
Aisyah dan Ghozali datang ke TK bersama dengan ketiga anak mereka. Setelah semakin besar, perbedaan salah satu di antara mereka bertiga pun muncul.
Shadiq dan Hasan, kembar pertama dan kedua masih memiliki wajah yang sama, sedangkan Shahih, kembar ke tiga tampak beda jauh dengan mereka berdua.
Jika dibandingkan, Shadiq dan Hasan lebih mirip Ghozali sedangkan Shahih lebih mirip Aisyah. "Andai saja Assalam masih hidup, Shahih pasti nggak akan diam seperti ini," ujar Aisyah sedih, ia terus khawatir dengan perkembangan Shahih yang sangat berbeda dengan kedua kakak kembarnya.
"Ini semua salahku, karena aku belum terlalu kuat untuk melahirkan semua anak-anakku dengan selamat! Aku harus mendukung Shahih lebih banyak biar bisa sejajar dengan mereka," Aisyah menambahkan.
"Sabar, Aisyah. Cobaan setiap orang memang beda-beda, kita pasti bisa menemukan solusi agar Shahih bisa berkembang dengan baik," ujar Ghozali. Ia pun memeriksa jam tangannya. "Sudah waktunya aku bekerja!" ujarnya.
"Nanti, tunggu anak-anakmu teralihkan. Kalau mereka lihat kamu pergi, mereka akan menangis!" ujar Aisyah. "Oh! Baiklah!" ujar Ghozali sambil mengendap-endap.
Pada akhirnya kepergiannya tetap disadari oleh anak-anaknya. Shadiq dan Hasan tampak berlari-lari ke luar kelas, sayangnya gerbang sekolah sudah ditutup, membuat mereka tidak bisa mengejar ayah mereka. Ghozali hanya bisa melambaikan tangan dengan tersenyum paksa.
Aisyah pun segera mengangkat dua anak kembar itu agar kembali ke dalam kelas. Meskipun begitu, pikirannya tetap tertuju pada Shahih yang duduk tenang di dalam kelas, sekilas ia merasa senang karena anak itu bisa mengikuti kelas dengan baik, namun ia juga khawatir karena setahun terakhir ini ia tidak banyak berekspresi.
Setelah aktivitas pertama mereka di TK selesai, Alfa datang dengan mobilnya, ia hendak mengantarkan Aisyah pulang.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Aisyah keheranan. "Si landak yang nyuruh ke sini, katanya aku harus menemani kakak ke pasar untuk belanja, dia nggak bisa pulang sore karena ada pasien darurat yang harus dipantau selama beberapa jam," ujar Alfa.
"Oh, benar sekali! Hari ini kakak akan belanja banyak barang! Kamu bantuin angkat-angkat yak," ujar Aisyah.
__ADS_1
Bel pun berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas untuk menemui orang tua masing-masing.
Shadiq dan Hasan langsung berlari menuju Aisyah dengan wajah bersemangat. "Jangan lari-lari, Shadiq! Hasan! Nanti jatuh!" Aisyah mengingatkan.
Shahih masih berjalan pelan, namun setelah melihat Alfa, ia langsung menghampirinya. "Wah! Siapa ini? Tadi belajar apa saja Shahih?" tanya Alfa sambil mengangkat tubuh Shahih.
"Belajar duduk tenang di kelas, dengerin orang dewasa ngomong, sama belajar memegang pen..... pen...." Shahih lupa nama benda yang barusan ia pegang. "Pensil?" tebak Alfa. "Iya, pensil!" seru Shahih.
"Shahih benar-benar pintar yah!" ujar Alfa sambil mencubit pipi anak itu. "Kak, Shahih buat aku saja yak, kan kakak udah punya Shadiq dan Hasan," ujar Alfa.
"Kamu ini pedofil kah? Kemarin Zahra, sekarang Shahih?" Aisyah menepuk dahi. "Eh, nggak mungkin lah kak! Aku cuma seneng aja melihat versi kecilku. Lihatlah! Kami berdua sangat mirip, sepertinya dia anakku," ujar Alfa bercanda.
"Eh, sembarangan saja kalau bicara! Shahih itu anak kakak!" ujar Aisyah. "Ya elah, bercanda doang kak, dari dulu aku diejek mirip perempuan gara-gara punya wajah yang sama kayak kakak, eh ternyata Shahih juga punya wajah mirip kakak juga, aku ada temennya," ujar Alfa. Sayangnya perkataannya itu membuat Aisyah semakin murung.
"Sudahlah kak! Nggak usah meratap! Nggak boleh! Dosa tahu! Tenang saja, walaupun nggak ada kembarannya, Shahih masih punya aku yang wajahnya sama kayak dia, Lihat nih! Dia suka sama aku ketimbang Ghozali," ujar Alfa sombong.
"Kamu memang nyebelin!" ujar Aisyah sebal.
Akhirnya mereka pun pergi ke toko, sayangnya Shadiq dan Hasan merengek minta ikut bersama Aisyah.
"Duh! Ibu belanja sebentar! Nggak pergi ke mana-mana kok!" ujar Aisyah. Mereka berdua terus merengek tiada henti.
__ADS_1
"Ya sudahlah, aku saja yang belanja," ujar Alfa, namun Shahih terus menahan lengan bajunya. "Ada apa Shahih? Kamu juga mau ikut? Paman pergi sebentar kok," ujar Alfa, akhirnya Shahih mengalah, ia duduk dengan tenang seperti anak yang terasingkan.
"Hei, kalian berdua! Ajak main Shahih dong! Dia kan adik kalian! Ajak ngobrol deh!" ujar Aisyah kepada dua anaknya. Sayangnya dua anak itu memandang Shahih dengan tatapan asing.
"Nggak tahu bu, dia diam terus nggak mau main," ujar Shadiq. "Shahih juga! Jangan diam terus! Mereka berdua kakakmu loh!" ujar Aisyah. Meskipun begitu Shahih tetap diam.
"Shahih mau main sama ibu? Kemarilah," ujar Aisyah. Shahih pun mendekat, namun kedua anak lainnya iri. Mereka juga ingin berada di dekat Aisyah.
Aisyah pun kewalahan dikerumuni tiga anak menggemaskan itu. Meskipun terkadang merepotkan, ia merasa bahagia dengan keberadaan mereka. Ia tidak menyangka dikerumuni anak kecil seperti ini bisa sangat hangat dan membahagiakan.
Beberapa saat kemudian Alfa pun datang dengan barang belanjaan. "Astaghfirullah, Alfa! Apa-apaan ini? Ya ampun ini semua barang mahal!" ujar Aisyah.
"Sudahlah! Nggak udah ngeluh yang aneh-aneh! Lagian aku yang bayar," ujar Alfa. "Nggak bisa gini Alfa! Nanti aku ganti setelah mas Ali pulang! Ini semua pasti mahal!" ujar Aisyah.
"Argh! Nggak usah! Aku nggak nerima uang si landak!" ujar Alfa kesal. "Kamu ini kenapa sih? Nggak dewasa banget deh!" ujar Aisyah agak kesal. Alfa masih hendak membantah perkataan Aisyah, namun Shahih tiba-tiba memegang tangannya lalu menggeleng kepala. Anak itu memang paling benci dengan keributan.
"Baiklah, aku akan mengalah karena Shahih yang minta, ntar si landak suruh bayar semuanya loh! Jangan sampai kurang!" ujar Alfa berubah pikiran.
"Baiklah, ntar kakak bilang! Struknya mana?" tanya Aisyah, Alfa pun segera memberikannya. "Innalilahi! Kamu.... ya ampun Alfa! Kamu ini gila yah?" Aisyah terkejut saat melihat total biayanya.
"Kalau nggak mau ganti uangnya bilang saja! Nggak usah sebut aku gila segala!" ujar Alfa. "Nggak! Nggak! Nggak! Pasti kakak ganti kok! Kamu sensitif sekali jadi orang!" ujar Aisyah.
__ADS_1
"Kan tiru kakak! Kakak juga sensitif," ujar Alfa. "Nggak deh, serius! Kamu kayak orang sedang PMS aja," ujar Aisyah. "Dahlah! Terserah kakak! Serba salah aku," ujar Alfa menyerah. Aisyah hanya bisa tertawa, saat itu juga Alfa menyerahkan struk pembelian bensin. "Pastikan si landak mengganti ini juga," ujar Alfa. "Ya ampun Alfa, kau ini benar-benar pendendam!" ujar Aisyah.