
Shadiq, Hasan, dan Shahih berjalan bersama menuju sekolah. Syihab tampak semangat menemani Shadiq dan Hasan, ia tidak sabar ingin memamerkan adik kembarnya yang identik itu.
Shahih tidak peduli meskipun ia tampak terkucilkan di antara mereka. Ia sudah sering diperlakukan seperti ini bahkan oleh kakek dan neneknya.
Hanya Zahra dan Alfa yang bisa ia ajak berbicara, bahkan saat bersama Aisyah pun ia cenderung diam. Aisyah terlalu mengkhawatirkannya hingga membuat perbedaan yang ia miliki dengan kedua saudara kembarnya semakin jelas.
Shahih yang benci mendapatkan perlakuan khusus pun sedikit menjauh darinya, pada akhirnya ia tidak akrab dengan kedua orang tuanya.
Sesampainya di ruangan kelas, mereka hanya mendapati sebangku hanya untuk dua orang, satu meja dan sepasang kursi.
Shadiq dan Hasan pun segera memilih bangku paling depan, ujung kanan dekat pintu. Mereka bahkan tidak memikirkan sama sekali di mana Shahih akan duduk.
Anak terakhir yang malang itu sempat kebingungan hendak duduk di mana. Bangku di belakang Shadiq dan Hasan sudah penuh, hanya tersisa satu kursi kosong yang ada di pojok ruangan.
Zahra sempat merasa iba dengan adik terakhirnya yang masih berdiri kebingungan. Ia pun mencarikannya tempat duduk yang dekat dengan Shadiq dan Hasan, namun sudah penuh semua. Akhirnya dengan terpaksa ia menyuruh Shahih duduk di bangku yang ada di pojok ruangan, bangku yang paling jauh dari pintu.
"Shahih, kamu nggak papa kan di sini?" tanya Zahra khawatir. Shahih hanya mengangguk dengan wajah polosnya. Zahra masih merasa kasihan karena anak itu jauh dari kedua saudara kembarnya.
Bel pun berbunyi, Zahra terpaksa meninggalkan kelas itu.
Setelah wali kelas masuk, sesi perkenalan pun tiba. Setiap anak diminta untuk memperkenalkan diri.
Perkenalan pun dimulai dari Shadiq, anak itu tampak gagap dan malu-malu saat berdiri. Bahkan ia tidak lancar berbicara karena saking gugupnya. Akhirnya Hasan pun berdiri.
"Loh? Kalian kembar?" wali kelas tidak menduga melihat wajah yang sama. "Benar bu, dia adalah Shadiq, kakakku, sedangkan namaku Hasan, salam kenal semuanya," ujar Hasan menyapa anak-anak sekelas dengan percaya diri, ia tampak sangat ceria.
"Bagus sekali! Selanjutnya," ujar Wali kelas untuk menggilir para murid untuk berdiri dan memperkenalkan diri.
Akhirnya tiba giliran Shahih, yaitu giliran terakhir. Ia berdiri dengan tenang, sedangkan suasana kelas tampak sunyi karena wajah datarnya yang tidak menarik sama sekali.
"Perkenalkan namaku Shahihul Mufid," ujar Shahih. "Wah! Kamu hafal nama lengkapmu? Luar biasa," ujar wali kelas terkesan. Shahih pun langsung duduk kembali, ia tidak memberitahu kalau dirinya juga kembaran dari Shadiq dan Hasan.
Pelajaran pun dimulai dengan perkenalan guru dan hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan di dalam kelas.
__ADS_1
Selama waktu berlalu, akhirnya jam istirahat tiba. Shadiq dan Hasan langsung keluar kelas karena mereka sudah mendapatkan teman bermain, sedangkan Shahih masih tetap tinggal di dalam. Ia tidak tertarik untuk keluar kelas karena malas menatap silaunya matahari.
Shahih langsung mengambil pensil yang ada di tasnya. Meskipun wali kelas belum menyuruh untuk menulis apapun, ia sudah mulai membuka buku dan mencatat semua mata pelajaran yang tertera di papan informasi kelas.
Selagi menulis, ia tidak sadar kalau yang ada di kelas tinggal dirinya dan wali kelas.
Wali kelas itu menghampirinya karena penasaran dengan apa yang ia lakukan. "Kamu nggak ikut bermain dengan anak-anak lainnya?" tanya wali kelas. Shahih menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya wali kelas penasaran. "Nanti ada yang nangis," ujar Shahih. Ia teringat saat masih di TK, saat bermain dirinya dituduh mencelakai seorang anak yang terluka lututnya. Ia pun ditegur oleh guru untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak pernah ia lakukan, meskipun mengelak, guru itu malah menjewer telinganya, membuatnya tersinggung. Kesannya menjadi buruk dibandingkan dengan kedua saudara kembarnya.
"Eh? Kamu kidal?" tanya wali kelas setelah melihat Shahih dari belakang, ia baru sadar kalau anak itu menulis dengan tangan kiri.
"Kidal itu apa?" tanya Shahih. "Menulis dengan tangan kiri," ujar wali kelas. Shahih pun langsung memindahkan pensilnya ke tangan kanan lalu meminta maaf seolah yang ia lakukan itu tidak layak, seperti orang yang makan dengan tangan kiri.
"Hasan juga menulis dengan tangan kiri," ujar Shahih. "Oh gitu? Kamu nggak usah minta maaf kok, nggak salah. Jangan maksa pakai tangan kanan kalau nggak bisa," ujar wali kelas, namun ia dibuat terkesan karena Shahih tetap bisa menulis meskipun menggunakan tangan kanannya.
"Kamu lagi nulis apa?" tanya wali kelas. Shahih tidak tahu apa namanya, jadi ia hanya menunjuk papan informasi yang ada di dinding kelas. Informasi yang ada di papan itu sama seperti yang ada di TK, ia juga dapat memprediksi pelajaran apa yang akan ia ikuti selanjutnya di saat anak-anak yang lainnya tidak mengetahui mengenai jadwal pelajaran itu dan akhirnya sekarang ia tahu kegunaan dari papan informasi itu.
Sekali lagi wali kelas dibuat terkesan olehnya, apalagi karena tulisan Shahih sangat rapi dan bagus.
Meskipun disanjung begitu, Shahih tetap diam. Bel kelas pun berbunyi sedangkan anak-anak segera masuk ke dalam kelas. Shadiq dan Hasan keheranan melihat wali kelas yang ada di dekat Shahih.
Karena kelas semakin ramai, akhirnya wali kelas segera kembali ke tempat duduknya. Sepulang sekolah, Aisyah langsung menyambut anak-anaknya dengan wajah penasaran.
"Gimana sekolah kalian tadi?" tanya Aisyah. "Seru banget!" ujar Hasan. "Iya, asyik bisa main sama banyak temen baru," ujar Shadiq. "Lah paling malu-malu Shadiq," ujar Hasan. Shadiq menjadi semakin malu lagi karena Hasan mengatakan hal itu.
"Kalau Shahih, gimana? Asyik nggak sekolahnya tadi?" tanya Aisyah penasaran. Shahih hanya mengangguk dengan wajah datarnya kemudian kembali ke kamar.
Karena sudah memiliki banyak buku, akhirnya ia menuliskan beberapa mata pelajaran untuk buku-buku itu, namun ia lupa tidak menuliskan namanya.
Keesokan harinya, setelah melihat jadwal pelajaran yang ia tulis, ia pun mencari-cari buku yang sudah ia tandai kemarin. Sayangnya buku-buku itu malah diambil oleh Shadiq dan Hasan secara acak.
"Aku mau buku yang ini, gambarnya lebih bagus," ujar Hasan sambil mengambil buku matematika. "Aku juga yang ini saja! Lebih keren ada gambar robotnya," ujar Shadiq sambil mengambil buku bahasa Indonesia dan pelajaran IPA.
__ADS_1
Semua buku pelajaran hari ini yang sudah Shahih tandai berada di tangan mereka berdua. Akhirnya Shahih menghampiri keduanya dan merebut kembali buku itu.
"Apaan sih! Ini punyaku!" ujar Hasan sambil merebut kembali buku itu. "Jangan ambil punya orang lain, Shahih!" ujar Shadiq. "Itu semuanya punyaku! Aku sudah tandai semuanya," ujar Shahih.
"Enak saja! Ini aku yang ambil duluan tadi!" ujar Hasan. "Aku sudah ambil ini kemarin! Sudah kutandai!" ujar Shahih sambil merebut buku itu.
Akhirnya mereka berdua saling tarik menarik hingga buku itu robek. Hasan pun langsung menangis karena buku yang ia inginkan sudah rusak.
"Lihat! Ini punyaku!" ujar Shahih, meskipun begitu Hasan tetap menangis dan berteriak-teriak. Ia tidak mau tahu buku itu sudah ditandai atau belum, yang jelas ia menginginkan buku itu.
"Ada apa sih? Pagi-pagi sudah berisik saja!" ujar Ghozali kesal. "Shahih nakal! Bukuku disobek!" ujar Hasan.
"Kenapa kamu menyobek buku, Shahih? Ini masih baru! Kamu ini buang-buang uang saja!" ujar Ghozali kesal.
"Sudahlah, kamu baru mandi, ntar banyak berkeringat lagi," ujar Aisyah menenangkan. "Besok-besok jangan ngerusak barang baru!" tegur Ghozali.
Shahih tetap berekspresi datar, ia merasa tidak bersalah. Ghozali sedikit kesal karena merasa perkataannya diabaikan.
"Sudahlah mas! Mereka masih kecil," ujar Aisyah menenangkan.
Shahih pun segera mengambil beberapa buku yang sudah ia tandai. "Ini punyaku!" ujar Shahih.
"Nggak boleh gitu Shahih! Kamu juga harus membaginya dengan saudaramu," ujar Aisyah. Akhirnya Shahih kembali mengacak-acak buku itu.
Melihatnya melakukan hal itu, Ghozali menjadi kesal, namun Aisyah terus menahannya.
"Cepat pilih! Buku mana yang kalian suka?" pinta Shahih. Shadiq dan Hasan pun mulai mengambil buku dengan gambar paling menarik bagi mereka.
Hasan hanya mengambil lima buku sedangkan Shadiq hanya mengambil tiga. "Ambil lagi! Pelajaran di sekolah ada banyak!" ujar Shahih.
"Cuma ini yang bagus," ujar Hasan, Shadiq ikut mengangguk. "Ya sudah!" Shahih langsung mengambil sembilan buku acak. "Yang ini punyaku! Awas kalau kalian ambil lagi!" ujar Shahih kemudian meletakkan buku-buku itu dengan rapi di meja belajarnya. Ia pun kembali menuliskan mata pelajaran pada buku-buku itu serta nama lengkapnya agar tidak direbut kembali.
Ghozali pun terdiam, ia bahkan saling tatap dengan Aisyah karena permasalahan itu bisa Shahih selesaikan sendiri.
__ADS_1
Shahih pun berlalu dari hadapan mereka berdua dengan ekspresi datarnya, seolah baru berpapasan dengan orang asing.
Ghozali pun merasa bersalah karena memarahinya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena anak itu langsung berlalu seolah tidak terjadi apapun.