
Shahih berjalan menuju ke sekolah sendirian, kedua saudara kembarnya sudah menjauhinya karena teriakan Ghozali dan Aisyah. Zahra juga sedang takut berada di dekatnya.
Akhirnya ia pun berangkat sekolah sendirian. Tak lama kemudian jalanan yang ia lewati diramaikan oleh anak-anak yang berangkat sekolah.
Shahih mencoba berjalan lebih lambat karena tidak ingin mendengar kebisingan yang ditimbulkan anak-anak itu.
Selagi anak-anak yang lainnya menyeberang jalan, ia memilih diam menunggu lampu merah selanjutnya.
"Hei Shahih! Ayo cepat berangkat! Ntar terlambat!" seru seorang gadis kecil yang sebaya dengannya. Sayangnya Shahih tidak memedulikannya, ia tetap diam di tempat karena lampu hijau untuk kendaraan sudah menyala.
Sayangnya anak perempuan itu malah melangkahkan kakinya, ia hendak menyeberang karena tahu jalanan sedang sepi.
Sayangnya dari arah yang tidak disangka, sebuah truk melaju dengan cepat menabraknya.
Shahih yang terdiam di tempat langsung terkejut hingga tumbang dari posisi berdirinya, wajahnya sudah bersimbah darah. Ia benar-benar terkejut hingga kesusahan bernafas.
Wajah tanpa ekspresinya langsung berubah drastis. Ia benar-benar terkejut hingga air mata terus keluar membasahi pipinya, bercampur dengan darah gadis kecil itu.
Ia terus menangis tiada henti sedangkan orang-orang langsung mengerumuni gadis kecil yang tewas seketika itu. Tidak ada yang memedulikan Shahih, ia tetap terduduk sambil terisak tiada henti.
Zahra yang menemukannya terduduk dengan bersimbah darah langsung menjerit ketakutan, ia langsung pingsan di tempat, para guru pun langsung membawa kedua anak yang syok itu ke dalam sekolah.
Pihak sekolah pun langsung memanggil Aisyah untuk menjemput anaknya.
__ADS_1
Aisyah pun langsung mengabari Ghozali dengan panik. Ia tidak sempat menunggu suaminya untuk mengantarnya ke sekolah, akhirnya ia pun segera berlari ke sana.
Sesampainya di sekolah, orang-orang tampak ramai berkerumun. "Aduh! Kasihan sekali anak itu! Kudengar langsung tewas di tempat!" ujar salah seorang tetangga.
Seketika Aisyah merasakan tubuhnya lemas. Dari kejauhan Shadiq dan Hasan langsung berlari menghampirinya dengan wajah ketakutan. Aisyah pun langsung memeluk mereka berdua.
"Katanya gadis kecil yang tertabrak," ujar salah seorang. "Eh? Benarkah? Kudengar anak laki-laki dari kelas dua," ujar orang lainnya.
Mendengar perkataan itu mereka membuat jantung Aisyah berdegup kencang. Ia pun segera pergi ke UKS setelah seorang guru mengajaknya ke sana.
Ia melihat sebuah tubuh tak bernyawa ditutupi kain putih bersimbah darah. Hal itu membuatnya gemetaran. Guru pun langsung memandunya keruang UKS dan mendapati Zahra dan Shahih ada di sana.
Wajah kedua anak itu tampak pucat sambil terus terisak, ia bahkan tidak menyangka Shahih menunjukkan ekspresi seperti itu. Baru kali ini ia melihatnya menangis.
Aisyah langsung melepaskan baju bersimbah darah yang dikenakan Shahih. "Nggak papa nak! Ada ibu di sini! Jangan takut," ujar Aisyah. Anak itu tidak berhenti mengalirkan air mata, bahkan rahangnya tiba-tiba melemas, membuat mulutnya terbuka.
"Aduh, Shahih! Ya Allah! Nak! Nggak papa kok, ada ibu di sini! Jangan takut!" Aisyah ikutan menangis karena keadaan anaknya itu. Ghozali pun sampai di sekolah, ia langsung menghampiri Zahra.
"Kamu nggak papa? Ada yang sakit? Ada yang luka?" tanya Ghozali khawatir. Zahra hanya menggeleng kepala sambil menunjuk baju Shahih yang bersimbah darah.
"Kenapa Sayang? Gimana keadaan Shahih?" tanya Ghozali. Aisyah tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menangis sambil menunjukkan wajah Shahih yang pucat pasi itu. Anak itu terus membelalakkan mata karena syok.
Ghozali pun langsung mengangkat tubuhnya dan menggendongnya seperti bayi. "Nggak papa Shahih, tenang, ada ayah di sini," ujar Ghozali sambil mengusap-usap punggung Shahih.
__ADS_1
Anak yang diam itu mulai terisak kembali lalu menangis. "Nggak papa, ntar kita pulang yak, ntar ayah minta izin sama bu guru," ujar Ghozali. Ia pun pergi ke kantor untuk meminta izin.
Akhirnya Zahra dan Shahih pun pulang. Sayangnya saat di perjalanan Shahih mulai muntah-muntah. "Sepertinya masuk angin, pakaikan jasku padanya," ujar Ghozali.
Aisyah pun mengambil jas yang ada di samping tempat duduk Ghozali. Ia sempat merasa ganjal dengan keberadaan jas itu, ia tidak pernah lihat ada jas seperti itu di rumahnya, namun karena sedang khawatir dengan kondisi Shahih, ia pun mengabaikannya.
Setelah sampai di rumah, Shahih tidak berhenti memuntahkan makanan yang ia santap tadi pagi. Wajahnya semakin pucat karena terus memuntahkan isi perutnya.
"Ya Allah, nak! Bertahanlah!" Aisyah benar-benar panik, ia tidak tahu harus bagaimana. "Kita bawa ke rumah sakit saja, biar dia tenang. Kalau seperti ini terus perutnya bisa sakit," ujar Ghozali.
Akhirnya mereka pun pergi ke rumah sakit, beberapa dokter pun memeriksanya dan memberikan beberapa obat. Aisyah pun membantu Shahih untuk meminum obat itu. Akhirnya beberapa menit kemudian Shahih mulai tenang. Matanya sudah membelalak lagi.
Aisyah merasa lega, ia masih bisa mendengar suara Shahih terisak. Entah kenapa ia merasa lega karena anaknya bisa menangis. Selama ini ia belum pernah melihatnya terisak seperti itu.
"Apakah cuma aku yang lega dengan keadaan ini?" tanya Ghozali. "Nggak mas, aku sempat memikirkan hal yang lebih mengerikan. Kupikir Shahih nggak bakal nangis setelah menyaksikan itu," ujar Aisyah.
"Kalian pikir anak kalian apa? Alien? Nggak bakal nangis gimana? Dia masih kecil!" ujar Alfa yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.
"Kamu sadar nggak sih? Yang lebih mirip alien tuh kamu! Kok tiba-tiba muncul di sini, ngapain?" tanya Aisyah keheranan, ia lebih heran lagi karena tidak pernah memberitahukan Alfa apapun tentang kecelakaan yang terjadi di dekat sekolah.
"Lah? Apa salahnya aku menjenguk keponakanku yang sakit? Kebetulan aku lihat mobil Ghozali melaju ke arah rumah sakit dengan seorang wanita dan dua anak, kupikir dia berselingkuh di jam kerja seperti ini jadi kuikuti! Eh ternyata wanita itu kakak, dan kebetulan sekali kalian sedang membawa Shahih ke sini," ujar Alfa.
"Apa? Selingkuh? Enak saja kau bicara seperti itu!" Ghozali menjadi sangat kesal seketika. "Sst! Ini di rumah sakit, jangan buat keributan!" ujar Aisyah.
__ADS_1
"Aku harus luruskan ini dulu! Kalian pikir dituduh seperti itu adalah hal yang sepele? Memangnya siapa sih yang mau dituduh berselingkuh? Siapa? Bukannya aku sensitif atau gimana, tapi kalian suka sekali menuduhku seperti ini! Aku ini manusia loh! Jangan kira seorang suami itu hanyalah robot penyabar yang bisa kalian hinakan seenak jidat! Aku juga bisa marah!" ujar Ghozali, karena emosi, ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.