Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Solidaritas


__ADS_3

Setelah sepekan berada di rumah, akhirnya para santri pun kembali ke pesantren. Hari pertama mereka di asrama selalu dipenuhi keramaian, mereka banyak menceritakan hal-hal yang mereka dapatkan di rumah.


Asyraf tampak dengan santai menjalankan rutinitasnya, ia tidak tertarik dengan pembahasan anak-anak itu.


"Sepertinya ku lebih suka berada di tempat yang sakit ini," ujar Shahih. Asyraf tidak merespon, ia langsung pergi ke atap untuk menjemur cuciannya. Shahih pun mengikutinya.


"Kau masih merasa tenang dengan semua hal aneh ini? Atau jangan-jangan kau lebih suka di tempat yang seperti ini?" tanya Shahih.


"Ya, aku lebih suka di sini daripada di rumah kalian! Menurutku tempat ini masih lebih sehat daripada rumah besar yang hampa itu, beserta keluarga hampamu itu," ujar Asyraf.


"Kau belum tahu rasanya dianggap anak sakit jiwa lebih baik diam. Nggak usah sok menderita. Kau beruntung memiliki masa kecil yang baik, meskipun bukan bersama keluarga aslimu. Sedangkan aku.... aku nggak punya masa kecil yang layak diingat dalam diriku sendiri, aku nggak punya masa kecil. Keluarga itu merenggut semua kebahagiaanku," ujar Shahih. Ia pun langsung pergi meninggalkannya.


Asyraf terdiam sejenak lalu kembali menjemur pakaiannya.


Setelah usai menjemur, ia kembali ke dalam kamar dan mendapati lebih banyak anak yang membawa ponsel, ia bahkan sampai terkejut menyaksikan mereka asyik bermain.


"Kalian pikir ini angkringan? Siapa suruh kalian membawa ponsel ke sini?" tanya Shahih kesal.


"Shahih mode serius! Sebaiknya sembunyikan dulu deh, nanti lagi mainnya!" bisik Ario pada anak-anak lainnya. Akhirnya mereka pun bubar dan menyembunyikan ponsel masing-masing di lemari.


Shahih tidak tahan melihat wajah-wajah anak yang tampak mencibirnya di belakang, ia langsung pergi ke kelas sebelum amarahnya semakin menjadi-jadi.


Sesampainya di kelas, ia mendapati Arkan sedang gelisah, ia tampak baru saja menangis. "Ada apa, Arkan?" tanya Shahih.


"Aku takut," ujar Arkan, ia benar-benar gelisah sampai menekan pensil yang selalu ia bawa hingga patah.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?" tanya Shahih sekali lagi. "Anak-anak nakal itu! Angkatan kita semakin banyak yang membawa ponsel! Aku takut sidang tengah malam," ujar Arkan.


"Nggak perlu takut! Toh kalau disidang kita nggak sendirian, satu angkatan," ujar Shahih. "Bu.. bukan itu! Teriakan mereka... setiap mendengar seseorang berteriak, itu benar-benar sakit, aku bisa demam," ujar Arkan.


Semakin pucat wajah Arkan karena gelisah, Shahih pun sadar kalau anak itu memang sedang demam.


"Arkan! Sebaiknya malam ini tidur di kamar saja," ujar Shahih. "Nggak!" ujar Arkan, matanya berkaca-kaca, ia terlihat enggan bertemu dengan anak-anak yang sering mengolok-oloknya di belakang. Shahih semakin geram karena anak-anak itu membuat kondisi Arkan memburuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya anak-anak tampak heboh karena ponsel-ponsel mereka sudah tidak ada di lemari mereka. Beberapa anak langsung panik dan gelisah, mereka bahkan membongkar-bongkar isi lemari mereka, namun tidak menemukannya.


Keanehan serupa terjadi di kamar lainnya, anak-anak satu angkatan itu kehilangan ponsel mereka.


"Hei! Ponselku hilang!" seru Aldi. "Duh! Aku juga!" ujar Hilman, anak-anak lainnya semakin gelisah.


"Hei! Mana mungkin mereka diam-diam menggeledah lemari kita! Itu sama saja mencuri!" ujar Ario.


"Hei, anak-anak kamar Abu Bakar! Ketua angkatan mau bicara! Semuanya kumpul di kelas paling ujung!" ujar Renogi.


"Apa lagi ini? Jangan-jangan sidang kakak pengurus?" Hasan tampak gelisah. "Nggak mungkin deh! Ini masih siang," ujar Shadiq.


Akhirnya mereka semua pun kumpul di kelas paling ujung. Beberapa anak menjaga di pintu depan untuk memastikan tidak ada yang melihat keramaian di ruang kelas itu.


"Teman-teman, seperti yang kalian tahu, ponsel-ponsel yang ada di angkatan kita semuanya hilang! Kemungkinan diambil sama kakak pengurus," ujar Alfian, ketua angkatan.

__ADS_1


"Duh! Habislah kita!" ujar Hilman panik, anak-anak mulai ribut. "Sst! Diam! Ini masih kemungkinan saja! Soalnya aku dengar dari kakak kelas, ponsel mereka nggak ada yang hilang! Cuma di angkatan kita," ujar Alfian.


"Loh? Apa maksudnya ini? Kenapa cuma angkatan kita? Kakak pengurus pilih kasih!" ujar Aldi kesal.


"Diam dulu! Ini belum pasti! Jangan asal menyebarkan kabar ini! Kalau sampai salah bicara bisa gawat! Untuk jaga-jaga, sebaiknya kita tunggu sampai kakak pengurus buka suara," ujar Alfian. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya ia membubarkan perkumpulan itu.


Anak-anak hanya bisa menggigit jari sambil menunggu kepastian mengenai ponsel-ponsel yang hilang itu.


Sayangnya setelah dua bulan berlalu, tidak ada peringatan atau pembicaraan apapun yang terdengar dari kakak pengurus, hari-hari tampak biasa seolah tidak terjadi apapun.


Akhirnya Alfian mengumpulkan semua temannya seangkatan, ia sendiri juga merasa gelisah karena tidak mendapatkan kabar apapun dari kakak kelas.


"Kumpul apa lagi ini? Memangnya sangat penting? Ini benar-benar mengganggu waktu membacaku!" ujar Shahih kesal.


"Tunggu sebentar sih! Ini pembicaraan penting! Tentang ponsel-ponsel itu!" ujar Alfian.


"Aku nggak bawa ponsel! Kenapa kalian menyeret orang yang nggak bersalah ke sini? Buang-buang waktu! Mereka yang menyebabkan masalah, kenapa harus aku yang menanggung? Lagian siapa suruh bawa ponsel ke pesantren?" Shahih benar-benar kesal.


"Shahih sedang mode serius, sebaiknya biarkan dia pergi saja," ujar Ario. "Ini masalah penting! Kita harus solidaritas! Kamu pikir cuma kamu yang nggak bawa ponsel? Aku juga nggak bawa ponsel! Ini masalah kita bersama! Kita harus tetap kompak dan solid! Mana rasa solidaritasmu?" tanya Alfian.


"Mendengar kata solidaritas dari anak-anak SMP benar-benar membuatku jijik! Sepertinya pertanyaanmu itu salah sasaran! Harusnya kau tanyakan pada mereka yang bawa ponsel! Mana solidaritas mereka? Kenapa mereka malah melubangi kapal yang sedang kita naiki bersama? Toh anak-anak lain juga bisa tetap tinggal di asrama tanpa ada ponsel, kenapa mereka bawa ponsel? Itu nggak solid! Omong kosong solidaritas seperti ini! Mending kalian pindah ke negara komunis saja, mereka sangat solid, persis seperti kondisi kita sekarang ini, yang salah siapa, yang menanggung orang lain," ujar Shahih kemudian keluar dari ruangan sambil membanting pintu.


"Nah, begini lebih baik! Toh nggak ada pengaruhnya dia ikut pembicaraan ini," ujar Fashalay.


"Baiklah, yang ingin aku infokan di sini adalah..... sepertinya kakak pengurus pun nggak tahu-menahu tentang ponsel-ponsel kita yang hilang! Aku dengar dari kak Fajri, katanya nggak ada penggeledahan tengah malam seperti itu, dan kalau pun ada barang-barang yang disita, terkhusus ponsel, seharusnya itu akan banyak jadi perbincangan di kakak pengurus, namun katanya nggak ada hal seperti itu," ujar Alfian.

__ADS_1


"Loh? Kalau begitu.... gimana dong? Siapa yang mengambil ponsel-ponsel kita?" tanya Hilman keheranan.


"Ini bukan diambil lagi, ini pencurian!" seru Alfian, hal itu membuat anak-anak yang ada di dalam ruangan terkejut.


__ADS_2