Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Random


__ADS_3

Shahih duduk santai sambil membaca buku di dipannya, ia bahkan mengenakan sebuah kacamata dengan warna frame mencolok. Ia bahkan membiarkan rambutnya acak-acakan seperti baru bangun tidur.


"Eh, Shahih! Perkenalan dulu dong! Hari ini kan pertama kalinya kamu masuk ke kamar ini," ujar Ario sambil menepuk bahu Shahih dari belakang. Setelah Shahih menengok, ia langsung tertawa geli.


"Apa-apaan itu? Kok kamu kayak otaku! Wibu akut!" ujar Ario ketawa, Fashalay juga ikut menertawakannya.


"Hei, Shahih! Kau kayak gini setiap hari kah? Bikin malu loh!" ujar Hasan kesal. "Kalau malu, belikan aku jajanan di kantin," ujar Shahih dengan santainya.


"Dih siapa kau nyuruh-nyuruh aku?" tanya Hasan kesal. "Nggak tahu diri, aku sering bantu-bantu ibu sama kak Zahra buat masak loh, sedangkan kalian berdua kerjaannya cuma main doang! Sekali-kali kalian bantu aku kek," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya. Ia tampak santai sambil membaca bukunya.


"Nggak mau lah! Ngapain!" ujar Hasan kesal. "Kalau gitu aku pergi sendiri deh, kamu bakal malu loh lihat aku jalan-jalan kayak gini ke kantin, orang-orang pasti bakal ketawa," ujar Shahih sambil menutup buku bacaannya, ia hendak beranjak dari kasurnya.


"Baiklah! Baiklah! Pokoknya jangan pergi dari kamar ini! Jangan bikin aku malu!" ujar Hasan.


"Lagian salahmu sendiri ngaku-ngaku kalau aku adikmu," ujar Shahih. "Berisik!" ujar Hasan kesal kemudian pergi ke kantin.


"Kenapa kalian bertiga tampak nggak akur gitu? Aneh sekali!" ujar Fashalay. "Shahih menghilang dua tahun yang lalu," ujar Shadiq.


"Hilang dari mananya? Dia ada di sini sekarang!" ujar Ario. "Kalian tanya saja padanya apa yang terjadi," ujar Shadiq, namun Shahih tampak tidak ingin diajak bicara, ia terus diam sambil membaca bukunya.


Tak lama kemudian Syihab datang ke kamar, ia langsung menghampiri Shadiq. "Mana Shahih?" tanya Syihab. Shadiq pun menunjuk anak yang sedang terbaring santai di kasur.


"Sha... Shahih? Ini kamu kan? Ini kakak loh! Kak Syihab," ujar Syihab sambil menepuk ujung kaki Shahih. Anak itu menengok ke arah Syihab dengan wajah sebal karena mengganggu bacaannya.


"Siapa?" tanya Shahih dengan wajah keheranan. Hal itu membuat Syihab terpuruk. "Ya Allah Shahih! Ini aku! Kakakmu!" ujar Syihab.


"Aku cuma bercanda, mana mungkin lupa," ujar Shahih sambil melepaskan kacamatanya. "Ternyata kamu benar Shahih!" seru Syihab sambil memeluk Shahih erat-erat.


"Bau badan! Kakak mandi deh! Bau banget!" ujar Shahih. "Dih! Aku sudah mandi tadi pagi," ujar Syihab.


"Mau mandi apa nggak baunya memang kayak gitu, Shahih, si Shadiq juga kayak gitu, makanya aku males duduk sama dia sekarang," ujar Hasan yang muncul dengan beberapa jajanan, ia menyerahkan jajanan itu pada Shahih.

__ADS_1


Shahih pun langsung memakannya lalu kembali memakai kacamatanya. Syihab sempat menahan tawa. "Kenapa penampilanmu seperti itu? Aneh sekali!" ujar Syihab.


Shahih kembali beranjak dari kasurnya lalu mengulurkan tangan kanannya. "Eh? Apa?" tanya Syihab kebingungan.


"Uang," ujar Shahih. "Loh? Uang? Kamu nggak punya uang?" tanya Syihab.


"Jelaslah! Lagian siapa lagi yang mau kasih aku uang?" tanya Shahih keheranan. "Eh, be... benar juga sih. Tapi kan kamu bisa masuk sini juga karena uang, siapa yang membayarimu? tanya Syihab. "Panti asuhan! Tapi tetap saja! Uangku sudah habis buat naik bus ke sini, buat beli perlengkapan, buat beli seragam, buat beli buku, buat beli sabun, buat beli......"


"Oke! Oke bentar! Biar kakak lihat dulu," ujar Syihab sambil mengeluarkan dompetnya. "Wah, banyak tuh," ujar Shahih.


Akhirnya Syihab terpaksa memberinya uang lima puluh ribu. "Eh, tanganmu kenapa?" tanya Syihab keheranan.


"Biasalah anak aneh! Dia barusan keluar dari kantor paman Alfa, tangannya sudah begitu, darahnya terus menetes sampe ruang kelas," ujar Hasan.


"Oh, itu aku lupa tadi," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya. "Lupa jidatmu! Mana ada orang yang lupa kalau darahnya terus keluar dari tubuhnya!" ujar Syihab, ia mencoba memeriksa luka Shahih, ia tampak sangat khawatir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada apalagi Shahih? Kayaknya hari-hari pertamamu di pesantren sangat sibuk sekali," ujar Fashalay keheranan.


"Wah! Lihat! Lemari Shahih rapih banget!" seru Ario, beberapa anak lainnya mencoba melihat dan terkesan.


Shahih tidak peduli meskipun anak-anak itu berkali-kali membuka lemarinya. "Kalau terus kayak gitu ntar barang-barangmu ada yang hilang loh!" ujar Hasan.


Shahih tetap mengabaikan peringatannya, ia langsung menghampiri Shadiq yang sedang berdiri di depan lemari.


"Eh? Shahih? Ma.... mau apa?" tanya Shadiq, ia langsung menyingkirkan Shadiq lalu membuka pintu lemarinya. Beberapa buku langsung jatuh berserakan di lantai.


"Ini lemari atau tempat sampah?" tanya Hasan keheranan, gal itu membuat Shadiq terpuruk.


Shahih langsung tersenyum dan menjatuhkan semua isi lemarinya. "Hei, Shahih! Apa yang kau lakukan? Hentikan!" ujar Shadiq memaksa, sayangnya Shahih tidak mendengarkan, ia terus menjatuhkan barang-barang Shadiq.

__ADS_1


"Perhatikan baik-baik!" ujar Shahih kepada Shadiq, ia mencoba mengambil satu buku lalu mencoba melipat baju Shadiq dengan buku itu, ia juga sempat menata buku-buku miliknya.


"Cobalah lakukan sendiri," ujar Shahih. Akhirnya Shadiq mengangguk dengan wajah malunya. Ia pun menuruti semua perintah Shahih. Hasilnya lemarinya menjadi sangat rapi.


"Wah? Benarkah ini lemariku?" Shadiq tidak percaya.


Belum selesai sampai di situ, Shahih masih melakukan berbagai aktivitas mulai dari menyapu kamar, bahkan hingga mengepelnya, anak-anak merasa tidak nyaman dengan tindakannya itu, namun mereka langsung terdiam saat melihat kamar mereka menjadi bersih dan rapi.


"Wah Shahih memang hebat! Besok-besok kalau bersih-bersih bilang kami juga! Biar gampang dan cepat bersih!" seru Fashalay, anak-anak yang lainnya mengangguk setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ketiga di pesantren telah tiba, kali ini Shahih tidak berada di kamar, bahkan Shadiq dan Hasan sampai keheranan dengan perilakunya yang berbeda-beda setiap harinya.


"Shahih di mana sih? Padahal aku mau minta ajarin rapiin lemari. Kok malah hilang sih!" ujar Hasan kesal. "Mungkin ia sedang bosan dari kemarin di kamar terus," ujar Fashalay.


Seperti yang sedang dibicarakan, Shahih hari ini sedang berkeliling koridor. Ia memilih pergi ke kelas agar tidak ada orang yang mengganggu bacaannya.


Ia pun masuk ke dalam kelas sedangkan seorang anak tampak masih berada di dalam. Anak itu tampak tidak peduli walaupun Shahih masuk ke dalam kelas, ia terus melakukan aktivitasnya.


Shahih juga demikian, ia tidak peduli meskipun ada orang lain di kelas itu. Selagi tenang, ia pun langsung membuka bukunya dan mulai membaca.


Shahih terus membaca bukunya, namun anak itu tetap diam. Karena penasaran, Shahih mencoba memperhatikannya, namun anak itu sudah tertidur pulas dengan kepala tersandar di meja.


Adzan Ashar pun tiba, Shahih langsung membangunkan anak itu. Anak itu langsung beranjak dari kursinya, ia bahkan langsung berjalan sempoyongan dengan kaki lemasnya.


"Hei, kamu, nggak kenal aku sih?" tanya Shahih. "Kenal kok, Shahihul Mufid, anak pindahan kemarin," ujar anak itu, ia tampak terpaksa untuk tersenyum.


"Kenapa kamu tidur di kelas?" tanya Shahih. Anak itu tampak kecewa dengan pertanyaan Shahih, ia ingin segera meninggalkannya untuk mengambil air wudhu.


"Di kamar berisik," ujar anak itu sambil membalik badannya, ia hendak pergi. "Tunggu dulu! Siapa namamu?" tanya Shahih. Anak itu langsung terdiam sejenak, Shahih tidak tahu ia sedang apa karena anak itu membelakanginya.

__ADS_1


"Arkan, Arkan Fadhilah," jawab anak itu kemudian pergi meninggalkannya. Setelah anak itu pergi, Shahih pun langsung mencatat namanya di bukunya lalu keluar kelas untuk persiapan Sholat Ashar.


__ADS_2