Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Menyusup


__ADS_3

Pagi tampak cerah, mereka semua duduk di ruang makan untuk sarapan. "Pemandangan macam apa ini?" Jordan sedikit kesal karena ia tampak sejajar dengan Adam.


"Mungkinkah kau kesal karena kemarin aku menyebut kalian sepasang kekasih? Pagi ini kita terlihat seperti sebuah keluarga," ujar Asyraf.


"Mulutmu benar-benar menyebalkan! Kau sama persis seperti Shahih, selalu punya cara yang berbeda untuk bikin orang kesal!" ujar Jordan.


Shadiq dan Hasan masih terus menatap pria bule itu tanpa alasan yang jelas. "Tatapan macam apa itu? Seperti orang yang baru saja melihat alien," ujar Jordan keheranan.


"Mereka berdua baru kali ini melihat orang Eropa seperti kalian," ujar Shahih. Shadiq dan Hasan langsung malu karena perkataan Shahih, mereka berhenti menatap Asam dan Jordan lalu menyantap sarapan mereka.


Setelah selesai, Shahih segera mengajak anak-anak lainnya dengan berbagai barang di tas.


"Kalian mau apa? Kayak ******* saja!" ujar Adam. Shahih tidak menjawab, ia langsung membawa anak-anak itu pergi.


"Bukankah ini terlalu cepat, Shahih? Kamu ingin kami menyusup ke dalam tempat rahasia?" tanya Shadiq, ia tampak gugup. Ia tidak menyangka kalau Shahih langsung membawa mereka ke perumahan itu.


"Pokoknya dengar baik-baik! Aku nggak mau tahu kalau kalian tetap nggak paham penjelasanku! Kalian bertiga akan berjalan menuju lorong ini, kemudian Asa akan berpisah dari kalian, jadi harus hati-hati!" ujar Shahih.


"Tu... tunggu dulu, kamu suruh Asa pergi sendirian?" tanya Shadiq tidak yakin.


"Ini nggak seperti kau yang disuruh pergi sendirian, kenapa kau yang mempermasalahkannya?" tanya Asyraf keheranan.


"Tetap saja bahaya kalau pergi sendirian!" ujar Shadiq. "Asa nggak keberatan, menurutku itu nggak masalah," ujar Shahih.


Ia langsung memberi aba-aba agar mereka bertiga langsung masuk ke dalam pintu garasi dari gudang yang ada di perumahan itu.


Shahih menunggu di sebuah halte terbengkalai, ia sudah membajak sistem keamanan dari tempat itu entah bagaimana caranya. Ia langsung merekayasa rekaman CCTV sehingga ketiga anak itu tidak terlihat di kamera.

__ADS_1


"Shadiq, Hasan? Kalian dengar aku kan?" tanya Shahih, ia sudah menghubungkan wireless earphone yang dipakai ketiga anak itu.


"Whoa! Ini berfungsi dengan baik!" seru Hasan. "Jangan terlalu ribut, bisa-bisa asa orang yang menyadarinya!" ujar Shahih.


"Lagian kenapa kita menyusup ke sini di siang bolong? Aku nggak ngerti!" ujar Hasan. "Hari ini adalah jadwal pembersihan, para pegawai di tempat seperti itu pasti sedang pergi karena seluruh ruangan harus steril.


"Kayaknya nggak sesuai harapanmu, Shahih! Masih ada beberapa satpam di sini!" ujar Asyraf.


"Abaikan mereka! Kalian akan melewati rute yang berbeda! Kalian harus berputar!" ujar Shahih.


"Duh! Jantungku benar-benar mau copot, Shahih!" keluh Hasan, ia sudah sangat panik. Pada akhirnya Shadiq juga ikut panik.


"Mengeluh nggak akan merubah apapun! Yang harus kalian lakukan sekarang adalah berjalan! Kalian sudah terlanjur berada di dalam!" ujar Shahih.


"Kamu jahat sekali, Shahih! Kenapa menumbalkan kami di sini?" tanya Hasan, ia terlihat sangat gelisah.


Akhirnya Shadiq dan Hasan pun sadar betapa seriusnya kondisi mereka saat ini. "Jangan bertengkar di situ! Asa, kau ambil lorong kanan di pertigaan yang ada di depan! Shadiq dan Hasan tetap lurus!" ujar Shahih.


"Duh! Kenapa harus berpencar sekarang!" Hasan semakin panik. "Cepat jalan! Kalian berdua harus masuk elevator yang ada di ujung lorong sebelum satpam datang!" ujar Shahih.


"Aish! Kalau ketahuan gimana?" tanya Shadiq panik. Pada akhirnya Asyraf harus menyeret mereka berdua ke ujung lorong lalu memasukkan keduanya ke dalam elevator.


"Lantai berapa, Shahih?" tanya Asyraf. "B4, bukan itu masalahnya sekarang! Kenapa kau ikut masuk ke sana? Kau harus ke pertigaan tadi!" ujar Shahih kesal.


"Shadiq, tekan tombol B4!" ujar Asyraf kemudian keluar dari elevator, ia langsung berlari ke pertigaan.


"Duh, ya ampun kalian berdua benar-benar payah!" ujar Shahih kesal. "Ini terlalu berbahaya, Shahih! Kenapa anak kecil seperti kita masuk ke tempat seperti ini?" tanya Hasan kesal, selagi berada dalam elevator, ia mengumpat sesuka hatinya.

__ADS_1


"Shadiq, Hasan! Dengar baik-baik! Setelah dari elevator ini, kalian belok ke kanan. Lurus terus saat menemukan pertigaan pertama dan kedua. Kalian harus belok ke kiri di pertigaan ketiga, kalian coba periksa ruangan paling ujung di lorong itu!" ujar Shahih.


"Hei! Hei! Shahih! Penjelasanmu terlalu cepat! Ada apa ini?" tanya Shadiq keheranan. "Aku harus segera fokus mengarahkan Asa, ia hampir berpapasan dengan para satpam! Pokoknya kalian jalan sendiri untuk sementara ini!" ujar Shahih kemudian mematikan earphone mereka berdua.


"Hei! Shahih! Shahih! Tunggu dulu! Tadi kamu ngomong apa sih?" tanya Hasan. Sayangnya itu sudah terlambat, earphone mereka sudah tidak berfungsi.


"Tadi ia suruh belok ke mana? Kanan atau kiri?" tanya Hasan. "Tu.. tunggu dulu! Dia menyebutkan keduanya! Belok kiri setelah elevator....." Shadiq agak bingung.


"Ngarang! Yang benar belok kanan! Barulah ketika di pertigaan kita belok ke......" Hasan sendiri menjadi ragu, ia juga kebingungan antara kanan dan kiri.


"Menurutku kanan saja deh! Kita belok kanan dulu!" ujar Shadiq. "Hei! Hei! Jangan dulu! Kamu mau nyalahin aku karena salah nunjukin arah nanti?" tanya Hasan.


"Nggak lah! Keadaan kayak gini nggak mungkin aku sempat berpikir begitu! Pokoknya kita coba maju dulu!" ujar Shadiq. Akhirnya Hasan pun mengikutinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebuah ruangan tampak terbuka lebar. Seorang pria pun langsung terbangun dari tidurnya lalu duduk di meja kerjanya.


Ia menatap cermin untuk memperhatikan wajahnya sambil sesekali melirik ke foto keluarga yang terpajang di atas meja kerjanya.


Ia menghela nafas penuh penyesalan, ada yang terasa kurang dari foto keluarga itu. Ia pun mengambilnya lalu mengusap-usap beberapa wajah yang ada di foto itu.


"Maafkan aku, Aisyah. Hingga saat ini aku bahkan nggak bisa berada di sisimu. Aku nggak tahu seperti apa keadaanmu sekarang, semoga kamu baik-baik saja. Kamu nggak perlu lagi bertemu dengan pria payah ini lagi. Kuharap kamu juga bisa menemukan pria yang lebih baik dariku," ujar pria itu.


Pada akhirnya ia pun menangis setelah mengusap-usap semua wajah yang ada di foto keluarga itu. "Maafkan aku, Shahih, Asa! Aku nggak bisa jadi ayah yang baik untuk kalian, bahkan hanya sekedar mengabadikan wajah kalian dalam foto keluarga ini pun aku nggak mampu melakukannya," ujar pria itu tersedu-sedu.


Tak lama kemudian muncul suara pintu berderit, sayangnya pria itu tetap mengabaikannya, ia masih terus menangis tersedu-sedu sambil menatap foto keluarga yang tampaknya hanya itu satu-satunya yang ia miliki.

__ADS_1


"Ayah?" suara seorang anak terdengar dari balik pintu.


__ADS_2