Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Enam saudara


__ADS_3

Ghozali bangun dari tidurnya, ia merasa asing dengan sekelilingnya, saat sadar, ia tidak bisa beranjak dari kasur karena Syihab memeluknya erat-erat.


"Hei, Syihab! Ayah bukan bantal guling," ujar Ghozali. Akhirnya Syihab pun terbangun. "Oh, akhirnya ayah bangun juga!" ujarnya sambil mengucek mata.


"Kenapa ayah ada di sini?" Ghozali keheranan. "Bukannya ayah sendiri yang masuk kamarku tadi malam?" tanya Syihab. "Lah kamu pergi ke mana saja sampai larut malam nggak pulang?" tanya Ghozali.


Syihab enggan menjawab pertanyaannya, ia sudah menebak kalau pembicaraan ini akan berakhir dengan teguran ayahnya.


Sayangnya itu masih terlalu pagi bagi Ghozali untuk marah, ia masih mengantuk hingga kesulitan membuat matanya tetap terbuka. "Harusnya kamu bangunin ayah," ujar Ghozali.


"Lah, ayah kelihatan kelelahan, jadi aku biarin aja, kayaknya udah lama juga aku nggak pernah tidur dengan ayah," ujar Syihab sambil memaksa Ghozali agar berbaring lagi.


"Sudah besar loh! Kebiasaanmu dari kecil nggak pernah berubah. Padahal adik-adikmu sudah nggak pernah tidur dengan ayah sejak kelas tiga SD, tapi kamu masih aja pengin tidur dengan ayah bahkan hingga SMP! Malu loh sama adik-adikmu!" ujar Ghozali.


"Biarin, lagian bentar lagi aku bakal berangkat ke kampus. Aku mau seperti ini lebih lama lagi," ujar Syihab sambil memeluk lengan ayahnya, ia merasa nyaman meskipun lengan Ghozali kekar dan keras.


Ghozali sendiri merasa tidak nyaman dengan anaknya itu, apalagi Syihab sudah besar dan tubuhnya hampir melampaui dirinya.


"Sudahlah, bentar lagi subuh! Ayah mau bangunin anak-anak yang lain," ujar Ghozali. "Nggak usah, mereka biasa bangun lebih awal dari kita, tunggu aja mereka yang bangunin," ujar Syihab sambil menarik lengan Ghozali agar kembali tidur.


"Hei, nggak boleh gitu! Masa kalah sama adik-adikmu!" ujar Ghozali sambil mengacak-acak rambut Syihab. Ia terus mengganggunya hingga akhirnya Syihab beranjak dari tempat tidur.


Ghozali langsung pergi ke kamar Shadiq dan Hasan, dua anak itu masih tidur. Akhirnya ia punya kesempatan untuk membangunkan mereka. Seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan adalah duduk di atas kaki Shadiq.


Shadiq pun langsung terbangun karena tubuh Ghozali sangat berat. "Oh, akhirnya bangun juga!" seru Ghozali.


"Bangun juga dari mananya, ayah belum bangunin aku, tapi langsung duduk di situ. Aku bukan kursi loh!" ujar Shadiq, sebenarnya


ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan ayahnya.

__ADS_1


Kali ini giliran Hasan, anak itu masih terlihat nyenyak, namun Ghozali sempat ragu untuk membangunkannya. Ia membayangkan kalau anak itu akan kesal dan marah besar.


"Kenapa? Bangunin Hasan sekalian loh! Masak cuma aku yang dibangunin!" ujar Shadiq, ia mencoba menantang ayahnya untuk membangunkan Hasan.


Awalnya Ghozali hanya menepuk-nepuk kaki Hasan untuk membangunkannya. "Bukan begitu tadi! Ayah duduk di atas kaki untuk membangunkanku! Coba bangunkan Hasan kayak gitu!" pinta Shadiq.


Ghozali masih tidak berani, bahkan sekedar mengguncang tubuhnya pun ia tidak berani. "Tuh kan, ayah cuma berani kayak begitu ke aku," ujar Shadiq kesal. Ghozali hanya menggaruk-garuk kepala, ia baru saja dipandang Shadiq dengan kesan yang buruk.


Pagi berlalu begitu cepat, cahaya matahari sudah menyirami jendela rumah hingga menerangi seluruh ruangan.


Zahra tampak ribut di belakang rumah, Ghozali dan Syihab pun segera memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa, Zahra? Kenapa berisik sekali?" tanya Syihab keheranan. "Kenapa kalian berdua selalu meletakkan pakaian kalian seenak jidat? Lihat ini! Ada tulisan, mohon dibaca!" ujar Zahra kesal sambil menuding kertas berisi tulisan yang ia tempel di samping mesin cuci.


"Lah, apa salah ayah? Kalau nggak boleh naruh baju kotor di sini, terus ayah taruh mana?" tanya Ghozali keheranan, ia langsung memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Itu semu ulah Zahra yang baru saja mengamuk dan membuang semua pakaian kotor yang ada di keranjang.


Ghozali mendapati beberapa pakaian dalam Zahra yang tercampur dengan pakaiannya. Zahra pun langsung merebutnya dengan wajah malu, ia menatap Ghozali layaknya menatap sampah.


"Aku nggak mau nyuci pakaian kalian lagi!" ujar Zahra kesal, ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Loh? Apa salah ayah?" Ghozali masih keheranan. Ia tidak mengerti kenapa Zahra tiba-tiba marah.


Setelah meletakkan semua pakaian kotornya di keranjang yang berbeda, Ghozali langsung beralih ke kamar anak-anaknya.


Setelah bertahun-tahun tidak bertemu mereka, membuatnya ingin terus memerhatikan tingkah laku mereka yang berbeda jauh dari yang terakhir kali ia lihat.


"Ada apa ayah?" tanya Hasan keheranan, ia merasa aneh ayahnya tiba-tiba masuk ke kamarnya.


"Nggak, bukan apa-apa kok," ujar Ghozali sambil senyum-senyum sendiri. Mendengar respon anaknya membuatnya senang.

__ADS_1


"Nggak kayak biasanya ayah tertarik masuk ke kamar kami. Biasanya ayah ke sini cuma buat marah-marah gara-gara berantakan," ujar Hasan.


Ghozali pun terdiam, hal yang paling tidak ingin ia ingat justru baru saja terucap dari mulut Hasan.


"Ehm, Kamu masih ingat itu?" tanya Ghozali sambil menggaruk-garuk kepala. Hasan langsung menatap wajah ayahnya selama beberapa detik.


"Mungkin kalau ayah tanya ke Shadiq, dia sudah lupa," ujar Hasan. Suasana pun menjadi sedikit canggung karena membahas hal itu. Akhirnya Ghozali pergi keluar kamar karena tidak ada yang bisa ia bicarakan lagi dengan Hasan.


Kebetulan sekali saat keluar kamar, Shadiq sedang berjalan menuju kamar. Anak itu langsung menabraknya karena tidak sadar dengan keberadaannya.


"Ayah?" Shadiq sempat heran karena Ghozali keluar dari kamarnya. Ia pun mencoba masuk ke dalam, namun Ghozali menghadangnya untuk menjahilinya.


"Lah, apaan sih yah? Aku mau masuk loh!" ujar Shadiq kesal. Ghozali hanya tertawa lalu membiarkan anaknya lewat.


"Lama-kelamaan dia bisa membencimu loh," ujar Shahih yang kebetulan melihat apa yang ayahnya lakukan.


Ghozali sebenarnya enggan mendengarkan perkataannya. Setiap berhadapan dengan Shahih pasti suasana berubah menjadi sangat serius.


Shahih paham perasaan ayahnya, ia langsung pergi meninggalkan Ghozali.


Tak lama kemudian Asyraf pun berlalu di hadapan Ghozali. "Asa, ayah mau bicara sebentar, boleh?" tanya Ghozali.


Asyraf pun berbalik badan dan menghampiri Ghozali. "Ada apa paman?" tanya Asyraf. "Sudah ayah bilang, jangan panggil ayah pakai sebutan paman!" Ghozali mengingatkan.


"Mungkin kapan-kapan kulakukan, aku belum terbiasa," ujar Asyraf. "Baiklah, ayah mau tanya.... Sebenarnya seperti apa keseharian Shahih dari awal kamu bertemu dengannya hingga sekarang? Apa pendapatmu tentang dia?" tanya Ghozali penasaran.


"Kalau boleh diumpamakan, mungkin kayak topeng berlapis-lapis," ujar Asyraf. "Eh? Topeng? Kenapa begitu?" tanya Ghozali.


"Nggak ada yang bisa ditebak dari anak itu. Mungkin saja semua yang paman pikirkan tentang dia salah kaprah, dia bukan orang yang bisa dinilai dalam sekejap. Satu hal yang aku tahu pasti, dia nggak pernah tertawa. Aku nggak tahu apakah dia sengaja menahannya atau memang nggak ada yang bisa membuatnya tertawa. Semua emosi yang ia tunjukkan itu palsu, dia hanya ingin terlihat normal di depan orang-orang," ujar Asyraf.

__ADS_1


"Be... begitu kah? Sepertinya kamu sangat dekat dengan Shahih, sampai tahu beberapa hal tentangnya," ujar Ghozali.


"Makanya jangan asal menilai dia. Kalau paman nggak peduli dia orang yang seperti apa, itu cukup baginya. Tujuannya cuma datu, dianggap normal dengan anak-anak lainnya, jadi nggak usah mempermasalahkannya," ujar Asyraf kemudian pergi karena merasa perkataannya sudah cukup menjawab pertanyaan Ghozali.


__ADS_2