
Syihab mengabaikan rasa penasarannya, ia pura-pura tidak peduli dengan Asyraf yang mengganggu pikirannya itu. Ia pun langsung kembali ke kamarnya sendiri.
"Ada apa Daddy Syihab? Wajahmu kayak bapak-bapak yang terlilit banyak hutang. Wajah memelasnya itu pasti ampuh bikin wanita terpesona! Bikin iri saja!" ujar Faisal.
"Aku baru saja lihat hantu tadi," ujar Syihab. "Hantu siapa? Ayahmu?" tanya Faisal, ia langsung terdiam karena perkataannya sendiri. Ia tidak bermaksud mengungkit ayah Syihab. Ia pun langsung menampar mulutnya sendiri.
"Bukan, aku baru lihat hantu Shahih hari ini," ujar Syihab. "Kau ini bicara apa? Shahih masih hidup loh! Kenapa dia menghantuimu?" tanya Ifan keheranan.
"Aku barusan lihat hantu Shahih sedang berdiri di samping Shahih," ujar Syihab. "Maksudmu ada dua Shahih? Begitu kah? Kau sedang demam? Sepertinya kepala besarmu sedang bermasalah," ujar Faisal.
"Argh, bukan apa-apa! Aku mau ke asrama putri hari ini," ujar Syihab sambil bersolek di depan cermin.
"Lah, emang mau ketemu siapa sih? Emangnya harus ganteng-ganteng amat? Lagian cuma ketemu adik sendiri," ujar Ifan.
"Biarin, adikku harus sadar kalau kakaknya ini orang yang paling ganteng sedunia, biar dia bisa pilih suami yang tepat kalau menikah nanti," ujar Syihab.
"Ya ampun, palingan kau cuma nggak mau kalau aku ambil adikmu kan?" tanya Faisal.
"Bu... bukan begitu kok! Lagian apa salahnya terlihat ganteng begini? Toh nggak cuma adikku yang lihat. Ustadzah-ustadzah juga bakal lewat! Eh, yang paling penting adalah santriwati jutek penjaga gerbang juga bakal lihat," seru Syihab.
"Seleramu aneh banget, Syihab! Jangan bilang kau mau nikah sama wanita yang ganas-ganas begitu? Bakal susah poligami loh," ujar Faisal.
"Hei! Satu aja cukup kok! Ngapain banyak-banyak?" tanya Syihab. Ifan langsung tertawa terbahak-bahak. "Satu saja cukup jidatmu! Orang sepertimu mana puas cuma punya satu! Pasti Matsna, atau Tsulatsa, atau Ruba' kan?" tanya Ifan.
"Syihab pasti pilih Ruba' sih, kuat punya empat istri dia," ujar Faisal. "Kalian bikin slogan hidupku berubah saja! Perlukah kuganti satu aja cukup menjadi empat lebih baik?" tanya Syihab.
"Gitu dong! Pria punya ambisi!" ujar Faisal. "Okelah, aku mau pergi dulu," ujar Syihab.
Ia pun langsung pergi ke kamar adik-adiknya, sayangnya anak-anak terus memperhatikannya, bahkan ketika ia sudah masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa? Aku bukan gadis cantik loh, kenapa menatapku begitu?" tanya Syihab keheranan.
"Hei, kak Syihab! Kakak sudah gila kah? Mau pergi ke mana sampai rapi begitu?" tanya Hasan keheranan.
"Mau ketemu Zahra lah, siapa lagi? Memangnya nggak boleh kelihatan rapi begini? Nggak masalah kan?" tanya Syihab keheranan. Hasan langsung memukuli lengannya.
"Nggak masalah bagi kakak! Tapi kami yang malu karena kakak jadi pusat perhatian! Ngapain sih pakai acara dandan segala!" ujar Hasan kesal. Syihab hanya bisa tertawa. "Kok kamu jadi mirip Zahra sih," ujar Syihab.
Akhirnya mereka berlima pun izin keluar asrama. Shahih dan Asyraf tampak diam, hal itu membuat Syihab terus memendam rasa penasarannya. Ia tidak menyangka anak yang berwajah sama itu mengikutinya menuju ke asrama putri.
Dari kejauhan, Zahra tampak sedang menulis sesuatu dengan ranting yang ia celupkan ke dalam lumpur.
"Hei, Zahra! Adikku yang paling cantik!" teriak Syihab. Zahra langsung menoleh dan berlari ke arah rombongan itu. Syihab berpikir bahwa Zahra hendak memeluknya, akhirnya ia membentangkan kedua tangannya.
Sayangnya Zahra pergi ke arah lain, ia berlari menuju ke arah Asyraf, ia hendak memeluk Asyraf.
"Hei, Shahih! Ada apa?" tanya Zahra keheranan. "Dia bukan Shahih kak, aku di sini," ujar Shahih.
"Eh? Loh? Kok ada dua Shahih!" Zahra kebingungan. Asyraf tampak malas menjelaskan, ia langsung melirik Shahih, hendak melempar semua rasa penasaran Zahra kepadanya. Sayangnya Shahih tampak malas berbicara juga.
"Kata Shahih, itu kembarannya," ujar Hasan. "Be.. benarkah? Di keluarga kami hanya ada kembar tiga loh," ujar Zahra. Asyraf tidak ingin berkata apapun, ia tetap bertahan dengan ekspresi datarnya.
"Argh! Aku lihat berkas-berkas yang ada di kamar ayah dan ibu! Mereka sedang mencari seorang anak di berbagai panti asuhan. Di riwayat kelahiran yang ditulis di rumah sakit, tertera bahwa ibu melahirkan empat orang anak sedangkan salah satunya diduga telah meninggal. Itu adalah Shahib Assalam, anak yang lahir sebelum aku," ujar Shahih kesal, ia sangat malas menjelaskan lebih detail.
"Baru kali ini aku lihat muka Shahih sangat kesal," ujar Shadiq. "Kayaknya semua hal yang orang biasa lakukan tampak sangat asing untuk Shahih," ujar Asyraf.
Zahra sangat terkejut mendengar anak itu berbicara. "Ya ampun! Lucu sekali! Bahkan suara kalian berdua terdengar sama persis! Terdengar seperti anak kecil yang sedang serak!" ujar Zahra gemas, ia semakin ingin memeluk Asyraf.
"Sebaiknya hati-hati, aku nggak segan-segan membanting orang yang menyentuhku secara tiba-tiba," ujar Asyraf, ia masih takut.
__ADS_1
Zahra teringat dengan saat pria lain tiba-tiba menyentuh tangannya, ia juga langsung membanting pria itu.
"Hmm! Siapa namamu? Sepertinya kita memiliki banyak kesamaan yah, namaku Zahra," ujar Zahra, ia pun mengulurkan tangannya, berharap Asyraf mau menjabat tangannya.
"Kau bisa panggil aku Asa," ujar Asyraf singkat, ia masih ragu untuk menjabat tangan Zahra.
"Nggak usah ragu, dia kakakmu kok, lagian kau terlihat nggak tertarik dengan gadis sepertinya," ujar Shahih. Akhirnya Asyraf pun mau menjabat tangan Zahra. Sayangnya Zahra langsung menarik tangannya lalu memeluknya.
"Lihatlah! Kamu lengah! Nggak mungkin bisa banting aku kalau posisimu seperti ini," ujar Zahra.
"Hentikanlah, kalian berdua bikin kakak kesal saja. Padahal badan kakak paling besar di sini, bisa-bisanya kalian mengabaikan kakak," ujar Syihab sebal.
"Oh, tentu saja aku nggak mengabaikan kakak! Alasanku ke sini juga karena kakak!" ujar Zahra sambil menarik kerah Syihab.
"Za... Zahra! Apa yang kamu lakukan?" tanya Syihab ketakutan. "Kenapa kakak telat datang ke sini? Bukankah aku minta untuk datang dua pekan yang lalu? Kenapa baru datang?" tanya Zahra sambil mengencangkan kerah Syihab.
"A... ampun Zahra! Kakak minta maaf! Ampun! Kakak nggak bisa nafas!" ujar Syihab. "Berterima kasihlah pada Asa, kalau nggak ada dia aku bakal tendang kakak sampai jatuh ke sungai irigasi," ujar Zahra. Hasan langsung tertawa.
"Jangan gitu kak, dia dah dandan lama-lama, kalau pulang-pulang dipenuhi lumpur kan malu," ujar Hasan.
"Nah, benar sekali, Zahra! Bukankah muka kakak ganteng bagimu?" tanya Syihab sambil mendekatkan wajahnya pada Zahra. "Apaan sih? Masih ganteng ayah! Nggak ada yang lebih ganteng daripada ayah!" ujar Zahra.
"Hei, kata siapa? Mukaku ini yang paling mirip dengan ayah loh! Berarti aku juga paling ganteng sedunia dong! Jujur saja! Kamu juga mengakuinya kan? Nggak usah malu-malu," ujar Syihab.
Di saat mereka asyik tertawa memerhatikan Syihab yang terus menggoda Zahra, tiba-tiba seorang gadis berekspresi dingin datang membuka gerbang. Wajah riang Zahra berubah menjadi murung.
"Hasan, kakak minta maaf karena membuatmu marah sebelum berangkat kemarin," ujar Zahra kemudian masuk ke dalam asrama tanpa pamitan.
"Kak Zahra baik-baik saja kah?" tanya Hasan. "Loh kenapa? Dia masuk asrama kok, bukan masuk penjara," ujar Shahih, ia dan Asyraf langsung berbalik badan untuk kembali ke asrama putra sedangkan Syihab dan dua anak lainnya tampak khawatir pada Zahra.
__ADS_1