Dokter & Petani

Dokter & Petani
Kepribadian Ganda atau Tertukar Jiwa?


__ADS_3

Esok hari, satu jam sebelum dimulai jam kantor, Sari sudah datang ke rumah Kyra, Sari berteriak berulang kali dari luar pagar, karena pintu pagar masih terkunci dari dalam menandakan yang empunya rumah tidak keluar untuk olahraga pagi.


"Bangun belum sih ini orang? dipanggil dari tadi gak nyahut-nyahut." gerutu Sari sambil mengambil ponselnya.


"Sudah aktif belum ini ponselnya, ditelepon juga gak aktif." Sari masih sibuk dengan gerutuannya dan menggeser-geser layar ponselnya untuk mencoba menelepon Kyra kembali.


"Pagi-pagi gini sudah teriak-teriak di rumah orang, mau minta sarapan?" Sari dikejutkan dengan suara perempuan yang ada di belakangnya, sontak Sari membalikkan badannya.


"Astaga! kirain kuntilanak kesiangan." seru Sari saat membalik badan sambil memegang dadanya.


"Sembarangan itu mulut kalau ngomong!" seru orang itu yang ternyata Laras


"Hey! yang sembarangan duluan siapa mbak?!" seru Sari tak mau kalah, "Lagian ni yah, kalau orang gak ada kesibukan memang begitu, suka cari keributan!" sindir Sari membuat Laras naik pitam.


"Itu mulut dijaga ya, kamu mau ngajak ribut?!" Laras meninggikan suaranya sambil mendekat ke Sari


"Makanya mbak, kalau gak mau diajak ribut jangan mancing duluan!" Sari tak kalah galak sama Laras, apalagi bukan dia yang memulai duluan.


"Ini ada apa sih pagi-pagi sudah ribut di rumah orang, kaya anak kecil banget sih kalian!" seru Kyra sambil membuka kunci pagar, di kepalanya masih ada handuk untuk menggulung rambutnya yang basah, rupanya saat Sari memanggil dan tidak ada jawaban karena Kyra sedang mandi.


"Mbak Laras tuh yang mulai, orang kalau hatinya kotor pasti begitu mbak, suka ngajak ribut terus kerjaannya, ditambah mbak Laras kan sedang tidak ada kerjaan jadi sekarang jadi tukang pancing, mancing ke-ri-bu-tan!" Cerocos Sari membuat muka Laras memerah karena malu dan juga marah.


"Sari! sudah! malu kalau ada tetangga yang tahu, ayo masuk!" Seru Kyra menghentikan Sari dari adu mulutnya sama Laras, dan dengan serta merta Sari menuruti perkataan Kyra dan segera masuk ke pekarangan rumah Kyra, sambil menggerutu.


"Biarin saja ada yang tahu ada tukang bikin onar disini."


"Sari!" tegur Kyra mendengar gerutuan Sari, sementara yang di tegur langsung ngeloyor masuk rumah tak mempedulikan Laras kembali.


"Mbak Laras mau ikut mampir sekalian?" Kyra berusaha bersikap ramah pada Laras padahal dalam hati juga sebel banget karena Laras suka membuat gara-gara.


"Gak usah!" Laras berkata ketus sambil membalikkan badannya dengan cepat dan segera berlalu dari hadapan Kyra.

__ADS_1


"Ya sudah, ini terakhir kali aku baik sama kamu, huh!" teriak Kyra biar Laras mendengar, lalu Kyra segera masuk rumah saat di lihatnya Laras menengok kearahnya, sebelum terjadi keributan kembali.


Sambil berjalan masuk rumah, Kyra tertawa sendiri.


"Apa yang lucu sih mbak, sampai tertawa geli begitu?" Sari penasaran karena Kyra tertawa sendiri.


"Aku ketularan kalian, kaya anak kecil, hadeehh.." jelas Kyra sambil geleng-geleng kepala masih dengan senyum di bibirnya.


"Memang kenapa?" tanya Sari dan Kyra menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi, dan Sari malah tertawa kencang mendengar cerita Kyra.


"Biarin saja, orang kaya mbak Laras itu mending dicuekin, tapi aku gak bisa, kalau dia mulai ngajak ribut aku semangat empat lima menanggapinya." Kata Sari masih dengan tawanya.


"Kamu itu ada-ada saja, ya sudah aku siap-siap dulu, kamu kalau minum tuang sendiri saja, tadi aku sudah menyeduh di teko." kata Kyra sambil berlalu menuju kamarnya. Dan Sari menuju dapur untuk membuat teh untuknya dan juga Kyra.


**


"Selamat pagi menjelang siang dokter cintaku!" Sapa Agus di faskes saat tiba pada antriannya, Sari yang membukakan pintu masih sempat mendengar ucapan Agus dan dibuat menganga terkejut.


"Semalam kamu bilang aku harus mengganti perban, makanya sekarang aku kesini biar kamu yang gantiin perban aku." jawab Agus membuat Kyra menghela panjang nafasnya, mungkin antara kesal tapi harus menjalankan kewajiban menolong pasien yang membutuhkan.


"Hmmhhh.. Suster!" panggil Kyra.


"Kenapa mesti panggil suster sih, aku maunya kamu yang ganti perbanku." protes Agus tidak terima.


"Diam dan menurut saja, gak usah nyebelin." ketus Kyra.


"Ya dokter." jawab Sari saat masuk ruang periksa.


"Tolong siapkan cairan pembersih luka, bubuk obat luka sama perban, ada yang pingin dimanja sama bu dokter." Kata Kyra meminta tolong sambil menatap Agus dengan tajam, sementara yang ditatap hanya senyum simpul sambil membalas tatapan Kyra.


"Baik dokter." Sari segera mengambil yang Kyra sebutkan tadi sambil menahan senyum melihat kelakuan orang yang sudah dikenalnya tersebut.

__ADS_1


"Ini bu dokter barang yang anda butuhkan." kata Sari sambil meletakkan semua yang Kyra butuhkan di hadapannya.


"Terimakasih." kata Kyra dan Sari langsung keluar ruangan.


Kyra segera membuka perban di tangan Agus dengan hati-hati, dengan tatapan tajam Agus yang tak lepas kemata Kyra, sedang yang ditatap santai saja.


"Gak usah ditatap terus, nanti terbayang-bayang, nanti jatuh cinta tahu rasa." gumam Kyra datar, yang terdengar jelas di telinga Agus karena jarak mereka yang begitu dekat.


"Itu yang aku mau." jawab Agus datar pula, dan tangan yang sedang dibersihkan lukanya itu tiba-tiba menggenggam tangan Kyra yang sedang bekerja, dikuncinya genggaman tangan Agus dengan erat agar Kyra tidak bisa melepas tangannya dari genggamannya.


"Kamu itu sebenarnya kenapa sih mas, bisa berbalik seratus delapan puluh derajat begini, nyebelin tahu gak sih dari kemarin?!" seru Kyra kesal dengan suara tertahan agar tak terdengat sampai keluar.


"Kalau sedang marah sama orang kenapa aku yang jadi pelampiasan?i" lanjut Kyra sambil berusaha menarik tangannya dari genggamana Agus, tetapi tak bisa karena begitu eratnya genggaman Agus, sementara Agus yang kena omel hanya diam dengan terus menatap tajam Kyra dan Kyra yang memang pada dasarnya agak arogan tidak mau mengalah dan balas menatap Agus, hingga dirasakan tangannya terasa agak basah dan saat Kyra melihat tangannya ada cairan merah yang menetes di mejanya.


"Astaga mas, lepas tangan aku, lihat tanganmu berdarah lagi!" kata Kyra antara khawatir bercampur kesal, dan Agus yang melihat raut khawatir di wajah Kyra segera melonggarkan pegangannya, Lalu Kyra segera membersihkan lagi luka di tangan Agus dengan cekatan, dan diolesinya luka itu dengan obat luka dan segera dibebat dengan perban kasa.


"Kamu itu membuat pasien yang lain kelamaan menunggu!" seru Kyra saat selesai dengan pekerjaannya.


"Kalau begitu jadilah dokter pribadiku." kata Agus serius.


"Sudah selesai mas, sekarang giliran pasien yang lain, kasihan mereka menunggu kelamaan." kata Kyra tanpa menghiraukan permintaan Agus, dan tentu saja Agus yang merasa terusir menatap Kyra kesal dan segera beranjak dari duduknya.


"Terimakasih!" Kata Agus sambil berlalu keluar dari ruangan Kyra, tanpa ada senyum di bibirnya seperti yang dulu-dulu, datar. Setelah Agus keluar, Sari segera masuk.


"Dok, mas Agus tadi..?"


"Lagi gak mau bahas dia, lanjut pasien selanjutnya, kasihan kelamaan nunggu." Kata Kyra dengan tampang jutek, dan Sari hanya bisa mengiyakan tanpa berani tanya-tanya lagi bila Kyra sedang dalam mode seperti itu.


"Itu orang apa punya kepribadian ganda sih? Nyebelin banget sekarang, atau mungkin tertukar jiwa orang lain kali ya, berani lancang lagi sama aku, huuhh!" gerutu Kyra mengingat perbuatan Agus dari kemarin, dan ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan agar ia bisa tenang dan bisa menguasai kesabarannya lagi saat menerima pasien yang lain.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like komennya readers tercinta 🤗🥰


__ADS_2