
"Keluar! Keluar sekarang juga!" ujar Aisyah sambil melempar sandal yang biasa ia pakai ketika berada di dalam rumah.
"Sayang, tadi aku barusan....."
"Keluar! Aku nggak ingin dengar alasanmu mas!" ujar Aisyah dengan suara keras. "Sayangku! Aisyah! Dengarkan penjelasanku dulu!" ujar Ghozali.
"Diam! Bisakah mas keluar dengan diam? tidurlah di luar! Aku benar-benar lagi nggak ingin lihat mukamu mas!" ujar Aisyah.
"Kumohon Aisyah! Tadi aku terpaksa pulang lambat karena direktur mengajakku ke kafe," ujar Ghozali.
"Apa? Mas pergi ke kafe? Dari pagi hingga larut malam aku berjalan pontang-panting ke sana kemari melakukan pekerjaan kasar di rumah ini layaknya budak, tapi mas malah pergi ke kafe?" Amarah Aisyah semakin menjadi-jadi, ia sampai tertawa karena tidak habis pikir dengan penjelasan suaminya itu.
"Kumohon Aisyah! Tenanglah! Aku terpaksa melakukan hal itu karena direktur mengajakku!" ujar Ghozali.
"Setiap hari aku terus menahan amarah ini, mas pikir mas berhak beralasan seperti itu? Kalau begitu mas berhenti bekerja saja! Cari tempat lain!" teriak Aisyah. Ia membuat Zahra dan Syihab yang mengendap-endap terkejut.
"Apakah hanya aku orang tua di sini? Apakah mereka hanya anak-anakku seorang? Kenapa kau juga ikut berperilaku seperti mereka? Minta dilayani setelah pulang larut malam? Kau bercanda? Harus menjadi istri yang taat pada suami? Padahal kau baru pulang dari kafe entah bertemu dengan wanita mana saja, sedangkan istrimu kewalahan menjaga tiga bayi kembar yang menangis minta digendong ke sana kemari!" teriak Aisyah. Seketika tiga bayi kembar yang sudah susah-susah ia tidurkan pun kembali terbangun dan menangis.
Ia pun langsung meredakan amarahnya lalu kembali pada bayi-bayi itu. "Cup! cup! Sayang, jangan menangis! Ibu ada di sini kok! Maaf karena berteriak! Maaf karena membuat kalian takut," ujar Aisyah, entah kenapa ia juga ikut menangis, ia merasa berdosa karena telah membentak suaminya.
"Ini nggak adil!" ujarnya sambil berusaha menenangkan ketiga anaknya. "Ini nggak adil! Kenapa aku harus merasa bersalah pada pria yang nggak tahu diri sepertimu? Kenapa hanya aku yang tampak seperti orang yang durhaka? Aku nggak ngerti mas!" ujar Aisyah.
__ADS_1
"Tenanglah Aisyah, nggak baik untukmu marah-marah!" ujar Ghozali, namun amarah Aisyah justru semakin bertambah. "Apakah aku harus tenang setelah diperbudak seperti ini? Bukannya aku nggak ikhlas mas, tapi ini di luar kemampuanku! Orang tuaku menyuruhku untuk tetap di rumah, nggak bekerja, mereka menyuruhku mengurus anak-anak, namun pada kenyataannya pekerjaanku lebih dari itu mas! Aku melakukan semua pekerjaan kasar hingga otot-otot tanganku menjadi sangat besar! Kau bahkan nggakk ingin melihat tubuhku membesar seperti ini tapi apa solusimu mas? Nongkrong di kafe dengan wanita-wanita nggak jelas?" tanya Aisyah.
"Teganya kamu mengatakan itu Aisyah, aku nggak melakukan apa-apa, aku hanya berkumpul dengan rekan-rekan kerjaku," ujar Ghozali.
"Begitu kah? Rekan kerjamu yang mana? Sepertinya lebih banyak wanita di sana. Lihatlah, penampilanmu berantakan sekali sekarang. Kamu berpenampilan rapi dan gagah hanya ketika bertemu dengan rekan-rekan kerjamu, sedangkan kamu hanya menyisakan bau keringat dengan wajah kusut saat menemuiku di rumah! Sebenarnya siapa istrimu sebenarnya? Para wanita di tempat kerjamu? Atau wanita yang pontang-panting mengurusi rumah ini? Sebenarnya siapa yang berhak melihat penampilan terbaikmu? Rekan-rekan kerjamu?" tanya Aisyah, tangisan bayi yang ia gendong semakin menjadi-jadi.
Ghozali menggeleng kepala kewalahan, ia tidak bisa menghadapi istrinya. "Maafkan aku Aisyah! Sekali lagi maafkan aku! Biarkan aku yang menggendong Shahih, ia sedang menangis tak henti-henti," ujar Ghozali.
"Jangan menghindari pertanyaanku! Jawab saja, siapa yang lebih berhak melihat penampilan terbaikmu? Jika bukan rekan kerjamu, lalu kenapa kau pergi bekerja dengan jas rapi seolah hendak melakukan kencan buta? Istrimu ada di rumah loh mas! Istrimu ini perempuan! Nggak sepertimu yang bisa pulang pergi tanpa merasakan beban apapun! Aku ini perempuan mas, rasa cemburu dan curigaku sangat tinggi! Aku selalu khawatir saat kamu pergi mas, apalagi saat kamu nggak pulang-pulang. Siapa yang nggak akan berburuk sangka dengan kebiasaanmu itu? Paling nggak jangan mempermainkan perasaanku mas! Jangan terang-terangan bersolek di depanku kalua cuma buat main dama wanita lain!" ujar Aisyah.
Wajah Ghozali tiba-tiba berubah dingin, Aisyah bahkan berhenti bicara karena kelelahan.
"Sudah selesai? Bicaramu sudah selesai? Kenapa kau menuduhku bermain dengan wanita lain, kenapa? Kau pikir aku nggak punya hati? Aku baru pulang setelah bekerja, aku sedang memperbaiki hubunganku dengan direktur agar cepat mendapatkan promosi! Seenggaknya kita perlu jaminan bahwa pekerjaanku berjalan dengan lancar. Tapi aku datang ke rumah malah dituduh bermain dengan wanita lain? Kau pikir Aku pergi ke kafe karena keinginanku sendiri? Kau hanya perlu mengerjakan apapun yang kau mampu, aku nggak memaksa, kerjakanlah selayaknya, anak sakit, perabotan rumah rusak, dan lain sebagainya itu adalah tanggung jawabku! Kau hanya perlu menjaga mereka sebisamu. Aku menitipkan mereka semua padamu karena aku juga harus mencari nafkah untuk menghidupi kalian semua, jangan egois!" ujar Ghozali dengan suara lantang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayah! Ayah! Bangun! Sudah jam lima!" ujar Zahra. Ghozali pun terbangun sambil melihat sekitar. "Ibu di mana?" tanya Ghozali.
"Sedang masak, ibu nyuruh Zahra bangunin ayah tadi," ujar Zahra. "Oh, begitu kah?" ujar Ghozali tersenyum sambil mengusap-usap rambut Zahra. Ia pun langsung bergegas mandi dan memakai kemejanya.
Aisyah pun datang ke kamarnya tepat sebelum ia mengancing kemejanya. "Sholat," ujar Aisyah singkat lalu kembali ke dapur. Ia tahu kalau tidak diingatkan, suaminya akan meninggalkan sholat Subuh, apalagi saat ini matahari sudah mulai terbit karena Ghozali menghabiskan waktu untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah sarapan sudah siap, Syihab pun menghampiri ruang kerja ayahnya. "Ayah, kata ibu sarapan dulu," ujar Syihab. "Baik, kak Syihab!" ujar Ghozali sambil menepuk pelan dada Syihab dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
"Ayah nggak apa-apa kan?" tanya Syihab dengan wajah khawatir, ia merasa iba pada ayahnya yang dimarahi tadi malam.
"Ayah baik-baik saja nak, ayo makan!" ujar Ghozali sambil berjalan bersama ke ruang makan.
Setelah selesai makan, Syihab langsung beranjak dari kursinya. Zahra langsung membanting sendok ke meja. "Cuci piringnya sih kak! Jangan nambah beban ibu," tegur Zahra.
"Baiklah," ujar Syihab sambil mengambil kembali piringnya. "Cuci sekalian punya ayah!" ujar Zahra.
Ghozali pun langsung kembali ke ruang ganti untuk memakai kembali kemejanya, ia bahkan mencoba memakai dasinya sendiri, padahal biasanya Aisyah yang memakaikannya.
Melihat suaminya sudah berpakaian rapi, akhirnya Aisyah langsung pergi menghindar, ia tidak ingin bertatapan dengannya.
Ghozali pun pergi berangkat kerja sedangkan Syihab dan Zahra pergi ke sekolah.
Aisyah pun duduk di pojok ruangan lalu menelpon ayahnya. "Ada apa Aisyah? Tumben sekali menelpon," ujar Hamid, ayah Aisyah.
"Abi, aku mau pulang saja!" ujar Aisyah. "Loh? Kok pulang? Ada apa Aisyah? Kenapa kamu minta pulang?" tanya Hamid. "Mas Ali, mau ceraiin Aisyah!" ujar Aisyah dengan kesal.
"Loh? Apa maksudmu, Aisyah? Cerai? Kenapa cerai?" tanya Sarah, ibu Aisyah.
"Aku benci diperlakukan seperti budak di sini! Aku mau pulang ke rumah saja!" ujar Aisyah. "Astaghfirullah, Aisyah! Kamu nggak boleh bilang begitu! Kan kamu yang minta nikah muda dengannya! Itu hanya perasaan egoismu saja karena masih belum dewasa," ujar Sarah.
"Bukan begitu Umi! Menjaga tiga anak kembar sendirian itu sangatlah sulit! Tapi mas Ali selalu pulang larut malam! Aku bisa gila kalau begini terus!" keluh Aisyah.
__ADS_1
"Sabar Aisyah! Nanti Abi akan bilang ke Ghozali, nanti kamu ke sini dengan Alfa ya! Abi akan menyuruhnya untuk menjemputmu, bawa sekalian anak kembarmu itu," ujar Hamid.