
Malam semakin merangkak, para pekerja Ale's Farm yang dikumpulkan untuk sekedar makan bersama yang rutin di lakukan beberapa minggu sekali, satu persatu telah meninggalkan tempat tersebut.
Kini yang tersisa hanya keluarga Agam dan beberapa pekerja yang tinggal di tempat tersebut. Daddy Abimanyu yang masih sangat takjub dengan semua hal tentang Ale's Farm semakin tak sabar untuk segera tinggal di tempat tersebut.
"Ternyata damai sekali suasana di tempat ini, pantas saja kamu sangat betah dan tak ingin kembali ke kantor." kata daddy Abimanyu kepada Alex.
"Prosesnya tidak sebentar dad, waktu itu aku begitu keras berpikir bagaimana caranya agar aku betah tinggal di sini karena untuk kembali ke rumah daddy adalah sebuah gengsi yang sangat besar bagiku.
Waktu itu keberhasilan usahaku yang baru ini aku nomor sekiankan, yang penting aku betah dulu di tempat ini, aku buat tempat ini senyaman mungkin untuk ditinggali sambil memulai usaha bercocok tanam.
Akhirnya dengan bantuan para pekerja terutama Haris aku berhasil mematahkan keraguanku untuk tinggal di sini, walau mereka tidak tahu akulah pemilik dan pendiri tempat ini, karena aku selalu mengenalkan diri sebagai orang kepercayaan pemilik tempat ini, yaitu madam Sandra.
Memang pemilik tanah yang sebenarnya mommy sih." Alex mengakhiri penuturannya dengan sedikit candaan tapi nyata adanya.
"Dan mommy pun sangat jarang tinggal di tempat ini, kalau datang hanya beberapa saat saja dan langsung pulang ke vila, itu untuk semakin menguatkan kalau Alex benar-benar orang kepercayaan madam Sandra karena mommy ke sini hanya untuk tinjau saja." cerita mommy sambil menggeleng-gelengkan kepala mengingat kemauan Alex.
"Dan waktu awal Ale dengar para pekerja di sini panggil kak Alex dengan mas Agus, jujur pingin tertawa ngakak aku, tapi karena sudah di kode sama kakak ya tertawanya ditahan saja." Alena menambahkan cerita.
"Kalau aku di sini memakai nama Alex kesannya kurang cocok saja, takutnya malah di ledekin sama orang yang tidak menyukaiku." jelas Alex.
"Tapi kenyataannya banyak sekali orang di sini yang menyukai mas Agus, terutama para gadis-gadisnya." Sahut Haris yang ikut bergabung bersama keluarga Agam, dan selesai berkata seperti itu ia menangkupkan kedua telapak tangan didepan dadanya sambil memandang ke arah Kyra.
"Enggak apa-apa mas Haris, aku kan sudah tahu, tapi entah kenapa malah aku yang beruntung memilikinya padahal aku enggak pernah bersikap ramah sama dia." kata Kyra menanggapi perkataan Haris.
"Mungkin kalau kamu tidak bermasalah sama pacar kamu waktu itu, aku tidak akan pernah bisa merebut hati kamu sayang." sahut Alex.
"Enggak juga mas, sepertinya permasalahanku dengan Dito waktu itu sebagai penguat untuk aku lebih cepat meninggalkan dia." kata Kyra.
"Maksud kamu?" tanya Alex kurang mengerti maksud istrinya tersebut.
__ADS_1
"Siapa sih yang tidak bisa luluh dengan banyaknya perhatian yang di dapatkan? Dan kamu mas, dulu sering aku cuekin, sering aku ketusin, tetapi kamu tetap saja baik sama aku, saat kita kebetulan ada di tempat yang sama kamu pasti akan sangat perhatian sama aku tak peduli aku akan menyambut baik atau tidak.
Dan waktu itu aku tetap berusaha mempertahankan segala perasaanku buat Dito yang tak lagi seperhatian dulu, yang suka semaunya sendiri, tapi kenyataannya perasaanku pada Dito luntur bukan karena aku telah masuk dalam pesonamu, ya mungkin ada sedikit pesonamu yang mempengaruhiku, tetapi yang utama adalah kesombongan Dito, dan yang lebih parah, dia ada affair dengan perempuan lain di belakangku." Jelas Kyra panjang dan di dengarkan dengan seksama oleh semua yang ada di tempat itu.
"Berarti aku cuma pelarian dong." goda Alex, padahal ia tahu kalau Kyra tidak pernah menganggapnya sebagai pelarian.
"Mungkin begitu." Sahut Kyra balik menggoda Alex.
"Ooh! Jadi benar aku cuma pelarian?!" Alex pura-pura ngambek.
"Uluh-uluh, tayang lutuna yang lagi ngambek." goda Kyra menirukan gaya anak kecil dengan suara cadelnya, dan melihat hal itu yang lain hanya bisa menahan tawanya, walaupun dengan kesusahan.
"Memang iya ya mbak?" tanya Alena yang penasaran.
"Apanya?" tanya Kyra balik.
"Kalau kak Alex hanya pelarian.
Dan di saat seperti itu aku benar-benar butuh mas Agus sebagai penenangku, saat itu mas Agus jauh-jauh hari sudah berhasil mencuri hatiku dengan caranya sendiri, tapi saat aku benar-benar butuh mas Agus yang datang justru Alex, orang yang sangat mirip dengan mas Agus bahkan wangi mas Agus yang sudah sangat melekat di hidungku sama wanginya dengan Alex, tetapi penampilannya sangat jauh beda dengan penampilan mas Agus yang aku kenal sangat sederhana.
Aku tolak mentah-mentah perhatian Alex, tetapi saat dia tahu namaku padahal aku belum pernah mengatakan namaku aku jadi curiga akhirnya aku ingat kalau saat itu mas Agus punya luka di tangan kirinya karena aku yang mengibatinya, dan untuk meyakinkan aku kalau Alex adalah Agus, aku segera ambil tangan kirinya dan ternyata benar dan Alex baru mengaku kalau dia adalah mas Agus.
Di situ aku menangis sejadinya, aku menangis karena orang yang aku harapkan kehadirannya benar-benar hadir di sampingku sebagai penyemangatku. Walau akhirnya kami harus diuji kembali." Kyra mengakhiri penuturan kisahnya bersama Alex dengan perkataan yang kembali membuat penasaran.
"Ujian? Ujian apalagi mbak?" tanya Alena semakin penasaran.
"Ya kami fikir ini adalah akhir bahagia dari percintaan kami, tapi ternyata kami sudah sama-sama di jodohkan, waktu itu ingin rasanya aku menghilang saja dari bumi." kenang Kyra.
"Bunuh diri mbak?! Dosa tahu!" seru Alena agak berang.
__ADS_1
"Enggak gitu Al, mungkin seperti yang kakak kamu lakukan, dulu, pergi dari keluarga." jelas Kyra.
"Ooh, begitu, kirain mau bundir." sahut Alena sambil menutup mulut dengan telapak tangannya untuk menutupi senyum malunya.
"Tapi akhirnya aku pasrah saja dengan nasib, dan ternyata pasrahku berakhir bahagia." kata Kyra sambil menggelayut tangan Alex, dan Alexpun mencium kening Kyra dengan lembut.
"Sudah-sudah! Bikin iri saja. Lihat dan peka dong, di sini cuma aku yang enggak ada pasangan." Seru Alena sambil memanyunkan bibirnya.
"Makanya segera suruh datang melamar ke daddy dan mommy pacar kamu itu." ledek Alex membuat adik dan kedua orang tuanya terbelalak.
"Kamu sudah ada pacar girl? Kok tidak di kenalkan sama mom and dad?" seru mommy bertanya pada Alena.
"Yaelah mom, omongan kakak dipercaya, boro-boro aku ada pacar mom, asal mommy sama daddy tahu, hidupku tak sebebas apa yang terlihat, karena kakak pasang mata-mata di sekitar aku bepergian kemana saja." cerita Alena kesal.
"Benarkah?!" seru kedua orang tua itu seakan tak percaya perkataan anak gadisnya.
"Tanyakan saja sama pangeran mommy daddy itu." sahut Alena sambil buang muka, dan spontan pandangan mommy daddy beralih ke mata Alex penuh tanya.
"Itu sebagai upaya aku menjaga adik perempuanku dan satu-satunya adik aku mom, dad. Bukannya aku ingin membatasi gerak-geriknya, tapi aku tak mau Alena lepas kendali dengan kebebasan yang mommy dan daddy berikan." Alex menjelaskan alasan dia mengirim penjaga buat Alena saat bepergian tanpa keluarganya.
"Mommy sangat bahagia atas perhatian kamu buat adik kamu Lex." kata mama dengan sorot mata bangga untuk anak lelakinya.
"Sebenarnya daddy pun mengirim penjaga buat Alena juga mom, karena orang suruhanku bercerita tentang pertemuan mereka yang hampir saja bentrok, dan akhirnya mereka bersama-sama menjaga Alena." jelas Alex, dan hanya ditanggapi senyum di kulum dari daddynya.
"Mommy cuma bisa bangga sama para lelaki mommy." kata mommy Sandra tak tahu mau berucap apa, karena di hatinya hanya ada kebanggaan untuk suami dan anak lelakinya yang sangat ingin melindungi perempuan-perempuan milik mereka.
Dan Alena pun kini tahu alasannya kenapa selalu di awasi oleh orang suruhan kakak maupun daddynya, dan kini hanya bangga yang ia rasakan.
...****************...
__ADS_1
Selamat membaca semua 🥰