
"Mas Agus?!" seru Kyra dan Sari bersamaan saat tahu siapa lelaki yang bicara Tegas dan sudah berdiri di hadapan mereka, dan menyusul di samping Agus Haris berdiri sejajar dengan rekannya itu.
"Mas Haris?!" seru Sari tak percaya.
"Iya dek Sari, ini kan sudah terlalu malam, sebaiknya kita segera pulang!" ajak Haris kepada semuanya.
"Kami mau menginap kalau kemalaman, dan pulang besok subuh." Kyra memberi alasan kenapa mereka terlihat santai walau sudah malam.
"Tidak perlu menginap, sekarang ada kami sebagai teman perjalanan, jadi kalian bisa pulang juga." kata Agus datar namun tegas.
"Ya sudah yuk Sar kita pulang sekarang, syukurlah kita ada teman seperjalanan." ajak Kyra begitu gembira karena dia tidak harus was-was melewati jalanan menuju pegunungan yang pasti sangat sepi saat malam hari.
Sari hendak masuk ke mobil Kyra tetapi ia hampir terjatuh saat ada yang menariknya dengan cepat.
"Astaga mas Agus apa-apaan sih?!" Sari mau jatuh kan mas!" Seru Sari dengan penuh keterkejutan.
"Aku yang naik mobil ini, kamu sama Haris sana, biar kalian seneng." suara datar Agus menyuruh Sari masuk ke mobil angkutan hasil panen sementara dia langsung masuk ke mobil Kyra begitu saja, tentu saja Haris gembira apalagi Sari.
"Ya gak bisa begitulah, Sari sama aku saja!" protes Kyra apalagi melihat Agus telah masuk mobilnya tanpa menunggu persetujuannya sama sekali, tapi tidak dihiraukan mereka semua, Sari yang terlalu senang bisa berdua dengan Haris, seakan tidak peduli dengan kesal hati Kyra.
"Maaf ya mbak, jarang-jarang aku bisa jalan berdua begini sama mas Haris, dimaklum ya, please.." Sari menghiba meminta pengertian Kyra.
"Kalau aku harus mengerti kamu lalu siapa yang mau ngerti aku Sari!" seru Kyra menahan kesal, tapi melihat Sari begitu berharap akhirnya ia mengalah.
"Hmmmhh, ya sudahlah, demi kebahagiaanmu, aku mengalah walau harus berdua sama orang asing!" bisik Kyra kesal lalu segera masuk ke mobilnya, dan Sari malah terbengong.
"Orang asing..?" gumam Sari penuh tanya, saat Sari hendak bertanya kenapa Agus yang sudah lumayan lama dikenalnya dianggap orang asing, Haris memanggilnya.
"Dek Sari, ayo cepat naik, kita harus segera pulang!" ajak Haris dan Sari segera masuk ke mobil yang dikendarai Haris karena terlihat mobil Kyra sudah bergerak hendak pergi, Harispun segera menjalankan mobilnya.
Kyra yang memegang kemudi mobilnya hanya diam tak tahu harus bicara apa, terlihat samar dari pantulan cahaya lampu jalan wajahnya terlihat kesal.
"Kalau sedang mengemudi itu harus tenang, jangan kesal begitu." Agus berkata datar, dan Kyra hanya mendengus semakin kesal mendengar perkataan Agus.
"Kalau diajak bicara itu jangan diam saja baby." kata Agus lagi masih dengan suara datarnya.
"Stop buat aku kesal mas!" seru Kyra akhirnya.
"Aku itu ke kota pingin cari hiburan melepas kesal, ehh yang ada sekarang malah tambah kesal." Kyra menumpahkan kekesalannya.
"Kesal kenapa baby?" tanya Agus.
"Kamu tak perlu tahu mas, dan stop panggil aku baby, aku bukan bayi!" seru Kyra semakin kesal, sementara Agus hanya terkekeh pelan
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan permasalahan hidup kamu, dijalani saja." nasehat Agus masih dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Bicara memang gampang mas, yang menjalaninya susah, kamu pun belum tentu bisa ngelakuin apa yang kamu omongin itu!" ketus Kyra.
Degh!
Perkataan Kyra seolah menampar hati Agus, yah ternyata benar, bicara lebih mudah daripada menjalaninya.
"Lagian kamu itu kenapa sih mas, aneh tau gak?!" tanya Kyra penuh heran melihat Agus yang beda dari biasanya.
"Apanya yang aneh baby? Aku..."
"Stop panggil aku baby! aku gak suka!" potong Kyra semakin kesal, sedang Agus hanya mengulas senyum tipis dibibirnya mendengar protes Kyra.
"Kamu itu aneh mas, dan yang pasti nyebelin banget tahu gak sih?! Nye-be-lin!" Kyra kembali mengulang kata nyebelin dengan penekanan tapi itu justru membuat Agus tertawa.
"Dokterku sayang, terkadang kita harus peka dengan perubahan yang sangat signifikan di sekitar kita, apalagi bila perubahan itu mengenai seseorang, seperti aku mungkin? yang saat ini kamu anggap nyebelin." perkataaan Agus hanya ditanggapi dengusan nafas Kyra, ia sedang lelah berfikir untuk menjabarkan perkataan Agus.
"Terserah mau ngomong apa mas, sudah pusing semakin pusing tahu gak dengar omongan kamu ini?!" kata Kyra dengan pandangan fokus di jalanan.
Agus memiringkan letak duduknya menghadap Kyra dengan bahu dan kepala kanannya bersandar pada sandaran jok, matanya menatap Kyra yang sedang fokus mengendarai mobilnya.
Kyra menyadari kalau Agus sedang memperhatikannya, dan tentu saja hati dan pikiran Kyra merasa tak tenang, lebih tepatnya terganggu, ia jadi merasa canggung sendiri.
"Hadap kedepan! jangan buat orang jantungan!" seru Kyra akhirnya karena jengah dipandang terus oleh Agus. Biarpun hari gelap tetapi Kyra sangat tahu apa yang dilakukan Agus saat ini lewat sorot lampu jalanan.
"Tajam juga pandangan kamu didalam kegelapan seperti ini." Agus terkekeh, tapi tidak merubah posisi duduknya, akhirnya Kyra hanya mendengus pasrah, ia lebih fokus ke jalanan yang sudah sepi daripada meladeni tingkah Agus yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini dia kenal.
"Mas, kamu merasa nggak kalau ada yang beda dari mas Agus?" tanya Sari pada Haris.
"Ya gitu deh, merasa banget." jawab Haris.
"Sebabnya apa sih mas?" Sari semakin penasaran.
"Kurang tahu, tadi pagi masih biasa saja seperti biasa, tapi saat tadi kami siap-siap berangkat entah apa yang terjadi dia marah dengan melempar vas dan terkena cermin, makanya tadi sebelum kami ke kota memeriksakan dulu tangan mas Agus yang terluka terkena pecahan cermin yang dia beresin, dan anehnya sikap dia juga berubah, tadi aku sempat tanya tapi dia nunggu suasana hatinya membaik dulu." jelas Haris.
"Ooh, kalau begitu besok kalau mas Agus sudah cerita aku diceritain balik ya mas." kata Sari penuh harap.
"Iyaa, jiwa kepo kamu pasti meronta-ronta kalau aku tidak cerita." canda Haris
"Yaa, mau bagaimana lagi mas, penasaran kalau tidak dicari tahu jawabannya hanya buat kepala pusing." seloroh Sari.
"Kamu ada-ada saja dek." sahut Haris dibarengi tawa keduanya.
Hampir dua jam perjalanan, mereka semua tiba di kampung, Kyra langsung mengantar Agus ke perkebunan, karena Haris yang jalan di depan mereka langsung mengantar Sari pulang.
"Terimakasih dokter cintaku sudah mengantar aku sampai rumah." kata Agus menggoda Kyra
__ADS_1
"Sama-sama!" jawab Kyra ketus karena kesal dengan sikap Agus.
"Jangan marah-marah nanti cantiknya hilang."
"Bodo amat, sudah aku balik dulu." Kyra memutar balik mobilnya.
"Perban lukanya besok diganti biar lukanya cepat sembuh!" seru Kyra sebelum melajukan mobilnya menuju rumah.
"Oke, terimakasih perhatiannya." jawab Agus senang, dan Kyra pun segera menjalankan mobilnya.
Setelah Kyra berlalu Agus melihat salah satu anak buahnya yang piket jaga hendak keluar Farm.
"Mau kemana Man?!" tanya Agus.
"Mau ke angkringan mas, beli susu jahe sama gorengan." jawab Pekerjanya yang bernama Iman.
"Aku ikut, itu tadi dokter Kyra habis anterin aku pulang, aku khawatir saat dia buka pagar nanti, sudah malam banget takut ada orang iseng." Kata Agus yang tiba-tiba khawatir,
"Ayo mas!" sahut Iman dan Agus segera naik di boncengan motor, dan Iman pun segera mengemudikan motornya dengan cepet agar bisa segera menyusul Kyra,
Bersamaan dengan Kyra menghentikan mobil di depan pintu pagar, Iman dan Agus sampai juga di tempat itu. Penerangan jalan yang tepat berada di dekat mereka berhenti memantulkan siapa pengendara motor, Kyra yang tadi sempat terkejut kini lega karena ternyata mengenal pemotor yang tiba2 berhenti di dekatnya.
Saat Kyra hendak membuka pintu mobilnya, Agus mendekatinya.
"Mana kunci pagarnya biar aku bukain!"
"Aku bisa buka sendiri." jawab Kyra ketus.
"Sudah jangan ngeyel, nanti biar kamu bisa langsung masuk!" seru Agus, dan Kyra pun menyerahkan kunci pagar kepada Agus, dan langsung ia membukakan pintu pagar lebar-lebar agar Kyra bisa memasukkan mobilnya dengan leluasa.
Setelah mobil masuk, Agus segera menutup pintu pagar kembali dan hanya menyisakan sedikit untuk dia keluar.
"Ini kunci pagarnya langsung istirahat, biar besok kerja badan fit!" pesan Agus sambil menyerahkan kunci pagar kepada Kyra.
"Ia, makasih ya makhluk nyebelin!" seru Kyra dan membuat Agus terkekeh.
"Ya sudah aku pulang." pamit Agus sambil berjalan menuju luar pekarangan, Kyra mengikuti di belakangnya hendak mengunci pagar kembali.
Agus berbalik sebelum benar-benar keluar pagar, tiba-tiba ia lebih mendekat kearah Kyra dan dengan tak terduga.
Cup!
Agus mencuri cium di pipi kiri Kyra dan langsung berlari menuju Iman yang menunggunya dengan mesin motor tidak dimatikan.
"Terimakasih ya dokter cintaku.!" seru Agus disaat Iman melajukan motornya. Sedang Kyra yang sangat terkejut dengan kenekatan Agus hanya bisa mengomel sendiri sambil mengunci pintu pagar karena hendak marah pun yang dimarahi sudah pergi, dengan perasaan kesal Kyra masuk kerumah untuk segera beristirahat tanpa memasukkan mobil ke garasi dahulu karena ia merasa sudah sangat lelah.
__ADS_1
...****************...