
Ghozali sudah melakukan berbagai survei selama tiga tahun terakhir, namun ia belum menemukan petunjuk tentang keberadaan anaknya yang dianggap sudah meninggal itu.
Pekerjaannya di rumah sakit pun semakin memburuk karena pegawai-pegawainya enggan berinteraksi dengannya. Meskipun begitu, ia tetap berusaha agar pekerjaannya tidak terhambat. Ia juga memastikan kondisi Aisyah tetap dalam keadaan stabil.
Mayang pun datang ke rumahnya lagi sedangkan waktu itu adalah hari liburnya. Ia mendapati Mayang menggunakan kerudung.
"Maaf mengganggu hari liburmu," ujar Mayang. "Nggak masalah ujar Ghozali kemudian mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Gimana menurutmu?" tanya Mayang sambil memegangi kerudungnya. Ghozali tidak mengerti apa yang ia tanyakan, ia hanya tahu bahwa penampilan Mayang tampak berbeda karena kerudungnya.
"Ternyata memang benar-benar aneh yah aku pakai kerudung?" tanya Mayang, ia bahkan hendak melepaskannya.
"Nggak kok, biasa saja," ujar Ghozali, ia merasa semakin aneh kalau sampai wanita itu melepaskan kerudung di rumahnya.
"Tapi mukamu nggak bilang begitu mas!" ujar Mayang, ia benar-benar ingin melepaskan kerudungnya.
Saat itu juga Shahih datang dari luar rumah dengan ekspresi datarnya. Ia menganggap asing semua orang, bahkan ayahnya sendiri.
"Dari mana, Shahih?" tanya Ghozali. Shahih tidak menjawab, ia hanya menatap Mayang dengan tatapan dinginnya seperti mayat, tatapannya benar-benar pucat.
Ia pun mendapati seekor kucing lewat di depannya, ia pun menggendong kucing itu lalu pergi ke dalam. Mayang pun mengurungkan niatnya untuk melepas kerudung.
Beberapa menit kemudian Shadiq dan Hasan datang bersama Wak Lehah. Wanita paruh baya itu langsung menggiring Shadiq dan Hasan masuk, berusaha tidak peduli dengan kedatangan Mayang.
"Siapa wanita tua itu? Bajunya lusuh sekali! Nggak mungkin orang tuamu kan?" tanya Mayang. "Dia memang bukan orang tuaku, dia pembantuku," ujar Ghozali.
"Kenapa kamu biarkan wanita lusuh dan kotor itu masuk ke rumah ini? Harusnya kamu minta aku saja buat beres-beres rumahmu, aku bisa kok jadi pembantu rumah tangga," ujar Mayang.
"Khayalanmu sangat jauh dari perawat sampe ke pembantu rumah tangga, kau juga mau merawat istriku yang terbaring di rumah sakit?" tanya Ghozali.
__ADS_1
"Kau masih peduli dengannya? Padahal dia nggak pernah memberimu makan loh!" ujar Mayang. "Nggak, aku yang sengaja nggak makan, aku terlalu dibodohi nafsu syahwatku sampai melupakan kebaikan istriku sendiri," ujar Ghozali.
"Mas! Pasti ada alasannya kamu benci sama dia kan? Jangan-jangan kamu kehilangan alasan itu? Kamu terperdaya dengan kecelakaannya?" tanya Mayang.
Tak lama kemudian Shahih keluar dari ruang tengah, ia menghampiri lemari yang terletak di sudut ruang tamu. Entah apa yang baru saja ia lakukan, lemari itu langsung tumbang menimpa dirinya.
Mayang seketika terkejut dan segera berbalik badan, ia langsung berteriak melihat anak kecil tertimpa lemari besar itu.
Sayangnya hal yang membuatnya lebih takut adalah Shahih yang terus menatapnya dingin. Meskipun jatuh tertimpa lemari, anak itu tetap diam, tidak menangis. Sebagai gantinya ia terus menatap ke arah Mayang, seolah memberinya kode untuk segera menyingkir dari rumah ini.
Wak Lehah segera memeriksa apa yang terjadi sedangkan Ghozali langsung berusaha mengangkat lemari itu.
"Astaghfirullah, Shahih! Kamu nggak papa kan? Ada yang sakit?" tanya Wak Lehah sambil memeluk anak itu.
Meskipun sedang berada di pelukan Wak Lehah, Shahih terus menatap Mayang penuh benci.
Ia keheranan karena tidak mendapati satupun luka dari anaknya, hanya beberapa memar kecil yang ada di pergelangan tangan dan punggung saja.
Akhirnya Ghozali menggendongnya ke kamar lalu mengobatinya dengan obat luar saja, ia sempat menekan bagian-bagian yang memar itu. "Shahih, apakah ini sakit?" tanya Ghozali. Anak itu tetap diam, akhirnya Ghozali mencoba menekan luka memarnya lebih kuat lagi.
Sayangnya Shahih tetap diam, seolah tubuhnya tidak merasakan apapun. Ghozali masih belum menyerah, ia bahkan mencoba menekan luka memar itu dengan sekuat tenaga.
"Masnya lagi ngapain? Ntar patah loh kalau terus ditekan begitu," ujar Wak Lehah. Ia pun langsung menghampiri Shahih dan mengompres bekas memar di tubuhnya dengan air dingin.
"Ehm, makasih Wak Lehah," ujar Ghozali kemudian kembali dalam kamar. Beberapa menit kemudian ia menerima telepon dari rumah sakitnya. Admin menemukan riwayat periksa dari anak yang ia duga sebagai Assalam.
Akhirnya ia buru-buru mempersiapkan diri lalu membuka garasi. "Masnya mau pergi ke mana sore-sore begini? Bentar lagi Maghrib loh!" ujar Wak Lehah.
"Nggak papa Wak Lehah! Ntar kalau mau pulang, kasihin kunci rumahnya ke Shadiq, suruh mereka kunci rumah, saya pulang habis Isya," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Wak Lehah. Ghozali pun langsung pergi dengan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana ia meminta pegawai admin mengenai riwayat periksa dari tanggal yang ia dapatkan. Akhirnya pegawai itu memberikannya sebuah daftar.
Saat itulah direktur datang menyambut Ghozali. "Wah! Wah! Lihat ini! Ghozali datang di hari libur! Ia benar-benar rajin!" ujar direktur.
"Maaf pak, sebenarnya saya hendak mengecek kondisi istri saya secara rutin," ujar Ghozali. "Kau bisa minta bantuan pegawai di sini, mereka bekerja dengan baik loh! Tenang saja," ujar direktur sambil menepuk bahu Ghozali.
"Oh, iya! Kebetulan sekali karena hari ini aku hendak mengundangmu ke suatu tempat," ujar direktur kemudian menuntun Ghozali ke depan rumah sakit, sebuah mobil sudah menunggu di depan.
"Saya bawa mobil sendiri pak, tidak perlu repot-repot," ujar Ghozali. "Sudahlah masuk saja, biar kau bisa duduk santai, tidak perlu fokus mengemudi," ujar direktur.
Akhirnya Ghozali pun masuk ke dalam mobil itu, sedangkan direktur langsung duduk di sampingnya.
"Kita mau ke mana? Ini sudah sore loh!" ujar Ghozali. "Tenang saja, hanya sebentar," ujar direktur.
Akhirnya mobil mulai melaju dengan cepat, Ghozali mencoba menatap keluar jendela karena merasa canggung duduk di samping direktur.
"Nggak usah gugup! Kita bicara santai saja," ujar direktur, ia mulai menggunakan bahasa informal. Akhirnya Ghozali ikut menyesuaikan. Perhatiannya pun teralihkan pada pembicaraan direktur sedangkan mobil yang mereka naiki itu terus melaju ke terowongan, namun tak kunjung keluar, Ghozali merasa keheranan karena terowongan yang dilalui ini terasa sangat panjang.
"Hei, Ghozali! Kamu masih dekat dengan anakku?" tanya direktur. "Maaf pak, lain kali aku akan berhati-hati dan menjaga jarak," ujar Ghozali.
"Nggak usah, santai aja, bersikap seperti biasanya saja," ujar direktur. "Ehm, perasaan sudah dari tadi kita melaju ke dalam terowongan ini, tapi kenapa akhir dari terowongan ini tidak terlihat? Seharusnya terowongan ini pendek, tidak sampai lima menit untuk mencapai ujungnya," ujar Ghozali.
Pada akhirnya mobil yang mereka naiki berhenti, mereka sudah berada di tempat parkir yang misterius. Ghozali pun turun dari mobil dengan perasaan tidak nyaman.
Ia tampak ragu-ragu sambil mengikuti direktur masuk ke dalam sebuah lift. Ia sempat terkejut karena mendapati banyak sekali lantai pilihan yang tersedia di lift itu.
"Maaf pak, ini di mana yah? Aku nggak lihat kita keluar dari terowongan tadi," ujar Ghozali, direktur tetap diam, ia tidak menjawab pertanyaan Ghozali. Ghozali pun merasakan firasat buruk darinya.
__ADS_1