Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Masuk pesantren II


__ADS_3

Zahra tidak berani berbicara dengan kakaknya, ia masih merasa bersalah karena memukulnya. Karena pukulan itu, Syihab pun masih terbaring dengan di kamarnya.


"Kenapa Zahra?" tanya Wak Lehah, Zahra tidak menjawab, ia hanya menunjukkan wajah penyesalannya.


Wak Lehah pun tersenyum, ia langsung mengajak Zahra masuk ke kamar Syihab. Awalnya Zahra merasa enggan, namun Wak Lehah terus mendesaknya.


"Aduh! Wak Lehah! Bisa ambilkan aku minum? Aduh! Aduh sakit sekali!" ujar Syihab dengan wajah manjanya.


"Kamu ini sudah besar tapi manja sekali kayak kerupuk kena air! Cuma dipukul perempuan saja cengeng begini," ujar Wak Lehah sambil menepuk bekas memar di perut Syihab.


Merasa tidak terima dikatakan 'cengeng', akhirnya Syihab pun beranjak dari tidurnya. "Aku nggak cengeng!" ujar Syihab.


"Nah kan? Kamu baik-baik saja, cuma pura-pura sakit biar dimanja," ujar Wak Lehah. Syihab pun merasa malu di hadapan Zahra, ia langsung mengambil selimut dan menutupi wajahnya.


Zahra sudah tidak merasa bersalah lagi, ia langsung menaiki kasur Syihab dan langsung berbaring di sampingnya.


Syihab langsung terkejut melihat wajahnya. "Hei, kakak yang manja! Kenapa malah sembunyi dalam selimut?" tanya Zahra. Syihab pun berbalik badan sedangkan Zahra langsung menggelitiknya.


Melihat kelakuan kakak beradik itu Wak Lehah merasa bahagia, ia tidak menyangka bisa bekerja di tempat orang kaya, bahkan diperlakukan baik seperti keluarga sendiri. Ia juga merasa bahagia melihat anak-anak itu seolah cucunya sendiri.


"Zahra, Syihab! Cepat beres-beres barang-barang kalian selagi ayah kerja, sepekan lagi berangkat," ujar Ghozali.


"Oh, iya! Syihab! Kasih tahu adikmu apa saja yang harus dibawa," ujar Ghozali.


Akhirnya Syihab pun mengarahkan Zahra untuk membeli berbagai hal yang diperlukan, persiapan mereka pun selesai tepat selama sepekan.


"Nah, besok kita berangkat, barang-barang kalian sudah siap semua?" tanya Ghozali. Zahra dan Syihab pun segera mengambil barang-barang mereka dan meletakkannya di ruang tengah.


"Eh? Ayah kira Syihab sudah kasih tahu kamu apa saja yang perlu dibawa, tapi kenapa bisa sebanyak itu? Itu dua kali lipat lebih banyak dari barang bawaan Syihab!" ujar Ghozali.

__ADS_1


"Lah! Perempuan sama laki-laki beda yah!" ujar Zahra. Akhirnya Ghozali mengabaikan hal itu.


Keesokan harinya mereka pun langsung berangkat ke pesantren, Ghozali sengaja memberhentikan mobilnya di asrama putri agar Syihab bisa membantu Zahra mengangkat barang-barang miliknya ke dalam asrama.


Saat mereka masuk ke dalam gerbang asrama, mereka mendapati kesunyian di tempat itu. Sebenarnya tidak benar-benar sunyi, masih ada keramaian dari para orang tua dan anak-anak baru seperti Zahra.


"Wah sepi sekali! Ayah kira bakal banyak orang berkeliaran di sini," ujar Ghozali. "Kebijakan di asrama putri beda dengan asrama putra yah, sekarang semua santriwati berada di dalam kamar, sedangkan tirai jendela di tutup rapat," ujar Syihab.


"Wah benar-benar terjaga sekali! Syukurlah kamu masuk ke sini, Zahra!" ujar Ghozali. Zahra hanya mengangguk, melihat anak-anak lainnya menangis dan berteriak-teriak, bahkan ada yang sempat pingsan, membuat Zahra semakin ketakutan, ia memegang celana ayahnya kuat-kuat.


Syihab pernah mengalami hal itu saat pertama kali masuk ke asrama dan Aisyah langsung menutup mata dan telinganya.


Ia pun mencoba melakukan hal yang sama seperti yang Aisyah lakukan. Ia mencoba menutup mata dan telinga Zahra.


"Jangan dengarkan itu Zahra, ayo jalan ke kamar," ujar Syihab, ia menemani Zahra yang hampir kehilangan keberaniannya.


Meskipun sampai di dalam kamar, keramaian dari tangisan anak-anak itu semakin menjadi-jadi.


"Ayah nggak tahu ini berguna apa nggak, yang jelas ayah sering lihat kamu langsung tidur kalau merasakan ini," ujar Ghozali. Zahra bisa merasakan detak jantung ayahnya, ia pun menjadi tenang, bahkan ingin menyandarkan kepalanya di dada ayahnya itu.


Ghozali membiarkannya bersandar, sedangkan Syihab mulai menata pakaian Zahra di lemari. Sayangnya Syihab sangat ceroboh dalam menata lemari, bahkan ia langsung menjatuhkan beberapa pakaian dalam Zahra.


Saat itu Zahra yang sudah tenang menjadi murka. "Apa yang kamu lakukan ih! Bodoh banget! Gitu aja nggak bisa!" ujar Zahra kesal, ia tampak malu sambil memunguti pakaian dalamnya.


Pada akhirnya ia sendiriyang menata semua barang-barangnya di lemari sedangkan Ghozali dan Syihab hanya bisa saling tatap melihat sikapnya.


Akhirnya lemari pun tertata rapi, Zahra merasa bangga akan hal itu. Syihab hanya bisa bertepuk tangan.


"Lain kali kalau habis pulang, ayah pergi ke asramaku dulu! Kita suruh Zahra rapikan lemariku," ujar Syihab.

__ADS_1


"Eh! Enak saja! Aku bukan pembantumu!" ujar Zahra, anak itu sudah mengabaikan sekelilingnya, ia sudah tidak merasa takut lagi. Ghozali pun merasa lega.


"Kayaknya dah waktunya ayah dan Syihab pergi, kita cuma dikasih waktu dua jam di sini," ujar Ghozali.


"Peraturan asrama putri memang lebih ketat dari pada asrama putra," ujar Syihab. "Cih! Jadi Syihab bisa lama berduaan dengan ayah? Curang!" ujar Zahra kesal.


"Eh, buset! Kami? Berduaan? Buat apa? Aku nggak manja sepertimu yang harus dipeluk setiap saat....." Syihab berhenti bicara karena Ghozali menutup mulutnya.


"Banyak orang yang lihatloh! Kalau sampai dia ngamuk bisa jadi masalah," bisik Ghozali. "Eh, benar juga," ujar Syihab ia pun menjaga sikap.


"Po... pokoknya, jaga dirimu baik-baik di sini Zahra, kapan-kapan aku bisa menjengukmu loh, tapi harus di luar gerbang asrama, kakak nggak boleh masuk," ujar Syihab.


Akhirnya Ghozali memberikan uang saku pada Zahra. "Hemat-hematlah! Jangan kayak Syihab," ujar Ghozali.


"Tentu saja! Aku nggak kayak kak Syihab! Zahra beda sama monyet itu!" ujar Zahra, perkataannya sangat menarik perhatian orang-orang.


Ghozali merasa sangat tidak nyaman, akhirnya ia segera membawa Syihab pergi sedangkan Zahra melambaikan tangan dari pintu kamarnya.


Setelah mereka menghilang dari hadapannya, Zahra pun kembali ke dalam dan duduk di atas dipannya sambil menatap lemari.


Ia teringat dengan detak jantung ayahnya yang sangat membuatnya tenang itu. Entah kenapa hal itu membuat hatinya terasa sakit, membuatnya ingin menangis, akhirnya ia pun segera pergi ke kamar mandi dan menyalakan kran air sederas mungkin lalu menangis di sana. Tidak bisa berhenti menangis, ia tidak bisa melupakan pelukan terakhirnya sebelum ayahnya pergi, ia merasa sangat menyesal karena tidak memeluknya lebih lama.


"Siapa di dalam?" tanya salah seorang sambil mengetuk pintu kamar mandi. Zahra berusaha mengucek air matanya, namun ia tetap tidak bisa menghilangkan bekas tangisannya.


"Halo? Mbak? Masih lama?" tanya orang yang di luar. "Sebentar!" ujar Zahra kemudian membasahi sebagian tubuhnya.


Ia pun keluar dari kamar mandi dan mendapati beberapa gadis remaja. "Walah, ternyata santriwati baru! Imut sekali!" seru salah seorang gadis.


"Kenapa basah sekali? Kirain kamu mandi dek," ujar salah seorang. "Nggak kok, habis wudhu tadi," ujar Zahra, ia hanya beralasan agar tidak terlihat seperti anak yang baru menangis.

__ADS_1


Para gadis itu langsung tertawa. "Tempat wudhunya ada di sana loh dek, kenapa wudhu di kamar mandi?" tanya salah seorang gadis.


"Wahahaha! Nggak lihat," ujar Zahra kemudian segera berlari ke kamarnya, ia masih takut berinteraksi dengan orang yang lebih tua.


__ADS_2