Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Api yang terus berkobar


__ADS_3

Aisyah asyik membereskan mainan anak-anak yang berserakan di mana-mana, meskipun merepotkan, setidaknya ketiga anak kembarnya kini tidak serewel dulu, ia bahkan berpikir tidak akan menyewa seorang pembantu.


Ia membersihkan rumah dari pagi hingga siang, lalu memasak untuk anak-anak. Syihab pun pulang dengan wajah kesal, pipinya lebam.


"Ada apa Syihab? Kenapa pipimu lebam seperti ini?" tanya Aisyah. Syihab pun langsung menangis. "Aku diejek gorila sama teman kelas, kami pun bertengkar," ujar Syihab sambil terus terisak.


"Dih, malu-maluin banget kak Syihab ini! Zahra yang kena masalah!" ujar Zahra kesal sambil melepas sepatu sembarangan.


"Ada apa sih?" tanya Aisyah. "Dia ini! Sudah mulai bikin masalah, yang mulai berkelahi, tapi dia yang nangis duluan, kan Zahra yang malu bu! Zahra mau pindah sekolah aja!" keluh Zahra.


Syihab semakin kesal mendengar keluhan Zahra, ia juga merasa geram melihat wajah Zahra yang kesal seolah-olah menyalahkannya. Pada akhirnya ia menghampiri Zahra dan memukul dahinya.


"Astaghfirullah, Syihab! Apa yang kamu lakukan! Adikmu masih kecil! Kenapa kamu berbuat jahat seperti ini?" tegur Aisyah, saat itu juga Zahra langsung menangis keras karena dahinya terasa sakit.


Dengan wajah kesal, Syihab mengusap air mata lalu pergi ke luar rumah.


"Cup! Cup! Sudah-sudah, jangan menangis Zahra! Ada ibu di sini! Lihat itu, adik-adikmu sedang melihat! Kan malu kalau mereka melihatmu menangis," ujar Aisyah sambil meniup-niup lebam yang ada di dahi Zahra.


"Kapan-kapan jangan bicara begitu lagi yah! Nanti kakakmu marah lagi. Zahra nggak boleh benci sama kak Syihab, oke!" ujar Aisyah sambil memeluk Zahra. Zahra pun mengangguk pelan. Sayangnya Aisyah tidak memperhatikan Syihab, anak itu sudah pergi dari rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore pun tiba, namun Syihab tak kunjung pulang, hal itu membuat Aisyah khawatir. "Duh! Kemana sih itu anak!" ujar Aisyah sambil bolak-balik berjalan dari dapur sampai ke depan rumah. Pada akhirnya makan malam yang sedang ia masak hancur berantakan. Ia merasa sangat gelisah karena Syihab tak kunjung pulang.


Zahra merasa khawatir dengan wajah gelisah ibunya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Zahra, jaga rumah sebentar yak! Ibu harus pergi dulu, sebentar saja, oke! Pintunya jangan lupa dikunci! Jangan bukakan pintu untuk siapapun kecuali ibu dan ayah!" ujar Aisyah, ia langsung memakai sandal dan berlari ke sana kemari mencari Syihab.


Matahari hampir terbenam, namun Aisyah masih belum pulang juga. Pada akhirnya Ghozali pun pulang ke rumah dan mendapati pintu rumah yang terkunci.

__ADS_1


"Assalamualaikum! Sayang! Aku pulang!" ujar Ghozali sambil mengetuk pintu. Zahra pun membukakan pintu rumah untuknya. "Loh? Zahra? Di mana ibu?" tanya Ghozali keheranan.


"Ibu sedang pergi," ujar Zahra. "Apa? Pergi? Sore-sore begini? Kemana?" tanya Ghozali. Zahra hanya geleng-geleng kepala.


Ghozali memeriksa ke dapur dan mendapati makanan yang seharusnya akan dihidangkan malam ini sudah hancur berantakan.


Ia pun menunggu Aisyah di ruang tamu dengan wajah dinginnya. Zahra bahkan tidak berani mendekatinya.


Suara adzan Maghrib pun terdengar, akhirnya Aisyah datang dengan kepayahan. "Kau dari mana? Kenapa kau meninggalkan anak-anak kecil di rumah sendirian? Kenapa kau baru pulang saat Maghrib tiba? Hanya karena aku pulang malam jadi kau bisa pergi-pergi seenaknya? Apakah setiap hari kau selalu seperti ini? pulang Maghrib tanpa sepengetahuanku?" tanya Ghozali dengan wajah dinginnya.


"Bukan begitu mas! Aku lari ke sana kemari mencari Syihab! Dia nggak pulang-pulanh dari tadi!" ujar Aisyah.


"Nggak usah banyak alasan! Kau nggak lihat gimana Zahra tadi buka pintu? Dia nggak ngecek siapa yang di luar dan langsung membuka pintu! Kalau orang asing yang ada di depan gimana? Apa yang akan terjadi?" bentak Ghozali.


"Kamu nggak ngerti mas! Aku juga nggak mau ninggalin mereka mas! Tapi Syihab nggak pulang-pulang dari siang sampai sore! Aku juga khawatir mas! Dia juga anakku!" ujar Aisyah.


Tidak lama kemudian Syihab pun datang, wajah Ghozali langsung memerah bak kepiting rebus.


"Dari mana?" tanya Ghozali dengan wajah dinginnya. Syihab hanya menundukkan kepala. "Kau dari mana?" tanya Ghozali sekali lagi.


"Punya mulut nggak?" bentak Ghozali dengan suara yang sangat keras, membuat seisi rumah terkejut, bahkan Shadiq dan Hasan menangis saat mendengarnya.


Aisyah pun segera menghampiri Shadiq dan Hasan, lalu membawa mereka ke kamar mereka.


"Kenapa baru pulang sekarang, hah? Dari mana saja? Ibumu sampai menyarimu kemana-mana loh! Dia harus ngurusi empat anak lainnya! Bukan cuma kamu!" teriak Ghozali. Syihab tetap diam dengan kepala tertunduk, wajahnya yang lebam membuat Ghozali heran.


"Ada apa dengan wajahmu? Habis berkelahi? Mau jadi jagoan? Ayah pernah minta seperti itu?" tanya Ghozali. Syihab tetap diam.

__ADS_1


"Jawab!" teriaknya sekali lagi, membuat Zahra menangis seketika. Perhatian Ghozali pun teralihkan dari Syihab, ia langsung menghampiri putrinya itu dan menemukan lebam di dahinya.


"Kenapa dengan kepalamu Zahra? Hei, Aisyah! Kenapa dahi Zahra juga lebam?" teriak Ghozali, membuat Aisyah yang ada di dalam kamar juga terkejut.


Mau tidak mau, Zahra pun mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia dipukul oleh Syihab.


Kali ini Ghozali benar-benar naik pitam, ia langsung mencengkeram kerah Syihab dengan tangan kekarnya lalu membawanya ke kamarnya.


Tidak ada yang menyaksikan apa yang diperbuat Ghozali pada anak itu. Seisi rumah hanya mendengar Syihab berteriak memohon ampun.


Aisyah pun langsung membawa Zahra dan Shahih ke dalam kamar si kembar lalu menutupi telinga mereka. Shadiq dan Hasan langsung memeluk Aisyah karena ketakutan sedangkan Zahra berusaha menutup telinganya sendiri agar tidak mendengar teriakan kakaknya itu.


Aisyah langsung menangis karena tindakan suaminya itu, ia juga benar-benar takut, namun karena terus mendengar teriakan meminta ampun dari Syihab, ia memberanikan diri pergi ke kamar Ghozali.


"Sudah mas! Sudah! Kamu ini manusia mas! Bukan binatang! Jangan bikin takut anak-anakmu yang lain!" ujar Aisyah. Meskipun begitu Ghozali tetap geram melihat wajah Syihab, sekali lagi ia hendak menghajarnya, namun Aisyah terus menahan lengannya.


Tentu saja Aisyah tidak dapat menahan dengan kuat lengan kekar Ghozali, ia malah ikut terseret hingga terjatuh menabrak siku dipan. Ia pun merintih kesakitan.


Akhirnya amarah Ghozali hilang, ia langsung menghampiri Aisyah. "Kau baik-baik saja? Mana yang sakit? Lagian kenapa kau menghalangiku, Aisyah?" tanya Ghozali sambil terus memeriksa bagian tubuh Aisyah.


Aisyah segera beranjak dan membawa Syihab keluar kamarnya, ia pergi ke kamar Syihab.


"Mana yang sakit?" tanya Aisyah pada Syihab, anak itu tidak menjawab. Aisyah pun segera membuka baju anak itu dan mendapati lebam di lengan, kaki dan punggung.


"Sebentar ya, biar ibu ambilkan kompres air dingin," ujar Aisyah. Setelah merendam es dan mengambil kain, ia segera kembali ke kamar Syihab dan mengompres memar-memar di tubuhnya. Aisyah terus melakukan itu sambil menangis, ia juga sangat takut dengan tingkah Ghozali, apalagi karena badan pria itu besar.


"Maafkan ibu nak, kamu jadi begini," ujar Aisyah sambil terus mengusap-usap memar di lengan Syihab dengan kompres air dingin itu. Akhirnya malam itu ia tidur di kamar Syihab, ia tidak berani masuk ke dalam kamar suaminya. Ia terus merenungi nasibnya sambil menangis, ia tidak tahu sampai kapan akan menghadapi suaminya yang seperti itu.

__ADS_1


Ia pun terus memeluk Syihab erat-erat untuk menenangkan diri. Ia tahu sekarang harus berpikir dewasa, bukan berharap ada yang membelanya, namun harus membela anaknya yang diperlakukan seperti itu.


__ADS_2