
"Selamat pagi bu dokter cantik yang baru jadi penga...." Sapaan cempreng khas suara Sari pada Kyra langsung terpotong karena Kyra langsung membekap mulut Sari. Kyra melotot memberi isyarat kepada Sari, Sari yang tidak paham maksud Kyra juga mempermainkan bola matanya.
Kyra menghela panjang nafasnya karena Sari tidak tahu kode darinya. Lalu Kyra membawa telunjuknya di depan bibir, baru Sari paham bahwa saat ini pernikahan Kyra dan Agus belum boleh terpublikasi.
"Sorry mbak, aku lupa." bisik Sari sangat pelan dan Kyra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu segera masuk ke ruangannya.
Sementara di Ale's Farm, Agus sedang sibuk memeriksa laporan kebutuhan yang harus tersedia minggu ini, Agus masih meminta tangguhan waktu satu hari lagi sebelum masuk ke kantor daddynya, ia ingin memberi pengarahan dahulu kepada semua pekerja sebelum ia tidak aktif seharian lagi di Ale's Farm seperti biasanya, karena ia harus menjalankan apa yang daddynya perintahkan.
Terdengar suara motor memasuki halaman Ales Farm, sejenak Agus menghentikan aktifitas yang dilakukannya demi melihat siapa yang datang, dan Agus hanya membuang nafasnya kasar saat tahu siapa yang datang dan langsung duduk di hadapan Agus.
"Lagi sibuk ya mas?" tanya Laras
"Kamu enggak ada kerjaan ya, pagi-pagi sudah jauh-jauh main sampai sini?" bukannya menjawab pertanyaan Laras, Agus malah balik bertanya kepada Laras.
"Enggak apa-apa kan? Main ke tempat calon suami sendiri." jawab Laras dengan percaya dirinya, mendengar perkataan Laras Agus hanya menggelengkan kepalanya. Tetapi Agus tidak menanggapi keberadaan Laras ia tetap menekuni pekerjaannya dan belum merasa terganggu dengan keberadaan Laras.
"Kok tumben diam saja aku temani di sini mas? Biasanya aku diusir-usir karena merasa terganggu sama aku, atau kamu sudah bisa membuka diri buat aku ya mas?" Laras mulai mengeluarkan suaranya.
"Karena kerjaanku harus cepat selesai, aku tak ada waktu buat mengusir kamu dari sini." Jawab Agus dengan wajah masih menunduk menekuni pekerjaannya agar lekas selesai.
__ADS_1
Laras belum merasa diacuhkan oleh Agus makanya dia masih betah duduk di depan Agus walau hanya diam-diaman. Tiba-tiba ponsel Agus bergetar saat ada notifikasi masuk, dan otomatis layar ponsel Agus menyala, Laras dengan jelas melihat wallpaper ponsel yang ada di hadapannya adalah foto pemilik ponsel beserta seorang perempuan dengan senyum bahagia di wajah mereka.
Spontan Laras mengambil ponsel milik Agus dan memperhatikannya dengan teliti.
"Mas Agus, ini?" tanya Laras sambil memperlihatkan layar ponsel kepada pemiliknya.
"Kenapa?" tanya Agus saat melihat sekilas apa yang Laras beri tahukan.
"Maksudnya apa?!" Seru Laras bertanya.
"Ada yang salah kah?" tanya Agus balik dengan santai masih tetap meneruskan pekerjaannya.
"Kamu menyakitiku mas." Terdengar suara Laras bergetar karena menangis. Dan Agus yang mendengar suara Laras berubah menghela nafasnya dengan panjang, ia berhenti menekuni pekerjaannya, lalu ia memperhatikan Laras yang duduk di hadapannya.
"Kalau kamu selalu terpaku pada kebaikanku dulu, sekarang aku jelaskan. Dulu aku masih orang baru di sini aku hanya ingin dekat dengan penduduk sini supaya mereka semua tidak beranggapan kalau aku pendatang yang sombong.
Dan jikapun dulu aku selalu ikut apa ajakan kamu itu agar kita lebih dekat sebagai teman, toh aku pergi selalu ada beberapa teman yang ikut, tapi semakin ke sini aku mencium gelagat lain sama kamu, maka dari itu aku tidak lagi mau kamu ajak pergi dengan alasan banyak pekerjaan.
Tapi memang tidak salah, aku memang sangat sibuk merintis berdirinya Ale's Farm waktu itu.Dan jika aku tidak membalas perasaan kamu lebih dari teman, itu karena hati tidak bisa di paksakan, harusnya kamu tahu itu." jelas Agus untuk menyadarkan hati Laras.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu bisa seperti ini dengan orang yang baru satu tahun kamu kenal?!" seru Laras bertanya sambil menunjuk ponsel Agus.
"Kalau Tuhan sudah menjodohkan kita dengan seseorang, jangankan satu tahun, satu minggupun bisa langsung ke pelaminan Ras. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk membolak balikkan hati dan keinginan manusia, karena kita hanyalah wayang dan Tuhan adalah dalangnya, maaf jika perkataanku menyakitkan tapi itulah kenyataannya." Agus menjelaskan semua dengan hati-hati supaya Laras bisa menerima, apalagi fikiran dia sedang kalut saat ini.
"Dan aku selalu berharap Tuhan membolak-balikkan hati kamu agar kamu meninggalkan perempuan itu!" seru Laras dengan nada sinisnya, kini Laras sudah tidak lagi menangis.
"Tapi sepertinya itu tidak mungkin, aku akan menjaga bagaimanapun caranya agar kami selalu bersama sampai tua, maaf kami sudah menikah." jelas Agus bagaikan sebuah sengatan listrik beribu volt di jantung Laras, ia begitu terkejut dengan pengakuan Agus.
"Sebegitu cintanyakah kamu sama dia sampai kamu mengarang cerita seperti ini mas?" Tanya Laras masih belum percaya, lalu Agus mengangsurkan tangan kanannya, di jari manisnya tersemat cincin platinum dan Agus membuka telapak tangannya dan menunjukkan nama yang terukir di bagian bawah cincin itu, sangat jelas tertulis nama Kyra dengan ukiran yang begitu cantik.
Lalu Agus mengambil ponselnya untuk menunjukkan sebuah video kepada Laras, video saat Agus mengucapkan janji suci pernikahan, begitu jelas di mata dan telinga Laras, hingga akhirnya Laras pun pergi meninggalkan Agus begitu saja, ada kilat amarah serta air mata yang keluar, saat pandangan mereka sekilas beradu.
Agus hanya diam menyaksikan kepergian Laras, ia tidak mau mengejar karena ia tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman yang akan berdampak pada hubungan Agus dan Kyra.
Setelah melihat Laras pergi meninggalkan halaman Ale's Farm.
Agus segera menelpon Kyra, ia menceritakan semua apa yang terjadi antara ia dan Laras barusan, sebelum Laras menghasutnya karena ketidak sukaannya pada hubungan mereka berdua, tapi melihat pengalaman yang sudah terjadi Kyra bukanlah orang yang mudah terhasut apalagi orang itu Laras, jadi walaupun Agus tidak menelponnya lebih dahulupun Kyra tidak mudah percaya dengan ucapan Laras jika benar Laras menemui Kyra dan berbicara yang tidak-tidak mengenainya bersama Agus.
Akhirnya Agus bisa bernafas lega saat mendengar penuturan Kyra menanggapi apa yang ia ceritakan barusan, ia sangat bersyukur mempunyai seorang istri dengan pemikiran terbuka, berwawasan luas, pintar dan cantik sudah tentu tersemat di wajah Kyra. Itulah yang membuat Agus mempunyai rasa ketertarikan kepada Kyra sejak awal jumpa, walau ia harus menahan perasaan dan bersikap pura-pura biasa sampai waktu yang lumayan lama, hingga takdir telah menyatukan mereka dengan cara yang tidak di sangka-sangka.
__ADS_1
...****************...
Happy reading semua 🥰