Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Rahasia yang terpaksa terungkap


__ADS_3

Alfa tidak bisa diam saja melihat kakaknya yang terus meminta pertanggungjawabannya. Ia bingung hendak menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu menahu alasan anak-anak pergi ke tempat berbahaya itu.


"Alfa, sebaiknya beritahu saja, kakakmu belum sepenuhnya pulih! Marah-marah bisa memperparah keadaannya," ujar Ghozali, ia juga takut dengan wajah serius Aisyah.


"Baiklah! Baiklah! Ini dari awal memang sudah keliru! Sebenarnya aku sudah berjanji nggak akan membicarakan hal ini!" ujar Alfa kesal.


"Apa? Rahasia apa? Apa yang kamu sembunyikan, Alfa?" desak Aisyah.


"Argh! Iya! Iya! Karena kakak memaksa, aku akan jawab!" ujar Alfa pasrah. Aisyah pun mulai merasa tenang.


"Sebenarnya yang kulakukan hanyalah melaporkan semua bukti yang ada pada polisi, hanya sekedar itu saja. Dan itu pun yang menyuruhku adalah Shahih," ujar Alfa.


"Apa? Shahih? Kenapa Shahih?" tanya Ghozali keheranan. "Sebenarnya banyak yang Shahih minta padaku untuk merahasiakannya," ujar Alfa, ia enggan berbicara lebih banyak.


"Apalagi? kenapa kamu diam saja? Apa yang


kamu rahasiakan?" tanya Alfa.


"Itu semua adalah tindakan Shahih! Bukan aku! Entah itu menemukan keberadaan Asyraf ataupun mengungkapkan kematian palsu Ghozali, itu semua adalah ulah Shahih," ujar Alfa.


"Alfa? Kamu ini bicara apa? Kenapa Shahih?" tanya Ghozali keheranan. "Argh! Kalian mungkin nggak percaya,tapi itu memang benar adanya! Setelah Ghozali dinyatakan meninggal, semua anak pindah ke rumah Rofiq, namun Shahih menghilang entah kemana!" ujar Alfa.


"Apalagi itu? Shahih menghilang? Kenapa itu bisa terjadi?" tanya Ghozali. Dengan emosi Alfa langsung menarik kerah Ghozali.


"Itu semua karena sifat keluargamu yang arogan! Kami sempat beradu mulut karena keluargamu yang nggak bermoral! Mereka menghina ayah dan ibuku! Lalu si tua bangka Rofiq itu tiba-tiba membanting meja, membuat ayahku tersentak! Kupikir berurusan dengan kalian hanya akan membuat ayahku terkena serangan jantung, akhirnya kami pergi. Saudara-saudaramu yang masih di sana harusnya bertanggung jawab atas anak-anak itu!" ujar Alfa.

__ADS_1


"Jadi kamu nggak tahu gimana Shahih bisa menghilang di antara mereka?" tanya Aisyah.


"Mana kutahu? Mereka baru beri kabar kalau Shahih menghilang setelah beberapa hari berikutnya! Sebenarnya aku juga heran dengan keluarga si landak itu! Kenapa yang mengurusi anak-anak malah Si Rofiq? Dengan rumah kecil yang hanya memiliki tiga kamar....mereka bercanda? Bahkan nggak ada satupun saudara lainnya yang peduli dengan kehidupan sulit yang mereka alami!" ujar Alfa.


Ghozali dan Aisyah yang tidak tahu apapun keadaan pada saat itu akhirnya hanya bisa diam. "Meskipun begitu, akhirnya Shahih pun kembali setelah beberapa tahun lamanya, ia menjadi orang yang sangat berbeda dari yang terakhir kali kulihat! Benar-benar sulit dimengerti! Aku juga nggak tahu gimana ceritanya ia bisa menemukan Asyraf lalu membujuknya kembali ke rumah. Bahkan aku sendiri malah nggak tahu kalau kalian masih punya satu anak lagi selain tiga anak kembar itu!" ujar Alfa.


"Semua itu dilakukan oleh Shahih? Dia yang mencari-cari anak yang entah masih hidup atau nggak? Dia yang mencari bukti-bukti aktivitas mencurigakan dari underpass?" Ghozali masih tidak percaya.


"Untuk masalah underpass, bukankah harusnya kau sudah tahu? Kudengar dari Shadiq dan Hasan, anak itu sudah sadar kalau tempat itu memang nggak beres saat pertama kali mereka ke sana. Bahkan ia yang memberikan kesimpulan gila bahwa Ghozali yang selama bertahun-tahun ini orang-orang anggap sudah mati ternyata masih hidup," ujar Alfa.


"Tapi gimana caranya? Kok bisa anak kecil sepertinya menyimpulkan hal besar seperti itu?" tanya Ghozali.


"Pertanyaanmu salah, landak! Harusnya yang kau tanyakan adalah gimana ia bisa hidup selama ini setelah bertahun-tahun menghilang. Di mana ia tinggal dan apa saja yang ia lakukan. Harusnya kau lebih penasaran dengan hal itu," ujar Alfa.


"Benar sekali! Kalau kita tahu di mana dia tinggal saat itu, mungkin kita bisa tahu gimana caranya ia menemukan bukti-bukti aktivitas ilegal di underpass itu," ujar Aisyah.


"Kenapa nggak lakukan itu dari kemarin? Kupikir kau punya banyak waktu untuk memberinya banyak pertanyaan. Kenapa baru sekarang saat ia sedang bersekolah?" tanya Alfa.


"Aku nggak begitu mengenalnya...... saat itu aku belum tahu apa saja yang perlu kubicarakan padanya," ujar Ghozali.


"Kalian berdua benar-benar orang tua yang aneh! Sebenarnya siapa sih, orang tua Shahih? Aku atau kalian? Apakah aku ibunya? Ayahnya? Kenapa ia lebih memilih berbagi rahasia denganku daripada kalian? Kalian pikir kalian sudah cukup baik menjadi orang tua? Gimana jika Shahih bahkan nggak memilihku? Mungkin ia nggak akan pernah kembali ke rumah ini lagi!" ujar Alfa.


"Hentikan, Alfa! Kejam sekali kamu mengatakan itu! Shahih adalah anak kami! Di sini adalah rumahnya! Dia nggak akan ke mana-mana!" ujar Aisyah.


"Iya! Iya! Terserah kakak. Kalian memang harus bersyukur Shahih masih mau bersama kalian," ujar Alfa kemudian pergi dari rumah itu karena tidak betah. Padahal ia ingin memberikan beberapa bingkisan saat menjenguk kakaknya, namun suasana hatinya menjadi kacau-balau. Untuk menenangkan diri, ia pun kembali ke pesantren.

__ADS_1


Di sisi lain Aisyah dan Ghozali masih duduk termenung di ruang tamu. "Sepertinya tidak akan ada habisnya kalau kita berbicara tentang Shahih," ujar Ghozali.


"Kenapa aku merasa sangat resah setelah mengetahui semua itu? Kukira setelah Asa ditemukan, masalah tentang Shahih akan selesai dengan baik," ujar Aisyah.


"Sebenarnya bukan masalah, sayang! Kitanya saja yang nggak begitu mengenal anak itu," ujar Ghozali.


"Benar sekali! Tapi kenapa anak itu selalu menyembunyikan sesuatu di belakang kita? Makin lama makin membuatku khawatir," ujar Aisyah. Kepalanya tiba-tiba terasa nyeri karena banyak berpikir begitu keras.


"Istirahat dulu saja, sayang! Kita lanjutkan besok ngobrolnya. Kebetulan besok juga bukan jadwal jagaku. Selama nggak ada pasien darurat, aku bisa ngobrol denganmu di rumah," ujar Ghozali sambil memeluk Aisyah agar ia tenang.


Aisyah merasa begitu tenang setelah menyandarkan kepalanya di dada Ghozali, ia terus melekat di sana.


"Sayang.... kalau mau tidur... lebih baik di kamar saja," ujar Ghozali. "Lebih nyaman di sini. Aku nggak masalah kok tidur sambil duduk di sini, lagian sebentar lagi tubuhku akan pulih kembali," ujar Aisyah.


Akhirnya Ghozali pun langsung mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya yang kekar.


"Ternyata kamu masih sangat kuat yah mas! Aku sempat prihatin lihat kepalamu yang mulai beruban," ujar Aisyah.


"Ini bukan uban karena aku sudah tua, di keluargaku memang banyak yang memiliki uban di usia muda.... contoh saja kak Rava, dia sudah beruban sejak SD," ujar Ghozali.


"Meskipun kamu hendak menghiburku... aku jadi agak khawatir dengan anak-anak, mas! Kayaknya di antara mereka bakal ada yang memiliki ciri khas yang sama sepertimu," ujar Aisyah.


"Tenang saja, punya uban di usia muda bukan kesalahan kok. Bahkan itu bisa membuat penampilan menjadi lebih menarik," ujar Ghozali.


"Benar sekali mas, wajahmu... parasmu... entah kenapa semakin tua semakin tampak tulus, nggak sekasar dulu," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Ehm, nggak usah ungkit-ungkit yang dulu-dulu, sayang. Dulu aku disamakan dengan gorila," ujar Ghozali. Aisyah hanya bisa tertawa lalu tiba-tiba tertidur lelap.


"Hmm! Padahal masih pagi loh, tapi sudah nyenyak saja," ujar Ghozali kemudian membaringkan istrinya di kamar.


__ADS_2