
Esok hari, Agus terbangun dari tidurnya, tapi sudah tak di dapatinya Kyra di sampingnya, dilihatnya pintu kamar mandi terbuka, berarti Kyra tidak sedang di dalam kamar mandi.
Ia segera bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit berlalu, Agus keluar kamar mandi. Hidungnya mencium aroma kopi kegemarannya yang menguar di kamarnya yang luas.
"Sayang...?!" Panggilnya kepada istrinya, tetapi tidak ada sahutan. Dilihatnya kain gorden telah terbuka, juga jendela kamar yang jarang di bukanya kini terlihat terbuka menghantarkan segarnya udara pagi pegunungan masuk ke kamar yang jarang di tempati itu.
Agus berjalan menuju balkon kamarnya untuk mencari istrinya, ternyata perempuan itu tengah menikmati segarnya udara pagi, di pejamkannya matanya dan di hirupnya udara pagi dalam-dalam.
Tiba-tiba dirasakannya ada yang melingkari dari kedua samping pinggangnya sampai ke perut dan berakhir dengan dekapan kencang.
"Mas! Buat aku kaget saja kamu!" Seru Kyra sambil berusaha membalikkan badannya menghadap ke suaminya.
"Biarkan begini dulu sayang." Bisik Agus sambil memejamkan matanya, di hirupnya aroma segar yang teruar dari tunuh Kyra.
"Jangan mas, aku belum mandi!" Kyra berusaha melepaskan diri karena malu.
"Biarkan saja, aku suka aroma kamu ini." Bisik Agus dengan suara yang begitu menggoda membuat bulu Kyra meremang, apalagi di rasakannya ada tonjolan keras yang mengganjal tubuh bagian belakangnya.
"Mas, sebentar deh." Kyra masih berusaha melepaskan diri karena merasa tak nyaman ada sesuatu yang mengganjal.
"Please sayang, kamu jangan gerak-gerak, kamu semakin membuatku tersiksa kalau bergerak terus!" Pinta Agus agar Kyra tak menggerakkan badannya.
"Tapi ini...aahhh!!!" teriak Kyra begitu terkejut saat tangannya berusaha menyingkirkan sesuatu yang mengganjall di belakang tubuhnya.
Agus spontan menutup mulut Kyra dengan telapak tangannya karena teriakan Kyra yang begitu kencang, ia tak mau membuat penghuni vila yang lain terkejut dengan teriakan istrinya.
"Kenapa teriak sih sayang?" tanya Agus setelah dilihatnya Kyra sudah tenang.
"I-itu tadi a-apa mas?"Tanya Kyra tergagap.
"Yang mana?" tanya Agus pura-pura tapi menahan tawa karena melihat kepolosan Kyra.
"Kamu itu dokter sayang, masa iya tidak tahu sama sekali?" tanya Agus dengan tatapan menggodanya.
"Tap-tapi ak-aku benar-benar ti..." Kyra tergagap hendak menjawab perkataan Agus tapi susah.
__ADS_1
"Tenangkan fikiran kamu, biar bisa tahu apa jawabannya." bisik Agus lalu diciumnya pipi sang istri yang masih merah padam.
"Aku pakai baju dulu." lalu Agus berlalu menuju walk in closet untuk segera berpakaian.
"Iya aku dokter, tapi kan belum pernah melihat dengan nyata." gumam Kyra tak tergagap lagi setelah suaminya tak ada di depannya lagi, kemudian ia menyusul Agus.
"Sayang hari ini aku mau ke kantor daddy, kamu kan masih cuti, ikut aku ya!" Ajak Agus saat dilihatnya Kyra mendekat ke arahnya.
"Boleh. Aku siap-siap dulu." sahut Kyra seolah sudah lupa akan hal yang telah membuatnya malu tadi.
"Sudah dapat jawabannya ya sayang? Kok sudah tenang kamu? Tanya Agus sedikit terkekeh.
"Jangan bahas lagi deh mas, aku malu tahu." kata Kyra sambil menutup mukanya
"Tidak apa, nanti lama-lama juga terbiasa." bisik Agus lalu segera berlalu dari belakang Kyra agar Kyra bisa segera bersiap.
***
Hampir satu setengah jam perjalanan, Agus dan Kyra sampai di kantor daddy Abimanyu, dengan langkah pasti dan saling bergandeng tangan, mereka memasuki lobi kantor.
Berpasang-pasang mata menatap ke arah mereka berdua antara kagum, heran ada pula yang menatap tak percaya.
"Kenapa harus malu? Aku kan tahu aslinya kamu. Aku enggak mau mata lelaki lain terpesona dengan kecantikan kamu." terang Agus disambut tepukan di lengannya. Plak!
"Bagaimana kalau aku malah kena bully karena orang dengan penampilan seperti ini jalan mesra sama anak dari pemilik perusahaan." protes Kyra lagi.
"Biarkan saja selama mereka tidak menyakiti kamu. Sudahlah, ayo naik!" Agus menarik tangan Kyra saat lift khusus direksi telah terbuka.
Ya, tadi saat Kyra bersiap tiba-tiba saja Alex memintanya berdandan seperti saat dia diperkenalkan dalam perjodohan yang orang tua mereka lakukan. Kaca mata kuno, alis dipertebal, serta poni kaku juga kawat gigi rancangan Kyra sendiri yang bisa dilepas pasang sesuka hati.
Agus mengetuk pintu ruang Dirut sekaligas CEO perusahaan tersebut, lalu ia segera membuka pintu saat ia mendengar suara mempersilahkan masuk.
"Selamat pagi dad!" sapa sapa Agus.
"Selamat pagi dad!" Kyra pun ikut menyapa ayah mertuanya.
"Selamat pagi anak-anak daddy!" balas daddy Abimanyu dengan semangat.
__ADS_1
"Ada apa dengan menantu daddy? Kenapa harus berpenampilan seperti ini?" tanya Daddy penuh heran melihat Kyra kembali berpenampilan seperti saat pertama bertemu.
"Tanya mas Agus dad, aku juga enggak tahu kenapa disuruh berpenampilan seperti ini." jawab Kyra.
"Ada apa son?" tanya daddy kepada Agus.
"Tidak kenapa dad, ingin melihat ketulusan orang-orang yang telah mengenalku saja." jawab Agus dengan entengnya.
"Maksud kamu?" tanya daddy
"Ya daddy tahu lah bagaimana mereka memandang penampilan seseorang, ingin memberikan kejutan saja besok di hari resepsi, pasti mereka berpikiran aku menggandeng perempuan yang berbeda." terang Agus dan hanya di tanggapi gelengan kepala dari daddynya.
"Terserah kamu lah son, daddy tak tahu jalan pemikiran kamu." pasrah daddy abimanyu.
"Lalu ada apa daddy memanggilku kemari?" tanya Agus.
"Daddy rasa kamu sudah tahu apa yang daddy inginkan." jawab daddy ambigu.
"Aku sudah nyaman dan tenang di sana dad, mungkin sudah waktunya Alena belajar langsung dengan daddy." kata Agus mengerti apa yang daddynya katakan.
"Tidak bisa son, Alena akan cepat belajar bila bersama kamu. Kamu tidak kasihan dengan lelaki tua ini? Sudah waktunya daddy istirahat, sekarang giliran kamu melanjutkan usaha keluarga kita ini, daddy sangat yakin di tangan kamu perusahaan ini akan semakin maju." daddy Abimanyu begitu berharap pengertian dari anak lelakinya, suaranya begitu memohon.
Nampak Agus masih enggan menerima permintaan dari ayahnya, hingga akhirnya Kyra menggenggam erat jemari suaminya.
"Mas, sepertinya memang benar apa yang daddy katakan, taruhlah kamu masih ada rasa kesal dengan daddy karena kisah lalu di antara kalian, taruhlah kamu sudah sangat nyaman di pedesaan, tetapi letakkanlah sedikit saja ego kamu untuk tetap bertahan di sana, karena di sini sangat butuh tenaga
dan perhatian kamu, sudah waktunya juga bagi daddy untuk lebih banyak istirahat." Kyra meyakinkan suaminya untuk mengerti apa yang daddy harapkan.
"Toh kamu bisa handel kerjaan dari rumah kok kalau pas kamu sedang tidak ingin masuk kantor, iya kan dad?" perkataan Kyra barusan serasa menjadi penyemangat lebih bagi Agus.
"Tidakkah itu akan membuat karyawan dan staf menganggapku pimpinan yang tidak disiplin?" tanya Agus.
"Tidak juga son, mereka akan tetap bekerja dengan disiplin bila kamu bisa mengawasi mereka dengan jarak jauh, dan itu bisa menghilangkan stigma negatif dari bawahan kamu kepadamu." terang daddy.
"Ijinkan aku berpikir lagi dad." pinta Agus.
"Ok, jangan terlalu lama. Berbelas kasihlah pada lelaki tua ini. Daddy tahu sudah banyak bersalah sama kamu, tapi janganlah kamu membalasnya dengan membiarkan lelaki tua ini." kata daddy penuh harap membuat Agus tersentuh.
__ADS_1
Dengan serta merta Agus memeluk daddynya dengan penuh penyesalan karena pernah mendiamkan daddynya sampai sekian lama. Melihat itu Kyra hanya bisa menatap haru dan tak terasa matanya berkaca-kaca.
...****************...