
Rofiq jalan-jalan di sekeliling pasar sambil melihat-lihat sayuran yang dijajakan oleh penjual. Ia adalah orang yang sederhana dengan keluarga yang sederhana juga, ia memiliki seorang istri dengan satu anak.
"Pak guru! Mau beli apa pak guru?" sapa seorang penjual, Rofiq memang terkenal di desanya karena ia adalah kepala sekolah di sebuah SD.
"Mau beli sayur bu, mau masak sayur asam," ujar Rofiq. "Lah, nggak beli ikan pak? Ini lagi ada segar-segar semua loh," ujar seorang pria sambil memamerkan ikan ikan yang ada di kotak es.
"Wah, masih segar ya pak! Kalau begitu Kula beli beberapa nggih," ujar Rofiq, ia pun memilih beberapa ikan dan meminta pria itu membungkusnya. "Matur nuwun pak guru," ujar penjual, akhirnya Rofiq pun pulang ke rumah.
Sambil berjalan-jalan, ia mencoba menghirup udara pagi yang segar, hari libur memang sangat menenangkan baginya.
Setelah sampai di rumah, ia langsung memberikan belanjaannya itu pada Lilis, istrinya.
"Mau teh pak?" tanya Lilis. "Iya mak, pagi ini segar sekali kalau sambil minum teh hangat," ujar Rofiq. Akhirnya Lilis pun pergi ke dapur sedangkan Rofiq segera menyalakan televisi.
Ia mendapati sebuah berita di tayangkan, itu sudah berada di tengah-tengah penjelasan. Ia mendapati sebuah gambar dari puing-puing kapal yang meledak. Setelah itu slide layar pun berganti menayangkan daftar korban yang belum ditemukan.
"Pak! Pak! Bukankah Ghozali itu adik terakhirmu?" tanya Lilis sambil menyuguhkan teh pada Rofiq. Rofiq pun mengambil kacamatanya untuk memeriksa daftar orang hilang itu.
Seketika Rofiq menjatuhkan cangkir yang ada di tangannya, ia benar-benar terkejut bukan main. Telepon rumah pun berdering, Rofiq segera mengangkat telepon itu.
"Kak! Ghozali menghilang! Dia berasa di kapal yang meledak tadi malam!" seru Rava, adik pertama Rofiq.
Rofiq pun benar-benar terdiam, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Mak, kamu jaga rumah ya, aku mau ke tempat Ghozali sekarang!" ujar Rofiq.
"Hati-hati pak! Jangan tergesa-gesa!" ujar Lilis. Rofiq pun segera mengambil kunci mobil dinas yang terparkir di depan rumahnya, tanpa ragu ia langsung mengemudikan mobil itu dan pergi ke tempat Ghozali.
Sesampainya di sana, ia sudah mendapati adik-adiknya berkumpul di sana, beberapa tampak gelisah dan panik.
Tak lama kemudian Hamid dan keluarganya juga datang ke rumah itu. "Kalian lihat berita pagi ini? Apakah itu benar? Di aman Ghozali?" tanya Rofiq.
Saat aku datang ke sini, hanya anak-anaknya yang ada di sini mereka masih tidur terlelap saat aku datang, barulah si... nggak tahu siapa namanya ini membukakan pintu untukku," ujar Rava sambil menunjuk Shahih.
"Jadi hanya Shahih yang sudah bangun saat kamu datang? Anak lainnya masih tidur?" tanya Hamid.
"Sebenarnya kemana pria itu? Kenapa meninggalkan anak-anaknya sendirian di rumah?" tanya Alfa keheranan.
"Hei, bocah! Kalau kamu nggak tahu apa-apa tentang pekerjaan Ghozali nggak usah asal ngomong! Dia tuh dokter! Jadi banyak pekerjaan darurat meskipun di hari liburnya! Dia pergi bukan buat bertamasya!" ujar Cantika, adik kedua Rofiq.
"Siapa yang bilang dia lagi tamasya? Aku cuma tanya kenapa dia tinggalkan anaknya sendirian! Kalau memang ada urusan kerja sampe malam, harusnya ia titipkan anak-anaknya! Lihatlah, mereka bertiga tinggal di rumah ini sampai pagi! Kalau pintunya nggak dikunci gimana?" tanya Alfa dengan suara agak keras.
__ADS_1
"Kamu malah mementingkan anak yang jelas baik-baik saja di sini? Ghozali masih dinyatakan menghilang! Ia masih kedinginan di tengah lautan sana!" ujar Anisa, adik ketiga Rofiq.
"Tunggu dulu! Jangan ribut-ribut sendiri! Kalian sudah memastikan bahwa Ghozali berada di kapal itu? Rava? Bukankah kamu jadi direktur di perusahaan media? Apakah berita ini benar?" tanya Rofiq.
Rava hanya bisa mengangguk, hal itu menimbulkan kepanikan di rumah itu. Shadiq dan Hasan tidak mengerti apa yang sedang terjadi, mereka kebingungan, sedangkan Shahih tampak tidak tertarik dengan apa yang mereka ributkan.
"Shadiq, Hasan! Kapan ayah kalian pergi?" tanya Rofiq. Shadiq menggeleng kepala. "Tadi malam ayah membawa kami ke rumah sakit lalu membawa kami pulang setelah melakukan operasi," ujar Hasan.
"Setelah pulang, kapan lagi ayah kalian pergi?" tanya Rofiq. Hasan menggeleng. "Hasan langsung ketiduran di mobil saat ayah nganter kami pulang," ujar Hasan.
"Aku juga ketiduran," ujar Shadiq. Semua orang pun melirik ke arah Shahih, hanya dia yang belum mengatakan sesuatu.
"Gimana Shahih? Kamu lihat ayah pergi? Jam berapa?" tanya Hamid. Shahih hanya menggeleng kepala.
"Anak itu bisu kah? Kenapa nggak buka mulut?" tanya Rava keheranan. "Hei! Jaga omonganmu! Jangan seenaknya mengata-ngatai keponakanku!" ujar Alfa.
"Kita di sini sedang butuh informasi sekecil apapun! Entah dari anak kecil sekalipun! Hanya mereka yang bisa memberi kita petunjuk! Mereka yang terakhir melihat Ghozali! Orang bodoh sepertimu mana tahu!" ujar Rava.
"Astaghfirullah! Katanya direktur perusahaan media, kenapa perkataanmu buruk sekali? Bodoh? Bisu? bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu pada keluarga sendiri!" ujar Hamid sambil menggeleng kepala.
"Argh! Kiyainya mulai ceramah nih! Bikin telinga panas saja! Ceramah di masjid saja! Jangan di sini!" ujar Cantika.
"Sudah ditemukan!" seru Rava yang sedang memeriksa tablet di tangannya. "Gimana? Mereka menemukannya? Apakah ia baik-baik saja? Kita harus pergi ke sana!" ujar Anisa.
"Berlumuran darah?" tanya Rofiq. Entah kenapa Rava langsung menurunkan tangannya sambil menundukkan kepala.
"Apa yang terjadi Rava? Apa yang terjadi pada Ghozali?" tanya Rofiq sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
"Mereka mengatakan bahwa pendarahan hebat seperti itu nggak akan membuatnya selamat di tengah lautan, ia dinyatakan meninggal," ujar Rava. Rofiq pun terduduk lemas.
"Ta... tapi itu belum dipastikan darah siapa kan? Bisa saja ia sedang melepaskan jasnya, bisa sja orang lain yang mengenakannya!" ujar Anisa.
"Mereka juga sedang memeriksa kecocokannya! Kebetulan karena kebanyakan berasal dari pegawai rumah sakit, mereka sudah memiliki sampel untuk diuji kecocokannya! Kita bisa melihat hasilnya besok. Mereka juga terus melakukan pencarian," ujar Rava.
"Mari kita tunggu hingga esok, kira-kira akan selesai jam berapa untuk tes DNA?" tanya Anisa. "Paling cepat adalah 24 jam, mereka sudah mulai memproses itu sejak pagi petang tadi, tim SAR menemukannya lebih cepat. Mungkin besok subuh sudah keluar hasilnya," ujar Rava.
Akhirnya mereka pun menunggu seharian, bahkan Zahra dan Syihab dipulangkan untuk mendengar kabar dari ayah mereka.
Keesokan harinya Rava mendapat notifikasi dari tabletnya.
__ADS_1
"Sudah keluar hasilnya! Aku akan segera ke sana!" ujar Rava. Akhirnya keluarga besar itu terus menunggu di rumah Ghozali dengan perasaan cemas.
Akhirnya Rava pun datang dengan sebuah map. Rofiq langsung merebutnya dan memeriksa isinya. Wajahnya langsung berubah pucat.
"Kenapa kak? Kenapa diam saja?" tanya Cantika. "Itu.... memang benar darah Ghozali," ujar Rofiq, ia langsung terduduk dengan perasaan tidak percaya.
"Dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar ia sudah meninggal, pendarahannya terlalu besar, apalagi darah yang ada di jasnya itu hanya darahnya, ia sudah tak tertolong lagi. Apalagi ada jejak kebakaran di pakaiannya, pasti tubuhnya juga terkena dampaknya," ujar Rava.
"Ti... tidak! Ghozali! Adik kita! Adik kita meninggal?" Anisa tidak ingin mempercayai hal itu.
"Tuh! Kalian dengar? Ghozali yang terkena musibah tapi kalian sibuk memedulikan anaknya yang baik-baik saja di sini!" ujar Rava.
Perkataannya benar-benar menyulut amarah Alfa. "Salah dia juga karena meninggalkan anak-anaknya!" ujar Alfa. "Sudahlah Alfa! Jangan menjelek-jelekkan orang yang sudah meninggal! Nggak baik!" ujar Hamid.
"Benar! Dengarkan perkataan orang tuamu! Dasar anak kecil nggak tahu diri! Kalau bodoh, diam saja!" ujar Rava.
"Kau mengatai anakku bodoh? Berani-beraninya kau! Anakku tidak bodoh!" teriak Hamid. "Sudahlah, Hamid! sudah cukup!" ujar Sarah.
Keributan semakin menjadi-jadi. Saat itu juga Rofiq langsung membanting meja yang ada di hadapannya, membuat semua orang terkejut, bahkan Hamid hampir sesak nafas karenanya.
"Keluar! Keluar kalian semua! Ghozali meninggal tapi kalian malah bertengkar begini? Adikku meninggal! Kalian nggak ada yang peduli? Kalian nggak sedih? Keluar saja! Kalian bukan keluarga!" teriak Rofiq.
"Kak, tenanglah!" ujar Anisa. "Keluar!" teriak Rofiq, ia benar-benar emosi sedang istrinya tidak ada di situ, tidak ada yang bisa menangani amarahnya.
Hamid masih terlihat pucat karena sesak nafas. "Alfa, ayo antarkan Abimu pulang! Kita pergi saja dari sini, Umi nggak tahan berada di rumah ini! Dari dulu memang terasa nggak nyaman, apalagi bersama mereka," ujar Sarah.
Akhirnya Alfa pun menuntun Hamid menuju mobilnya. Saat itu Shahih berada di depan, berharap Alfa melihatnya dan membawanya pergi pula. Sayangnya Alfa tidak memperhatikannya, ia sibuk menuntun ayahnya ke dalam mobil lalu pergi begitu saja.
Adik-adik Ghozali yang lain juga ikut pergi, mereka tidak bisa mengatasi amarahnya jika Lilis tidak ada di sisi Rofiq, mereka hanya bisa pergi hingga Rofiq menenangkan diri.
Hanya Rofiq dan anak-anak Ghozali yang tersisa di rumah itu. Mereka tampak ketakutan sambil bersembunyi di dapur.
Shahih yang masih di depan rumah hanya bisa menatap kepergian Alfa. Saat itulah tiba Adam muncul di sampingnya entah dari mana.
"Shahih!" panggil Adam. Shahih teringat dengan pria itu, pria yang sering menanyainya di ruangan redup, pria yang buka klinik psikiatri.
"Masih ingat paman?" tanya Adam, Shahih pun mengangguk, ia curiga karena pria itu mengendap-endap ke depan rumahnya.
"Shahih, kamu mau ikut paman?" tanya Adam. Shahih masih terdiam sambil mengerutkan dahinya. Dari raut wajah dan gerak-gerik Shahih, Adam pun tahu apa yang diinginkan anak itu, ia pun menatap Shahih baik-baik dan tersenyum.
__ADS_1
"Tenang saja, Shahih! Paman pastikan nggak ada seorang pun yang menemukanmu! Paman janji!" ujar Adam sambil mengulurkan tangannya pada Shahih. Tanpa ragu Shahih langsung memegang tangannya.
Adam pun langsung berlari membawa Shahih pergi dari rumah itu.