
Shahih mendapati dirinya sedang terbaring di atas dipan bertingkat, meskipun sempit, baru kali ini ia bisa merasakan tidur senyaman itu. Padahal biasanya ia selalu seranjang dengan Shadiq dan Hasan, sekalinya mereka bergerak, ia selalu terbangun dari tidurnya.
Kali ini pun sama, ia terbangun karena ada seseorang yang tidur di dipan atas. Adam langsung masuk ke dalam ruangan itu untuk menyambut Shahih yang baru bangun.
"Kamu baik-baik saja? Sepertinya tidurmu sangat nyenyak," ujar Adam. Shahih hanya mengangguk lalu beranjak dari kasurnya. Adam masih penasaran karena anak itu belum berbicara sama sekali dari kemarin.
"Hei, Adam! Sepertinya anak itu ketakutan! Bahkan dari kemarin ia tidak mau berbicara," ujar seorang pria yang tidur di dipan atas, Shahih pun langsung mengambil karet yang ada di pergelangan tangannya lalu membidik dahi pria itu.
Pria itu sempat terkejut karena karet yang menjepret dahinya, ia sempat mengusap-usap dahinya karena pedih.
"Kau tidak sopan, Jordan! Meskipun tidak berbicara, ia masih punya telinga yang berfungsi dengan baik. Ia bisa mendengarkan perkataanmu. Ia bahkan terbangun dari tidurnya karena gerak-gerikmu saat tidur," ujar Adam.
"Benarkah? Jadi itu alasanmu menculik anak ini? Memangnya apa gunanya kalau dia punya pendengaran yang baik? Kita semua juga punya telinga," ujar Jordan.
"Yeah, sebenarnya anak ini memiliki hal yang lebih dari sekedar mendengarkan," ujar Adam. "Aku benar-benar tidak mengerti! Lagian kenapa aku bisa ditugaskan berpasangan dengan orang gila sepertimu, aku tidak mengerti!" ujar Jordan.
"Setidaknya jangan mengeluhkan tugas dari pimpinan! Salahkan saja semuanya padaku!" ujar Adam. "Tuh kan! Kau mulai lagi! Kenapa kau terus menyembah-nyembah pimpinan? Apa gunanya?" tanya Jordan.
Karena emosi, Adam pun berbicara menggunakan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh Shahih, Jordan pun ikut menyahut dengan bahasa asing pula.
"Argh! Sepertinya kita terlalu berlebihan! Kita harus membiasakan diri berbicara dengan bahasa negara ini! Kita tidak boleh mengacau meskipun sedang emosi," ujar Adam mengingatkan.
"Maaf, aku ikut terbawa suasana. Tapi, bukankah anak ini jadi mendengar semua percakapan kita?" tanya Jordan. "Aku memang sengaja membuatnya mendengarkan percakapan kita, ia bisa bekerja untuk kita," ujar Adam.
"Memangnya anak ini bisa apa?" tanya Jordan, Adam pun melempar kotak catur ke arah Jordan,ia pun menerimanya.
"Catur? Untuk apa?" tanya Jordan keheranan. "Cobalah bermain dengannya, kau bisa menilai sendiri apa yang bisa ia lakukan," ujar Adam.
__ADS_1
"Baiklah! Aku tidak pernah kalah bermain seperti ini dengan agen manapun saat bertugas! Anak kecil bukanlah apa-apa! Sepertinya aku harus sedikit mengalah," ujar Jordan.
Akhirnya Jordan mulai menata catur di meja dan mengajak Shahih untuk duduk berhadapan dengannya.
"Bisa main nak?" tanya Jordan, Shahih hanya mengangguk, ia biasa bermain catur dengan Alfa.
"Silahkan pilih, mau putih atau hitam?" tanya Jordan. Shahih pun menunjuk bidak catur berwarna hitam.
"Baiklah, paman mulai dulu yak," ujar Jordan, ia pun membuat langkah sederhana dengan menggerakkan pion yang berada di depan raja.
Shahih pun memulai permainan dengan melangkahkan kuda. "Hmm! Menarik sekali langsung main besar," ujar Jordan, ia masih menggerakkan pion di depan raja.
Permainan terus berlangsung lama, Shahih pun berakhir kalah. "Apa-apaan ini? Kau bisa main tidak sih?" tanya Jordan dengan wajah kecewa. Shahih tetap diam, ia mulai menata bidak catur itu kembali. Kali ini ia memilih menggunakan bidak catur putih.
"Oh? Kau masih ingin main lagi?" tanya Jordan, ia menerima tantangan Shahih. Permainan kedua berakhir lebih singkat dari sebelumnya dan hasilnya tetap sama, Shahih kalah.
Shahih mulai menegakkan bidak catur itu kembali, ia masih ingin menantang Jordan. "Sudahlah! Aku terlalu banyak berharap padamu! Benar-benar mengecewakan!" ujar Jordan.
Kali ini Shahih bermain dengan bidak catur putih. Ekspresinya masih biasa saja, seolah tidak ada satupun motivasi yang membuatnya ingin bermain lebih baik lagi.
Jordan juga merasa tidak yakin dengan anak itu, ia pikir kali ini Shahih juga akan kalah. Sayangnya yang terjadi tidak sesuai prediksinya, kali ini Shahih yang menang.
"Lihatlah, dia berhasil menang loh!" ujar Adam. "Argh! Baru satu kali itu! Lagian aku juga sengaja memberikan langkah yang mudah," ujar Jordan.
"Kalau begitu mainlah dengan serius, sepertinya itu yang Shahih inginkan," ujar Adam, Shahih sempat tersenyum tipis, hanya Adam yang menyadari hal itu.
"Baiklah, bocah! Paman akan bermain serius, jangan diambil hati yak," ujar Jordan. Akhirnya permainan pun dimulai, namun kali ini berlangsung lama, bahkan Jordan sampai berkerut dahi. Pria itu mencoba menatap Shahih, sayangnya wajah Shahih tampak tak berekspresi seperti biasanya.
Jordan semakin tidak mengerti isi pikirannya, ia bahkan tidak tahu apakah anak itu sedang senang atau sedang kesusahan. Akhirnya ia pun melanjutkan permainannya.
__ADS_1
Kali ini permainan berakhir dengan kemenangan Shahih lagi. "Wah! Semakin seru juga! Kuharap kau tidak pernah bosan bermain dengan paman," ujar Jordan sambil melepas bajunya, tubuhnya dipenuhi keringat.
Shahih masih tidak berekspresi, ia langsung menata bidak catur tanpa berbicara, suasana ruangan itu benar-benar menegangkan bagi Jordan, ia merasa tidak boleh kalah pada permainan berikutnya.
Sayangnya permainan kelima ini tetap dimenangkan oleh Shahih dengan waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. "Ini....Ini.... bagaimana caranya? Argh! Ayo main lagi! Paman mulai terbiasa," ujar Jordan sambil mengelap keringat yang ada di wajahnya.
Sebenarnya bukan permainan itu yang membuatnya berkeringat, namun wajah Shahih yang tampak datar itu yang membuatnya gelisah.
Akhirnya permainan ke enam pun dimulai, lagi-lagi Shahih memenangkan permainan itu dengan waktu yang sangat singkat.
"A... apa ini? Kenapa bisa begini? Aku sudah bermain dengan sangat hati-hati loh! Aku tidak mengerti!" Jordan mulai frustasi.
Adam pun membawa Jordan ke ruangan lain. "Sepertinya dia hampir membuatmu marah, biar kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Adam. "Apa-apaan sih? Padahal aku sudah mulai bermain serius, tapi di akhir permainan aku selalu terperangkap!" ujar Jordan.
"Itu karena yang sedang ia mainkan bukan bidak caturnya, namun lawannya, ia mencoba mengacaukan mentalmu dan membuatmu mengambil langkah yang gegabah," ujar Adam.
"Aku tidak mengerti! Aku bermain biasa saja sejak tadi, mentalku tidak kacau!" Jordan menyangkal. "Lalu kenapa kau sampai buka baju? Padahal hanya bermain catur loh, kenapa sampai berkeringat deras? Memangnya kau habis angkat beban berapa kilo?" tanya Adam. Akhirnya Jordan pun mulai menyadari bahwa dirinya bermain dengan penuh gelisah.
Ia pun kembali ke dalam ruangan untuk menemui Shahih. "Yeah,maafkan aku nak, sepertinya aku terlalu meremehkanmu. Kuharap kita bisa bekerja sama. Oh iya, maafkan juga pria yang bersamaku ini karena tiba-tiba menculikmu," ujar Jordan.
"Tidak, dia mengikutiku karena kemauannya sendiri," ujar Adam. "Eh serius? Lalu keluarganya bagaimana?" tanya Jordan.
"Ayahnya meninggal dua hari yang lalu sedangkan ibunya terbaring koma di rumah sakit sejak beberapa tahun yang lalu," ujar Adam.
"Eh? Ayahnya meninggal beberapa hari yang lalu?" Jordan pun menghampiri Shahih dan mengusap-usap kepalanya. "Paman turut berdukacita," ujar Jordan, tiba-tiba Shahih tersenyum, membuatnya terdiam seketika.
"Adam, menurutmu punya anak itu ide yang bagus atau tidak?" tanya Jordan. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Adam keheranan.
"Bukan apa-apa, aku baru lihat ada anak kecil manis seperti ini, biasanya anak-anak seusia mereka terlihat dekil, kotor, dan berbau keringat seperti muntahan. Dia sedikit berbeda," ujar Jordan. "Bukan sedikit berbeda, ia sangat berbeda! Aku bahkan sudah berencana melibatkan dia sejak berusia delapan tahun," ujar Adam.
__ADS_1
"Wah, ternyata kau memang berniat menculiknya," ujar Jordan dengan wajah miris. "Selagi berguna untuk menjalankan misi ini, aku akan melibatkan siapapun, bahkan anak kecil sepertinya," ujar Adam.
"Nak, sebaiknya kau siapkan mentalmu, kita akan belajar berbagai hal yang sangat buruk dan jahat!" ujar Jordan, Shahih hanya mengangguk dengan ekspresi datarnya.