
Kyra dan Agus sudah kembali lagi di kampung mereka saat matahari telah condong ke ufuk barat, saat sampai di depan rumah pak Lurah Agus menghentikan mobilnya karena saat itu pak Lurah sedang menyirami tanaman serta halaman rumah yang kering karena tidak ada hujan di musim kemarau seperti ini.
"Selamat sore pak Lurah!" sapa Agus ramah. Ia seorang diri menemui pak Lurah karena Kyra masih berpenampilan sebagai orang lain.
"Eh, nak Agus. Ada yang bisa bapak bantu?" tanya pak Lurah dengan ramah.
"Maaf sebelumnya pak kalau saya kurang sopan, menghadap bapak dengan cara seperti ini." kata Agus merasa tak enak hati. Tapi perkataan Agus justru membuat pak Lurah lebih tidak enak hati karena tidak mengajak Agus masuk ke dalam rumah.
"Jangan begitu nak, ayo kita masuk dulu!" ajak pak Lurah.
"Tidak usah pak, di sini saja." tolak Agus dengan sopan, lalu pak Lurah mengajak Agus untuk duduk di gazebo taman depan rumahnya.
"Ada apa nak?"
"Begini pak, saya hanya ingin menjelaskan tentang status saya saat ini, bahwa saya dan Kyra sekarang sudah sah menjadi suami istri." Kata Agus membuat pak Lurah terkejut.
"Tapi tidak ada permintaan permohonan surat pengantar atas nama anda, makanya saya terkejut kok tiba-tiba anda bilang sudah jadi suami istri." Pak Lurah masih terlihat belum percaya. Lalu Agus mengeluarkan surat nikahnya dari dalam tas yang ia pakai.
"Yang mencari surat-surat kelengkapan ijin menikah bukan saya pak, tapi anak buah daddy saya, dan karena domisili asli saya di kota, maka mereka mencari kelengkapan surat-surat itu di kota." jelas Agus, sementara pak Lurah menekuni buku nikah milik Agus.
"Aah iya, saya baru ingat kalau anda belum pindah domisili ke sini." kata pak Lurah setelah mengingat status kependudukan Agus di kampung ini.
"Iya pak, memang benar yang bapak katakan. Tapi kami mohon maaf juga karena saat akad nikah tidak mengundang bapak, karena waktu itu hanya dihadiri keluarga inti kami saja, besok saat resepsi pernikahan kami, baru kami akan mengundang anda serta penduduk sini pak, tapi saya memohon kepada bapak untuk sementara merahasiakan tentang kebenaran status kami saat ini." Pinta Agus setelah memberi penjelasan kepada pak Lurah.
"Tapi kalau ada kecurigaan dari penduduk tentang kalian, mau tidak mau bapak harus membeberkan bukti begitu juga kamu, agar tidak timbul salah paham dengan penduduk." kata Pak Lurah di jawab anggukan dari Agus.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya pamit pulang." pamit Agus.
"Baik nak Agus, terima kasih juga telah memberi tahu bapak tentang status baru kalian." kata pak Lurah.
"Iya pak, sama-sama." jawab Agus lalu segera berlalu dari halaman rumah pak Lurah menuju mobilnya. Sebelum Agus dan Kyra pulang ke rumah di perkebunan, mereka terlebih dahulu mampir ke rumah Dinas Kyra untuk mengambil beberapa barang yang Kyra perlukan.
__ADS_1
"Sayang, boleh gak malam ini aku minta hak aku?" tanya Agus saat Kyra mengumpulkan beberapa barang yang akan ia bawa ke Ale's Farm.
"Kita lihat nanti mas." jawab Kyra dengan lirikan menggodanya
"Jangan begitu lah sayang, aku butuh kepastian ini." kata Agus penuh harap.
"Aku kan gak berani memastikan mas, ini sudah masuk masa siklus bulananku, siapa tahu nanti kamu sudah menggebu-gebu ternyata tamu bulananku datang, nah! Kesiksa sendiri kamu." Jelas Kyra membuat Agus memberikan sebuah usulan.
"Kalau begitu sekarang saja." Kata Agus antusias dan langsung mendekati Kyra.
Kyra yang tak sempat menghindar telah berada dalam pelukan Agus, dan Agus menarik dagu Kyra agar bisa menatap mata Kyra dengan benar. Kini mereka saling mengunci pandangan, Agus yang sudah berhasrat sampai ubun-ubun segera mengecup bibir indah Kyra yang seakan menantangnya untuk di l*mat.
Kyra yang hanya diam saja saat Agus mengecup bibirnya seolah sebuah sinyal bagi Agus untuk melakukan lebih, Agus kembali mendekatkan bibirnya ke wajah Kyra. Di kecupnya kening Kyra dengan lembut membuat Jantung Kyra seakan berpacu dengan detak yang begitu cepat, kecupan Agus berpindah ke mata kanan kemudian mata kiri, perlahan kecupan itu berpindah ke pipi kanan Kyra setelah beberapa saat berpindah ke pipi kiri, dan terakhir beralih ke bibir menggoda Kyra, dil*matnya bibir merona itu dengan pelan, semakin lama Agus melakukannya dengan menuntut saat Kyra membalas perlakuannya, setelah beberapa saat mereka melepaskan pagutan mereka setelah mereka kehabisan oksigen untuk bernafas.
"Bibir kamu membuatku candu sayang, aku ingin lebih lama memakannya, tapi kasihan kamu yang kesulitan untuk bernafas." bisik Agus dengan suara menggoda tepat di telinga Kyra membuat bulu-bulu Kyra meremang.
Kyra hanya menundukkan kepalanya, ia masih merasa canggung dan malu dengan pengalaman barusan.
"Bisakah kita menahan diri mas? Aku tidak mau melakukannya di tempat ini, apalagi mereka belum tahu status kita. Jangan memancing kecurigaan warga mas." Saran Kyra dan akhirnya bisa di terima oleh Agus.
"Resiko kamu." bisik Kyra dan langsung berlari menghindari Agus.
"Awas nanti kalau sudah sampai di farm, habis aku *****." Ancam Agus.
"Waahh, takut enggak ya? Sayangnya aku enggak takut ha.. haa.." tawa Kyra meledek Agus yang sedang susah payah meredam hasratnya.
***
Malam ini Agus dan Kyra benar-benar gagal melakukan apa yang sudah Agus harap-harapkan, karena ternyata Kyra kadatangan tamu bulanannya.
Pagi yang tidak membuat Agus semangat karena semalam gagal mendapat apa yang dimaunya.
__ADS_1
"Kusut amat mas, kecapekan ya? Habis berapa ronde nih?" Cecar Haris yang sedang minum kopi melihat Agus keluar rumah dengan lesu.
"Iya capek kena prank! Nol ronde, kadahuluan bulan datang bertamu." sahut Agus dengan tampang susah diartikan.
"Sudahlah mas, terima nasib. Tuh bu dokter sudah siap berangkat, jangan pasang muka kusut begitu, kesannya jadi seperti nyonya dan sopir pribadinya kalau jalan bareng." ledek Haris membuat Agus tersentak.
"Sialan kamu Ris!" seru Agus sambil melempar jeruk yang ada di hadapannya ke arah Haris, dan Haris hanya bisa tertawa terbahak melihat ekspresi kesal dari Agus.
"Sarapan dulu sayang." kata Agus saat Kyra sudah sampai dan duduk di sampingnya. Kemudian Agus memanggil petugas dapur Ale's farm untuk menyiapkan sarapan untunya juga Kyra.
Setelah selesai sarapan, Agus mengantarkan Kyra menuju faskes, tadinya Kyra hendak berangkat naik motor sendiri, tetapi Agus melarangnya.
Saat sampai di depan rumah pak Lurah mereka melihat Laras yang sedang duduk di gazebo depan rumah sambil menikmati teh beserta camilannya. Mata Laras membelalak tak percaya melihat pemandangan di depan matanya, apalagi dari tadi dia tidak melihat juga tidak mendengar aktifitas di rumah dinas Kyra. Laras mengepalkan jemari tangannya ketika fikirannya mengembara bahwa Kyra di pastikan telah menginap di Ale's Farm.
"Hmmm, damainya jadi mbak Laras, masih santai menikmati teh dan camilan enggak di kejar waktu jam kantor." celetuk Kyra.
"Kamu bisa kok seperti dia, mau?" tanya Agus.
"Enggak ah, sayang ilmuku kalau di sia-siakan begitu saja." jawab Kyra dengan cepat.
"Naah, itu tahu. Hati-hati dalam bekerja ya, jangan mikirin aku terus." goda Agus di jawab cibiran dari Kyra.
"Ini tempat umum, jangan memancingku!" bisik Agus.
"Ih! Apaan sih? otak mesum!" seru Kyra yang paham maksud Agus di sambut tawa Agus.
"Aku pulang dulu." pamit Agus.
"Iya, Hati-hati goyah iman kena rayuan maut mbak Laras, dia pasti akan datangin kamu setelah melihat kita tadi!" pesan Kyra.
"Enggak usah khawatir, aku sudah kebal." sahut Agus dengan percaya diri, lalu segera berlalu dari halaman faskes untuk kembali ke Ale's Farm. Dan Kyra pun segera masuk karena jam pelayanan telah dimulai.
__ADS_1
...****************...
Happy reading 🥰