan biar dia sadar diri siapa kamu, siapa aku dan siapa dia." Kata Dito sambil menunjuk muka Agus.


"Cukup!" seru Kyra tertahan takut yang lain mendengar sambil menurunkan tangan Dito yang menunjuk Agus.


"Ayo kita pulang dulu! Mas Agus, maaf kalau Dito bicara yang tidak-tidak, kami pamit dulu. Ma, pa aku sama Dito pulang duluan ya, ini kunci mobilnya!" pamit Kyra agak berteriak karena jarak mereka yang agak jauh. Sementara Agus menyunggingkan smirknya sambil menatap tajam Dito karena merasa Kyra lebih membelanya daripada Dito, sementara Dito terlihat sangat kesal.


"Iyaa." jawab kedua orang tuanya. Lalu Kyra segera menarik tangan Dito menuju mobilnya untuk pulang dahulu daripada terus terlibat perdebatan dengan Agus yang justru membuat Kyra malu dengan kesombongan Dito.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2