Dokter & Petani

Dokter & Petani
Dua Lelaki Yang Masih Berseteru


__ADS_3

Agus berjalan dengan gagahnya menuju ruangan big boss nya, setelah mengetuk pintu ia langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan.


"Welcome my handsome son..!" sapa lelaki pemilik ruangan CEO sambil beranjak dari kursi kebesarannya guna menyambut kedatangan Agus dengan binar wajah bahagianya, sementara Agus memasang muka datarnya.


Big boss dari Agus segera memeluk Agus dengan erat seolah lama tidak berjumpa dan lagi, Agus tidak membalas pelukan itu.


"Hey son! kamu terpaksa ya mendatangi lelaki tua ini? harus berapa lama lagi kita harus seperti musuh, tapi tak apa, dengan hadirmu disini berarti kamu setuju tentang apa yang kita bicarakan tempo hari." kata lelaki setengah abad lebih itu menatap penuh heran kepada Agus.


"Aku kemari bukan karena setuju dengan apa yang kita bicarakan tempo hari, tapi aku mau minta restu sama daddy buat meminang gadis pilihanku." kata Agus to the point.


"Ayolah son, sekali ini saja kamu menurut sama keinginan lelaki tua ini, daddy hanya ingin melihat kamu seperti yang dulu, tetapi daddy juga ingin kamu menurut apa yang daddy harapkan." Bapak Abimanyu begitu menghiba kepada anak lelaki satu-satunya itu agar menjadi anak lelaki yang bersahabat dengan ayahnya seperti dahulu.


"Kenapa daddy begitu arogan hanya untuk kesenangan daddy semata, jikalau daddy ingin melihatku seperti Alex yang dulu, harusnya daddy tidak bertahan dengan arogansi daddy, kurang lamakah perseteruan yang harus kita jalani dad?" Agus sedikit melunak, berharap daddynya juga melunak dan tidak lagi memaksakan kehendak hatinya kepada anak lelakinya.


"Please, only for this time turuti kemauan lelaki tua ini, setidaknya kamu mencoba berkenalan dulu, kalaupun kamu tidak bisa menjalaninya, daddy ikuti apa yang jadi pilihanmu." pinta bapak Abimanyu penuh harap.


"Lalu bagaimana nasib gadis yang aku janjikan sebuah pernikahan dad? bagaimana bisa aku menghancurkan hatinya sementara dialah sumber bahagiaku karena keegoisan daddy selama ini, dan mungkin seharusnya daddy berterimakasih kepadanya karena dia aku mau menemui daddy kembali." Agus begitu emosional ketika berbicara tentang hati.


"Dan daripada kita membuang waktu lebih baik langsung saja aku meminang gadis pilihanku ini." lanjut Agus.


"Dan kamu pasti akan bisa melupakan gadis pujaanmu itu bila sudah berkenalan dengan gadis pilihan daddy" bapak Abimanyu begitu kukuh pendirian.


"Dan aku akan pastikan kalau dia akan meninggalkan aku saat itu juga." tegas Agus "Atur pertemuan yang daddy inginkan, sekali ini aku turuti mau daddy tapi jangan berharap lebih untuk kelanjutannya." Akhirnya Agus bersedia menuruti kemauan daddynya.


"Thank you Alexi my beloved son yang sangat tampan, jangan menyesal kalau kamu akan jatuh hati sama gadis pilihan daddy." bapak Abimanyu begitu gembira ketika anaknya mengiyakan apa maunya, walaupun ia tidak berharap banyak untuk kelanjutannya.


"Alex berharap secepatnya dipertemukan dengan gadis pilihan daddy."


"Wah-waahh.. rupanya anak daddy sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon istrinya." goda bapak Abimanyu.


"Bukan itu, tapi untuk memastikan kalau ia tidak akan tertarik kepadaku." debat Agus membuat daddynya tertawa.

__ADS_1


"Tak ada seorang gadis pun yang akan menolak pesona my handsome son Alexi August Agam!" kata bapak Abimanyu masih dengan tawanya sambil menepuk pundak anak lelakinya.


"Alex pamit." tanpa mempedulikan perkataan daddynya Agus balik badan hendak keluar dari ruangan itu.


"Tunggu son! kapan kamu akan balik lagi di tempat ini? daddy kamu ini sudah terlalu tua untuk menghandel pekerjaan di sini, sudah waktunya kita bertukar tempat kerja, lingkungan pegunungan sangat cocok buat lelaki tua ini daripada di sini." perkataan bapak Abimanyu menghentikan langkah Agus


"Bila daddy tidak memaksaku seperti ini, sudah dari dulu aku bertahan di sini, sayangnya keputusanku menepi justru membuatku tak akan pernah menyesalinya, karena di sana aku bisa bertemu gadis yang mungkin tak akan terfikirkan dalam benak fikiran daddy, karena dia bukan gadis manja seperti yang sudah-sudah pernah daddy sodorkan kepadaku." jawab Agus tanpa menghadap kepada daddynya.


Bukan Agus tidak sopan, tetapi sikap arogansi daddynya dulu yang membuat Agus seperti ini bila bertemu daddynya.


"Sepertinya gadis itu begitu istimewa, hingga bisa menaklukkan hati seorang Alexi August Agam yang begitu selektif." selidik bapak Abimanyu


"Right, she is very special, maybe if you are young right now, you will fall in love with her." jawab Agus langsung meninggalkan ruangan daddynya, ia tidak mau berdebat lebih jauh lagi, sementara bapak Abimanyu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tersungging sambil menatap punggung anak lelakinya.


"Maafin daddy son, daddy hanya ingin kamu dapat pendamping yang tepat, walaupun tidak ada yang sempurna didunia ini, tapi mendapat seorang gadis yang sabar dan pengertian sudah jadi modal utama dalam membina sebuah rumah tangga, daddy cuma berharap seperti itu son." gumam bapak Abimanyu sambil menerawang, ia tidak ingin anaknya mendapatkan gadis yang hanya bisa menuntut tanpa mau mengerti kondisi seorang lelaki.


Agus berjalan dengan langkahnya yang lebar, setiap mata yang memandangnya saat ini begitu terpesona dengan visual dari calon pewaris tahta perusahaan tersebut, pewaris yang telah lama mengilang bahkan pegawai yang belum sampai lima tahun tidak tahu kalau penerus usaha keluarga Agam adalah lelaki yang saat ini jadi pusat perhatian.


"Waahh..! kenapa sekarang duniaku begitu sempit sampai di manapun aku berada selalu bertemu dengan petani gunung yang mulai mengenal kota." seru sebuah suara di samping Agus saat ia menunggu petugas mengantar mobilnya di depan lobi kantor.


"Halah..! gaya kamu sok elit tetap saja cuma petani." mendengar perkataan lelaki itu Agus hanya memiringkan senyum smirknya.


"Maaf aku sibuk untuk meladeni omongan tak berguna kamu." kata Agus sambil berlalu begitu saja saat mobilnya sudah berada di depannya.


"Lagaknya sok sibuk kaya bos..!" seru lelaki itu sambil membalikkan badan hendak masuk, tetapi ia kembali melihat kearah Agus saat ekor matanya menangkap Agus menuju mobil sport mewah dan bukan mobil yang berhenti di belakangnya.


"Banyak duit juga tu petani, bisa nyewa mobil semewah itu." gumam lelaki itu yang tidak lain tidak bukan adalah Dito.


"Modal mobil sewaan saja belagu." lanjut Dito dengan gumamannya sambil masuk ke dalam kantor.


***

__ADS_1


Satu minggu setelah pertemuan ayah dan anak antara Agus dan bapak Abimanyu, Agus menerima telepon dari daddynya kalau malam ini ia harus mengosongkan jadwal untuk melaksanakan apa yang diucapkan daddynya seminggu yang lalu. Agus tidak bilang kepada Kyra jika ia dipaksa daddynya untuk dijodohkan, karena seperti yang ia katakan kepada daddynya bahwa ia akan membuat gadis yang akan diperkenalkannya akan langsung ilfeel pada jumpa pertama dan tak akan sudi lagi bertemu untuk selanjutnya.


Agus telah berada dirumah utama atas permintaan daddynya, bapak Abimanyu ingin mereka berangkat bersama, dan Agus pun menuruti kemauan sang ayah, ia berharap jika ia sedikit melunak maka sang ayah pun tidak akan memaksakan kehendaknya lagi.


"M-mas Alex?!" tergagap sang asisten rumah tangga yang telah bekerja dirumah itu sejak Alex masih bayi ketika melihat Agus memasuki rumah yang telah begitu lama ditinggalkannya.


"Bi Darsih apa kabar?!" seru Agus sambil memeluk erat perempuan tua yang telah menjadi bagian hidupnya sejak ia bayi.


"Apa kamu marah sama perempuan renta ini hingga kamu tak pernah mau pulang kerumah ini nak?" tanya bi Darsih dalam isak tangis harunya bisa bertemu lagi dengan anak majikannya yang sudah sangat dekat dengannya karena sudah bertahun-tahun tidak kembali ke rumah utama akibat kemarahannya dengan daddynya.


"Tentu saja aku kangen bi, hanya saja keadaan yang membuatku tidak mau kembali, dan sekarang karena keadaan pula aku kembali, bibi tak usah lagi khawatir, aku akan sering kembali kerumah ini mulai sekarang." kata Agus setelah mengurai pelukannya dari pengasuhnya itu.


"Jangan lagi menyimpan marah, sayang ini." nasehat bi Darsih sambil menepuk pelan dada Agus.


"Alex tahu bi, untuk itu aku sudah mau kembali lagi kesini, karena daddy juga sudah mengundangku kemari."


"Jangan lagi marah terhadap daddy kamu, ia pasti ada alasan hingga begitu keras sama kamu, mungkin karena begitu sayangnya ia sama kamu hingga ia tidak ingin kamu menjatuhkan hati pada orang yang salah." kembali nasehat bi Darsih keluar disela isak bahagianya.


"Iya bi, dan Alex pun sekarang sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, untuk itu Alex sekarang berada di rumah ini lagi, terimakasih karena bibi masih sangat merindukanku." kata Agus sembari merangkul sang pengasuh menuju ruang keluarga.


"Apa mommy sama Ale di sini? karena di villa tidak ada, kata pelayan yang di sana mereka sedang di sini sudah beberapa hari." Alex menanyakan keberadaan ibu serta adik perempuan satu-satunya.


"Mereka baru saja kembali pagi tadi." jawab bi Darsih.


"Apa lelaki tua itu tidak mengajak mereka juga ke pertemuan ini?" gumam Agus dengan rahang mengeras.


"Nak, beberapa tahun kepergianmu telah banyak merubah karakter kamu menjadi Alex yang lebih baik segalanya dari sebelum kamu pergi, tetapi sepertinya sikap kamu terhadap daddy kamu masih tetap sama." kata bi Darsih sembari menggenggam jemari Agus untuk menenangkannya.


"Kalau aku belum berubah aku belum berada disini sekarang bi, dimana daddy?" Agus berdiri dari duduknya hendak mencari daddynya.


"Sepertinya masih bersiap di kamarnya."

__ADS_1


"Aku akan kesana." Agus segera berlalu menuju kamar orang tuanya untuk mencari daddynya.


...****************...


__ADS_2