Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Berkas rahasia


__ADS_3

Ghozali sampai di rumah, Aisyah langsung membukakan pintu. Ia sangat risih dengan jas yang dikenakan suaminya itu, ia tidak ingat pernah membelikannya.


"Dapat dari mana jas itu?" tanya Aisyah. Ghozali tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya.


"Sholat mas!" ujar Aisyah kemudian pergi ke dapur. Ia langsung menghidangkan makan malam di ruang makan.


"Ayah mana bu?" tanya Zahra, Aisyah sedang enggan membahasnya. Jas yang dikenakan suaminya itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya tidak berselera untuk makan.


"Kalian langsung makan aja, ayah sedang lelah," ujar Aisyah, ia pun langsung memeriksa kamar, namun Ghozali tampak tetap di kasur dalam posisi telentang seperti sejak awal dia merebahkan diri. Pria itu belum sholat meskipun Aisyah sudah mengingatkannya.


Karena tidak ingin berurusan dengannya, Aisyah pun pergi ke kamar Zahra, ia memilih tidur di sana.


Zahra memeluk Aisyah erat-erat karena sudah lama ia tidak tidur dengan ibunya itu. "Sekolahnya gimana tadi?" tanya Aisyah. "Kayak biasanya, tapi aku nggak berani pakai kacamata," ujar Zahra.


"Loh? Kenapa? Kan biar bisa baca tulisan lebih jelas," ujar Aisyah. "Takut diejekin bu," ujar Zahra. "Nggak papa kok, kamu tetap cantik walaupun pakai kacamata loh," ujar Aisyah.


"Benarkah?" tanya Zahra. Aisyah mengangguk terus memeluknya lebih erat. "Kamu harus perhatikan Shahih ya, ibu nggak ada di sekolah jadi nggak tahu dia ngapain aja," ujar Aisyah. "Baik bu," ujar Zahra.


Keesokan harinya Aisyah langsung pergi ke dapur untuk menyajikan makanan. Setelah selesai menghidangkannya di meja makan, ia pergi ke kamar Ghozali. Ia tidak menemukan suaminya di sana. Ia juga tidak lihat mobil di garasi, suaminya sudah berangkat kerja.


Aisyah pun mencoba memeriksa jas yang suaminya pakai. Ia tahu persis kalau suaminya tidak pandai memilih pakaian yang cocok untuk diri sendiri, dan itu membuatnya semakin curiga.


Ia sangat yakin kalau jas itu pemberian dari orang lain. Ia masih sangat risau karena belum melihat secara langsung jam tangan yang dipakai Ghozali, bahkan jam tangan yang ia belikan untuk suaminya itu malah tergeletak di meja hingga berdebu.


Setelah ia pikir-pikir lagi, masalah di rumah tangganya memang sudah menumpuk banyak. Shahih yang tak kunjung sembuh dari traumanya, Suaminya yang terus mendiamkannya, jas dan jam tangan yang entah berasal dari mana, semua membuatnya tertekan.


Ia pun langsung mengambil ponselnya karena sudah tidak tahan. Hampir setengah bulan ia diliputi rasa kekacauan ini. Padahal ia sudah membulatkan tekad untuk tidak menghubungi orang tuanya lagi hanya karena masalah sepele, namun pada akhirnya ia tetap menghubungi mereka.


"Halo? Ada apa Aisyah? Apakah Shahih sudah sembuh?" tanya Hamid. "Abi......" Aisyah bingung hendak bicara apa.


"Kenapa Aisyah? Ada masalah lagi?" tanya Sarah. "Nggak Umi, nggak ada apa-apa kok," ujar Aisyah.


"Jangan rahasiakan nak, lakukan saja seperti biasa, kami akan mendengarkan keluhanmu kok, kami lebih senang begitu," ujar Sarah.


"Nggak kok, nggak ada apa-apa, beneran! Shahih juga sudah mulai mendingan, dia cuma mulutnya nggak bisa banyak gerak, dia sudah nggak takut lagi kok," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Sepertinya ada hal lain yang ingin kamu katakan selain itu, nggak apa-apa Aisyah," ujar Sarah.


"Umi benar-benar hebat! Gimana caranya Umi tahu kalau aku ingin mengatakan hal lain?" tanya Aisyah dengan mata berkaca-kaca, ia mencoba untuk tidak menangis.


"Tentu saja tahu! Kamu adalah anak Umi! Tentu Umi tahu perasaanmu, tahu gimana cara bicaramu,. Jadi katakan saja, Aisyah," ujar Sarah.


"Nggak apa-apa Umi, cuma masalah sepele kok, ntar juga selesai," ujar Aisyah. "Kamu baik-baik sama Ghozali yah! Kasihan juga dia, nggak ada yang bisa diajak bicara, nggak kayak kamu, masih punya Abi dan Umi, orang tua Ghozali sudah meninggal semua, jadi jaga dia baik-baik oke!" Hamid menasehati.


"Baik, Abi," ujar Aisyah sambil terus menahan tangisnya, ia tidak mau orang tuanya mendengarnya terisak. "Ya sudah, aku matikan dulu ya Abi, Umi, mau beresin rumah," ujar Aisyah.


"Oke! Yang sehat-sehat ya nak! Yang sabar, Kalau kamu ada masalah juga bilang sama suamimu. Umi dan Abi sudah tua, nggak lama lagi kami di dunia ini, jadi kamu juga harus sering-sering curhat sama Ghozali," ujar Hamid.


"Baik, Abi," ujar Aisyah kemudian mengucapkan salam, setelah mereka menjawab salamnya, ia pun menutup telepon.


"Bu, uang saku," ujar Zahra, kedua ketiga anak lainnya juga menunggu giliran untuk diberikan uang saku.


Aisyah pun langsung membuka dompetnya, ia belum mendapatkan uang tambahan dari Ghozali. Akhirnya ia memberikan uang sisa belanja pada anak-anaknya.


Sayangnya uang di dompetnya sudah habis setelah ia memberikan uang saku kepada Hasan, Shahih belum mendapatkan uang sakunya.


Ia pun terpaksa keluar kamar. "Maaf Shahih, nggak ada uang lagi, nanti kamu bagi sama Shadiq dan......" Belum selesai Aisyah berkata, ia baru sadar keempat anaknya tidak ada di hadapannya. Mereka sudah berada jauh dari rumah.


Ia pun tetap mencoba mencari-cari yang terselip untuk belanja, ia kekurangan bahan makanan untuk membuat makanan siang ini, sayangnya ia tidak menemukan apapun.


Barulah ketika ia mencoba menaiki kursi untuk menengok apa yang ada di atas lemari, ia menemukan sebuah map plastik. Ia tidak menyangka ada benda seperti itu di atas lemari dokumen, biasanya map seperti itu akan di simpan di dalam lemari agar tidak rusak.


Nyatanya map itu sudah lama berdebu, itu adalah map jadul. Karena penasaran, Aisyah langsung membuka isinya dan mendapati beberapa surat kelahiran.


"Sudah lama aku tidak memakai ini karena sudah ada akte kelahiran, tapi kenapa di taruh di atas lemari?" gumam Aisyah keheranan.


Ia pun mencoba membaca surat-surat itu dan mendapati surat kematian dari anaknya yang merupakan saudara kembar dari Shadiq, Hasan, dan Shahih.


Shalih Assalam, terkadang Aisyah memanggilnya Assa, atau Assalam. Anak itu meninggal tepat beberapa jam setelah dilahirkan. Ia dilahirkan sebelum Shahih, jadi dia adalah kakak Shahih yang lahir setelah Hasan.


"Coba saja kalau kamu di sini, Shahih nggak mungkin diam saja, ia pasti bisa banyak tersenyum," ujar Aisyah sambil mengusap-usap surat kelahiran itu.

__ADS_1


Secara tidak sengaja ia menjatuhkan dokumen lain yang ada di dalamnya. Itu adalah hasil tes darah dari anak-anaknya.


Ia menemukan data golongan darah Shadiq dan Hasan, yaitu B, sama seperti Ghozali sedangkan golongan darah Shahih adalah AB, sama sepertinya.


Akan tetapi ia menemukan sesuatu yang lebih mendebarkan dan membuatnya sesak nafas.


Golongan darah dari Assalam adalah O, ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia mencoba mengucek mata untuk memperhatikan data itu sekali lagi, itu benar-benar huruf O, bahkan ada beberapa presentase mengenai kandungan darah tersebut.


Aisyah mengerutkan dahi, ia tidak mengerti maksud dari data itu dan kenapa Ghozali menaruhnya di atas lemari.


Buruk sangkanya mulai kambuh terhadap Ghozali, ia tidak ingin meminta penjelasan mengenai data itu kepada suaminya, ia hendak menyelidiki itu diam-diam.


Akhirnya ia mencari dokumen-dokumen dari rumah sakit tempat ia melahirkan, namun tidak mendapatkan informasi apapun mengenai Assalam.


Aisyah benar-benar diselimuti rasa penasaran, ia tidak bisa berhenti berjalan ke sana kemari karena kegundahan hatinya.


Akhirnya ia menelpon Alfa. "Ada apa kak?" tanya Alfa. "Biasanya kamu bakal ngucapin salam duluan, aneh sekali," ujar Aisyah. "Aku dah males kak lah, jadi ada apa?" tanya Alfa.


"Gi.... gimana kabar Syihab di sana? Baik-baik saja kan?" tanya Aisyah. "Argh! Bodo amat! Lihat wajahnya bikin inget si landak itu, jadi nambah emosi," ujar Alfa.


"Tapi dia sehat-sehat saja di sana kan?" tanya Aisyah. "Iya, dia baik-baik saja kak, mungkin nggak pengin pulang," ujar Alfa.


"Ah, ada-ada saja!" ujar Aisyah. "Kak, nggak papa hidup sama landak itu? Dia baperan loh, bakal repot soalnya kakak baperan juga," ujar Alfa. Aisyah sempat terdiam dengan penjelasannya.


"Dia masih sehat kan? Syukur-syukur masih bisa cari duit. Eh, tapi gimana dengan Shahih? Dia sudah sembuh belum? Aku jadi merasa bersalah karena nggak pernah jenguk," ujar Alfa.


"Shahih dan mendingan kok. Eh, Alfa! Aku mau minta tolong boleh nggak?" tanya Aisyah.


"Ada apa ini? Kenapa nggak minta si landak saja?" tanya Alfa, Aisyah terdiam lagi, ia bingung hendak menjawab apa.


"Pasti kalian sedang bermasalah lagi!" ujar Alfa. "Nggak kok, kami baik-baik saja," ujar Aisyah. "Jujur aja kak, santai saja, aku nggak bakal ngelakuin aneh-aneh lagi kok," ujar Alfa. Pada akhirnya Aisyah pun mengatakan keadaannya dengan Ghozali yang sebenarnya, namun ia tetap merahasiakan dokumen yang baru ia temukan itu.


"Jadi, kakak minta apa?" tanya Alfa. "Antarkan aku ke rumah sakit lama, tempatku melahirkan anak kembar," ujar Aisyah. "Lah, kukira hal penting," ujar Alfa. "Kumohon," desak Aisyah.


"Oke! Oke! Kapan?" tanya Alfa. Aisyah pun segera memeriksa jadwal kerja Ghozali, ia memilih hari dengan jadwal padat agar kemungkinan Ghozali pulang awal sangat rendah. "Gimana kalau Kamis?" tanya Aisyah. "Boleh," ujar Alfa.

__ADS_1


Aisyah semakin tidak sabar menanti hal itu, ia pun mencoba mengambil gambar dari dokumen-dokumen itu lalu mencetaknya, meskipun tidak sempurna karena hasil gambar dari kamera ponselnya, ia masih bisa membaca jelas isi dari dokumen-dokumen itu. Setelah selesai, ia pun mengembalikan dokumen itu ke atas lemari seperti sedia kala.


__ADS_2